Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
pembatalan kontrak kerja


__ADS_3

"Ayu sini sarapan." Ajak Ravi saat Ayu yang baru saja selesai mandi keluar dari kamar nya.


"Ehh iya kak, mbak Amora dan ibu sovi dan yang lain di mana?" Tanya Ayu saat dia melihat hanya ada Ravi di meja makan.


"Mungkin masih di kamar nya kali, sini sarapan kamu tidak lapar apa?" Tanya Ravi yang terus mengunyah sandwich milik nya.


"Bentar deh kak, bikin susu dulu buat mbak Amora." Jawab Ayu yang ingin segera ke dapur.


"Sudah nanti saja, kalau kak Amora nya sudah di sini. sekarang kamu sarapan dulu." Cegah Ravi yang Langsung memegangi pergelangan tangan Ayu.


Ayu terdiam dan menatap ke arah pergelangan tangan nya di genggam oleh Ravi.


"Ehh maaf, kakak tidak bermaksud." Spontan Ravi melepaskan genggaman nya.


"Hehehe tidak apa-apa kok." Jawab ayu yang langsung salah tingkah dan akhirnya duduk di sebelah Ravi dan akhirnya ikut sarapan bersama Ravi.


Beberapa menit kemudian Sovi dan yang lain nya pun ikut bergabung ke meja makan. Dan kebetulan Ayu sudah selesai sarapan jadi dia bisa Langsung ke dapur untuk membuat susu hamil untuk Amora.


"Pa, ma Ravi ada permintaan." Ucap Ravi.


"Permintaan apa pagi-pagi begini Ravi?" Tanya sovi yang menuang susu ke gelas nya.


"Ini masalah Ayu pa, ma." Sambung nya.


"Hah ayu, kenapa dengan ayu? Papa rasa dia baik-baik saja." Tanya Sean.


"Kemaren malam ga sengaja Ravi sama ayu ngobrol. Dan Ayu ternyata punya niat yang kuat buat kuliah.Namun terhalang biaya. Jadi Ravi berencana minta sama papa buat masukin Ayu kuliah di universitas kita. Ayu kan bisa ikut kelas malam dan kelas online jadi tidak mengganggu kerjaan nya." Jelas Ravi mengutarakan niat nya.


"Uhuk-uhuk, sejak kapan kamu perhatian sama orang lain Ravi?" Spontan Miko terbatuk mendengar permintaan adik nya itu.


"Sedari dulu kali kak, kalian saja yang tidak pernah menyadari nya." Jawab Ravi.


"Iya kalau papa sih tidak keberatan Ravi, selagi Ayu bisa mengatur waktu nya." Jawab Sean.


"Hmmm, benarkah kamu ingin kuliah yu?" Tanya sovi saat sovi sudah datang dari dapur membawakan segelas susu untuk Amora.


"Iya Bu, hehehe." Ayu hanya cengengesan merasa canggung.


"Hmm benar kata papa, kalau Ayu bisa mengatur waktu nya ya kita akan dukung ayu untuk kuliah. Ya apalagi zaman sekarang kan pendidikan itu penting.".ujar Sovi.


"Benarkah Bu? Jadi ayu boleh kuliah Bu?" Kini senyum manis terpancar indah di wajah Ayu.


"Benar dong, tapi ingat kamu harus bisa bagi waktu ya." Jawab Sovi.


"Wahh Alhamdulillah, terimakasih bapak, ibu, mbak Amora kak Ravi dan kak Miko. Iya Bu Ayu janji akan bagi waktu sebaik mungkin." Ayu tersenyum bahagia ini rasanya seperti mimpi baginya.


"Yaudah kamu tenang saja, kalau soal pendaftaran dan masalah uang-uang an biar itu jadi urusan kami. Kamu hanya perlu membantu Amora dan sesekali membantu ibu kalau di butuhkan ya." Ujar Sean lagi.


"Baik pak." Ayu mengangguk patuh.

