Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Dendam Tama


__ADS_3

Sesampainya di rumah Arya Miko dan Ravi Langsung memaksa masuk, bahkan sang satpam kewalahan menghadapi rombongan Miko.


Terlihat rumah itu sepi, hanya ada beberapa pegawai dan Arya yang sedang terbaring di ranjang.


"Dimana Tama?" Tanya Miko pada orang yang ada di rumah itu.


"Kami tidak tau pak, kenapa bapak datang ke sini dan melakukan kekacauan di rumah ini." Tanya seorang pelayan yang ketakutan.


"Karna Tama telah menculik wanita ku, cepat telepon dia dan tanyakan dimana keadaan nya. Jangan sampai ruma ini ku hancur kan dan ku bakar." Titah Miko dengan penuh kemarahan.


Namun sang pelayan seakan tidak mau bergerak untuk menelepon Tama, mereka pikir ancaman Miko hanya sekedar ancaman saja.


"Oh kau kira aku bercanda hah?"


Tiba-tiba Miko mengambil sebuah pas bunga yang ada di atas meja dan langsung melemparkan nya ke lemari kaca dan semuanya pecah berantakan dengan seketika.


Semua orang menjadi takut melihat kemarahan Miko. Bahkan Ravi saja tidak percaya kalau kakak nya bisa semarah itu.


"Kak tenang dulu." Ucap Ravi menenangkan Miko.


"Tenang, tenang katamu? Kalau sampai terjadi sesuatu pada Amora aku tidak akan memaafkan kalian semua." Bentak Miko kepada Ravi.


Ravi jadi terdiam mendengar kata-kata Miko.


"Apa kau ingin melihat ku bakar rumah ini dan seisinya hah? Cepat telepon Tama jangan sampai kesabaran ku habis" Bentak Miko lagi.


"Kak belum tentu Tama yang menculik Amora, bisa saja ini perlakuan orang lain yang memang tidak suka dengan Amora." Ingat Ravi.


"Aku tidak perduli, jika memang si Tama tidak menculik Amora harusnya mereka bisa langsung menelpon Tama. Tanpa harus menguji kesabaran." Jawab Miko yang masih berdiri bertolak pinggang.


Dan dengan segera mereka semua menelepon Tama, beberapa kali akhirnya panggilan pun terjawab.


"Ha..halo pak Tama ada orang yang mengamuk di rumah.." jelas sang pelayan dengan gugup nya.

__ADS_1


"Kau bawa kemana Amora ku? Jangan main-main dengan Miko Wijaya Tama jika kau masih ingin hidup." Ucap Miko yang langsung menarik ponsel dari tangan sang pelayan.


"Hmmm akhirnya aku dapat bicara dengan CEO Wijaya grup, hahaha kau bilang apa barusan Amora mu? Sebegitu berharga nya perempuan P****** ini di mata mu tuan Miko yang terhormat sampai kau mengorbankan semuanya?" Ucap Tama dengan Tawa di sana.


"Tutup mulut busuk mu itu, jangan sampai ku robek berani nya kau menghina milik ku." Bentak Miko.


"Tapi sayang nya aku tidak takut tuan Miko, aku bahkan tidak perduli kalau aku mati di tangan mu, yang terpenting dendam ku terbalaskan kepada Amora." Jawab Tama.


"Tama, jangan kau sentuh sedikit saja milik ku, kalau sampai kau berani lihat saja ke neraka Sekai pun kau akan ku kejar." Bentak Miko yang sudah di puncak kemarahan nya.


"Hahaha aku tunggu kedatangan mu pak Miko. Hmmm apa kau ingin melihat wanita mu ini untuk terakhir kalinya sebelum meregang nyawa? Atau ada ucapan terakhir?" Tanya Miko yang langsung mengubah panggilan itu ke panggilan video.


Terlihat Amora di ikat di sebuah kursi dengan mulut tertutup dengan lakban, dan menangis.


"Amora, kau tenang saja aku akan menyelamatkan mu. Dan tidak akan ada yang bisa menyakiti mu selagi masih ada aku." Ucap Miko yang langsung merasa sakit saat melihat kondisi Amora.


