
Pagi ini para perempuan di rumah keluarga Wijaya pada rempong, setelah selesai sarapan tadi pagi dan Ravi sudah berangkat ke kantor mereka semua bersiap-siap untuk berbelanja dan perawatan ke mall dan salon sesuai planning Sovi tempo hari.
Sementara Miko, Dia harus menuruti kemauan istri dan mama nya itu, sekarang dia sedang menggendong Baby Syyaid sembari memndangi istrinya itu yang sedag berdandan di depan cermin.
“Memang mau ke mana sih sayang?” Tanya Miko lagi.
“Kan mama kemaren sudah bilang mas, kalau hari ini kami mau ke mall belanja dan perawatan.” Jawab Amora sembari memoleskan bibir nya dengan lipstik.
“Hmmm memang ya perempuan ini pada rempong.” Guman Miko.
“Bukan kah kebahagian istri adalah tujuan suami sayang.” Ujar Amora yang mendengar gumanan suaminya itu.
“Iya tentu dong sayang.” Jawab Miko cepat.
“Nahh dengan kamu mau berkorban begini kamu sudah membahagiakan istrimu mas, lagian kali-kali kita gantian dulu mas biar kamu tau bagaimana capek nya jagain Syyaid yang sudah mulai aktif seharian penuh.” Lanjut Amora.
“Iya-iya sayang ku.” Jawab Miko yang tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan istrinya itu. Karena dia tau kalau berdebat dengan Amora dia tidak akan pernah menang. Dia juga tidak mau memperburuk mood istrinya itu, jadi dia memilih untuk mengalah saja.
Setelah beberapa menit berlalu semuaya sudah selesai dengan kerempongan masing-masing. Baby Syyaid di gendong oleh Sovi dan mereka semua masuk ke dalam mobil dan Miko yang menyetir mobil.
Di sepanjang perjalanan mereka banyak mengobrol ringan tentang banyak hal. Sovi bahagia karena kini dia merasa kluarganya begitu sempurna, hanya tinggal menunggu cucu dari Ravi dan Ayu maka keluarga Wijaya itu akan benar-benar sempurna.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam akhirnya mereka sampai ke mall yang di tuju, setelah memberikan mandat kepada suaminya, Amora Sovi dan Ayu pun mulai naik ke lantai atas mall itu untuk berburu barang- barang bermerek. Sementara Miko dan baby Syyaid masih di lantai dasar untuk sekedar cuci mata. Untung nya baby Syyaid bukan anak yang rewel selain kalau dia ngantuk atau lapar dan haus, jadi bisa di pastikan Miko tidak akan kewalahan menjaga putra kecilnya itu.
Ayu yang memang terlahir dari keluarga di kampung dan terlahir dari kesedrhanaan hanya bisa mengikuti ibu mertuanya dan Amora, dia bahkan masih kaget setiap melihat harga barang-barang bermerek yang di jual di sana. Amora yang sudah terbiasa hidup mewah dulunya kini merasakan surga nya dunia karena sudah lama dia tidak berbelanja begini.
Setelah membeli beberapa barang yang menurut mereka cocok untuk mereka akhirnya Sovi mengajak para menantunya untuk berbelanja perhiasan. Tentu saja Amora langsung bersemangat. Mereka pun mulai melihat-lihat perhiasan di sana.
“Tante Sovi...” Tiba-tiba suara seorang perempuan mengalihkan perhatian mereka bertiga.
Perempuan dengan pakaian Formal, rambut hitam lebat yang di biarkan tergerai indah, tinggi badan kisaran 165 cm dan tak lupa wajah cantik ke bule-bule an.
“Tante Sovi kan?” sambung sang perempuan cantik lagi.
“Iya kamu siapa?” Tanya Sovi yang memang tidak mengenali perempuan yang ada di hadapan nya itu.
“Astaga, aku Devina tante, tetangga tante dulu teman sekelas Ravi.” Jawab sang perempuan tersenyum manis sehingga menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
“Devina, Devina...”Sovi mencoba mengingat nama Devina.
