Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Nasehat Bapak


__ADS_3

"Ehh sapi bapak masih ada kan?" Tanya Ayu saat mereka sudah selesai makan siang.


"Ada ndok, cuman tinggal tiga ekor lagi." Jawab si Bapak yang duduk di teras gubuk sembari merokok.


"Berarti bapak ngarit dong ya? Itu rumput-rumput di jalan mau ke ladang sepertinya sudah pada besar ya pak." Sambung Ayu.


"Iya ndok, rencana nya nanti sore bapak mau ngarit rumput itu." Ujar si bapak.


"Bagaimana kalau Ayu sama kak Ravi saja yang ngarit pak?" Tawar Ayu karena kasihan melihat Ravi bekerja di bawah terik nya mata hari.


"Iya ndok, kalian ngarit saja tapi tunggu agak mendung ya, ini masih terlalu siang. Sembari menunggu mendung kalian beristirahat saja di gubuk ya." Tambah si ibu yang sebenarnya tidak tega melihat Ravi bekerja.


"Iya Bu." Ayu segera mengiyakan kata-kata ibu nya.


"Yaudah nak Ravi, dan Ayu istirahat saja ya di gubuk, bapak dan ibu mau melanjutkan memasang plastik mulsa nya dulu." Ujar si ibu yang berdiri dari duduk nya.


"Tidak apa-apa kok Bu, Ravi bisa bekerja kita bantuin saja ya, biar kerjaan cepat kelar." Tawar Ravi yang merasa tidak enak kalau hanya duduk diam di gubuk.


"Tidak perlu nak Ravi, lagian tinggal sedikit kok." Tolak si ibu.


"Iya kalian istirahat saja di gubuk, ini cukup panas." Akhirnya bapak juga melarang mereka bekerja.


"Baik pak." Akhirnya Ravi menuruti perintah.


Bapak dan ibu pun kembali ke lahan ladang dan mulai bekerja. Sedangkan Ravi dan Ayu duduk di teras gubuk yang memang di siapkan tempat duduk yang panjang serta lebar jadi cukup untuk beberapa orang.


"Kakak pasti capek kan?" Tanya Ayu memulai obrolan mereka.


"Tidak kok, malahan kakak bahagia bisa merasa hal baru begini. Ternyata cari uang tidak selamanya mudah. Hanya segelintir orang yang bisa kerja santai namun bisa mendapatkan uang yang cukup banyak. Malahan ini jadi pengalaman dan pelajaran baru untuk kakak." Ujar Ravi dengan senyum di wajah nya.


Dia menatap indah nya pemandangan ladang, ada beberapa petani yang tetap menahan terik panas nya matahari dan bekerja di ladang. Tumbuhan-tumbuhan yang indah nan beragam terlihat indah di lereng perbukitan. Mereka sedikit Me layu karena terik nya matahari.


Ravi pun mengeluarkan ponsel nya dan mengambil foto pemandangan indah itu.


"Yu foto yuk, seperti nya kira berdua tidak pernah berfoto deh." Ajak Ravi yang langsung mengganti kamera nya menjadi kamera depan.


"Hah.."? Tanya Ayu yang masih ngeleg.


"Sini ber Selfi sama kakak." Ravi langsung merangkul Ayu dan mendekatkan posisi duduk nya dan Ayu.


Mereka pun mengambil beberapa gambar, dengan beberapa angel, dan beberapa pose. Setelah merasa puas Ravi dan Ayu pun melihat hasil nya.


"Ehh kita telepon kak Amora yuk, kakak rindu sama baby syyaid nih." Ajak Ravi yang langsung mencari kontak Amora nya.


"Ummm anu kak .." belum sempat Ayu melanjutkan kata-katanya Ravi sudah menekan tombol memanggil di WhatsApp nya. Sebenarnya Ayu sedikit takut kalau sampai sovi melihat Ravi di bawa ke ladang main panas-panas an dan di suruh bekerja ibu sovi akan marah.

__ADS_1


Karena seingat Ayu di rumah nya saja Ravi selalu di manja Sekali main ke rumah Ayu Ravi malah di bawa ke ladang dan di suruh bekerja.


Namun beberapa panggilan Amora tidak mengangkat panggilan dari Ravi.


"Yahh tidak di angkat yu." Ujar Ravi dengan wajah kecewa.


"Ohh mungkin kak Amora lagi ngurus baby syyaid kak." Jawab Ayu yang merasa sedikit aman karena panggilan video itu tidak terjawab.


