
"Apa katanya memperjuangkan hubungan kita? Andai aku kak Kanaya kak yang sederajat dengan kakak, maka tanpa kakak minta pun aku akan memperjuangkan cinta ku kepada kakak. Ini apa, aku siapa dan kakak siapa, sungguh bagai langit dan bumi kak." Guman Ayu yang menangis sambil duduk di kursi meja rias nya.
"Andai saja harta, jabatan dan kasta tidak berlaku mungkin Ayu akan maju paling depan untuk memperjuangkan perasaan Ayu kak. Ayu cinta cinta banget sama kak Ravi tapi Ayu sadar diri Ayu hanya gadis miskin yang jelas tidak sebanding dengan kak Ravi." Kini Ayu meluapkan semua perasaan nya dengan ngomong sendiri.
"Sakit, jelas sakit rasanya pindah dari rumah ini, rumah yang sudah membuat Ayu nyaman, dan akan jauh dari kakak. Bahkan ini adalah pilihan tersulit yang harus Ayu pilih selama Ayu hidup. Tapi demi kebaikan semua nya Ayu harus sadar diri." Sambung nya lagi.
Air mata Ayu semakin deras membasahi kedua pipinya, dia tau betapa kecewanya sovi kepada dirinya. Namun Ayu juga tidak bisa menyalahkan Sovi namanya seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anak-anak nya.
Ayu pun menyeka kedua air mata nya dan bersiap untuk tidur, karena mulai besok dia akan kembali melanjutkan hidup dan mulai lagi kehidupan baru.
.
.
.
Sementara di bar Ravi yang sudah mulai mabuk akhirnya memutuskan untuk pulang dan mengendarai mobil nya sendiri.
Namanya juga orang mabuk mengendarai mobil pasti tidak bisa terkontrol lagi, apalagi pikiran Ravi di penuhi oleh wajah Ayu dia semakin tancap gas dan merasa jalanan itu adalah jalan pribadi nya.
Dan brak... Kecelakaan tidak dapat di elakkan, mobil mewah Ravi menabrak pembatas jalan. Kecelakaan tunggal pun terjadi di jalan raya itu.
"Ayu jangan tinggalkan kakak yu, kakak sayang banget sama kamu." Ucap Ravi sebelum akhirnya dia menutup mata karena kesadaran nya sudah habis.
Seketika jalanan langsung rame dan orang-orang berbondong-bondong untuk menyelamatkan Ravi.
Tubuh dan wajah Ravi sudah bersimbah darah, untung saja tim medis cepat datang.
Ravi pun Langsung di bawa ambulance ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara polisi langsung menyelidiki kasus nya di TKP.
.
.
.
Di rumah keluarga Wijaya, Ayu yang baru saja tertidur samar-samar mendengar kan tangisan Sovi. Dengan segenap kekuatan nya Ayu pun membuka mata dan segera keluar kamar karena tangisan Sovi semakin jelas. Ini artinya dia tidak sedang bermimpi.
__ADS_1
"Mbak ada apa? Kok ibu sovi menangis?" Tanya Ayu kepada Amora yang terlihat masih syok.
"Itu yu, Ravi..." Amora yang masih gemetaran tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kak Ravi kenapa mbak?" Tanya Ayu yang juga ikut panik melihat wajah panik nya Amora.
"Barusan mama dan papa dapat kabar kalau Ravi mengalami kecelakaan di jalan Xx, dan sekarang sudah di tangani di rumah sakit terdekat." Jelas Amora yang menangis.
"Mbak..." Hanya itu yang mampu di ucap kan oleh Ayu tiba-tiba lutut nya terasa lemas dan tanpa sadar dia terduduk di lantai, otak nya langsung berpikir kemana-mana dia tidak sanggup membayangkan kondisi Ravi sekarang.
"Yu, kamu yang kuat ya, yuk kita ke rumah sakit yuk." Ajak Amora sambil menarik Ayu berdiri bersama nya.
Sementara Sovi yang sudah tidak perduli dengan sekitar langsung berangkat ke rumah sakit tempat Ravi di rawat bersama Sean. Di sepanjang perjalanan Sovi terus menangis dan mengutuk dirinya karena dia tadi sempat marah kepada putra nya itu.
Sovi hanya bisa berdoa semoga saja Ravi dalam keadaan baik-baik saja. Karena jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan kepada Ravi maka sovi tidak akan pernah bisa memanfaatkan dirinya.
"Ini semua salah mama pa, kalau tadi mama tidak membentak Ravi mungkin Ravi tidak akan keluar rumah dan mengalami kecelakaan ini." Ucap Sovi di sela-sela tangis nya.
"Tidak ma, ini bukan salah mama, sudah papa bilang tidak ada yang bisa melawan takdir..semua ini sudah sesuai dengan rencana yang maha kuasa. Sudah ya mama tenangin diri mama dan banyak berdoa semoga Ravi baik-baik saja." Sean mencoba memenangkan istrinya, walaupun sebenarnya dia lebih merasa terpukul dan kalang kabut setelah mendengar kabar tentang Ravi namun dia mencoba menunjukkan sifat tenang nya.
