
"Tok...tok ....tok." Ravi mengetuk pintu kamar sovi dan Sean.
"Ma, pa buka pintu nya Ravi mau bicara." Ucap Ravi di balik daun pintu.
"Sudah malam Ravi, kamu ganggu orang tidur saja." Ucap Sovi dari dalam sembari menahan tangan Sean agar tidak bergerak membuka pintu.
"Hanya sebentar ma, pa tolong lah." Ucap Ravi lagi.
"Besok kan masih bisa Ravi, jangan ganggu papa dan mama istirahat." Sahut sovi lagi.
"Ma Ravi mohon ma, dengar kan Ravi kali ini saja. Ini penting Ravi bakal mengetuk terus dan berdiri di depan pintu kamar mama dan papa sampai pintu nya di buka sama mama dan papa." Ujar Ravi yang masih terus mengetuk pintu kamar mereka.
"Sudah lah ma ah, kenapa kamu seperti anak kecil begini sih. Sama anak sendiri pun pake acara marahan begini." Sean melepas genggaman sovi di tangan nya dan segera ke pintu untuk membuka kan pintu kamar mereka.
Mau tidak mau sovi duduk dari rebahan nya, dan buang muka saat Ravi masuk ke kamar mereka.
"Kamu jadi anak keras kepala banget ya Ravi, udah di bilang ngobrol nya besok saja." Ucap Sovi tanpa menatap wajah putra bungsu nya itu.
"Ma, maafin Ravi untuk semua masalah yang terjadi hari ini..Ravi tau Ravi salah dan salah banget, tapi Ravi mohon ma mama jangan marah ya sama Ayu dia tidak salah Ravi lah yang salah di sini." Ucap Ravi sambil memohon kepada mama nya.
"Hmmm, kamu ke sini cuman mau ngomong itu?" Tanya sovi tapi masih enggan menatap Ravi.
"Ma, kalau mama mau hukum Ravi Ravi terima ma apapun hukuman dari mama. Tapi Ravi mohon ma tolong ma jangan marah sama Ayu, dan Ravi mohon ma tolong bujuk Ayu untuk jangan pindah dari rumah ini." Pinta Ravi yang merasa putus asa.
"Mama rasa mama tidak punya hak untuk menahan Ayu untuk tetap tinggal di rumah ini. Lagian kan dia bukan nya di usir dia yang memilih sendiri untuk pindah, ya berarti dia sudah memikirkan semua nya matang-matang." Jawab sovi lagi.
"Tapi ma..."
"Tapi apa Ravi? Sebegitu cinta nya kamu kepada Ayu ya? Kamu tau tidak semakin kamu memohon untuk Ayu semakin mama membenci nya, jadi kalau kamu mau bahas dia melulu mending kamu keluar dari kamar ini." potong Sovi.
"Ma, maaf tapi mama adalah harapan terakhir Ravi, Ravi janji tidak ada hubungan apapun lagi di antara Ravi dan Ayu tapi Ravi mohon ma bujuk ayu untuk tetap tinggal di rumah kita. Biar semua nya kembali ke semula seperti sejak pertama kali ayu datang ke rumah ini." Ravi masih terus berusaha.
"Ravi, semua tidak bisa berubah apalagi di ulang kembali, biar lah Ayu memilih apapun yang terbaik untuk masa depan nya. Kamu juga tidak bisa menahan dia untuk tetap tinggal di sini. Begitu juga mama, kita tidak punya hak untuk itu. Biarlah dia mencari jati dirinya sendiri." Sovi mencoba menjelaskan semua nya kepada Ravi.
"Ma, tapi ma..."
__ADS_1
"Ravi cukup, kalau kamu mau berdebat datang ke kamar mama, mending sekarang kamu keluar. Kalau kamu tidak mau keluar mending mama yang keluar." Usir sovi.
Sean pun menatap Ravi, seakan menyuruh Ravi keluar dulu. Karena Sean tau sebegitu marah Nya Sovi kepada Ravi dan Ayu, jadi di bujuk juga percuma sovi hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya dan menerima ini semua.
"Yasudah lah kalau mama tidak mau bantu Ravi, sekali lagi Ravi minta maaf pa, ma, permisi selamat malam." Pamit Ravi dengan wajah putus asa.
"Apa sih pa salah kita, kenapa anak-anak kita bucin kalau masalah percintaan. Bahkan sampai menentang kedua orang tua nya, mana perempuan yang di pilih selalu tidak sesuai ekspektasi kita." Ucap Sovi yang merasa kecewa dengan semua.
"Ma, kamu tidak boleh bilang begitu, tidak ada yang bisa melawan jodoh dan takdir." Sean mencoba menenangkan istrinya itu.
"Ahh tidak tau lah pa, mama pusing mau tidur saja." Jawab sovi yang merebahkan tubuhnya dan menutup wajah nya dengan selimut.
Dia merasa hari ini sangat lelah, hati, pikiran serta tubuh nya begitu letih.
