
"Hmmm ternyata aku seorang pria multitalenta ya, betapa beruntungnya perempuan yang bisa memiliki ku." Ucap Miko memulai pembicaraan di meja makan itu setelah mereka selesai makan malam.
"Maksud kamu Miko?" Tanya Sean yang agak bingung dengan ucapan putra sulung nya itu.
"Iya pa, lihat saja wadah berisi SOP itu nyaris habis tak bersisa. Itu artinya selain jago Di dunia bisnis aku juga pandai di dunia perdapuran. Hmm satu lagi aku juga rajanya menaklukkan hati para kaum hawa. Memang kau beruntung sayang memiliki suami yang nyaris sempurna seperti ku." Jelas Miko sambil berbangga ria.
"Ohh jadi ini SOP kamu yang masak Miko, wah papa ga nyangka lho kamu mau turun ke dapur dan bisa memasak begini." Jawab Sean yang sedikit kaget mengetahui putra sulung nya itu mau ke dapur dan memasak.
Tak kalah kaget dari Sean, sovi dan Ravi pun terkaget mendengar kan penuturan Miko itu. Mereka benar-benar tidak habis pikir kalau Miko bisa berubah se drastis ini semenjak mengenal Amora.
"Wanita ini benar-benar telah mengubah putra ku 180 derejat, dari yang dulunya dingin jadi periang. Dari yang dulunya tidka perduli kepada rumah menjadi perduli. Dari yang dulunya tidak pernah memikirkan wanita jadi pria bucin. Bahkan mau terjun ke dapur hanya karena satu wanita." Batin sovi sambil menatap wajah polos Amora yang sedikit menunduk.
"Hehehe sebenarnya kepaksa sih pa, biasa lah permintaan bumil. Sebagai suami yang selalu siaga ya Miko wajib menuruti semua keinginan istri ku dong." Jawab Miko sambil cengengesan.
"Hmmm sebenarnya papa sudah tau sih, itu semua terjadi karena kamu memang sayang istri nak."
"Iya iya lah, karna dulu papa mu juga melakukan hal yang sama Miko. Saat mama hamil kamu bahkan lebih bucin lagi dari kamu." Timpal Sovi.
"Ma..."
"Kenapa pa? Malu sama anak-anak, kalau mama cerita in bagaimana bucin nya kamu dulu saat aku hamil Miko?"
"Sudah lah ma, itu sudah cerita lama, kita dengar cerita anak muda sekarang saja ya." Ucap Sean mengalihkan pembicaraan.
"Alibi...." Ledek sovi.
"Oh iya lalu bagaimana tadi hasil dari rumah sakit soal kehamilan amora Miko?" Tanya Sean mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ohh kandungan Amora baik-baik saja pa, dan kandungan Amora sudah memasuki usia Minggu ke 4. Tapi saran dokter kalau bisa Amora jangan sampai stress pa karena hal itu bisa berakibat buruk buat kandungan nya. Dokter juga sudah memberikan vitamin kok buat Amora." Jelas Miko.
"Syukurlah Miko, kamu dengar itu ma, jangan buat menantu kita sterss ya kamu mau kalau calon cucu kamu sampai kenapa-kenapa?" Ucap Sean kepada istrinya.
"Lho kok mama lagi sih pa, memang kapan mama bikin Amora stress." Protes sovi yang tidak terima dengan tuduhan Sean.
"Papa cuman mengingat kan kok ma, ya biar kedepannya mama lebih hati-hati kalau ngomong atau bertindak sama menantu kita."
"Sudah ma, pa tidak perlu berdebat. Miko sudah memutuskan kok kalau selama kehamilan Amora Miko berniat membeli rumah baru dan tinggal di rumah baru kami. Miko tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama istri dan calon anak Miko." Jelas Miko yang memotong pembicaraan kedua orang tua nya.
"Hah..?" Amora dan semua nya terkaget, karena memang Miko belum pernah mendiskusikan ini bersama Amora.
"Miko, sebegitu ga yakin nya kamu Sama mama dan semua anggota keluarga kamu sampai kamu memutuskan untuk pindah? Kamu pikir kami ini penjahat yang berniat mencelakai istri kamu.. bagaimana pun juga anak yang di kandung Amora adalah cucu kami darah daging kami jadi tidak mungkin mama dan yang lain nya setega itu." Kini sovi Langsung berdiri dengan ekspresi wajah yang marah.