"Pa, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Ravi pa? Nyetir nya ngebut dikit dong pa." Sovi sedikit membentak suami nya itu karena dia merasa Sean menyetir sangat lama. Walaupun sebenarnya yang terjadi Sean menyetir sudah sangat mengebut.
"Apa gunanya keselamatan kita pa, kalau sampai putra kita kenapa-kenapa..mama benar-benar tidak bisa memaafkan diri mama kalau sampai terjadi sesuatu kepada Ravi pa." Ujar sovi yang terus menangis.
Sean hanya diam saja, dan fokus menyetir karena mendengar ocehan istrinya pun yang ada akan membagi fokus nya. Yang dia ingin kan sekarang adalah segera sampai di rumah sakit dan mengetahui kondisi putra bungsu mereka itu.
.
.
.
Beberapa menit kemudian mobil mereka pun sampai di rumah sakit tempat Ravi di rawat. Bak kilat sovi melompat dari mobil dan bergegas lari ke resepsionis untuk menanyakan di mana Ravi di tangani. Sean yang sudah memarkirkan mobil pun mengikuti istrinya itu.
.
.
__ADS_1
.
"Mas aku ikut ya." Pinta Amora saat Miko juga sudah bersiap untuk ke rumah sakit.
"Tapi sayang, bagaimana dengan baby syyaid ini sudah malam tidak bagus kalau dia kena angin malam." Jawab Miko mencoba memberikan pengertian kepada istrinya itu.
"Aku mohon mas, nanti kaca mobil di tutup saja, aku juga kepingin tau kondisi adik ipar aku. Nanti baby syyaid di pakain mantel mas." Pinta Amora lagi.
"Yasudah lah sayang, ayok." Ajak Miko yang tidak bisa menolak permintaan istrinya itu.
"Ayo yu." Ajak Amora saat melihat ayu masih syok dan duduk di sofa ruang tamu.
Ayu pun hanya ikut dan masuk ke dalam mobil..air mata terus menetes membasahi kedua pipi nya.
Hanya ada rasa penyesalan di hati Ayu.
"Kenapa sih, aku jadi orang bisa nya nyusahin orang-orang di sekeliling ku saja. Andai saja tadi aku tidak mengusir kak Ravi pasti Kaka Ravi tidak akan keluar dan kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi." Batin Ayu yang menatap ke luar kaca namun air mata semakin deras membasahi kedua pipinya.
"Yu kamu yang sabar ya, doakan semoga Ravi baik-baik saja." Amora mencoba menenangkan Ayu karena Amora tau seberapa besar cinta Ayu kepada Ravi. Dan dia tau Ayu sangat terpukul mendengar kan berita ini.
"Mbak ayu jahat banget ya?" Tanya Ayu sambil menatap Amora.
"Tidak Ayu tidak jahat kok. Ayu adalah wanita terbaik yang pernah mbak kenal. Bahkan Ravi sampai terpesona kepada Ayu itu karena kecantikan luar dalam Ayu." Jawab Amora yang mencoba menenangkan Ayu.
"Engga kak, ayu jahat banget. Kalau ayu tidak masuk ke rumah keluarga Wijaya, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Mungkin malam ini ka Ravi sudah tidur nyenyak di kamar nya karena pertunangan nya dan kak Kanaya lancar tadi siang." Ujar Ayu yang semakin menangis dengan rasa bersalah.
"Tapi sekarang apa kak, kak Ravi harus terbaring di rumah sakit, yang kita juga tidak tau apakah kondisinya baik-baik saja atau tidak." Sambung Ayu.
"Ayu stop salahin diri kamu, ini buka. Salah kamu semua ini terjadi karena takdir dari yang maha kuasa. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya mendoakan Ravi semoga dia tidak apa-apa ya." Miko mencoba menenangkan Ayu.
"Tapi kan kak..."
"Sudah yu ya, kamu tidak capek dari tadi pagi nangis terus? Berhenti menyalahkan diri kamu ini bukan salah kamu kok." Kini Amora menguatkan Ayu.
"Iya yu, jangan pernah menyalahkan diri kamu ya." Miko pun menimpali.
"Ya Tuhan semoga engkau selalu melindungi kak Ravi, sungguh Ayu tidak akan bisa memanfaatkan diri Ayu sendiri kalau sampai terjadi sesuatu kepada kak Ravi." Ayu hanya bisa terus berdoa sambil membayangkan wajah tampan Ravi tadi sebelum dia meninggal kan kamar Ayu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di rumah sakit tempat Ravi di rawat. Dan setelah memarkirkan mobil mereka semua pun segera menemui Sean dan sovi yang sudah lebih dulu masuk ke rumah sakit itu dan sedang menunggu dokter yang menangani Ravi di ruang tunggu.