
Setelah mengemasi semua barang-barang mereka ke dalam mobil dan dan sarapan bersama Ravi dan Ayu pun pamit kepada semua nya untuk balik kampung.
"Ma, pa kita berangkat dulu ya." Ujar Ravi sembari menyalim mama dan papa nya.
"Hati-hati di jalan Ravi, ingat jangan ngebut-ngebut dan selalu kabarin kami ya." Ujar Sean sembari menepuk pundak putra bungsu nya itu.
"Iya pa aman." Jawab Ravi.
"Ma kami berangkat dulu ya, doakan lancar di perjalanan." Ujar Ravi yang kemudian menyalim mama nya.
"Hmmm iya nak, semangat ya semoga kamu kuat mental ya." Ujar sovi sambil tersenyum.
"Hahaha pasti kuat dong ma, anak mama ini." Jawab Ravi sambil tersenyum.
"Kak kami berangkat dulu ya." Kini Ravi berpamitan kepada Amora.
"Iya Ravi hati-hati ya, jaga ayu di jalan." Jawab Amora.
"Kak Ravi titip perusahaan ya, selamat bekerja keras." Ucap Ravi saat berpamitan kepada Miko.
"Walah aman bro, kalau perusahaan mah urusan kecil tidak perlu kamu pikir kann, sekarang yang terpenting kuatkan mental mu untuk bertemu calon mertua semoga semua nya aman sentosa." Ucap Miko sambil tersenyum kecil.
"Ahh itu mah kecil kak, percaya lah camer pasti akan langsung setuju kepada ku nanti. Secara Adek kakak ini tampan dan Baik hati." Puji Ravi kepada dirinya sendiri.
"Hmmm iya iya iya, pokoknya hati-hati di jalan ya, ingat yu kalau dia ngebut sedikit saja cubit saja pinggang nya." Titah Miko.
"Heheheh siap kak." Jawab ayu yang juga berpamitan kepada semua nya.
Setelah selesai berpamitan mereka pun naik ke mobil dan mobil segera melaju menuju kampung halaman Ayu.
Karena kampung halaman Ayu ada di Jawa tengah jadi di butuhkan waktu kurang lebih tujuh jam untuk sampai di sana. Mobil pun terus melaju, beberapa kali mereka beristirahat untuk sekedar makan siang atau untuk ke kamar mandi dan sholat.
Bahkan Ravi dan Ayu membelikan Beberapa oleh-oleh untuk keluarga Ayu. Awalnya Ayu menolak nya karena Ayu merasa terlalu banyak namun karena di paksa Ravi akhirnya mereka membeli semua nya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka pun sampai di kampung halaman Ayu. Ravi benar-benar terpesona melihat kampung halaman Ayu yang masih sejuk dan asri. Kebetulan rumah Ayu ada di lereng gunung sehingga semua nya terlihat sangat indah sungguh pandangan yang cukup mencuci mata.
Penghasilan mayoritas penduduk kampung Ayu adalah bertani, jadi kiri dan kanan semua nya adalah tanaman yang terlihat sangat indah.
"Wahh yu kampung kamu indah sekali." Puji Ravi yang memang terpesona.
"Ahh kakak bisa saja." Jawab Ayu sambil tersenyum.
Ayu merasa hatinya dag Dig dug sekarang, satu sisi dia bahagia pulang kampung maka dia akan bertemu bapak dan ibu nya serta adik-adik nya namun di satu sisi dia takut kalau Ravi tidak nyaman dengan kondisi rumah nya dan kondisi keluarga nya.
"Rumah kamu masih jauh yu?" Tanya Ravi yang memperlambat jalannya mobil.
"Ohh tidak kok kak, tinggal nanjak sedikit juga bakal sampai." Jawab Ayu yang merasa jantung nya semakin cepat berdetak.
"Itu kak rumah ayu, yang warna putih." Jelas Ayu sambil menunjuk rumah nya walaupun jantung nya udah hampir copot.
"Ohh yang itu." Jawab Ravi sambil terus melanjukan mobil sampai ke halaman depan rumah Ayu.
Adik Ayu dan teman-teman nya yang masih kecil pun sedang bermain di halaman rumah. Karena mereka berdua sampai di rumah agak sore an sekitar an pukul tiga sore jadi cuaca masih cukup panas.
"Kak Ayu...ibu kak Ayu pulang." Ujar adik bungsu Ayu saat melihat kakak sulung nya itu keluar dari mobil.
"Kakak." Adik ayu pun Langsung berhambur ke pelukan Ayu.
