Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Masih belum terima


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Sovi yang memang sedari tadi tidak mood langsung bergegas masuk lebih dulu ke dalam rumah.


"Bu, maafin Ayu Bu sungguh ayu ga pernah berniat melakukan ini semua. Ayu tau Ayu salah maafin Ayu Bu." Ucap Ayu yang mengejar sovi.


"Apaan sih yu, sudah ibu lagi kepingin sendiri sekarang." Sovi menyeka tangan Ayu dari lengan nya dan berlu ke kamar nya.


"Sudah lah nak Ayu, tidak perlu merasa bersalah ini juga bukan sepenuhnya salah kamu dan Ravi. Lagian kan perasaan cinta itu datang sendiri nya tanpa bisa kita atur sama siapa kita jatuh cinta." Sean mencoba menenangkan Ayu.


"Iya yu, papa benar kamu tidak perlu merasa bersalah begitu, namanya juga cinta datang sendiri nya." Miko mendukung papa nya karena dia juga tau bagaimana rasanya ketika cinta itu datang tiba-tiba.


Ravi juga hanya diam saja, dia merasa kasihan kepada Ayu karena ulah nya kini Ayu jadi menanggung semua nya. Sungguh hati Ravi teriris saat melihat Ayu yang terus menangis dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Yasudah Ravi, kamu tenang kan Ayu dulu ya, papa ke kamar dulu mau menenangkan mama mu." Titah Sean kepada Ravi.


"Iya pa." Jawab Ravi dengan lugas.


Sean pun akhirnya berjalan menuju kamar mereka, sedangkan Miko juga pamit ke kamar nya karena dia sudah rindu kepada istrinya dan baby syyaid. Karena kondisi Amora yang memang baru saja melahirkan jadi dia tidak ikut tadi ke rumah Kanaya untuk acara pertunangan Kanaya dan Ravi.


"Maafin kakak ya yu, karena kakak dan kecerobohan kakak kamu jadi kenak imbas nya." Ravi menatap ayu dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Sudah lah kak, ini bukan salah kakak ayu tidak apa-apa kok. Bahkan mungkin pantas menerima ini semua. Ayu tau ayu juga ambil andil dalam kegagalan pertunangan kakak. Mungkin kalau ayu tidak masuk ke rumah ini pertunangan kakak akan lancar jaya, jadi yang seharusnya minta maaf itu Ayu bukan kakak." Kata Ayu sambil menatap Ravi.


"Tidak yu, tidak ada yang namanya kebetulan ini semua takdir yang maha kuasa.kamu kakak di pertemukan bahkan saling mencintai itu udah skenario Tuhan untuk kita Yu. Jadi jangan pernah menyalahkan diri kamu untuk apapun itu." Ravi mendekati ayu.


"Kak, sepertinya kita juga butuh istirahat untuk menenangkan hati dan pikiran kita. Serta memikirkan keputusan ini matang-matang biar tidak ada penyesalan di kemudian hari." Ucap Ayu sambil bangkit dari duduk nya. Bukan apa-apa dia hanya tidak ingin nanti rasanya semakin dalam kepada Ravi, dan orang rumah semakin salah paham kepada nya karena mereka duduk berdua dan berdekatan begini.


"Ayu pamit ke kamar dulu ya kak." Pamit Ayu yang beranjak pergi dari sofa ruang tamu menuju kamar nya.


"Yu..." Ravi mencoba memanggil Ayu, namun di abaikan oleh Ayu dan ayu terus berjalan menuju kamar nya.


"Akhirnya Ravi hanya diam di kesendirian di sofa ruang tamu itu, sambil memilah semua kejadian hari ini dan keputusan apa yang harus dia ambil untuk masa depan.

__ADS_1


.


.


.


"Ma, kamu tidak boleh begini dong. Namanya juga cinta mereka juga tidak bisa mengontrol perasaan satu sama lain." Sean yang baru masuk ke kamar mereka mencoba memberikan penjelasan kepada istrinya itu.


"Lagian, menurut papa ini masih jauh lebih bagus sih ma, ketimbang mereka nanti nya gagal dalam pernikahan apalagi sudah ada anak di antara mereka." Sambung Sean.


