
"Makanya Ayu sayang, jangan sok jual mahal. Jika aku tidak bisa mendapatkan mu dengan cara baik-baik maka cara licik ini pun harus ku lakukan." Ucap Steven sambil mengelus pipi Ayu.
Steven memang telah merencanakan ini semua, dia sudah menyiapkan segala kemungkinan. Bahkan saat Ayu meminta air mineral dia sudah menyiapkan obat bius di sebuah suntikan jadi dia menyuntikkan obat itu ke botol air mineral yang masih tersegel.
Tentu hal itu tidak membuat Ayu curiga,
"Sayang ku, hari ini kau akan jadi milik ku dan bisa ku pastikan kau tidak akan pernah lepas dari ku lagi." Ucap Steven sembari mencium kening Ayu.
"Cantik ku." Steven mengelus-elus pipi Ayu.
"Hmmm bagus nya bagaimana ya, bawa ke rumah saja atau ke hotel?" Steven bertanya kepada dirinya sendiri.
"Hotel saja kali ya, biar lebih bagus nanti fotonya. Kan bagus tuh fotonya tersebar seorang mahasiswi cantik chek in dengan dosen nya di hotel. Wahh keren banget ga sih sayang, nanti foto kita bakal aku sebar di internet, foto kamu foto aku dan kamu akan terikat dengan ku." Ucap Steven yang memang sepertinya punya jiwa psikopat.
"Baiklah sebentar ya cintaku, biar aku booking hotel dulu biar nanti kamu tidur nya nyaman sayang." Steven terus berbicara sendiri.
Dia pun mengambil ponsel nya dan segera memesan sebuah kamar hotel yang kebetulan hotel tersebut tidak jauh dari restoran nya.
"Hmmm ini bapak-bapak di tarok kemana ya, sebentar lagi kan cafe buka." Tanya Steven kepada dirinya saat melihat pak Paijo yang juga ikut pingsan karena pengaruh obat yang dia campurkan ke kopi pak Paijo.
"Memang ya Steven kamu gercep banget," puji nya pada dirinya sendiri karena saat dia melihat Ayu datang dengan seseorang dia sudah memperkirakan kemungkinan ini jadi dia menyuruh pelayan mempersiapkan minuman yang sudah di campur obat apabila nanti supir ayu ikut masuk ke dalam restoran.
Biarin di belakang aja kali ya, biar aja entar dia sadar pulang sendiri." Batin Steven yang akhirnya memanggil pelayan cafe nya untuk membantu dirinya memindahkan pak Paijo.
Beberapa pelayan pun datang membantu Steven menarik pak Paijo ke belakang cafe.
"Arghh berat juga ini bapak-bapak." Ujar Steven saat mereka sudah bertiga tapi tetap tidak kuat menarik pak Paijo.
Setelah di tarik ke belakang dan di duduk kan di salah satu kursi, Steven pun memberikan uang tips kepada para karyawan nya dan menyuruh mereka tutup mulut jika ingin semua nya aman.
Setelah nya Steven pun pamit kepada mereka dan Steven pun menggendong ayu menuju parkiran di mana mobil dia juga terparkir di sana.
"Ayo kita bersenang-senang sayang ku." Ucap Steven yang menggendong Ayu.
Steven pun bersusah payah menggendong Ayu keluar dari cafe dan sesampainya di mobil Steven menduduk kan Ayu di kursi sebelah nya. Namun saat Steven sudah selesai mendudukkan Ayu dan saat dia membungkuk dan ingin berdiri tiba-tiba sesuatu memukul punggung nya.
"Arghhh..." Steven merasa kesakitan."
"Bug...satu pukulan kembali mengenai pipi Steven.
"Ka..kamu kok kamu bisa ada di sini?" Tanya Steven yang kaget melihat pak Paijo yang memegang sebuah balok kayu.
__ADS_1
"Bug..." Satu pukulan kembali mendarat ke pipi Steven sehingga membuat Steven terpental ke lantai parkiran. Lalu pak Paijo memukuli Steven dengan balok yang dia bawa tadi sampai Steven kesakitan dan lemah tidak sanggup berdiri.