“Ohh Devina, putrinya mbak Ajeng kan.” Sovi langsung tersenyum manis saat mengingat wanita cantik itu.
“Iya tante.”Jawab Devina mengangguk.
“Astaga Devina, kamu cantik sekali sayang, sudah lama kita tidak bertemu. Tante benar-benar pangling melihat kecantikan kamu.” Puji Sovi yang langsung memeluk Devina haru.
Devina membalas pelukan Sovi, sementara Ayu dan Amora hanya bisa diam saja.
“Yuk kita duduk dulu yuk.” Ajak Sovi saat pelukan mereka terlepas.
Devina pun menurut, mereka pun duduk di kursi yang di sediakan toko perhiasan itu, sementara Ayu dan Amora hanya bisa mengekori mereka.
“Darimana saja Devina, lama tidak ada kabar sayang, mama papa mu apa kabar?” tanya Sovi lagi setelah mereka duduk di kursi yang di sediakan toko perhiasan itu.
“Yahh begitu lah tan, semenjak kami ikut pinda bersama papa keluar negeri Devina memang tidak pernah pulang ke sini lagi. Devina juga sudah lost contak sama Ravi. Dan baru beberapa minggu lalu pulang ke Indonesia lagi tan.” Jawab Devina menjelaskan.
“Ada acara apa ke sini sayang, mama dan papa ikut pulang juga?” sambung Sovi lagi.
“Devina dapat tawaran kerja di sini tan, dan mama juga pengen pulang ke sini saja dia ingin menghabiskan masa tua nya di sini. Kalau papa sudah meninggal satu tahun yang lalu tan.” Jelas Devina dengan raut wajah sedihnya.
“Astaga tante turut berduka cita ya sayang, berarti mama kamu sekarang di Indonesia ya sayang? Tante sudah sangat merindukan mbak Ajeng. Kalian tinggal di mana sekarang Vin?” tanya Sovi yang memang cukup dekat dengan keluarga Devina Dulu.
“Iya tante terimakasih tan, kami tinggal di rumah Almarhum nenek tan, kalau rumah yang di sebelah rumah tante kan sudah di jual. Kebetulan besok hari ulang tahun mama tan makanya Devina pengen beli kado kecil untuknya, kalau ada waktu main lah ke rumah tan Devina yakin mama juga pasti sangat merindukan tante, kami pikir tante dan om juga masih tinggal di luar negeri makanya tidak main ke rumah.” Jelas Devina.
“Ohh begitu, tidak sayang sudah lama kami kembali ke Indonesia semenjak kak Miko menikah, yasudah besok tante main ke rumah ya.” Ucap Sovi.
“Wahh kak Miko sudah menikah ya tan,” kata Devina.
“Iya sayang, ini menantu Tante dan Miko bahkan sudah punya putra sekarang, namanya Baby Syyaid.” Jelas Sovi.
“Halo kak, salam kenal nama saya Devina Alexander.” Ujar Devina menyalim Amora.
__ADS_1
“Salam kenal kembali, Amora anggita.”Amora membalas uluran tangan Devina itu.
“Ohh kenalin ini Ayu istrinya Ravi.” Sovi mengenalkan menantu keduanya.
“Hah istri Ravi, Ravi sudah menikah juga ya tan?” raut wajah Devina langsung berubah.
“Iya sayang barus aja satu bulan yang lalu masih pengantin baru lah.” Jelas Sovi.
“Ohh halo.” Devian menyapa Ayu.
“Ayu kak.” Ayu mengangguk.
“Kamu sendiri sayang sudah menikah atau belum?” Tanya Sovi kepada Devina.
“Hehehe belum tan.” Devina menggeleng.
“Kenapa?” lanjut Sovi.
