
Setelah semua nya selesai dan di rasa aman Ayu pun berterima kasih kepada Sean, sovi dan semua nya. Sungguh sebenarnya Ayu merasa sangat bersalah karena telah membuat keluarga Wijaya repot dan terlibat karena Maslah nya.
Namun sovi mencoba memberikan penjelasan kepada Ayu bahwa dirinya sangat berarti bagi keluarga Wijaya dan sudah di anggap seperti putri sendiri jadi ini adalah salah satu tanggung jawab mereka kepada Ayu.
Hubungan di keluarga itu kini kembali harmonis. Hari demi hari di lalui mereka dengan kehangatan seperti dulu lagi.
Beberapa Minggu sudah berlalu, Ayu pun dengan telaten merawat Ravi. Dan sovi akhirnya menyadari ketulusan Ayu kepada Ravi.
Seperti pagi ini, semua anggota keluarga sedang sarapan, namun Ayu dan Ravi masih di taman belakang. Ayu mencoba mengajak Ravi berjalan.
"Ayo kak, kakak pasti bisa, bosan kan beberapa Minggu ini di kamar terus." Ucap Ayu yang membantu Ravi berdiri dari kursi roda nya.
"Iya yu." Jawab Ravi yang menerima uluran tangan Ayu dan mencoba ikut berdiri.
Ayu pun memapah Ravi, dan satu demi satu langkah berhasil di lalui Ravi.
Melihat senyum tulus Ayu yang sambil berjalan mundur dan menggenggam erat tangan Ravi membuat Ravi semangat untuk berjalan. Dia merasa dia harus berjalan dengan cepat agar dapat menggapai Ayu.
Langkah demi langkah terus di lalui oleh Ravi, Ayu yang tersenyum mencoba memberikan semangat kepada pujaan hati nya itu.
Dan kini mereka sudah berjalan beberapa langkah, keringat Ravi tidak bisa bohong karena dia memang bekerja keras untuk ini. Ayu yang melihat Ravi sudah mulai kelelahan akhirnya mengajak Ravi duduk di salah satu kursi di dekat kolam berenang.
"Sebentar ya kak, biar Ayu ambilkan kursi roda nya." Ucap Ayu yang berjalan menuju kursi roda milik Ravi.
"Iya yu." Jawab Ravi tersenyum.
Ayu pun mendorong kursi roda milik Ravi ke arah Ravi, dan kemudian membantu Ravi naik dan duduk di kursi roda nya.
"Hari ini tidak ada kuliah yu?" Tanya Ravi saat Ayu mendorong kursi roda Ravi masuk ke dalam rumah.
"Ada kak, tapi kuliah siang." Ujar Ayu.
"Ohh begitu, bagaimana kuliah mu lancar kan?" Basa-basi Ravi.
"Alhamdulillah lancar kak." Ujar Ayu.
"Syukurlah kalau begitu yu." Ucap Ravi tersenyum.
Ayu pun mendorong kursi roda itu sampai masuk ke teras rumah.
"Habis ngapain Vi, kok sampai keringatan begitu?" Tanya Sean saat melihat putra bungsu nya itu penuh dengan keringat.
"Habis latihan jalan pa sama Ayu, Alhamdulillah tadi Ravi sudah bisa berjalan beberapa langkah." Jawab Ravi.
"Wahh syukur lah kalau begitu nak, semangat ya." Sean memberikan semangat kepada Ravi.
"Iya pa pasti, papa dan kak Miko sudah mau ke kantor ya?" Tanya Ravi saat melihat papa dan kakak nya sudah bersiap mau berangkat.
"Iya nak, makanya kamu juga lekas sembuh biar biasa ke kantor seperti sedia kala." Ujar Sean.
"Amin pa amin, semoga secepatnya Ravi bisa sembuh ya pa." Ucap Ravi.
"Ini kak di minum dulu." Ayu menyerahkan segelas air yang dia ambil dari dapur tadi kepada Ravi.
