Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Kesadaran


__ADS_3

"Ayu ga ke kampus hari ini?" Tanya Amora saat melihat Ayu masih duduk di sofa ruang keluarga ruangan Ravi.


"Ohh iya, Ayu hampir lupa mbak, ternya Ayu ada kelas jam 10 nanti." Jawab Ayu yang memang kelupaan soal kelas nya.


"Yasudah ini kan masih jam 9, di bawah ada pak Paijo ayu minta tolong saja sama pak Paijo, untuk antar ke rumah mengambil tas dan kebutuhan kuliah Ayu lalu minta tolong Anatar ke kampus." Amora memberikan saran.


"Tidak usah mbak, Ayu absen saja hari ini, Ayu di sini saja." Jawab Ayu.


"Ehh jangan malas kuliah yu, pergi saja ini masih sempat kok." Timpal sean.


"Iya yu, sana lagian kan kami di sini rame-rame jagain Ravi, kamu ke kampus saja." Tambah Miko.


"Walaupun berat meninggalkan Ravi, akhirnya ayu beranjak dari duduk nya, yasudah kalau begitu buk, pak, mbak dan kak Miko ayu pamit kuliah dulu ya." Pamit Ayu.


"Iya yu, semangat ya kuliah nya, Ravi ga usah terlalu di pikirin dia anak yang kuat kok pasti bakal sembuh secepatnya." Ucap sean.


"Amin amin." Jawab Ayu sambil tersenyum.


Ayu pun pamit, lalu keluar dari ruangan Sean dan segera menuju parkiran untuk menemui pak paijo. Setelah bertemu dengan pak Paijo dan menjelaskan niatan nya akhirnya mereka pun kembali ke rumah untuk ganti baju serta mengambil tas dan buku yang di butuhkan Ayu untuk kuliah hari ini.


Sesampainya di kampus Ayu yang berpamitan kepada pak Paijo langsung masuk ke lift menuju ruangan kelas nya, karena dia hampir telat.


"Yu, kok tumben datang nya lama sih?" Tanya sita yang sudah lebih dulu masuk ke ruang kelas.


"Panjang sit cerita nya." Jawab Ayu yang segera mengeluarkan buku nya.


"Sepanjang jalan kenangan kah?" Timpal Vivi yang memang hoby bercanda.


"Lebih panjang dari itu." Sambut Ayu.


"Widih panjang banget ternyata ya." Vivi masih terus melanjutkan obrolan.


"Hust... Pak steven tuh." Sita menyuruh kedua sahabatnya untuk diam karena dosen mereka sudah masuk.


Entah daya tarik apa yang ada di diri Ayu spai membuat Steven dosen muda tampan itu selalu terpesona saat menatap wajah polos Ayu.


Setelah mengucapkan salam dan sedikit berbasa basi dengan para mahasiswa Steven pun melanjutkan kelas nya.


Sesekali Steven mencuri pandang kepada Ayu yang terlihat kurang fokus dengan kuliah hari ini.


"Kamu mikirin apa sih yu, sepertinya beban pikiran mu lagi banyak banget, apa karena soal kerjaan itu ya." Batin Steven yang menatap setiap gerak gerik Ayu yang tanpa di sadari Ayu.


Kuliah pun terus berlangsung karena memang hari ini presentasi kelompok jadi Steven hanya sebagai pendengar dan penilai jadi dia tidak memberikan mater kuliah.


Beberapa jam kemudian kuliah pun selesai, Steven menutup kelas lalu segera keluar dari kelas itu. Namun sesampainya di ruangan nya Steven langsung buru-buru mengirimkan pesan WhatsApp kepada Ayu.


"Yu, jadi kan kamu kerja di cafe saya, saya tinggi berkas kamu sekarang di ruangan saya ya." Steven mengirimkan pesan tersebut.


"Ehh kalian udah sarapan belum, lapar nih." Tanya Vivi yang memang hoby jajan.


"Ehh Vivi, ini mah udah jam 12 siang, bukan sarapan lagi tapi udah jam makan siang kali." Jawab Sita yang melihat jam tangan di pergelangan tangan nya.


