Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Jangan Pindah


__ADS_3

Setelah Ravi di pindahkan ke ruang rawat inap, mereka pun masuk dan menunggu di sana. Sembari menunggu Ravi siuman.


"Maafin mama ya nak, mama salah sama kamu." Ucap Sovi yang duduk di sebelah Ravi sambil menggenggam tangan Ravi dan menangis.


"Ma, sudah lah, yang penting sekarang Ravi sudah melewati masa kritis nya. Lagian kalau mama sakit begini terus nanti malah mama yang jadi sakit. Dan kalau sampai Ravi tau bisa-bisa dia merasa bersalah, dan yang ada nanti Berpengaruh ke kesehatan dia." Sean mencoba menenangkan istrinya itu.


"Iya ma, benar kata papa." Timpal miko.


Akhirnya sovi menyeka air mata nya, Lalau tersenyum sembari mengecup punggung tangan putra bungsu nya itu. Hati sovi benar-benar hancur melihat Ravi terbaring begini. Apalagi tadi saat Ravi butuh donor Darah dia benar-benar hancur saat mereka sekeluarga tidak ada yang bisa membantu Ravi, untung ada Ayu yang bisa membantu Ravi.


"Miko, karna sekarang kondisi Ravi sudah membaik seperti nya kalian boleh pulang dulu. Mama kasihan sama baby syyaid." Titah sovi kepada putra sulung nya itu.


"Iya Miko, bawa pulang dulu Amora sama baby syyaid, Ravi biar mama dan papa yang jagain di sini." Timpal sean yang setuju dengan keputusan istrinya.


"Iya pa, ma, nanti kalau ada apa-apa tolong ya langsung kabarin Miko." Jawab Miko yang sebenarnya khawatir tentang kondisi adik semata wayang nya itu. Namun dia juga tidak boleh egois dia harus lebih mementingkan putra dan istri nya.


"Iya, kalian hati-hati ya, Miko nyetir nya jangan ngebut." Titah sovi saat mereka berpamitan untuk pulang dulu.


"Nak Ayu tidak ingin ikut pulang bersama Miko dan Amora?" Tanya Sean saat melihat Ayu yang masih duduk di sofa ruangan Ravi.


"Tidak pak, kalau di izin kan saya di sini saja menemani bapak dan ibu menunggu kak Ravi siuman." Jawab Ayu sambil menunduk.


Saat Sean melihat tidak ada penolakan dari sovi berarti sovi setuju kalau Ayu ada di sana menunggu Ravi sampai siuman.


"Ohh begitu, baiklah yu, tentu di izinkan." Jawab Sean.


"Terimakasih pak, buk." Jawab Ayu.


"Yasudah ma, pa, kita pamit pulang dulu ya, besok pagi Miko ke sini. Yu kakak titip mama, papa dan Ravi ya." Pamit Miko.


"Iya kak." Jawab Ayu mencoba memberikan senyuman nya.


Sovi yang curi-curi pandang sedari tadi melirik ke arah Ayu, yang pandangan nya tidak pernah lepas dari Ravi dengan tatapan mata penuh dengan rasa sedih dan harapan.


Setelah Miko dan Amora keluar dari ruangan mereka Sean dan sovi pun hanya bisa duduk menunggu Ravi siuman.


Karena Ravi di rawat di ruang VVIP tentu saja fasilitas nya lengkap.

__ADS_1


"Pa tidur saja dulu, mama tau papa pasti ngantuk kan." Titah sovi yang melihat suaminya itu sepertinya mengantuk.


Karena memang di kamar itu di sediakan bed untuk keluarga yang menunggu jadi Sean bisa berisitirahat di sana.


"Iya ma, yu tidak apa-apa kan bapak istirahat sebentar?" Tanya Sean kepada Ayu dan istrinya.


"Ohh iya pak, silahkan." Jawab Ayu.


Akhirnya Sean pun merebahkan tubuhnya di bed itu dan beberapa menit kemudian dia pun tertidur.


"Kamu juga kalau mau istirahat istirahat saja, boleh di sana, atau di sofa ruang keluarga." Ucap Sovi saat kini tinggal mereka berdua yang duduk menunggu Ravi siuman.


"Tidak apa-apa kok Bu, Ayu tidak mengantuk." Jawab Ayu yang merasa canggung.


Hubungan mereka memang menjadi canggung karena kejadian kemaren. Mereka yang biasa nya mengobrol seperti ibu dan anak kini seperti orang asing.


"Ummm, ibu saja yang istirahat, biar Ayu yang jagain kak ravi. Nanti kalau Kak Ravi udah siuman Ayu bangunin ibu dan bapak..ibu juga pasti sangat lelah kan." Ayu mencoba memberanikan diri.


