
Setelah selesai makan Amora, Ayu dan pak Paijo pun kembali ke rumah. Karena sedari tadi Miko sudah beberapa kali menelepon agar istri nya itu segera pulang dan istirahat.
"Ayu kamu biasa suka ngemil apa?" Tanya Amora kepada Ayu.
"Saya tidak biasa ngemil mbak, dulu saja sewaktu saya masih di kampung paling bikin gorengan seperti pisang goreng, atau singkong goreng." Jelas Ayu.
"Wahh seperti nya enak tuh yu, kamu bisa masak kan bagaimana kalau kita buat singkong goreng dan pisang goreng buat camilan entar sore?" Tanya Amora yang langsung ngiler ngebayangin makan enak itu.
"Terserah mbak saja, saya mah ngikut saja." Jawab Ayu.
"Iya non apalagi di temanin se cangkir kopi sore hari, behh mantap itu." Pak Paijo nimbrung.
"Kamu tau kan yu, bahan-bahan nya saya mah kurang paham hehehe." Tanya Amora cengengesan.
"Tau kok mbak."jawab Ayu.
"Yasudah kita ke supermarket dulu ya pak, buat beli bahan-bahan nya." Titah Amora.
"Siap nyonya muda." Jawab pak Paijo.
"Ehh mbak, dekat rumah kan ada pasar tradisional tuh, ayu rasa lebih bagus beli pisang dan singkong nya di pasar." Saran Ayu.
"Tapi apa lengkap yu kalau belanja di pasar?" Tanya Amora lagi.
"Lengkap kok mbak, tadi ayu lihat di depan pasar nya banyak grosir-grosir yang seperti nya menjual tepung dan lain-lain juga. Lumaya mbak lebih murah dan lebih segar." Jelas ayu sambil tersenyum.
"Terserah Ayu saja mana baiknya, mbak ikut saja." Jawab Amora.
"Wahh mbak Ayu ini calon istri idaman sekali ya, lebih memilih belanja ke pasar ketimbang supermarket, udah cantik baik lagi. Tapi sayang mbak saya sudah punya istri dan anak saya juga masih kecil-kecil, kalau mau punya istri dua saya bukan sultan Mbak." Jelas pak Paijo merasa kecewa.
"Heh, kalau pak Paijo juga masih lajang belum tentu Ayu mau sama bapak." Ledek Amora yang merasa pak Paijo ke PD an.
"Iya po, mbak ayu tidak mau ya sama saya kalau saya masih bujangan?" Tanya pak Paijo yang masih fokus menyetir mobil.
"Hehehe ayu tidak tau pak." Jawab ayu cengengesan.
"Udah kagak usah ngadi-ngadi pak, sekarang kita ke pasar saja. Entar suami saya marah lagi kalau saya pulang nya lama." Ajak Amora.
"Iya non, ini sudah mau sampai kok." Jawab pak Paijo.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di pasar tersebut.
"Mbak Amora tunggu di mobil saja ya, biar saya yang belanja." Ucap Ayu yang membuka seat belt nya.
"Tapi yu."
"Tidak apa-apa mbak, entar mbak kecapean lho, lagian yang di belanjaan juga tidak banyak kan." Potong Ayu.
"Yasudah ini yu uang nya, kalau kurang kamu ke sini lagi ya ambil lagi." Ucap Amora sambil memberikan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan.
"Ini mah kebanyakan mbak." Jelas ayu.
"Sudah bawa saja dulu yu, kamu kira-kira saja cukup untuk kita se rumah." Tambah Amora.
"Baik mbak."
"Sana pak, minta tolong bantuin Ayu bawain belanjaan nya." Ucap Amora kepada pak Paijo.
"Siap nyonya." Jawab Paijo yang langsung melepas seat belt nya.
Ayu dan pak Paijo pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam pasar untuk berbenah, sedangkan Amora menunggu mereka di dalam mobil.