Pak Paijo tidak banyak bicara, dia Langsung menggendong Ayu dari mobil Steven dan sesegera mungkin membawa ayu ke mobil nya dan setelah memasukkan Ayu ke kursi belakang pak Paijo masuk ke depan dan langsung mengemudikan mobil itu.
Karyawan Steven yang melihat kejadian itu pun langsung membantu Steven dan beberapa dari mereka mencoba menghentikan mobil pak Paijo namun mobil itu sudah keburu pergi.
Beberapa menit kemudian saat pak Paijo merasa sudah aman dia pun berhenti di salah satu Mini market dan membelikan minyak angin serta air mineral. Lalu dia mengoles kan minyak angin tersebut di hidup ayu. Sehingga beberapa menit kemudian Ayu pun sadar.
"Lho pak kita di mana ini?" Tanya Ayu yang masih merasa pusing.
"Minum dulu neng." Pak Paijo memberikan air mineral itu kepada Ayu.
Setelah Ayu minum dia mencoba mengingat kembali kejadian tadi di cafe. Yang dia ingat terakhir adalah dia pingsan dan pak Paijo juga pingsan.
"Kok kita bisa ada di sini pak, bukan nya tadi ada di cafe nya pak Steven ya?" Tanya Ayu lagi.
"Iya neng, tadi memang di sana tapi untung kita bisa lolos." Jawab pak Paijo.
"Maksud bapak?" Tanya Ayu kebingungan.
#Flashback on...
Saat pak Paijo sudah selesai dari kamar mandi, karena memang kamar mandi hanya alibi jadi pak Paijo tidak lama di kamar mandi dia langsung keluar.
Pak Paijo yang mendengar nama nya pun bersembunyi di dekat tangga dan mulai menguping obrolan para pelayan cafe.
"Ehh pak Steven tadi nyuruh bikin kopi buat bapak yang baru masuk, jangan lupa ya obat yang udah di beri sama pak Steven tadi jangan sampai lupa di masukin juga." Ujar salah satu pelayan kepada teman nya.
"Lah emang bapak-bapak itu mau minum kopi?" Jawab teman nya lagi.
"Kata pak Steven kasi aja kopi sekali an obat tidur nya ke minuman nya," jawab sang lawan bicara.
"Terus kalau bapak nya menolak minuman nya bagaimana?" Tanya nya lagi.
"Lakukan planing B dong, suntikkan saja obat nya ke bapak nya. Atau pukul kepalanya biar pingsan." Ujar sang lawan bicara.
Tentu saja pak Paijo kaget mendengar obrolan para karyawan itu. Dia masih bingung kenapa Steven ingin melakukan ini kepada nya. Namun dia tetap menahan diri untuk mengetahui lebih lanjut.
"Wahh parah ya, pak Steven kek psikopat saja." Ucap salah satu nya lagi.
"Lah memang psikopat sih kek nya dia." Jawab yang lain.
__ADS_1
"Tapi heran juga ya, kenapa pak Steven sampai melakukan ini semua, apa perempuan itu perempuan yang dia cintai ya, tapi wajah perempuan itu agak mirip ya sama foto yang ada di ruangan pak Steven." Ujar salah satu pelayan kepada teman nya.
"Bisa jadi sih, yang pasti sepertinya perempuan ini berharga untuk pak Steven karna kalau tidak tidak mungkin dia sampai rela menjebak nya bahkan mengajak kita untuk ikut serta melancarkan rencana nya." Balas yang satu nya lagi.
"Hmmm jadi penasaran, pak Steven mau ngapain ya ke perempuan itu. Kok sampai campurin obat segala ke minuman nya. Jangan sampai dia melakukan tindak kriminal bisa-bisa kita terseret juga karna ikut bantu dia melancarkan kejahatan nya." Salah satu karyawan itu jadi merasa was-was.
"Hust sudah lah, tidak perlu di bahas kita ikutin saja perinta pak Steven, daripada kita di pecat." Teman nya memilih mengakhiri obrolan abstrak ini.