Sovi yang masih merasa kesal dan marah enggan membuka mut nya dan lebih memilih mengabaikan kata-kata suaminya itu.


"Sekarang gini deh, yang bikin Mama kesal itu siapa hah?" Tanya sean lagi.


"Iya mereka semua, Ravi Ayu mereka bikin kita malu pa." Ucap Sovi.


"Ma, seperti yang papa bilang ini memang tidak baik tapi ini jauh lebih baik ketimbang Ravi melanjutkan hubungan nya dengan orang yang salah." Ucap Sean.


"Kecewa nya di mana ma?" Tanya Sean dengan sabar.


"Mama sudah menanggap Ayu seperti putri mama, bagaimana mungkin putri dan putra mama saling jatuh cinta pa?" Ucap Sovi.


"Lho bagus dong ma, kalau nanti Ravi jadi sama Ayu berarti Ayu akan menjadi putri dan menantu kamu. Dan hubungan kalian akan semakin dekat." Ucap Sean.


"Pa sudah lah, kalau papa tidak bisa kasih jalan keluar minimal ga usah ngoceh ah." Ucap Sovi yang memang untuk sekarang masih merasa kesal dan sudah tidak tau mau jawab apa lagi.


Sean pun akhirnya terdiam, tidak ada yang lebih baik mengenal istrinya itu selain dia. Dia tau kalau sekarang sovi sedang di fase kemarahan jadi tidak perlu di pancing.


Itu lah sovi, sama seperti kasus Amora dulu dia memang tipe orang yang susah menerima kenyataan. Butuh waktu untuk nya untuk menyesuaikan diri. Entah kenapa sovi merasa jika nanti Ravi jadi sama Ayu maka kejadian Amora akan terulang lagi.


Sementara di kamar nya Ayu yang menangis penuh rasa bersalah akhirnya memutuskan untuk menelepon kedua sahabat nya untuk bercerita dan cari solusi.

__ADS_1


"Lho kamu kenapa yu, kok nangis?" tanya Sita saat panggilan video mereka terhubung.


"Iya yu, ada masalah apa?" tanya Vivi yang merasa penasaran juga.


"Guys, baca grup deh aku udah ketik dan jelasin di grup." Jawab Ayu dengan air mata yang masih membasahi kedua pipi.


"Okay yu, bentar ya." jawab mereka serentak.


Tanpa mematikan panggilan video mereka, kedua sahabat Ayu mulai membaca curahan hati Ayu..dan beberapa menit kemudian mereka sudah selesai membacanya.


"Astaghfirullah yu..." ucap Sita yang lebih dulu selesai membacanya.


"Jahat banget kan aku, aku sudah merusak pertunangan orang lain." ucap Ayu dengan air mata semakin deras membasahi pipinya.


"Yu, ini juga bukan salah kamu sepenuh nya, iya nama juga perasaan kak Ravi juga ga salah sih dia hanya mengikuti kata hati nya." ucap Vivi yang juga sudah selesai membaca curahan hati Ayu.


"Tapi mungkin kalau aku ga masuk ke rumah ini, kejadian ini ga bakal pernah ada guys." ucap Ayu sambil merasa bersalah.


"Aku juga ga tau diri banget ya, sudah di tolong malah ngelunjak, aku benar-benar merasa malu sama kak Amora dan semua nya." sambung Ayu.


"Yu jangan ngomong begitu Ah." Vivi mencoba menenangkan Ayu.


"Vi sekarang aku benar-benar bingung, aku ga tau solusinya untuk ini semua. aku merasa aku beban banget tinggal di rumah ini." ucap Ayu.


" Yu, kamu punya waktu tidak? mending kita ketemu dia cafe dekat kampus yuk, kita ngobrol kamu terlihat begitu tertekan." ajak Vivi.


"Iya ide bagus tuh Vi." jawab sita.


"Yaudah iya deh, aku siapa-siapa dulu, nanti Langsung otw ke sana." jawab Ayu.


panggilan mereka pun berakhir dan bersiap-siap untuk bertemu.

__ADS_1


__ADS_2