"Pantas cacing-cacing di perut ku bernyanyi ria, ternyata udah jam makan siang toh." Lanjut Vivi.


"Hmmm." Jawab sita yang membulat kan matanya.


"Kantin yuk guys." Ajak Vivi.


"Tapi ketimbang makanan gue lebih penasaran soal cerita panjang kamu deh yu, atau jangan-jangan kamu ga di kasih pindah ya sama keluarga Wijaya, dan tetap memaksa kamu untuk tinggal di sana, atau bagaimana?" Tanya sita yang memang penasaran.


"Ehh bentar guys, nanti aku cerita ya, ini pak Steven nge wa. Kalian ke kantin aja lebih dulu nanti aku nyusul." Ucap Ayu yang bersiap ke ruangan Steven setelah mendapatkan pesan dari Steven.


"Hmm okay deh, memang nya kamu mau ngantar berkas ke pas Steven ya yu, kita ga boleh ikut gitu?" Tanya sita yang memang ingin selalu menatap wajah tampan dosen muda itu.


"Ga usah, kalian kan pada ribet kalau udah ketemu sama pak Steven, aku aja ga lama kok, dan iya aku kek nya ga jadi deh kerja di tempat pak Steven." Jelas Ayu.

__ADS_1


"Lho kenapa yu?" Tanya mereka berdua serentak.


"Nanti aja ya aku cerita ke kalian dua cantik, sana ke kantin pesanin aku makanan yang biasa ya guys." Ucap Ayu yang segera beranjak menuju ruangan Steven.


"Dia kek ada aneh-aneh nya ga sih, di kasih kerjaan sama dosen tampan malah nolak." Ucap Vivi yang merasa heran.


"Lebih aneh kamu kali Vi, ya kalau mau gantiin aja sama posisi ayu." Jawab sita.


"Pengen sih sit, tapi kan kamu tau aku orang nya mageran, baju aja di Loudry, masak aja kagak pernah, bagemana ceritanya kerja bisa-bisa belum kerja udah di pecat." Jelas Vivi yang memang malas melakukan apa-apa.


"Ga heran lagi sih sama kamu Vi." Jawab sita yang membereskan barang-barang nya.


"Yaudah yuk ke kantin, nanti makanannya keburu habis." Ajak Vivi yang memang sudah kelaparan.


"Yaudah ayok." Jawab sita.


Mereka berdua pun berjalan menuju kantin dan segera memesan makanan sesuai selera masing-masing serta pesan Ayu tadi.


.


.


.


"Tok...tok...tok..." Ayu mengetuk pintu ruangan Steven.


"Masuk." Jawab Steven dari dalam.


"Permisi pak." Ucap Ayu setelah membuka pintu ruangan Steven.


"Dimana berkas nya yu?" Tanya Steven yang kecarian karena Ayu datang dengan tangan kosong.


"Ohh itu pak, maaf pak sepertinya Saya idak jadi bekerja di cafe bapak." Jelas Ayu sambil menunduk.


"Lho kenapa yu? Kamu duduk dulu deh." Steven mempersiapkan Ayu untuk duduk.


"Yu kamu serius tidak jadi bekerja di cafe saya, padahal saya sudah sangat excited banget lho yu." Tanya Steven dengan raut wajah kecewa.


"Iya pak, maaf ya pak." Sambung Ayu.


"Yu bisa ga kita ngobrol nya santai saja, seperti saat pertama kali kita bertemu. Tolong yu anggap saya sebagai teman kamu, Jagan bicara formal begini." Pinta Steven yang merasa berjarak dengan Ayu.


"Maaf pak, tapi bapak dosen saya, dan ini masih di area kampus jadi saya harus menghormati bapak layaknya mahasiswi kepada dosen nya." Jelas Ayu.


"Yasudah lah, mana nyaman nya kamu saja yu." Steven mencoba mengerti kondisi Ayu.


"Terimakasih pak, sekali lagi saya minta maaf." Ucap Ayu.