"Maafin ibu Ayu, ibu terpaksa melakukan ini. Ibu juga kepingin tau apa kamu tulus ke Ravi atau hanya mengincar harta Ravi seperti kata Kanaya tadi. Semoga apapun yang terjadi nanti kedepannya adalah yang terbaik untuk kalian berdua." Batin sovi yang sebenarnya menangis melihat ini semua.
Sovi menyadari bahwa Ravi memiliki perasaan yang begitu besar kepada Ayu, apalagi saat dia membaca chat mereka tadi sovi tau betul bahwa Ravi lah yang sangat mencintai Ayu dan ayu sudah mencoba sadar diri dan menolak Ravi. Namun Ravi terus memaksakan cinta nya kepada Ayu.
Namun hati kecil sovi belum bisa terima ini semua, dia masih merasa kesal dan sedih kenapa harus ada cinta di antara Ravi dan Ayu. Jadi dia masih marah kepada kedua insan yang sudah di anggap nya sebagai putra dan putri nya itu.
.
.
.
"Tok...tok .." kini Ravi mengetuk pintu kamar Ayu.
"Siapa?" Tanya Ayu dari dalam kamar nya.
"Aku yu." Jawab Ravi.
"Ada apa kak?" Tanya ayu lagi.
"Boleh buka pintu nya sebentar yu? Ada yang ingin kakak katakan." Pinta Ravi.
__ADS_1
"Besok saja kak, ini sudah malam, tidak enak di lihat yang lain." Ayu mencoba menolak nya.
"Please yu, kalau kamu tidak membuka pintu nya maka kakak akan tetap di sini, hanya sebentar saja." Ravi mulai mengertak ayu dan terus mengetuk pintu kamar Ayu.
Karena tidak ingin menimbulkan presepsi aneh untuk para penghuni rumah karena Ravi yang tak henti mengetuk pintu kamar nya akhirnya Ayu pun membuka pintu kamar nya.
"Ada apa kak, apa tidak bisa bicara nya besok saja?" Tanya Ayu sambil mengeluarkan kepala nya dari daun pintu sedangkan tubuh nya menahan daun pintu.
"Apa kakak boleh masuk?" Tanya Ravi.
"Apa tidak boleh ngobrol di sini saja?" Ayu balik bertanya.
"Kakak merasa pegal berdiri, santai saja yu kakak ga akan macam-macam kok." Jawab Ravi.
"Hmmm, yaudah masuk kak." Ajak Ayu sambil membiarkan pintu nya tetap terbuka.
Ravi pun masuk dan duduk di kursi meja rias milik Ayu, sementara ayu duduk di atas ranjang nya.
Entah kenapa hati Ravi sakit saat melihat koper ayu yang sudah tersusun Ravi dengan beberapa barang milik nya yang sudah selesai di packing.
"Yu kamu bercanda doang kan, kamu tidak benar-benar pindah kan?" Ravi masih mengharapkan semua ini hanya candaan doang.
"Kak Ayu serius, ayu akan pindah kak." Jawab Ayu sambil menatap Ravi.
"Tapi kenapa yu, apa karna masalah tadi? Kakak janji akan bereskan semua. Dan kakak tidak akan bahas perasaan lagi sama kamu, tapi kakak mohon yu jangan pindah, kakak mohon kita mulai semua dari awal dari awal sejak kamu ke rumah ini." Pinta Ravi dengan harap.
"Maaf kak, ini sudah keputusan Ayu, dan ayu berharap semoga kakak menerima keputusan Ayu ya. Ayu juga minta maaf kalau ayu banyak salah sama kakak, bahkan untuk pertunangan kakak tadi gagal karena ayu ambil andil di dalam nya. Dari lubuk hati terdalam ayu minta maaf dan terimakasih untuk setiap hal kak yang tidak bisa Ayu sebutkan satu persatu. Intinya Ayu bahagia bisa kenal kakak dan keluarga ini dan selamanya ayu punya hutang Budi sama keluarga Wijaya kak." Ucap Ayu sambil mata nya berkaca-kaca.
"Ayu..."
"Sudah lah kak, semua sudah terlanjur tidak ada yang bisa di rubah lagi. Ayu mohon hargai keputusan ayu ya. Sekarang kak Ravi juga istirahat gih, ayu tau kakak juga pasti lelah seharian ini kan. Tidak perlu memikirkan apapun kak ya."potong Ayu.
"Silahkan kak." Ayu menunjuk pintu kamar nya menggunakan ibu jarinya.
"Hmmm yaudah lah yu, kalau ini memang keputusan kamu. Ternyata selama ini hanya kakak yang berjuang untuk mempertahankan hubungan kita. Ternyata kamu tidak, semoga ini keputusan terbaik ya dan semoga kamu bahagia." Ucap Ravi yang merasa kecewa dan akhirnya pergi dari kamar Ayu.
__ADS_1
Karena merasa kesal dengan keadaan Ravi pun keluar dari rumah dan mengemudikan mobil nya menuju bar yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka untuk sekedar minum dan menenangkan pikiran nya.