Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Kejujuran Kanaya


__ADS_3

Beberapa menit pun berlalu dan kini Kanaya sudah sampai di depan rumah nya. Tadi dia bawa mobil sangat ngebut karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Ravi.


"Assalamualaikum." Ucap Kanaya saat dirinya masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam." Sahut Ravi.


"Yasudah nak Ravi ngobrol saja sama Kanya ya, Tante pamit ke kamar dulu." Pamit Mesya yang melihat wajah putri semata wayangnya itu yang menyuruh dirinya agar pergi dari sofa agar dia dan Ravi bisa mengobrol berdua.


"Ohh iya iya Tan." Balas Ravi dengan senyum simpul di wajah nya.


"Kamu dari mana?" Tanya Ravi saat Kanaya sudah duduk di hadapan nya.


"Memang penting buat kamu aku dari mana?" Tanya Kanaya ketus.


"Iya penting dong, kan kamu pacar aku Kanaya." Ravi memasang wajah serius nya.


"Ohh di anggap toh aku jadi pacar kirain kagak." Ledek Kanaya.


"Kanaya kita ini sudah dewasa, jadi tolong dong kalau ada masalah tuh cerita jangan main ngambek-ngambek begini." Ravi masih menahan diri dan berbicara santai.


"Jadi maksudnya aku ke kanak-kanak an begitu?" Ketus Kanaya.


"Bukan Kanaya, bukan begitu maksud aku."


"Sekarang gini deh, aku minta maaf sama kamu kalau mungkin aku banyak salah. Tapi aku minta tolong sekali, tolong kamu harap maklum sama aku ini first time aku pacaran dan aku belum bisa mengetahui kemauan wanita seperti pria pada umumnya. Jadi boleh kah kita saling mengajari dalam hubungan ini?" Pinta Ravi dengan wajah letih nya.


"Benar kata kak Ravi, kenapa sih aku egois begini harusnya kan aku juga bisa mengerti posisi nya dia." Batin Kanaya setelah memilah semua kata-kata Ravi.


"Kenapa kamu diam saja Kanaya?" Tanya Ravi lagi saat kanaya tidak memberikan jawaban apa-apa dan terlihat seakan hanya melamun kan kata-kata Ravi.


"Aku tidak marah kok, dan di sini aku yang salah, aku juga mau minta maaf yah udah ke kanak-kanak an begini." Jawab Kanaya.


"Tidak kok sama sekali tidak salah Kanaya. Kita hanya butuh waktu untuk penyesuaian saja." Jawab Ravi yang tidak ingin menekan Kanaya.


"Terimakasih sayang, karena bisa ngertiin aku." Kanaya tersenyum tulus kepada pacar nya itu.


"Sama-sama sayang, aku juga mau berterimakasih kepada kamu." Jawab Ravi.

__ADS_1


"Ehh kamu baru balik dari kantor ya? Kita keluar yuk." Ajak Kanaya.


"Kita mau kemana Kanaya? Aku belum mandi lho." Jawab Ravi.


"Ke taman dekat sini saja, aku kepingin duduk berdua bersama mu di kursi taman sambil menikmati angin malam." Ajak Kanaya.


"Hmm boleh deh, aku juga lagi suntuk nih." Jawab Ravi yang menyetujui saran Kanaya.


Mereka berdua pun pamit kepada Mesya lalu keluar berdua ke taman dekat rumah Kanaya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil lalu mobil melaju menuju taman dekat rumah Kanaya.


Tak lupa sebelum ke taman mereka singgah sebentar ke salah satu mini market untuk membeli beberapa makanan ringan dan ice cream.


"Huh udaranya segar." Ucap Kanaya setelah mereka berdua sudah duduk di bangku taman.


Karena kebetulan hari ini bukan hari libur jadi taman lumayan sepi.


"Kanaya.." lirih Ravi.


"Hmmm." Jawab Kanaya yang mulai membuka jajanan milik nya.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu? Kau tidak mencintai ku?" Tanya Kanaya sambil menghentikan aktivitas nya memakan cemilan nya.


"Aku tidak tau bagaimana cara mendeskripsikan rasa ku kepada mu, hanya saja ada rasa kurang di hatiku saat tidak bersama mu dan pikiran ku selalu memikirkan mu selebihnya aku tidak tau apakah ini rasa cinta atau takut kehilanganmu." Jelas Ravi.


"Huh..." Kanaya menghelai nafas nya berat.


"Apa kau pernah jatuh cinta sebelum nya?" Tanya Kanaya.


"Pernah..." Jawab Ravi jujur.


"Apakah rasa yang kau miliki kepada perempuan yang pernah kau cintai itu sama dengan rasa yang kau miliki kepada ku sekarang?" Tanya Kanaya.