“Kemaren-kemaren Devina masih fokus ke pendidikan tan sampai S3 lalu setelahnya Fokus ke pekerjaan dan fokus ngerawat papa soalnya papa 3 tahun yang lalu terkena stroke, yahh mungkin memang belum ketemu saja jodohnya tan.” Jawab Devina sambil mencoba tersenyum.
“Astaga Devina, memang dari dulu kamu anak yang cukup pintar dan berbakti kepada orang tua ya sayang, tante iri sama mbak Ajeng punya anak yang sempurna seperti kamu.” Puji Sovi.
“Ahh tante bisa saja.” Devina tersipu malu.
“Tante minta kontak kamu dan kontak mama kamu dong sayang, biar bisa komunikasi an.” Pinta Sovi.
“Ohh boleh tan.” Jawab Devina menyerahkan kontak nya kepada Sovi.
Setelah bertukaran kontak dan mengobrol ringan Devina pun bangkit dari duduk nya dan berniat pamit kepada Sovi dan Amora serta Ayu. Karena dia sudah selesai membelikan kado untuk mama nya.
“Devina makan siang dulu yuk bersama kita, ada Miko juga di bawah.” Ajak Sovi.
“Aduh maaf ya tante, mungkin lain kali ya soalnya Devina harus kembali ke perusahaan soalnya masih ada urusan.” Tolak Devina.
“Yahh begitu ya, yasudah lain kali kita harus atur jadwal ya sayang.” Ucap Sovi.
“Iya tante pasti.” Balas Devina.
“Mari mbak.” Ajak Devina kepada Ayu dan Amora.
“Iya.” Keduanya mengangguk.
Akhirnya Devina keluar dari dalam mall itu, lalu segera menuju parkiran menuju mobilnya, lalu mobil Devina pun melaju meninggalkan mall itu. Sementara Miko yang merasa sudah kelaparan pun menghubungi Amora agar mereka makan siang dulu.
Karena Sovi juga sudah merasa lapar akhirnya mereka memilih untuk makan siang dulu dan melanjutkan shopping nya nanti. Sekalian memanjakan diri, mereka pun memilih salah satu japanese food tempat makan siang mereka.
Setelah memesan makanan sesuai selera masing-masing mereka pun memilih tempat duduk mereka, sementara baby Syyaid di gendong oleh Amora untuk memberikan asi.
“Miko tadi mama ketemu Devina lho, dia sekarang cantik banget mirip sama papa nya, memang sih dari dulu dia juga cantik.” Ujar Sovi antusias.
“Devina siapa ma?” tanya Miko yang sudah tidak familiar dengan nama itu.
“Astaga Devina tetangga kita dahulu lho Miko, putri nya om Micel dan tante Ajeng.” Sambung Sovi.
“Ohh Devina teman sekelas Ravi itu ma, yang sering main ke rumah sama Ravi dulu kan?” tanya Miko yang akhirnya mengingat Devina.
“Nahh iya, dia sekarang cantik banget Miko, mana sudah lulus S3 lagi Devina itu memang perempuan independen dari dulu.Benar-benar pangling mama lihatnya.” Lanjut Sovi.
“Tapi kok mama masih bisa kenal sama Devina, bukan nya mereka sekeluarga dulu pindah keluar negeri saat Devina dan Ravi masih kelas 1 SMA ya. Dan selama di luar negeri mereka belum pernah balik ke sini.” Lanjut Miko.
“Nahh itu Miko, mama juga awalnya gak kenal sama dia, tapi hebatnya Devina masih kenal sama mama.” Jawab Sovi.
“Wahh berarti wajah mama gak berubah dong, terus di mana Devina nya kenapa gak di ajak makan siang sama kita?” lanjut Miko.
“Tadi sih mama ngajak, tapi dia katanya ada urusan lain di kantor, mungkin lain waktu katanya.” Jawab Sovi.
“Di kantor?” tanya Miko lagi.
“Iya sekarang mereka tinggal di sini, dan Devina dapat tawaran bekerja di sini. Namun om Micel sudah meninggal dunia.” Jelas Sovi.