Ayu pun membalas pelukan adik nya sembari mencium nya, dia sangat merindukan adik kecil nya itu.
Ibu Ayu yang mendengar teriakan putra kecil nya pun ikut keluar dari rumah.
"Assalamualaikum Bu." Ayu menyalim ibu nya lalu memeluk ibu nya, dia sangat merindukan ibu nya itu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam sayang."jawab ibu nya yang membalas pelukan Ayu dsn mencium putri sulung nya itu.
"Assalamualaikum Bu."Ravi berganti an dengan Ayu menyalim ibu nya Ayu.
"Waalaikumsalam nak, ini yang namanya nak Ravi ya. Wahh Benar-benar tampan ya bahkan jauh lebih tampan dari cerita nya Ayu." Puji ibu Ayu yang memang terpesona melihat ketampanan Ravi.
"Ahh ibu bisa saja." Jawab Ravi sambil tersenyum.
"Memang ya kalau orang kota dengan orang kampung itu beda, pantas saja Ayu begitu antusias bercerita tentang nak Ravi setiap menelepon ibu, ternyata orang nya cukup tampan dan berkarisma begini." Puji ibu nya lagi.
"Ihh ibu apaan sih." Pipi Ayu langsung memerah.
"Bapak di mana Bu?" Tanya Ravi mencairkan suasana.
"Ohh bapak masih di ladang nak Ravi, biasa bantu teman nya panen kentang." Jawab ibu Ayu.
"Yasudah masuk dulu yuk, pasti kalian capek kan perjalanan cukup panjang." Ajak ibu nya.
"Ohh iya iya Bu, kita ambil barang-barang dulu." Jawab Ravi sambil kembali ke mobil dan membawakan keluar koper mereka.
"Jadi ternyata ada yang diam-diam sering memuji ku ya." Goda Ravi saat dirinya dan Ayu mengambil koper mereka ke mobil.
"Ihh bukan begitu kak, hanya sesekali saja kok." Jawab Ayu yang merasa malu.
"Sudah lah yu, tidak apa-apa kakak juga tau kok kalau kakak ini mempesona." Ravi mencoba puji diri.
"Hmm iya iya mempesona," jawab Ayu yang akhirnya membawa koper nya lebih dulu ke dalam rumah.
"Kakak bawa oleh-oleh tidak untuk Jonatan?" Tanya adik Ayu saat melihat Ayu membawa koper nya masuk ke dalam rumah.
Adik Ayu sebenarnya ada dua, yang nomor dua perempuan masih kelas satu SMA, dan yang paling kecil Jonatan usianya terpaut cukup jauh dari adik Ayu Mikayla karena Jonatan masih kelas satu SD sekarang.
"Ada dong, Ini oleh-oleh untuk mu ganteng." Ujar Ravi sembari memberikan bungkusan berisi coklat kepada Jonatan.
"Holeee." Jonatan langsung berlari kepada Ravi dan menerima bungkusan itu.
"Jonatan kak." Jawab Jonatan yang tersenyum menunjukkan gigi ompong nya.
"Wah nama yang bagus, Jonatan sudah kelas berapa sekarang?" Tanya Ravi lagi.
Jonatan pun menunjuk angka satu menggunakan jari nya.
"Wahh sudah bisa baca tulis?" Tanya Ravi lagi.
"Sudah, tadi saja Jonatan dapat nilai 10 di kelas." Jelas Jonatan dengan bangga.
"Wahh hebat." Ravi bertepuk tangan.
"Kakak namanya siapa?" Jonatan balik bertanya.
"Kakak namanya kak Ravi." Jawab Ravi.
"Ohh kakak Pacal kak Ayu ya?" Tanya Jonatan yang memang masih susah mengucapkan huruf r.
"Iya, Jonatan setuju tidak kalau Kakak pacaran sama kak Ayu?" Tanya Ravi yang masih betah berjongkok dan mengobrol dengan Jonatan.
"Setuju, ini mobil kakak ya?" Tanya Jonatan lagi.
"Iya mobil kakak, Jonatan mau naik mobil sama kakak?" Tanya Ravi.
"Wahh mau kak, naik mobil sama kakak. Kakak hebat bisa bawa mobil, mobil kakak juga bagus." Puji Jonatan.
"Yasudah besok kita jalan-jalan naik mobil ya, sekarang Jonatan main-main gih sama teman-teman nya jangan lupa jajanan nya di bagi sama teman-teman nya ya." Ujar Ravi.