__ADS_1
"Terimakasih yu." Ucap Ravi yang meminum habis air itu.
"Yasudah kakak, dan papa berangkat dulu ya, hari ini kamu ada kontrol kan ke rumah sakit?" Ucap Miko.
"Iya kak, hati-hati pa, kak." Ujar Ravi yang menyalim papa dan kakak nya itu.
Mereka pun akhirnya berangkat ke kantor, sedang kan Ravi di bawa pak Paijo ke kamar nya untuk membantu Ravi mandi. Setelah nya Ravi pun berpakaian dan berangkat ke rumah sakit bersama Sovi untuk melakukan kontrol.
.
.
.
Amora yang sedang bermain-main dengan baby syyaid di teras rumah di hampiri oleh Ayu.
"Halo sayang aunty, makin embul aja ini." Ujar Ayu yang mentoel hidung mancung syyaid.
"Hehehe iya dong Aunty, kan dedek minum asi nya kuat." Jawab Amora.
"Hehehe iya biar cepat gemuk bang ya." Lanjut Ayu.
"Tidak kuliah yu?" Tanya Amora.
"Nanti siang mbak." Jawab Ayu.
"Bagaimana kuliah nya lancar kan? Tidak ada yang mengganggu lagi atau semacamnya?" Tanya Amora yang merasa sedikit khawatir.
"Alhamdulillah lancar mbak, sejauh ini sih aman-aman saja mbak." Jawab Ayu.
"Lalu bagaimanakah dengan Ravi, apa ingatan nya sudah mulai kembali?" Tanya Amora yang memang kurang tau perkembangan Ravi karena fokus mengurus baby syyaid.
"Huh... sepertinya belum mbak." Jawab Ayu sambil menarik nafas berat.
"Yasudah sabar saja yu, nikmati proses nya yang penting kan hubungan kamu dan Ravi baik-baik saja." Amora mencoba memberi kan semangat kepada Ayu.
"Tapi Ayu takut mbak," ucap Ayu lagi.
"Lho takut kenapa yu?" Tanya Amora.
"Ayu takut kalau ingatan kak Ravi kembali dan dia ingin melanjutkan pertunangan nya dengan kak Kanaya. Sungguh rasa Ayu sudah terlalu besar kepada kak Ravi, rasa-rasanya Ayu tidak sanggup kehilangan kak Ravi mbak." Jelas Ayu dengan jujur.
"Yu, percaya deh jodoh itu sudah di atur sama yang di atas. Kalau memang Ravi jodoh mu maka kalian akan tetap berjodoh apapun yang terjadi. Begitu juga sebaliknya, nikmati saja lah." Amora mencoba memberikan pandangan kepada Ayu.
"Coba kamu lihat mbak, mbak dengan masa lalu yang hancur-hancur an. Di pertemukan dengan mas Miko yang jauh lebih baik di segala hal daripada mbak. Mungkin perbedaan mbak dan dia bagaikan bumi dan langit. Tapi kalau memang jodoh pasti bakal di persatukan, begitu juga sebaliknya." Sambung Amora.
"Iya mbak benar kata mbak, kita jalani saja dulu ya soal jodoh atau engga nya biar lah waktu yang akan menjawab." Ucap Ayu yang merasa kata-kata Amora itu ada benar nya.
"Nah iya, memang harus begitu." Lanjut Amora.
Mereka berdua pun mulai berbincang-bincang tentang banyak hal.
.
__ADS_1
.
.
Di rumah sakit sovi dan Ravi yang sudah selesai melakukan kontrol bersiap keluar dari ruangan dokter. Di mana kursi roda Ravi di dorong oleh pak Paijo.
Sovi sangat bahagia, karena kata dokter kondisi Ravi banyak kemajuan, dan jika di latih terus berjalan kemungkinan Ravi akan pulih seperti sedia kala dalam waktu dekat ini.
Ini semua tak lepas dari kerja kerasa Ayu yang selalu sabar mengajak Ravi untuk latihan jalan pagi dan sore hari.