Beberapa menit kemudian mereka berdua pun datang dengan beberapa tentengan belanja an. Pak Paijo pun membuka bagasi mobil dan memasukkan belanjaan nya ke dalam sana. Lalu dia dan Ayu masuk ke dalam mobil.
Setelah nya pak Paijo pun menjalankan mobil menuju rumah keluarga Wijaya.
"Ini mbak kembalian nya." Ayu menyerahkan beberapa lembar uang pecahan limapuluh ribu dan uang kecil lain nya.
"Lho masih ada kembalian nya yu? Mana banyak banget lagi. Simpan saja yu buat kamu." Ucap Amora yang melihat uang yang di serahkan oleh Ayu.
"Lho kan ini kembali an uang nya mbak Amora." Ayu mencoba menolak uang itu.
"Rejeki tidak boleh di tolak neng ayu." Timbal pak Paijo.
"Nah dengar tuh, rejeki tidak boleh di tolak, lagian itu tidak seberapa hitung-hitung gaji kamu mau masak sebentar lagi." Ucap Amora sambil tersenyum.
"Lah kalau untuk masak kan emang usah kewajiban saya mbak."
"Sudah lah yu, ambil saja lah ah. Saya tidak suka penolakan lho." Kata Amora.
"Yaudah makasih banyak ya mbak, kalau begini kan saya jadi enak." Ucap Ayu yang akhirnya memasuki uang itu ke saku nya.
"Sama-sama Ayu, ya memang itu tujuan saya bikin kamu nyaman dan merasa enak tinggal bersama kami." Ucap Amora.
.
.
.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah, pak Paijo pun membantu Amora membawa barang-barang nya ke kamar nya. Lalu membatu ayu membawakan belanja an nya ke dapur.
"Yu nanti sore saja ya buat camilan nya, mbak mau tidur siang dulu, kamu juga istirahat gih." Ucap Amora yang memang sudah mengantuk.
__ADS_1
"Baik mbak." Jawab Ayu.
Amora pun naik ke atas dan segera menuju kamar nya. Setelah nya dia mandi karena dia merasa badan nya terasa lengket setelah sedari oagi keliling di mall. Lalu setelah selesai mandi Amora pun memakai daster nya lalu bersiap untuk tidur siang.
Sementara Ayu yang merasa kegerahan juga langsung mandi dan berganti pakaian. Karena tidak terbiasa tidur siang untuk mengisi kekosongan waktu nya Ayu pun mulai membantu pekerjaan Beberapa orang di rumah itu. Dia membantu membersihkan rumah, halaman depan dan belakang. Walaupun itu bukan tugas Ayu tapi dia merasa senang melakukan semua pekerjaan rumah.
Tanpa terasa waktu pun terus berlalu dan kini sudah pukul lima sore. Amora yang tidar siang pun sudah terbangun dari tidur nya. Dia pun turun ke bawah dan segera mencari Ayu. Ternyata Ayu ada di halaman belakang sedang menyiram bunga-bunga.
"Ayu kamu ngapain heh?" Tanya Amora yang melihat ayu sedang asyik dengan selang di tangan nya.
"Aduh kaget saya mbak." Jawab ayu yang kaget dengan kehadiran Amora.
"Makanya jangan melamun, kamu ngapain hah?" Amora mengulang pertanyaan nya.
"Nyiram bunga-bunga ini mbak, kasihan mbak bunga nya gersang sudah beberapa hari ini hujan tidak turun." Jelas Ayu.
"Tapi kan ini bukan pekerjaan kamu yu, lagian kan tadi mbak nyuruh kamu buat istirahat." Jelas Amora.
"Tidak apa-apa mbak, saya tidak terbiasa tidur siang, jadi sembari menunggu sore saya mencoba mencari kesibukan sendiri." Jelas ayu lagi.
"Ada-ada saja kamu yu, yasudah kalau sudah selesai menyiram bunga-bunga nya kamu ke dapur ya biar kita eksekusi camilan sore Kita." Tambah Amora.
"Baik mbak, ini udah mau selesai kok." Jawab Ayu.
