
Setelah semua nya selesai mandi mereka pun berkumpul di meja makan bersiap untuk makan malam.
"Hayy kak Amora apa kabar?" Tanya Kanaya saat melihat Amora dan Miko menuruni anak tangga.
"Ehh ada tamu ya, kabar baik Kanaya." Amora tersenyum dan tetap bersikap santai kepada Kanaya.
"Syukurlah kak."
Amora dan Miko pun duduk di meja makan, dimana sudah ada Sean, Kanaya dan sovi.
"Ravi mana ma?" Tanya Miko kepada mama nya.
"Mungkin masih siap-siap kali di kamar nya." Jawab sovi.
Sean dan Miko pun berbincang sedikit tentang masalah bisnis.
Tiba-tiba Ravi keluar dari kamar nya, dan langsung menghampiri mereka yang sudah berkumpul di meja makan.
"Sayang duduk di sini saja." Ucap Kanaya sambil menepuk kursi di sebelah nya.
Tiba-tiba semua mata seisi rumah melongo karena mereka ingin memperjelas pendengaran nya.
Pipi Ravi tiba-tiba memerah, dia tidak tau harus berbuat apa sekarang rasanya ingin menghilang saja dari bumi apalagi saat melihat pandangan sovi yang mematikan kepadanya.
"Ngapain kamu masih bengong di sana? Kamu mau buat kami semua mati kelaparan karena menunggu mu?" Tiba-tiba Sean membuka obrolan dan membuyarkan lamunan mereka.
"Ehh iya iya pa." Jawab Ravi yang langsung bergegas duduk di sebelah Kanaya.
Mereka semua pun mulai menikmati makan malam nya, namun terlihat Kanaya santai saja tanpa beban setelah mengatakan kata-kata yang membuat seisi rumah di buat berpikir keras.
Beberapa menit kemudian mereka pun selesai makan dan Kanaya pun pamit pulang karena ini sudah larut malam. Dan sebagai lelaki dan pacar yang bertanggung jawab Ravi harus mengantar kan Kanaya pulang ke rumah dengan selamat.
Setelah berpamitan akhirnya mereka berdua pun segera melaju menuju rumah Kanaya.
"Pa, kamu dengar tadi Kanaya bilang apa? Dia bilang sayang ke Ravi. Itu artinya mereka udah sayang-sayang." Sovi langsung membuka topik obrolan dengan senyum sumringah di wajah nya.
"Aduh senang nya mama, akhirnya di antara Kanaya dan Ravi sudah mulai ada benih-benih cinta. Ahh filing mama seperti nya benar Kanaya akan jadi menantu mama." Sambung sovi kembali tersenyum.
__ADS_1
"Ma jangan heboh dulu ah, Mungkin saja Kanaya salah bicara ma, kita tunggu saja sampai Ravi pulang baru kita tanya kan kebenaran." Ucap Sean mengingat kan sovi agar tidak langsung heboh.
"Benar kata papa ma, kita tunggu saja dulu Ravi pulang dan kita tanya kejelasan nya." Dukung Miko kepada opini Sean.
"Hmmmm." Jawab sovi dengan nada datar.
Kemudian meja makan itu tiba-tiba hening.
"Ma,Pa sebenarnya ada juga yang ingin kami ceritakan." Miko kembali membuka obrolan saat dia menginta tentang ayu.
"Apa nak?" Kini wajah sovi kembali berseri-seri.
"UM....Miko pun mulai menjelaskan tentang pertemuan Amora dan Ayu, lalu menjelaskan niat Miko dan Amora kepada ayu."
Setelah Miko selesai berbicara terlihat wajah bingung di antara Sean dan sovi.
"Ma, tolong lah ma percaya lah ayu itu orang baik." Kini Amora yang memohon.
"Iya ma, lagian kan sebentar lagi hamil Amora sudah semakin besar dia butuh seseorang untuk membantu nya melakukan semua nya." Dukung Miko.
"Kan ada mama, kamu tidak mau dibantu mama?" Tanya sovi.