Saat mereka bertiga berjalan tiba-tiba Kanaya juga keluar dari salah satu ruangan di sana.
"Kanaya." Ucap Sovi yang melihat Kanaya.
Kanaya pun menoleh ke sumber suara, " Tante sovi." Ucap Kanaya setelah melihat wajah sovi.
"Kanaya sayang, dari mana saja kamu nak?" Sovi langsung menghampiri Kanaya.
"Ummm anu Tan.." belum sempat Kanaya menjelaskan pintu kamar dia keluar tadi kembali terbuka.
"Sayang, kok masih di sini ini siapa?" Tanya seorang pria saat dia melihat sovi dan Kanaya.
"Ohh Anu sayang, ini sudah mau pergi kok." Ujar kanaya dengan pipi memerah.
"Terus Tante ini siapa?" Tanya sang laki-laki lagi.
"Ohh ini Tante sovi, teman nya mama." Jawab Kanaya merasa gugup.
"Kanaya, kok kamu tega sih." Kanaya langsung memotong kata-kata sovi.
"Tan, Kanaya lagi buru-buru, nanti saja ya kita ngobrol nya. Ayok sayang." Kanaya menarik tangan pacar nya dan segera meninggalkan Ravi, sovi dan pak Paijo.
Sovi hanya bisa melihat Kanaya berjalan menjauh bersama pacar nya dengan langkah terburu-buru.
"Ravi kok kamu diam saja sih, itu pacar kamu Kanya, dia manggil sayang kepada pria lain." Ujar sovi menatap Ravi.
"Sudah lah ma biarkan saja, memang dari dulu dia sudah sering melakukannya itu." Jawab Ravi yang santai dan tersenyum santai.
"Maksudnya, dulu juga Kanaya sudah sering selingkuh begitu?" Tanya sovi lagi.
"Yah begitu lah kira-kira ma, sudah lah lupakan saja tidak penting juga." Ucap Ravi yang tersenyum santai.
Ravi merasa bersyukur Kanaya menujukkan wujud aslinya kepada mama nya sekarang. Setidaknya kini mama nya tau wanita seperti apa Kanaya, dan mungkin nanti mama nya juga tidak perlu merasa bersalah kepada Kanaya soal pertunangan Yang di batalkan oleh Ravi.
Sovi yang melihat putra nya nampak biasa-biasa saja melihat pacarnya bersama pria lain akhirnya semakin yakin kata suaminya, bahwa Kanaya hanya mengincar harta keluarga nya dan bahkan meninggal kan Ravi saat Ravi pada keadaan terpuruk begini.
Sovi pun akhirnya melanjutkan langkahnya bersama Ravi dan pak Paijo. Di hati kecil nya doa merasa bersyukur tidak jadi punya menantu seperti Kanaya.
"Benar kata papa, jangan melihat seseorang dari latar belakang nya, buktinya Amora biarpun dia terlahir dari masalalu yang buruk tapi dia menantu, istri dan ibu yang baik. Dan melakukan tanggung jawab nya sebaik mungkin." Batin sovi yang terus melanjutkan langkahnya.
"Apa ayu juga seperti Amora ya, yang tulus menyayangi Ravi, tanpa memperdulikan harta milik Ravi. Tapi sejauh ini ketulusan sih yang di tunjukkan oleh Ayu tanpa memperdulikan harta milik Ravi. Ternya selama ini aku salah menilai Ayu dan Kanaya." Batin sovi yang perlahan mulia menyadari semua nya.
Setelah mereka sampai di parkiran pak Paijo membantu Ravi naik ke mobil, dan akhirnya mobil pun melaju pulang ke rumah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah mereka pun makan siang, sedang kan Ayu pamit ke kampus. Setelah selesai makan siang sovi dan pak Paijo membantu Ravi ke kamar nya untuk istirahat setelah memakan obat.
Setelah nya Sovi juga ke kamar nya untuk tidur siang.