Pak Paijo pun berjalan ke depan seakan tidak terjadi apa-apa agar semua nya tidak curiga. Saat sampai di depan dia di sapa oleh Ayu dan pak Paijo melihat kalau Ayu sudah tidak nyaman.
Saat di persilahkan duduk pak Paijo pun duduk di kursi yang tidak terlalu jauh dari mereka namun masih bisa mendengar obrolan mereka. Untuk mengetahui apa niat Steven sebenarnya pak Paijo pun memilih mengikuti rencana Steven.
Pak Paijo memulai rekaman di ponsel nya dan saat kopi nya datang dia pura-pura meminum nya dan pura-pura tidak sadarkan diri. Sampai akhirnya dia mendengar kan semua kata-kata Steven dan niat Steven melakukan ini semua.
Pak Paijo yang pura-pura pingsan masih tetap melanjutkan aksi nya namun ponsel di saku terus merekam obrolan di sana. Sampai pak Paijo di bawa ke belakang dan Steven membayar tips untuk para karyawan yang membantu Steven melakukan ini semua.
Saat Steven pergi, dan para karyawan kembali melanjutkan aktivitas mereka pak Paijo pun menggunakan kesempatan ini untuk membantu ayu. Dia segera keluar dari restoran dan melihat ada sebuah balok di dekat parkiran pak Paijo yang sudah emosi kepada steven langsung memukul pindah steven dan membatu menyelamatkan Ayu.
#Flashback off....
Ayu yang sudah selesai mendengar kan penjelasan pak Steven dan memutar rekaman tentang niat jahat Steven kepada nya entah kenapa ayu merasa rapuh dan dia pun menangis.
"Terimakasih banyak pak, Ayu berutang Budi sama pak Paijo. Ayu tidak tau akan jadi apa Ayu kalau tidak ada pak Paijo." Ucap Ayu sambil menangis dan membayangkan betapa hancurnya hidup dan masa depan nya jika tidak ada pak Paijo.
"Sudah lah neng ayu, ini sudah tanggung jawab bapak. Yang penting sekarang semua nya baik-baik saja." Ujar pak Paijo.
"Maaf pak, tadi ayu sempat menolak untuk di antar jemput oleh bapak, dan terimakasih banyak pak karena sudah bersikeras tadi. Karna kalau tidak ayu sendiri tidak sanggup membayangkan bagaimana hidup ayu Sekarang." Ucap Ayu yang merasa bersyukur karena pak Paijo tadi bersikeras menunggu nya sampai kuliah selesai.
"Hmmmm, ternyata filing den Ravi bisa tepat ya. Kalau bukan karna tugas dari den Ravi mungkin tadi aku juga ga bakal nungguin neng ayu sampai kelar kuliah. Ahh andai kamu tau non bahwa ini semua karena den Ravi, sayang nya tidak boleh bocor karna kalau sampai aku keceplosan nanti neng tau kalau den Ravi pura-pura Amnesia." Batin pak Paijo.
"Hehehe mungkin memang sudah takdir sama yang di Atas neng, yasudah kita balik ya neng sudah sore." Ajak pak Paijo.
"Iya pak, tapi Ayu boleh minta satu hal tidak pak?" Tanya Ayu.
"Apa neng?" Jawab pak Paijo.
"Boleh tidak masalah ini di rahasiakan saja, cukup saya dan bapak yang tau. Ya pak ya saya mohon ya pak." Ucap Ayu dengan tatapan memohon.
"Hmmm baiklah non." Jawab pak Paijo setelah dia menghembuskan nafas nya berat.
Dia memang ingin Steven si proses oleh keluarga Wijaya, karena sudah membahayakan ayu. namun nanti saja dia Konsul dulu sama Ravi bagaimana baik nya masalah ini.
__ADS_1
Mobil pun melaju menuju rumah keluarga Wijaya. Sementara di mobil ayu masih melamun kata demi kata Steven berputar di otak nya. sungguh ayu tidak habis pikir bisa-bisa nya Steven berpikir untuk melakukan hal seperti itu kepada dirinya.
Ayu merasa ilfil, jijik benci, kesal semua bercampur aduk kepada Steven.