"Ummm beda tipis Kanaya, tapi ada satu perbedaan nya." Jelas Ravi.


"Apa?"

__ADS_1


"Jika saat bersama perempuan itu hatiku selalu bergetar saat melihat nya dan kian hari rasa di hatiku semakin bergejolak untuk nya. Berbeda dengan mu yang tidak terlalu bergetar saat menatap mu tapi aku takut kehilanganmu Kanaya." Jelas Ravi jujur.


"Siapa wanita beruntung itu jika aku boleh tau, dan apakah sampai sekarang kau masih memiliki perasaan kepada nya?" Sambung Kanaya yang merasa sesak di hati nya mendengar penjelasan Ravi.


"Ada Kanaya, kau tidak perlu tau siapa dia. Tidak kok seiring berjalannya waktu rasa itu sudah berangsur hilang." Bohong Ravi.


"Tidak mungkin aku jujur kepada mu Kanaya bahwa wanita pertama yang ku cintai adalah kakak ipar ku sendiri Amora, dan tidak bisa ku pungkiri bahwa aku masih memiliki perasaan itu kepada nya sampai detik ini. Walaupun tidak sebesar dulu." Batin Ravi.


"Lalu apa kau masih ingin meneruskan hubungan ini bersama ku? Atau aku hanya pelarian saja?" Tanya Kanaya yang takut air mata nya tumpah.


"Aku ingin mencoba mencintaimu Kanaya," jawab Ravi.


"Lalu kau sendiri bagaimana Kanaya? Apa kau tulus mencintai ku? Atau hanya pura-pura untuk suatu tujuan?" Tanya Ravi penuh selidik karena dia menemukan kecurigaan saat mengobrol tadi bersama Mesya mama Kanaya.


"Apa maksud mu? Tentu aku tulus mencintai mu sejak pertama, sejak pertama kita bertemu aku sudah jatuh cinta kepada mu dan kian hari rasa itu semakin besar." Jelas Kanaya dengan sedikit emosi.


"Jujur saja Kanaya, tadi tidak sengaja aku mengobrol dengan mama mu dan tanpa sadar Tante Mesya menceritakan bahwa sebentar yang kau incar dari ku hanya lah harta, jika memang harta keluarga Wijaya yang ingin kau ambil sekarang berhenti lah berpura-pura Kanaya, berhenti berpura-pura mencintai ku." Pancing Ravi.


"Kau lebih percaya kata-kata mama daripada rasa cinta ku? Tatap mataku apakah ada kebohongan di sini? Apa ada siasat di sini?" Tanya Kanaya sambil menatap Ravi dalam.


"Aku akan melakukan segala cara agar kau juga bisa mencintai ku Ravi, akan ku buktikan tidak ada niat jahat di hatiku untuk mu. tolong beri aku kesempatan dan waktu agar ku tunjukkan betapa tulus nya hatiku ingin memiliki mu tanpa alasan yang lain." Jelas Kanaya dengan air mata menetes di pipinya.


"Kanaya, please jangan menangis aku percaya kamu." Ucap Ravi yang tidak menyangka Kanaya akan menangis.


"Aku minta maaf jika kata-kata ku membuat mu sakit, aku hanya tidak mau saja nanti nya sakit Kanaya itu saja." Jelas Ravi sambil mengusap air mata Kanaya.


"Aku tulus mencintai mu Ravi percaya lah." Ucap Kanaya.


"Iya Kanaya, aku melihat ketulusan di mata mu, maaf aku sudah meragukan mu." Ucap Ravi yang langsung memeluk Kanya karena tidak tega melihat wanita yang menjadi pacar nya itu menangis.


"Kau juga harus tau satu hal Ravi." Ucap Kanaya tiba-tiba di sela-sela tangis nya.


"Apa kanaya?" Tanya Ravi.


"Cepat atau lambat ku yakin kau pasti akan mengetahui ini, aku tidak mau ada kebohongan di antara kita. Terserah setelah ini kau masih ingin bersama ku atau tidak." Ucap Kanaya lagi sambil melepas pelukan mereka.


"Iya apa itu Kanaya?" Tanya Ravi yang penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya aku bukan perempuan suci lagi, kesucian ku sudah hilang saat aku kuliah di luar negeri, terserah sekarang kau mau putus atau bagaimana." Jelas Kanaya sambil menunduk kan kepala nya merasa malu.


Ravi hanya diam saja, dia tidak tau harus mengungkapkan apa. Kanaya yang dia rasa adalah wanita polos ternyata tidak sepolos yang dia pikirkan. Bagaimana bisa dia yang tidak pernah merusak wanita harus memiliki wanita yang sudah pernah di rusak oleh orang lain.


__ADS_2