__ADS_1


Sekilas Ayu menatap ke Ravi, ternyata Ravi juga sedang menatap nya dan tanpa sadar tatapan mereka pun bertemu. Ayu yang merasa canggung langsung melempar pandangan.


"Ternyata kak Ravi tidak seburuk yang ku bayangkan. Bahkan dia sangat baik mau membantu ku." Batin Ayu yang merasa bersalah karena sudah salah persepsi tentang Ravi.


Ayu pun pamit ke dapur untuk memberikan dapur sambil hatinya merasa bahagia. Apalagi saat mengingat Ravi menatap nya tadi lalu saat Ravi dengan spontan menggenggam tangan nya. Ayu jadi salah tingkah sendiri tapi yang lebih membahagiakan dari itu adalah dia sebentar lagi akan kuliah.


Setelah selesai membersihkan dapur, meja makan dan membersihkan semua piring-piring Ayu pun membuatkan jus untuk keluarga Wijaya itu. karena semua anggota keluarga sedang berenang di kolam berenang villa. Tak lupa Ayu memindahkan beberapa camilan yang mereka beli dari supermarket kemaren ke dalam piring.


Ayu benar-benar merasa bersyukur karena bisa di pertemukan dengan keluarga Wijaya ini. Karena mereka adalah keluarga yang super baik tanpa membedakan latar belakang orang lain.


.


.


.


Sementara di rumah nya Elsa yang baru saja bangun tidur melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Tama.


"Apa sih ni anak pagi-pagi udah nelpon banyak banget. Ini kan hari Minggu." Batin Elsa yang melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Tama.


Akhirnya Elsa pun menelepon balik untuk menanyakan apa yang Tama butuhkan.


"Ada apa? Pagi-pagi begini menelepon?" Tanya Elsa saat panggilan mereka sudah tersambung.


"Kamu lihat berita ga sih? Lihat tuh di media sosial netizen semua nya pada berbalik arah." Jelas Tama.


"Sepertinya keluarga Wijaya jauh lebih licik dari kita. Mereka mencari kebenaran tentang Amora melalui tetangga-tetangga Amora dulu. Dan semua pengakuan dari tetangga komplek nya berbanding terbalik dengan pengakuan si Ana itu. Dan kini para netizen menjadi berbalik menghina dan menghujat Ana dan berbalik jadi memuji Amora.," Jelas Tama merasa kesal.


"Apa, kenapa sih mereka selalu punya cara yang lebih licik untuk menjatuhkan kita." Elsa juga jadi terpancing emosi saat mendengarkan pengakuan Tama dan sambil menonton video tersebut.


"Ini mah namanya kita buang-buang uang Elsa.," Sambung Tama.


"Tenang tam, kita masih punya rencana berikut nya yaitu seseorang yang bisa membongkar masa lalu Amora. Ingat kan seseorang yang di ketahui ana." Sambung Elsa lagi.


"Cukup Elsa, aku sudah tidak mau lagi ikut rencana gila mu. Sepertinya semua hanya buang-buang tenaga dan uang. Biar aku menghancurkan Amora dan keluarga Wijaya dengan tangan ku sendiri. Dan untuk perjanjian kontrak bisnis kita semua nya ku batalkan." Ucap Tama lalu memutuskan panggilan secara sepihak.


"Apa memutuskan hubungan bisnis Enak saja, tidak bisa begitu dong, Tama-tama sialan arghhh." Elsa spontan melemparkan ponselnya ke lantai sehingga dalam hitungan detik ponsel itu hancur berserakan di lantai.


"Ini semua gara-gara Amora sialan itu, kau benar-benar telah menghancurkan hidup ku wanita malam." Elsa mengacak-acak semua alat make up nya yang berjejer Rapi di depan meja rias nya.


"Tunggu saja pembalasan ku, karena kau aku kehilangan waktu, uang, Miko dan kini partner bisnis." Elsa menatap cermin dengan tatapan marah.


"Dan kau Tama, berani kau memutuskan hubungan bisnis dengan ku, maka aku akan memutuskan hidup mu juga." Batin Elsa yang memang sudah keluar uang banyak untuk bisnis ini bersama Tama dan Tama memutuskan hubungan bisnis secara sepihak.