"Gini saja Miko, biar besok mama dan papa yang tes ayu itu apa dia layak tinggal di sini atau tidak. Jika memang tidak layak maaf papa dan mama tidak bisa, kalian tau sendiri kan zaman sekarang banyak sekali manusia-manusia munafik." Sean mencoba mencari jalan tengah.
"Ide bagus pa, mama juga setuju seperti itu. Sebenarnya mama juga ada rencana sih mau cariin orang buat bantu-bantu kamu Amora, namun hanya belum ketemu saja dan kebetulan kamu langsung ketemu Ayu yang kamu bilang se frekwensi sama kamu." Dukung sovi.
"Iya ma, Amora setuju-setuju saja. Bagaimana dengan kamu mas?" Amora menatap suaminya.
"Mas juga setuju-setuju saja sih sayang, tidak ada masalah." Jawab Miko.
"Baiklah namun jika tidak sesuai dengan ekspektasi mu papa harap kami jangan kecewa ya Amora." Ingat sean.
"Iya pa." Jawab Amora.
Kemudian mereka semua pun mulai mengobrol ringan sembari menunggu kepulangan Ravi.
.
__ADS_1
.
.
Sementara Ravi dan Kanaya yang baru sampai di halaman depan rumah Kanya.
"Sayang ga mau masuk dulu?" Tanya Kanaya saat dia sedang membuka seat belt nya.
"Tidak aku mau langsung pulang saja." Jawab Ravi dengan wajah datar nya.
"Kok kamu seperti nya bad mood begitu sih?" Tanya Kanaya.
"Iya kamu ngapain tadi di rumah panggil sayang di depan semua nya? Kan aku jadi malu." Jelas Ravi.
"Hah malu? Ohh jadi kamu malu pacaran sama aku hah? Atau kamu mau menyembunyikan hubungan kita? Lalu ngapain kamu mau pacaran sama aku hah?" Kini Kanaya terpancing emosi.
"Bukan begitu Kanaya, maksud aku itu..."
"Maksud kamu ap? Maksud kamu kita pacaran diam-diam saja, biar kamu bisa dekat sama perempuan lain?" Potong Kanaya.
"Bukan Kanaya, aku merasa ini terlalu cepat biarkan aku menjelaskan semua nya dulu ke keluarga ku tentang hubungan kita." Bentak Ravi.
"Kamu bentak aku? Lagian cepat atau lambat mereka kan memang akan tau hubungan kita, ohh aku tau kamu cuman mau main-main sama aku kamu ga pernah serius ya?" Tanya Kanaya dengan wajah memerah.
"Bukan begitu sayang, aku sayang sama kamu tapi maksud aku.." Ravi mencoba menenangkan Kanaya yang terlihat ingin menangis.
"Maksud kamu apa? Ahh sudah lah terserah kamu aja atur gimana baik nya." Kanaya langsung membuka mobil dan keluar dari dalam mobil serta membanting keras pintu mobil Ravi.
Ravi pun segera melepas seat belt nya dan keluar dari mobil untuk menyusul Kanaya,
Namun Kanaya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah dan langsung menyuruh satpam rumah nya mengunci gerbang.
"Kanaya..." Teriak Ravi saat melihat Kanaya berjalan cepat menuju pintu rumah.
Karena tidak di perduli kan oleh Kanaya, dan kini Kanaya sudah masuk ke dalam mobil. Bahkan saat Ravi memohon untuk di bukakan gerbang oleh pak satpam namun di tolak oleh pak satpam karena ini perintah dari Kanaya. Akhirnya Ravi pun memutuskan pulang.
"Sial... Apa-apa an ini, belum juga sehari pacaran udah menguras emosi saja, ga kebayang kalau setahun atau menikah seumur hidup." Ucap Ravi kepada dirinya sendiri sambil membanting stir mobil.
__ADS_1
Ravi pun mencoba menelepon Kanaya, namun selalu di tolak oleh Kanaya. Akhirnya Ravi pun lelah dan akhirnya memutuskan untuk kembali pulang.