"Ehh kita telepon mama saja yu." Ravi mencari nomor mama nya dan Langsung melakukan panggilan video.


Belum sempat Ayu bernafas kini sudah menelepon sovi. Jantung Ayu langsung dag Dig dug. Dia takut kalau sampai sovi salah paham sama dirinya dan keluarganya dalam memperlakukan Ravi. Dan yang ada nantinya sovi tidak merestui mereka lagi atau bahkan jadi benci kepada dirinya.


"Assalamualaikum mama." Ravi langsung tersenyum sumringah saat panggilan nya dan mama nya sudah tersambung.


"Waalaikumsalam sayang, kamu lagi di mana itu?" Tanya sovi yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu.


"Lagi di sini ma" Ravi membalikkan camera belakang dan menunjukkan view alam yang begitu indah.


"Lho kalian lagi liburan?" Tanya sovi lagi.


"Bukan ma, ini ladang punya keluarga Ayu bagus kan?" Tanya Ravi sambil menunjukkan satu persatu.


"Wahh bagus, kalian main-main ke ladang Ayu ya?" Tanya sovi yang juga merasa takjub melihat keindahan alam itu.


"Iya ma, di sini tuh benar-benar indah, ohh iya mama sudah makan siang?" Tanya Ravi lagi.


"Ohh begitu, sudah juga kok ma, kak Amora mana ma? Ravi rindu sama keponakan Ravi. Tadi Ravi telepon kak Amora tidak di angkat." Tanya Ravi.


"Halo om Ravi, ponsel mama ku di kamar, Kami sedang bermain bersama nenek." Amora langsung menjawab pertanyaan ravi yang memang sedang menggendong baby syyaid.


"Ini nih ponakan ganteng kamu si gembul." Sovi mengubah camera belakang.


"Lihat yu baru dua hari tidak ketemu dia langsung tambah gembul saja kan." Ucap Ravi sambil memperlihatkan layar ke Ayu.


"Hehehe, halo baby syyaid kok belum tidur siang nak?" Tanya Ayu sekedar basa basi.a


"Ini sudah mau tidur siang Tante Ayu." Jawab Amora lagi.


"Aku tuh ma baru dua hari belum melihat baby syyaid sudah rindu banget, seperti tidak bertemu satu tahun." Ucap Ravi yang memang langsung merindukan baby syyaid.


"Ahh kamu lebay, makanya segera nikah Ravi biar punya juga. Jangan anak orang yang kamu rindukan." Ledek sovi.


"Lho kok anak orang ma? Anak kak Miko kan anak Ravi juga." Jelas Ravi.


"Iya memang, tapi kan alangkah bagus nya anak kandung kamu jadi mama punya cucu yang banyak." Sambung sovi lagi.

__ADS_1


"Hmmm iya iya Maman, secepatnya ya."jawab Ravi lagi.


"Yasudah have fun ya, selamat menikmati liburan kamu sebelum Minggu depan kembali ke rutinitas kamu, mama dan kakak kamu mau tidur siang dulu." Ujar sovi lagi.


"Iya mama." Jawab Ravi.


Akhirnya panggilan mereka pun berakhir, dan ayu merasa sedikit lebih Tenang karena dia melihat tidak ads perubahan ekspresi di wajah sovi saat tau bahwa Ravi di bawa ke ladang.


"Kenapa wajah kamu merah begitu yu?" Tanya Ravi saat menatap wajah Ayu.


"Ohh ini karna kepanasan kak." Jawab Ravi berbohong, padahal sekarang jantung nya sedang tidak stabil.


Setelah selesai melakukan panggilan video, dan mengobrol Sedikit dengan Ayu akhirnya Ravi dan Ayu memutuskan untuk segera ngarit, karena cuaca yang tadi nya panas kini tiba-tiba mendung.


Setelah berpamitan dengan bapak dan ibu mereka pun mengarit, dan setelah selesai mengarit rumput merek berdua pun pulang dan langsung memberikan rumput-rumput itu kepada sapi milik Ayu.


Tak beberapa lama kemudian bapak dan ibu juga pulang karena hujan lebat dan Ravi langsung mandi agar biasa bergantian dengan yang lain. Mereka pun mandi satu persatu. Kayla dan Jonatan yang sudah pulang sekolah sedari tadi melakukan pekerjaan rumah.