"Ma, bukan begitu maksud Miko."
"Mama memang tidak suka kepada Amora, tapi bukan berarti mama juga membenci calon cucu mama. Maaf kalau tadi pagi kata-kata mama mungkin menyinggung kalian. Tapi bisa mama pastikan kalau Amora dan kandungan nya aman jika mereka tinggal di rumah ini. Mama juga ingin jadi nenek siaga untuk cucu mama. Jadi mama mohon jangan pindah Miko." Pinta sovi dengan wajah memohon.
"Ma, mama baik-baik saja kan?" Tanya Sean memastikan.
"Kenapa pa? Papa pikir mama kemasukan roh baik gitu?"
"Ya bukan, tadi pagi perasaan mama ngomong nya A deh kok sekarang jadi B." Jawab Sean yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara Amora hanya diam saja, entah kenapa hatinya terasa hangat mendengar kan kata-kata sovi tadi.
"Ahh udah deh pa, pokoknya mama mau jangan ada lagi yang meninggal kan rumah ini titik. Mama juga akan mencoba menerima Amora sebisa mama." Ucap sovi yang langsung berlalu meninggalkan meja makan itu dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Pa, apa itu artinya mama sudah mau menerima kehadiran Amora?" Tanya Sean kepada papa nya sambil tersenyum bahagia.
"Semoga saja sayang, sepertinya calon anak kalian membawa berkah dan kebahagiaan untuk keluarga ini. Lihat lah belum juga lahir dia sudah bisa menaklukkan hati nenek nya." Ucap Sean yang tersenyum manis.
"Terimakasih sayang, kamu memang anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk papa dan mama." Ucap Miko sambil mengelus lembut perut istrinya yang masih rata itu.
"Sayang, kamu dengar kan kata mama tadi."
"Iya mas." Jawab Amora sambil tersenyum.
Sementara Ravi yang hanya jadi pendengar sedari tadi hanya bisa bengong dan bingung, di satu sisi dia bahagia melihat mama nya sudah mau membuka hati untuk menerima Amora. Namun di sisi lain dia juga Bingun karena itu artinya dia semakin memiliki kesempatan yang sempit untuk mendapatkan Amora.
"Kamu juga segera menikah deh Ravi, menyusul kakak mu. Apa kau tidak mau menjadi bucin seperti kakak mu. Dan ada yang merhatiin?" Tanya Sean kepada putra bungsu nya itu.
"Hah, engga dulu deh pa, Ravi mau fokus ngurus perusahaan dulu. Lagian Ravi masih muda belum kepikiran mau cari istri." Jawab Ravi spontan.
"Hmmm tapi kamu normal kan nak? Kamu menyukai wanita kan?"
"Pa Ravi normal kok, hanya saja memang belum menemukan wanita yang tepat untuk Ravi bawa ke masa depan. Ohh iya pa, kak Ravi ke ruang kerja dulu ya. Ada beberapa berkas yang harus Ravi periksa." Pamit Ravi yang langsung mengalihkan pembicaraan.
"Dasar Ravi, selalu menghindar kalau di bahas soal perempuan, papa jadi curiga sama kamu.Pancing Sean.
"Yasudah papa jangan telat tidurnya, Ravi duluan." Ucap Ravi yang berdiri dari tempat duduk nya dan segera meninggalkan meja makan itu.
"Kakak tau Ravi dari tatapan mu dan cara mu menatap Amora kau masih menyimpan cinta yang besar dan perasaan yang dalam kepada Amora. Tapi maaf Ravi Amora hanya milikku dan selamanya akan seperti itu." Batin Miko sambil menatap punggung adik nya yang menjauh meninggalkan meja makan itu.
"Pa, kita juga mau istirahat dulu ya, kata dokter Amora harus banyak makan obat dan istirahat." Pamit Miko lagi.
__ADS_1
"Iya iya nak, jaga istri kamu baik-baik ya. Papa juga mau ke kamar dulu." Jawab Sean.
Akhirnya mereka semua pun masuk ke kamar masing-masing kecuali Ravi yang masih melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja keluarga mereka.