"Sudah ya pak Miko terhormat, selamat tinggal dari Amora untuk mu." Ucap Tama sambil mematikan panggilan itu.


"Sialan kamu Tama, berani kamu bermain-main dengan ku hah? Cepat lacak lokasi nya." Titah nya kepada sang bodyguard dengan menyerahkan ponsel sang pelayan.


"Seperti nya aku tau dimana itu kak, karena kemaren kami menemukan Amora di sana. Mungkin Tama menyekap Amora di tempat itu." Ucap Ravi yang langsung mengingat lokasi nya.


"Yasudah tunggu apa lagi, ayo segera kita berangkat ke sana." Bentak nya.


Dan semua pun langsung masuk ke dalam mobil dan melaju ke tempat dimana Amora di sekap.


.


.


.


#di gudang.

__ADS_1


"Hahaha ini adalah hari terakhir mu melihat dunia Amora." Tawa Tama.


"Hmm,,,hmmm." Ingin rasanya Amora mengucap kan sesuatu tapi mulutnya di sekap oleh Miko.


"Baiklah akan ku beri kau kesempatan terakhir untuk bicara." Ucap Miko sambil menarik lakban di mulut Amora.


"Awww,,, Tama aku tau aku salah tapi ..."


"Tapi apa? Aku tidak berhak menghukum mu begitu hah?" Potong Tama dan langsung membentak Amora.


"Kau tau karena kehadiran mu rumah tangga kedua orang tua ku, keluarga ku hancur. Karena se cinta itu papa ku kepada mu sampai-sampai papa ku ingin menceraikan mama ku. Dan karena kehadiran nya perempuan murahan mama ku meninggal dunia dua Minggu lalu karena terkena serangan jantung."jelas Tama dengan air mata yang mulai menetes di pipi nya.


"Tama aku minta maaf, sungguh aku tidak berniat melakukan ini semua, bahkan aku sudah cukup lama memutuskan hubungan dengan om Arya." Jelas Amora yang benar-benar merasa bersalah.


"Hahaha sudah terlambat Amora, kau harus membayar semuanya, dan tenang saja sebelum kau papa juga sudah membayar kesalahannya kok karena aku telah menyuntikkan cairan ke tubuhnya sehingga dia menjadi mayat hidup. Sebentar lagi dendam mama ku akan terbalas. Siap-siap lah menuju neraka Amora." Tawa Tama penuh kemenangan.


"Tama, aku minta maaf tapi mohon izinkan aku memperbaiki semuanya." Mohon Amora.


"Kau sudah terlambat, kau kira karena kau berlindung di balik Miko Wijaya aku tidak bisa membalaskan dendam ku kepada mu hah? Kau salah Amora ke ujung dunia sekali pun kau akan ku cari." Ucap tama.


"kalian siram minyak nya." Titah Tama kepada para bodyguard nya.


"Baik bos."


"Selamat tinggal Amora, kau akan hangus terbakar bersamaan dengan bangunan ini. Sampai bertemu di neraka cantik." Ucap Tama sambil mengecup kening Amora.


"Oh iya satu lagi, kau harus tau kalau aku menyukai mu pada pandangan pertama, seandainya kau bukan simpanan papa ku pasti aku akan memperjuangkan mu. Tapi sayang nya rasa suka ku kini menjadi benci dan dendam kepada mu." Jelas Tama.


"Hahaha selamat terpanggang Amora, Miko mu pun tidak akan bisa menyelamatkan mu." Ucap Tama sambil keluar dari ruangan itu karena semuanya sudah di siram bensin.


"Tama, aku minta maaf." Teriak Amora.


"Ini kah akhir hidup ku," batin Amora sambil menangis saat api sudah mulai menyala.

__ADS_1


#hallo kakak-kakak tersayang, terimakasih sudah setia membaca tulisan author yang masih remahan rengginang ini. maaf ya author masih bisa up sedikit setiap harinya, karena author juga punya kesibukan di dunia nyata. author berharap saran, kritik dan dukungan dari kakak-kakak semua. author tau masih banyak kesalahan di dalam tulisan ini. semoga kakak-kakak semua sehat selalu ya peluk cium dari author 😍


__ADS_2