“Astaga, lalu Devina kerja di perusahaan mana ma?” tanya Miko yang penasaran.
__ADS_1
“Nahh kalau di perusahaan mana nya mama lupa bertanya tadi.” Jawab Sovi.
“Hmm begitu ya ma.” Ucap Miko.
Sementara Amora dan Ayu hanya diam saja mendengarkan Miko dan Sovi bercerita, sebenarnya Amor sedikit kesal juga karena suaminya sepertinya begitu antusias mendengarkan certa tentang si Devina itu. Apalagi Devina tadi cantik sekali mana berpendidikan tinggi. Jadi di hati kecil Amora ada sedikit rasa kecewa.
Tak terkecuali dengan Ayu entah kenapa dia merasa Devina itu tidak menyukainya, dari tatapan Devina itu saja tadi dia merasa Devina tidak suka kepadanya. Namun Ayu juga sedikit kesal karena mengetahui bahwa Devina dan Ravi dulu teman sekelas etah kenapa dia merasa cemburu kepada Devina karena jika di bandingkan dengan Devina dirinya kalah jauh dai segala bidang.
Namun mau se cemburu apapun Amora dan Ayu mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa memendam perasaan mereka. Tak berapa lama makanan pesanan mereka pun datang, dan mereka semua makan siang bersama, sembari Amora memberikan makan siang kepada Baby Syyaid.
Setelah selesai makan siang Miko pun menjaga baby Syyaid yang sudah tertidur di Stroller bayi nya. Sementara Sovi, Amora dan Ayu ke salon yang ada di sana, lalu mulai memanjakan diri mereka. Mulai merawat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Miko yang sedari tadi masih tetap bekerj melalui ipad nya. Dan waktu pun terus berjalan dan tanpa terasa sekarang sudah sore.
Sovi dan kedua menantunya sudah selesai merawat tubuh mereka, setelah membayar semuanya mereka pun menemui Miko dan baby Syyaid yang sedang nongkrong di salah satu tempat ngopi yang ada di mall itu.
“Sudah semuanya ma?” Tanya Miko yang sebenarnya sudah merasa bosan.
“Sudah Miko, maaf ya telah membuat kamu dan baby Syyaid menunggu lama.” Ujar Sovi.
“Tidak apa-apa ma, demi mama dan Amora dan Ayu Miko akan melakukan apapun ma.” Jawab Miko.
Amora mengambil Baby Syyaid dari pangkuan suaminya itu, sebenarnya dia tau kalau suamiya itu juga bosan sekali menunggu mereka. Namun tak bisa di pungkiri bahwa Amora juga menikmati hari ini bahkn merindukan waktu-waktu seperti ini.
Sebelum pulang mereka memesan kopi dan beberapa cemilan di sana, setelah menghabiskan kopi masing-masing mereka pun memutuskan untuk pulang. Baby Syyaid kembali di duduk kan di stroller bayi nya lalu di dorong oleh Amora. Sementara Miko membantu membawa sebagian belanjaan mereka. Sisanya di bawakan oleh Sovi dan Ayu.
Sesampainya di basement mall tersebut mereka pun menuju mobil dan meletakkan barang-barang belanjaan di kursi belakang serta stroller baby Syyaid. Setelah semua nya sudah masuk ke mobil mobil pun melaju menuju rumah keluarga Wijaya.
Terpancar raut bahagia di wajah mereka semua, tak terkecuali Ayu, dia juga merasa bahagia karena ini pertama kalinya menikmati perawatan mahal seperti tadi. Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet mereka pun sampai di rumah. Di bantu asisten rumah tangga untuk membawa barang belanjaan ke dalam rumah.
Ternyata secara bersamaan Ravi juga pulang dari kantor, mereka semua pun masuk ke kamar masing-masing mandi. Setelah selesai mandi sekeluarga makan malam bersama.
“Ma,pa malam ini kami pulang ke rumah ya.” Ujar Ravi saat mereka sudah selesai makan malam.