"Yu." Tiba-tiba Steven menatap Ayu serius.


"Apa tidak ada sedikit pun kesempatan saya untuk mendapatkan hati kamu yu? Apa sudah ada seseorang yang lebih dulu masuk ke dalam nya?" Sambung Steven.


"Maaf pak bisa tidak kita tidak usah bahas ini lagi, saya takut nanti ada yang dengar jadi salah paham." Ucap Ayu.


"Kenapa yu? Apa kurang nya saya apa tidak ada kesempatan untuk saya memenangkan hati kamu, saya sudah pernah bilang saya akan tetap memperjuangkan cinta saya ke kamu yu, saya tidak pernah main-main sama ucapan saya yu. Saya benar-benar mencintai kamu dan ingin serius sama kamu." Jelas Steven yang masih berharap kepada Ayu.


"Maaf pak, tapi sepertinya tidak perlu berkali-kali saya jelaskan ke bapak kalau saya tidak bisa menerima bapak." Tolak Ayu.


"Tapi kenapa yu, apa sudah ada orang lain?" Tanya Steven lagi.


"Iya pak." Jawab Ayu tegas.


"Siapa orang nya yu? Siapa yang jadi saingan saya? Tapi kamu bilang bukan nya kamu tidak mau pacaran yu?" Tanya Steven yang ingin mengkorek lebih dalam masalah percintaan Ayu.


"Seperti nya bapak tidak perlu tau siapa orang nya, dan ya kalau saya tidak mau pacaran bukan berati saya mati rasa ya pak. Saya masih bisa mencintai seseorang hanya saja saya belum mau terikat." Jelas Ayu lagi.

__ADS_1


"Yu..."


"Sudah lah pak, saya rasa cukup ini terakhir kali nya kita bahas masalah cinta-cintaan. Bapak dosen saya dan saya sangat menghargai itu. Saya sangat berterima kasih untuk semua kebaikan bapak selama ini kepada saya, saya pamit dulu pak, terima." Potong Ayu yang langsung bangkit dari duduk nya.


Ayu pun keluar dari ruangan Steven, lalu segera menemui kedua sahabat nya di kantin. ayu tidak perduli lagi kalaupun nanti Steven membeci dirinya dan akan berpengaruh kepada nilai kuliah nya. Tapi kan ini masalah perasaan yang tidak bisa di paksakan.


"Siapa yu, siapa pria yang berhasil menaklukkan hati kamu. Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu dengan cara baik-baik maka jangan salahkan aku jika melakukan cara lain yu." Batin Steven yang sudah terlalu jatuh cinta kepada Ayu.


"Kamu wanita berbeda yu, kamu sederhana, polos dan apa adanya. Wajah Sifat dan penampilan kamu sangat mirip sama Sifa." Batin Steven yang mengingat waja sang mantan yang sudah bahagia di surga.


Sebenarnya itu lah alasan Steven jatuh cinta pada Ayu pada pandangan pertama kepada Ayu karena Ayu mirip dengan mantan nya yang meninggal tiga tahun lalu karena kanker. Dsn sejak saat itu Steven benar-benar mati rasa. Namun sejak melihat Ayu kini harapan untuk mencintai tumbuh lagi di hati Steven.


Namun apa daya Ayu menolak Steven dan sepertinya lebih memilih seseorang yang Steven juga belum tau siapa orang nya.


Tapi penolakan Ayu bukan hambatan untuk Steven dia bahkan semakin bersemangat untuk mendapatkan cinta Ayu dan memperjuangkan perasaan nya, walaupun nanti dengan cara yang tidak sehat.


.


.


.


Sementara di kantin Ayu yang mencoba bersikap biasa saja segera bergabung dengan kedua sahabat nya.


Setelah menyantap makanan mereka Ayu pun menceritakan semua nya kepada kedua sahabatnya. Tentu saja sita dan Vivi selalu mendukung apapun keputusan Ayu. Karena menurut mereka Ayu sudah dewasa dan sudah bisa menentukan pilihan hidup nya dan jalan terbaik untuk nya.