"Tidak, saya ingin menemani putra saya." Jawab Sovi dingin.


Mereka berdua pun kembali hening, tidak ada obrolan lagi setelah itu.


"Yu, ayu..." Tiba-tiba suara Ravi memecahkan keheningan di ruangan itu.


"Ravi, nak kamu sudah sadar nak. Sovi langsung menekan tombol di ruangan itu untuk menghubungkan ke dokter agar sang dokter datang untuk mengecek kondisi Ravi.


"Kak Ravi, kakak sudah siuman." Ayu langsung berdiri dari duduk nya dan menghampiri Ravi.


Namun Ravi yang masih terpejam terus memanggil nama Ayu.


Sang dokter pun datang dan mengecek kondisi Ravi. Dan benar Saja Ravi sudah melewati masa kritis nya. Namun sisa obat bius dari operasi tadi masih tersisa sehingga kesadaran Ravi belum kembali sepenuhnya. Bahkan tadi saat dia memanggil Ayu itu di bawah alam sadar nya.


Sehingga sang dokter menyarankan agar pihak keluarga menunggu sekitar satu jam lagi sampai pengaruh obat bius benar-benar habis dan sang dokter akan mengecek kembali kondisi Ravi.


"Bahkan saat kau tidak sadar pun, yang kau panggil pertama kali Ayu Ravi, sebegitu besar nya kah rasa cinta mu kepada Ayu?." Batin sovi yang hanya bisa terdiam.


Mama tau, kamu pasti frustasi sekali ya saat Ayu wanita yang kamu cintai akan meninggalkan kamu. Bahkan kamu sampai minum-minum dan mabuk nak. Hanya demi perempuan, kenapa sih kamu dan kakak kamu sama, kalau masalah perempuan pasti langsung lemah." Batin sovi lagi.

__ADS_1


Sementara ayu hanya bisa diam dan menunduk, sovi pun menatap wajah polos Ayu. Dia jadi merasa kasihan kepada Ayu.


"Apa aku terlalu kerasa ya kepada Anak ini kemaren." Batin sovi yang sedikit menyesal telah berbuat begitu kepada Ayu kemarin.


"Apa kamu jadi pindah besok pagi?" Tanya sovi memulai obrolan di antara mereka saat sang dokter sudah keluar dari ruangan itu.


"Rencananya iya Bu...." Jawab Ayu gugup dan penuh keraguan.


Sean yang sudah bangun dari tidur nya hanya diam saja di bed itu. Dia memberikan ruang untuk istrinya dan Ayu agar lebih bebas mengobrol.


"Apa se begitu ingin nya kamu pindah dari rumah kami?" Sambung sovi lagi.


"Bukan begitu Bu..." Jawab Ayu yang merasa bersalah.


"Lalu...?" Desak sovi lagi.


Ayu semakin kalang kabut, dia tidak tau harus menjawab apa lagi. Dia hanya bisa menunduk.


" Sebenarnya itu keputusan kamu sih, dan kami juga tidak punya hak untuk melarang kamu. Tapi kalau saya boleh minta boleh kamu tinggal beberapa hari lagi di rumah kami setidaknya sampai kondisi Ravi membaik." Tanya sovi yang sebenarnya segan mengutarakan niat nya dan segan meminta Ayu untuk tetap tinggal di rumah mereka.


"Tentu boleh Bu, boleh sekali malahan." Jawab Ayu langsung bersemangat dan tersenyum tipis.


" Boleh apa?" Pancing sovi lagi.


" Boleh Bu, saya tinggal beberapa hari lagi di rumah keluarga Wijaya. Seperti ibu bilang sampai kondisi kak Ravi membaik." Jawab Ayu yang jadi merasa canggung karena tadi dia terlalu bersemangat.


"Tapi saya tidak mau karena terpaksa ya, ya kalau memang kamu keberatan tidak bisa tidak apa-apa kok." Sambung sovi lagi.


"Tidak kok buk, sama sekali saya tidak terpaksa malahan saya senang bisa tinggal lebih lama di keluarga Wijaya." Jawab Ayu yang sebenarnya belum rela meninggalkan rumah keluarga Wijaya.


"Bagus lah kalau begitu, setidaknya kamu bisa bantu saya nanti." Jawab sovi sok judes.


"Iya buk, pasti." Ucap Ayu yang tersenyum.


" Hahaha dasar kalian, sebenarnya kalian saling membutuhkan satu sama lain. Tapi sama-sama gengsi." Batin Sean yang tersenyum tipis mendengar kan obrolan istri dan calon menantu nya itu.


"Ada baiknya juga kamu begini Ravi, setidaknya Ayu akan tinggal lebih lama di rumah kita." Sambung batin Sean.

__ADS_1


__ADS_2