Setelah si ibu selesai mandi dia pun memasak di bantu oleh Ayu. Sementara Ravi mengobrol di ruang tamu dengan si bapak.


Setelah beberapa jam mereka pun sholat lalu makan malam bersama. Ravi yang merasa kedinginan dan kelelahan akhirnya pamit untuk tidur duluan karena mata nya sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi.


Ravi pun masuk ke kamar nya dan segera beristirahat. Sementara Kayla dan Jonatan ke kamar mereka untuk mengerjakan tugas sekolah. Kini tinggal Ayu, ibu dan bapak yang duduk di tikar bekas mereka makan malam tadi.


"Yu..." Bapak memulai obrolan.


"Iya pak." Tanya Ayu sambil menatap si bapak.


"Kamu sama nak Ravi pacaran ya?" Tanya si bapak lagi.


"Ummm anu tidak pacaran sih pak, tapi hanya dekat begitu." Jawab Ayu yang merasa gugup karena untuk pertama kalinya bapak nya bertanya soal ini.


"Nak, sebenarnya kalau di lihat nak Ravi itu baik dan bapak juga tau kalian sama-sama punya perasaan. Tapi bukan nya bapak ingin menghalangi cinta kamu nak, alangkah baik nya kamu cari pria yang setara dengan kita. Nanti keluarga nya nak Ravi mikir kamu dekat dengan dia hanya karena ingin hartanya. Bapak tau dia bukan orang sembarangan setelah mendengar cerita kamu. Dan kemaren sebelum kalian ke sini juga bapak sudah menyuruh adik kamu Kayla mencari tau soal keluarga nak Ravi. Jelas so bapak.


Bapak hanya tidak mau kalau sampai nanti kamu di rendahkan hanya karena beda kasta dengan mereka. Sudah ya nak, akhir in saja hubungan kamu dengan nak Ravi, kalau boleh kamu pindah saja dari rumah nak Ravi cari kerja sampingan yang lain saja, nanti bapak juga bakal bantu-bantu biaya kuliah kamu. Bapak tidak mau kamu nanti jadi patah hati karena kondisi ekonomi kita nak, kita dan nak Ravi itu bagaikan langit dan bumi. Dan satu lagi bapak juga ingin kamu fokus kuliah dulu dan mengejar cita-cita kamu agar bisa bantu adik-adik kamu kelak. Saran bapak tidak usah pacar-pacar an dulu ya ndok." Sambung si bapak lagi.


Ayu hanya diam saja, dia tidak tau harus berkata apapun. Ingin rasanya dia bilang bahwa keluarga nya Ravi sebenarnya sudah menerima nya namun dirinya sendiri pun sebenarnya tidak yakin apa mama sovi dan papa Sean sudah benar-benar menerima nya. Setelah mendengar kata-kata papa nya semangat Ayu tiba-tiba hilang. Kepercayaan dirinya berkurang.


"Benar kata bapak kamu yu, ibu ingin kalian kelak punya pasangan yang memang menikah karena saling mencintai. Bukan ibu meragukan perasaan kamu ke nak Ravi ya, hanya saja ibu rasa hubungan kalian kurang cocok. Dan ibu ingin menantu dan besan yang biasa-biasa saja yang se Tara dengan kita jadi dia tidak punya alasan untuk menghina kamu atau pun keluarga kita." Tambah si ibu.


"Tapi pak Bu."....


"Sudah lah ndok, kamu pikirkan saja dulu semua kata-kata bapak dan ibu ya. Sebenarnya kami tidak pernah melarang kamu bergaul dengan siapapun, tapi jangan sampai hubungan kamu menyakiti hati kamu nanti nya dan menghina kamu, sunggu bapak dan ibu tidak bisa terima itu." Potong si bapak.


"Yaudah istirahat gih, pasti kamu lelah juga seharian ini kan bekerja, bapak dan ibu juga mau istirahat. Apapun kata-kata kami barusan kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu nak." Ucap si bapak yang berdiri dari duduknya dan mengelus rambut Ayu.

__ADS_1


"Iya pak." Jawab Ayu yang akhirnya menurut.


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing, namun Ayu tidak bisa tidur dia benar-benar berperang dengan kepala nya. Soal kata-kata si bapak, setelah melewati banyak rintangan dan mulai bisa mendapatkan restu dari mama sovi dan papa Sean kini malah kedua orang tua Ayu yang tidak setuju karena merasa inseciure dengan perbedaan ekonomi mereka.


__ADS_2