Amora pun masuk ke dalam rumah dan menuju dapur, sementara ayu yang memang sudah hampir selesai menyiram bunga-bunga itu, mematikan keran air nya. Lalu langsing mengekori Amora ke dapur.
Amora pun membantu ayu mengupas pisang sedangkan ayu membersihkan singkong lalu mulai memotong-motong nya sesuai pengetahuan ayu. Tak lupa menyiapkan tepung- tepung an yang akan di gunakan untuk gorengan mereka.
Amora pun melakukan pekerjaan yang di perintah kan oleh Ayu. Ayu terlihat begitu pintar dalam hal takar menakar bahan yang akan di gunakan. Hanya dengan filing saja semua nya sudah selesai dan tinggal di goreng.
Beberapa menit kemudian gorengan pun sudah mulai masak. Amora pun langsung menyuruh Ayu menyisihkan nya untuk orang-orang di rumah. Tak lupa menyuruh Ayu menyiapkan kopi juga untuk mereka.
"Wahh ternyata kamu jago masak juga ya yu, ini pisang goreng nya bisa crispy begini, mana matang nya pas lagi." Ucap amora saat menjadi penyicip pertama masakan ayu.
"Ahh mbak bisa saja." Ayu tersipu malu.
"Iya yu, enak banget." Puji Amora.
"Mbak ponsel nya bunyi tuh." Ucap Ayu saat melihat ponsel Amora berdering di atas meja.
"Ohh suami saya yu." Amora pun meletakkan pisang goreng yang tinggal setengah di atas piring lalu membersihkan tangan nya dengan tissue dan kemudian mengangkat panggilan dari suaminya itu.
"Kenapa mas? Tumben nelpon jam segini?" Tanya Amora saat Panggilan video mereka sudah terhubung.
"Emang mas tidak boleh menelepon kamu jam segini hah?" Tanya Miko yang sedang bersiap-siap ingin pulang ke rumah.
"Iya boleh-boleh saja sih."
"Ini mas sudah mau pulang, kamu ada titipan tidak?" Tanya Miko kepada istrinya itu.
"Kamu ngapain tumben sore-sore begini di dapur sayang?" Tanya Miko saat menyadari istrinya itu sedang duduk di dapur mereka.
"Ohh iya mas lagi bantuin ayu nih bikin gorengan." Jelas Amora sambil mengubah camera ponselnya ajdi camera belakang jadi dia menunggu gorengan Ayu.
"Widih seperti nya enak tuh, mas kok jadi lapar ya." Kata Miko yang ngiler melihat gorengan yang ada di atas piring.
"Iya mas, emang enak banget gorengan Ayu aku saja sudah mau habis dua. Makanya sini balik." Ucap Amora.
"Okay sayang, Jangan di habisin ya, ini papa dan mas mau balik. Mama belum pulang ya?" Tanya Miko lagi.
"Belum mas, mungkin sebentar lagi ." Jawab Amora.
"Yasudah mas tutup telepon nya ya sayang, assalamualaikum." Ucap Miko.
"Iya mas waalaikumsalam." Amora pun akhirnya mematikan panggilan itu.
Miko pun keluar dari ruangan nya dan segera mencari Sean untuk pulang,.namun karena hari ini dia dan Ravi beserta Sean bertiga ke kantor jadi mau tidak mau dia harus menghampiri Ravi menayangkan apakah Ravi pulang bersama mereka atau bersama Kanaya. Dan kebetulan kunci mobil ada di Ravi tadi siang.
"Tok..tok...tok.." Miko mengetuk pintu ruangan Ravi dari luar.
"Masuk." Sahut Ravi dari dalam.
"Kamu mau ikut balik bareng aku sama papa ga? Atau mau balik bareng pacar?" Tanya Miko saat dia sudah membuka pintu ruangan Ravi sambil menoleh ke Kanaya.
"Balik bareng kalian saja deh kak, lagian Kanya katanya masih ada acara abis ini kebetulan pekerjaan kita juga udah kelar." Jawab Ravi.
"Wokeh, di tunggu di bawah ya." Sambung Miko sambil menutup pintu ruangan Ravi.