Ayu sangat bersyukur memiliki kedua sahabatnya yang selalu mendukung dia di segala kondisi.


.


.


.


Begitu lah waktu terus berjalan dan seminggu sudah Ravi di rawat di rumah sakit, kondisi Ravi sudah sangat membaik. dan seminggu itu pula Kanaya tidak ada kabar. Sesekali memang Ravi menanyain kenapa Kanaya tidak datang ke rumah sakit. Namun sovi bilang kanaya sedang di luar kota karena ada urusan yang sangat mendesak.


Sovi sendiri pun heran kenapa Kanaya tiba-tiba tidak bisa di hubungi, bahkan sejak saat terakhir Kanaya datang ke rumah sakit Kanaya tidak ada kabar sama sekali.


"Ma..." Sean duduk di sebelah istrinya itu.


"Kenapa pa?" Tanya sovi menatap suaminya.


"Apa mama tidak merasa heran?" Tanya Sean ke istrinya.


"Soal?" Tanya sovi lagi.


"Kanaya." Sambung Sean.


"Iya sih pa, mama memang kadang kepikiran kok tiba-tiba Kanaya hilang di telan bumi ya, apa dia ada masalah ya." Jawab sovi yang masih tetap berpikir positif.


"Papa rasa sekarang dia sudah menunjukkan wujud asli nya deh ma." Lanjut Sean lagi.


"Maksud papa apa sih, dari tadi ngomon nya sepotong-sepotong terus. Mama ga ngerti langsung jelasin aja kali pa." Sovi yang masih belum mengerti maksud Sean akhirnya sedikit emosi.


"Jadi begini ma, menurut papa Kanaya sengaja blokir kita, karena dia tidak mau di hubungi lagi sama kita. Secara dia sudah tau bahwa Ravi cacat jadi dia tidak mau lagi sama Ravi. Mama lihat kan saat mama jelaskan sama dia kondisi Ravi raut wajah nya langsung berubah dan tiba-tiba dia bilang dia ada urusan dsn janji bakal ke sini lagi tapi sampai detik ini dia tidak datang lagi, bahkan tidak ada kabar apapun, dan di hubungi pun tidak bisa." Jelas Sean.


Sovi pun berpikir sejenak sambil mencerna kata-kata suaminya itu, " seperti nya tidak mungkin deh pa, malah mama mikir nya dia masih sakit hati pa karena Ravi membatalkan pertunangan mereka dsn terkesan mempermalukan keluarga nya kemaren." Sovi masih mencoba berpikir positif.


"Papa rasa bukan deh ma, soalnya kalau benar dia masih sakit hati pasti dia tidak akan datang ke sini kemaren buat jenguk Ravi. Dan mama dengar sendiri kan dia bilang kalau dia ga terlalu memikirkan hal itu dan dia bisa bersikap biasa-biasa aja kan. Dia berubah sejak mendengar kondisi Ravi ma." Sean mencoba menyadarkan istrinya itu.


"Kok mama ga kepikiran sampai ke sana ya pa." Jawab sovi setelah mencerna semua kata-kata suami nya itu.


"Tapi papa bersyukur sih ma, berkat kejadian ini akhirnya kita bisa menilai seseorang. Ya bukan berati papa suka ya Ravi kecelakaan begini. Tapi papa meras bersyukur kalau Ravi membatalkan pertunangan mereka kemaren dan Kanaya menunjukkan sifat aslinya dan kita juga tidak tau rahasia besar apa yang di sembunyikan Kanaya." Sambung Ravi lagi.


"Iya pa, papa benar mama memang terlalu naif selama ini." Ujar sovi yang merasa kata-kata suami nya itu ada benar nya.

__ADS_1


"Yasudah lah ma, wanita seperti Kanaya memang tidak pantas jadi menantu keluarga kita. Memang ya ma menilai orang tidak boleh dari cover nya aja." Lanjut Sean.


"Iya pa, papa benar." Jawab sovi yang akhirnya sadar.


__ADS_2