“Lho kenpa harus malam-malam Ravi, besok kan bisa.” Tanya Sean kepada putranya itu.
“Ayu besok pagi harus ke kampus pa, sudah seminggu dia libur.”Jawab Ravi.
“Yahh padahal mama masih rindu sama kalian.” Timpal Sovi.
“Nanti sabtu minggu kami tidur di sini ma.” Jawab Ayu menenangkan mama mertuanya itu.
“Hmm yasudah, kalau memang menantu besok kuliah yasudah kalian pulang lah sekarang biar tidak kemalaman biar istirahatnya juga bisa cepat nanti.” Ujar Sean.
“Baik pa.” Jawab Ravi.
Setelah berpamitan kepada kedua orang tau serta kakak-kakaknya Ravi dan Ayu pun membawa koper dan barang-barang mereka ke dalam mobil dan pasutri itu masuk ke dalam mobil, mobil Ravi pun melaju menuju rumah mereka.
“Mas nanti singgah ke apotik sebentar ya.” Ujar Ayu saat mobil mereka sudah melaju.
“Mau beli apa di apotik sayang?” Tanya Ravi.
“Ada obat yang ingin aku beli mas.” Jawab Ayu.
“Pil KB?” tanya Ravi yang masih fokus menyetir.
Ayu hanya diam, dia tau kalau suaminya itu pasti kecewa dengan keputusan nya namun Ayu juga tidak punya pilihan lain. Ravi juga tidak melanjutkan pembicaraan mereka karena dia tau bahwa kata-katanya benar. Sesampainya di salah satu apotik,Ayu pun turun dari mobil dan membeli pil Kb itu.
Setelah selesai membelikan pil Kb nya Ayu kembali masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju menuju rumah mereka, karena apotik itu tidak terlalu jauh dari rumah mereka jadi hanya di perlukan waktu beberapa menit saja.
Saat Mobil sudah di garasi keduanya mengeluarkan koper masing-masing dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.
Karena kamar mereka ada di lantai dasar jadi keduanya langsung menuju kamar mereka.
Ravi yang mood nya sedang tidak baik lagsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sementara Ayu mulai membongkar koper dan memasukkan pakaian-pakaian mereka ke dalam lemari pakaian milik mereka. Ravi mencoba memejamkan matanya, sebenarnya banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan apalagi dia harus membuat proposal karena mereka ada rencana ingin bekerjasama dengan salah satu perusahaan besar juga. Namun entah kenapa mood nya tiba-tiba memburuk dan malas melakukan apapun.
Ayu yang merasa tidak enak kepada suaminya itu pun mencoba melakukan aktifitasnya, namun karena memang tidak bisa tidur akhirnya Ravi memutuskan ke ruang kerjanya untuk menyibukkan pikiran nya. Ayu yang sudah selesai merapikan pakaian mereka segera mencuci wajah nya dan menggosok giginya. Lalu dia meminum pil Kb itu dan menggunakan skincare nya.
Setelah mengecek barang-barang yang akan di bawa ke kampus besok akhirnya Ayu memilih untuk tidur karena suaminya masih di ruang kerja nya dan Ayu pun tidak berani mengganggu Ravi. Tak butuh waktu lama akhirnya Ayu tertidur karena sudah kelelahan di mall seharian bersama mama mertua dan kakak iparnya tadi.
Waktu pun terus berjalan, Ravi yang merasa mengantuk akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar juga dan beristirahat. Setelah menggosok giginya Ravi pun menyelimuti istrinya yang sudah tertidur lelap itu. Se bagaimana pun dia marah ke pada Ayu saat melihat Ayu tidur tennag begitu perasaan marah nya langsung sirna.
Ravi pun naik ke ranjang dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan istrinya itu.
__ADS_1
“Selamat tidur istriku sayang.”Ravi mengecup kening Ayu lalu membelai pipinya lembut. Setelahnya dia pun memejamkan matanya dan segera menyusul Ayu ke alam mimpi.