"Kamu hati-hati ya nyetir nya ingat ga usah ngebut-ngebut." Ucap Ravi saat Miko sudah k
Menutup ruangan nya dan kini tinggal dirinya dan kanya di ruangan itu.
"Iya sayang." Jawab Kanaya yang mengemas barang-barang nya ke dalam tas nya.
"Yasudah yuk turun bareng." Ajak Ravi.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu dan segera menuju lift dan lantai dasar perusahaan itu. Karena di dalam lift hanya ada mereka berdua Kanaya dan Ravi pun bisa saling menggenggam tangan.
Bahkan Ravi sesekali mengusap rambut Kanaya dan mengecup ujung rambut nya.
Sesampainya di lantai dasar dan saat lift akan terbuka mereka berdua pun harus melepaskan genggaman nya. Dan keluar dari lift seperti biasanya bagaimana hubungan antara sekertaris dan atasan.
Ravi pun berjalan menuju mobil nya dimana di dalam nya Miko dan Sean sudah menunggu nya. Sedangkan Kanaya juga berjalan menuju mobil milik nya yang tidak jauh diparkir dair mobil milik Ravi.
__ADS_1
Karena kebetulan kunci mobil ada di Ravi jadi Ravi lah yang menyetir untuk sore ini. Mobil pun melaju membelah jalan kota yang begitu macet.
"Ehem... Tumben ga pulang bareng mbak pacar." Ledek Sean.
"Dia ada acara habis ini pa." Jawab Ravi.
"Memang nya kalau ada acara, kamu tidak boleh ikut?" Timpal Miko.
"Itu acara sepupunya, ahh ogah entar di tanya-tanya sama keluarga nya." Jelas Ravi.
"Lah harusnya itu yang bagus, sekalian perkenalkan sama keluarga Kanaya." Ucap Sean lagi.
"Ahh tidak pa, secepat itu? Ravi belum siap." Jelas Ravi.
"Siap tidak siap yah harus siap toh Ravi, karna cepat atau lambat juga waktunya bakal tiba. Tapi kamu memang mau serius kan sama Kanaya?" Tambah Sean yang sedikit ragu dengan kepastian putra nya itu.
"Iya serius lah pa, santai pa nanti pasti bakal ada waktu nya kok. Lagian Kanaya sendiri belum maksa kok. Ravi juga mau langsung mandi dan istirahat pa rasanya badan Ravi lelah banget." Ucap Ravi.
Bagaimana tidak lelah, semalam tidak tidur karena mikirin masalah Kanaya. Namun saat Kanaya menjelaskan semua nya akhirnya Ravi memilih menerima semua kelebihan dan kekurangan Kanaya. Dan tadi sudah berjanji akan mencintai Kanaya dengan sepenuh hati tanpa pernah mengungkit-ungkit lagi masa lalu Kanaya.
"Hmmm terserah kamu saja deh Ravi." Ucap Sean.
Dan beberapa menit kemudian mobil mereka pun sudah sampai di rumah. Ketiga pria tampan itu pun keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Namun mereka tidak menemukan siapapun di rumah itu.
"Ini para penghuni rumah di mana sih? Ga tau apa suami nya udah pada pulang." Oceh Miko yang biasanya selalu di sambut oleh istrinya saat pulang kerja.
"Istri kamu sama papa aja kali kak, aku mah belum punya istri." Ucap Ravi yang terus berjalan menuju kamar nya.
"PD benar dia ya pa, ga sadar apa dia itu laki-laki paling menyedihkan di rumah ini." Ucap Miko yang kesal melihat Ravi.
"Sepertinya mama mu dan yang lain ada di belakang deh." Ucap Sean yang mendengar kan suara istri nya di taman belakang.
"Hmmm seperti nya sih iya pa." Miko mencoba mempertajam pendengaran nya.
Mereka berdua pun segera ke taman belakang dan benar saja, Amora, Ayu, sovi dan lain nya sedang bersantai di taman belakang sambil menikmati kopi dan teh beserta Camilan yang di buat oleh ayu tadi.