__ADS_1
"Okee kak." Jawab Jonatan yang tersenyum menunjukkan gigi ompong nya.
Ayu hanya tersenyum mendengar obrolan Ravi dan adik nya itu. Dan setelah mengeluarkan koper nya Ravi pun membawa koper nya masuk ke dalam, sementara Ayu membawakan oleh-oleh yang mereka belikan tadi ke dalam rumah.
"Nak Ravi, kamar nya di sana nak maaf ya kalau tidak se bagus kamar nak Ravi di Jakarta. Rumah kami juga begini lah nak jauh dari kata bagus." Ujar ibu Ayu sembari menunjuk kan kamar milik Ayu.
"Ahh tidak apa-apa kok Bu, ini juga bagus dan sudah lebih dari cukup." Jawab Ravi.
Memag karena kamar di rumah itu hanya ada tiga jadi untuk sementara kamar Ayu Ravi yang menempati dan ayu akan tidur bersama adik perempuan nya nanti.
Saat masuk ke kamar Ayu Ravi tersenyum kecil melihat pajanan foto-foto ayu sewaktu dia masih SMP dan SMA yang di tempel di dinding kamar. Tak hanya itu kamar kecil itu terlihat sangat Rapi.
"Buk Kayla kok belum pulang sudah sore begini?" Tanya Ayu kepada ibu nya.
"Biasalah ada urusan osisi katanya." Jawab ibu Ayu.
"Ohh begitu." Ayu pun manggut-manggut.
"Ehh kak, kalau mau mandi mandi sekarang saja, soalnya kalau sudah sore di sini air nya dingin sekali,di sini tidak ada shower soalnya." Ucap ayu saat Ravi keluar dari kamar.
"Iya nak Ravi, mumpung masih siang, nanti nak Ravi tidak kuat sama dingin nya." Sambung ibu Ayu.
"Baik bu." Jawab Ravi yang menurut.
Ravi pun mengambil handuk dan alat mandi nya dari dalam kamar Ayu.
"Kak langsung bawa baju ganti saja ya ke kamar mandi." Ujar ayu sambil tersenyum.
"Iya yu." Jawab Ravi.
Wahh bagaimana mandi nya ini." Batin Ravi saat sudah masuk ke kamar mandi.
"Ohh harus di gayungin ya air nya." Jawab nya sendiri.
Bagaimana tidak biasanya dia berendam di bathtub, shower bisa di atur panas dan dingin, dan ini lagi WC nya Ayu harus jongkok.
Tapi ravi harus terbiasa mau tidak mau dia harus bisa, akhirnya Ravi pun segera mandi, sementara Ayu berbincang sedikit dengan ibu nya. Dan beberapa menit kemudian adik Ayu Kayla pun pulang dari sekolah.
Setelah Ravi selesai mandi, kini gantian Ayu yang mandi karena kamar mandi di rumah ini hanya ada satu.
"Nak Ravi mau nge teh atau ngopi?" Tawar ibu nya ayu saat melihat Ravi sudah keluar dari kamar mandi.
"Ohh teh saja Bu." Jawab Ravi yang langsung duduk di sofa ruang tamu rumah Ayu.
"Baik, sebentar ya nak." Ujar ibu ayu yang segera ke dapur.
"Baik bu." Jawab Ravi.
Sembari menunggu ibu nya Ayu membawakan teh Ravi pun menghubungi orang tua nya untuk mengabari bahwa dirinya dan Ayu sudah sampai di rumah Ayu.
Setelah selesai menelepon kedua orang tua nya ibu nya Ayu pun datang dari dapur.
"Ini nak Ravi di minum dulu." Ujar ibu Ayu sembari menyuguhkan segelas teh.
"Terimakasih Bu, aduh tidak perlu repot-repot Bu." Jawab Ravi sambil tersenyum.
"Tidak repot kok, nak Ravi ibu tinggal sebentar ke belakang ya mau nyiapin makan malam kita." Ujar ibu nya Ayu.
"Ohh iya iya Bu silahkan Bu." Jawab Ravi.
Sembari menunggu ayu selesai mandi Ravi pun bermain ponsel untuk mengusir rasa bosan nya. Namun saat sedang Asyik bermain ponsel tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Assalamualaikum." Ucap seorang pria yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab Ravi ambil menoleh ke sumber suara.
Seorang pria hitam manis, dengan tubuh padat dan tinggi, berotot karena dia tidak menggunakan baju sehingga urat-urat nya terlihat jelas. Wajah sangar dan kumis yang tebal menatap Ravi dengan tajam.