.


.


.

__ADS_1


Sementara orang yang sedang mereka gibahin sedang berbahagia dengan keluarganya menikmati weekend di puncak. Setelah kelelahan berenang mereka pun nak ke pinggir kolam menikmati jus dan cemilan yang di buat ayu sambil berjemur sambil menikmati sinar Surya yang semakin terik.


Tidak lupa sovi yang sedari tadi cekikan membaca semua komentar netizen yang menyudutkan Ana.


"Dasar netizen, belum mengetahui kebenaran dari dua pihak langsung main julid. Sekarang setelah mengetahui kebenaran nya berbalik menjadi pemuja yang baik. Bermuka dua." Ucap Sovi yang hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ma, pa kami ke kamar dulu ya, mau mandi setelah nya tidur siang." Pamit Miko kepada kedua orang tua nya.


"Iya, mama dan papa juga mau mandi dan tidur siang juga kok." Jawab Sovi.


"Ayu kamu tidak mau istirahat?" Tanya sovi kepada ayu.


"Tidak Bu, ayu mau di sini saja dulu." Jawab Ayu yang memang tadi tidak ikut berenang karena dia sedang datang tamu bulanan.


"Ya sudah kami duluan ya ke dalam." Ucap mereka yang masuk lebih dulu.


Sementara Ravi sudah lebih dulu tadi masuk ke dalam katanya sih dia mau mandi dan mengerjakan beberapa pekerjaan nya.


"Wahh udara puncak memang paling segar." Ayu menghirup nafas dalam dan tersenyum.


"Ayu pun membuka ponsel nya untuk melihat media sosial nya. Karena beberapa hari yang lalu Amora membelikan ponsel baru untuk nya jadi ponsel itu bisa di gunakan ayu untuk membuka media sosial sambil mengusir kebosanan nya.


Saat sedang asyik bermain ponsel tiba-tiba ayu mendengar suara Ravi yang sepertinya mengobrol dengan seseorang. Ayu pun menoleh ke sumber suara. Dan Ternyata benar Ravi mengobrol dengan seseorang di ponsel nya. Namun karena terlalu asyik dengan obrolan nya Ravi tidak menyadari keberadaan ayu di sana.


Ayu pun tanpa sadar menguping obrolan Ravi yang ternyata sedang video call an dengan pacar nya atau Kanaya.


"Tuhh lihat keren kan villa yang sayang, andai kamu di sini pasti liburan nya akan terasa indah." Ujar Ravi sambil menunjukkan seisi villa.


"Iya sayang, nanti deh kalau keluarga kamu liburan lagi pasti aku ikut." Jawab Kanaya di seberang sana.


"Harus dong sayang, liburan aku tanpa kamu rasanya hambar tau ga sih." Gombal Ravi.


"Halah gombal kamu." Jawab Kanaya.


"Itu siapa?" Tanya Kanaya saat kamera belakang Ravi menyorot kolam berenang sehingga memperlihatkan ayu yang sedang duduk di pinggir kolam.


"Ohh itu asisten nya kak Amora, kamu tau kan kak Amora lagi hamil jadi butuh orang untuk bantu-bantu dia." Jelas Ravi yang abru menyadari bahwa ada Ayu di sana.


"Ohh asisten kak Amora toh."


Entah kenapa tiba-tiba hati ayu merasakan sesuatu saat mendengar kan semua percakapan Ravi dan Kanaya itu.


"Ehh sayang, nanti aku telepon lagi ya mama manggil nih." Ucap Kanaya.


"Okay bab, see you." Jawab Ravi.


"See you luv. Have fun ya." Balas Kanaya.


Panggilan pun berakhir, dan Ravi pun berjalan menghampiri Ayu. Namun ayu langsung sok fokus ke ponselnya seakan tidak mendengar apapun padahal ada sesuatu yang mengganjal di hati nya.

__ADS_1


__ADS_2