"Ohh bagus ya, sekarang udah tidak ingat suami lagi." Ledek Miko yang menyadarkan semua nya akan kehadiran mereka.
"Ehh mas, pa kalian sudah pulang." Amora langsung berdiri dan menyambut suaminya itu.
"Iya di cari-cari ternyata di sini." Ucap Miko.
"Apa pa? Ngapain lihat mama begitu? Mau kek Amora dan Miko juga papa langsung mama peluk? Kita sudah tua pa, udah ga jaman nya lagi Romantis-romantisan." Ucap Sovi saat melihat suaminya memandangi nya.
"Iya kan papa juga mau ma, di peluk dan di cium seperti Miko dan menantu kita." Jawab Sean.
"Halah santai saja pa, nanti malam mama kasih jatah deh, ini sekarang papa mending duduk saja cobain pisang goreng buatan ayu mumpung masih hangat, di Jamin papa nagih deh." Ucap Sovi sambil menunjuk piring yang ada di hadapannya.
"Bener ya ma, kalau begini kan papa semangat." Sean langsung cengengesan mendengar kata jatah.
"Giliran jatah aja langsung cepat." Ledek sovi.
"Yuk mas, kamu juga harus cobain pisang goreng buatan ayu." Ajak Amora kepada suaminya itu.
Miko pun hanya menurut dan mencoba pisang goreng buatan ayu. Dan seperti kata Amora semua yang ada di rumah itu menuju masakan Ayu dan ketagihan dengan masakan sederhana ayu itu.
Ayu pun hanya bisa tersipu malu, dan karena sudah bermain dengan kompor tadi ayu pun merasa kegerahan dan akhirnya pamit untuk mandi sore.
Ayu masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar nya. Namun belum juga ayu membuka pintu kamar nya Ravi yang baru saja mandi keluar dari kamar nya.
"Apa kamu lihat-lihat?" Ravi langsung sinis menatap Ayu.
"Idih ini manusia kenapa ke pd an banget sih?" Batin Ayu merasa jengkel.
"Tidak kok pak." Jawab ayu terbata-bata.
"Pak.. pak.." kamu kira saya bapak kamu?" Tambah Ravi.
"Lalu saya harus panggil apa? Mas, om, paman, kakek atau sayang hah?" Tanya Ayu merasa kesal.
"Lho kok kamu malah nge gas sih?"
"Lagian situ ngeselin, wajar dong saya nge liat orang situ buka pintu kan saya punya telinga dan saat telinga saya mendengar land sesuatu wajar mata saya menoleh ke sumber suara." Jelas Ayu yang entah kenapa sejak pertama ketemu Ravi sudah merasa jengkel kepada Ravi.
"Ketiban apaan nih cewek kok emosian sih." Ucape Ravi yang mengaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Kamu kok ga ada sopan-sopan nya sih sama saya?" Tanya Ravi.
"Tidak sopan bagaimana sih pak hah?" Ayu merasa kesal.
"Heh ingat ya masalah kita belum selesai." Tiba-tiba Ravi mengingat kejadian tadi malam.
"Masalah apaan, memang nya saya ada salah ke situ?" Tanya ayu.
"Ohh kamu lupa ya tadi malam kamu dorong saya sampai jatuh ke lantai."
"Kan salah bapak sendiri ngapain berdiri di depan kamar saya, jadi bukan salah saya dong." Ucap Ayu yang tidak mau di salah kan.
"Sudah saya bilang jangan panggil saya bapak, dan ingat ya saya ini adik nya kak Miko jadi berlaku sopan ya kamu."
"Ya kalau ga mau di panggil bapak, mau nya di panggil apa?" Tanya ayu yang merasa semakin jengkel.
"Terserah, yang penting jangan bapak." Ucap Ravi yang berjalan meninggalkan Ayu.
__ADS_1
"Dasar sinting." Gerut Ayu yang akhirnya masuk ke kamar nya dan segera mandi.