
"Bagaimana yu? Apa kamu mau menikah dengan Ravi?" Tanya bapak saat mendengar kan penjelasan Ravi dan Ayu terlihat menunduk.
Ayu merasa sedikit takut, takut kalau dia bilang iya bapak dan ibu nya tidak setuju. Dan kalau dia bilang tidak itu artinya dia membohongi dirinya dan cinta nya.
Ravi menatap Ayu penuh harap, namun seketika terlintas di benak Ayu kalau sekarang dia sudah dewasa, Ravi saja rela membatalkan pertunangan nya dan menentang kedua orang tua nya demi Ayu. Namun kenapa Ayu harus membohongi perasaannya. Kalau orang tua nya setuju atau tidak itu urusan nanti, sekarang Ayu harus jujur pada dirinya sendiri dan kepada dunia bahwa dirinya juga mencintai Ravi.
"Iya pak,Bu, Ayu jatuh cinta dengan kak Ravi. Dan Ayu sudah siap jika Kak Ravi ingin melamar Ayu." Jawab Ayu setelah menarik nafas dalam.
Ravi menatap Ayu lalu dia tersenyum, Ravi merasa lega karena Ayu mau menerima dirinya dan mengungkapkan perasaannya kepada kedua orang tua Ayu.
"Huhhh... Kalau memang itu sudah menjadi pilihan kamu ndok bapak dan ibu bisa apa. Karena yang akan menjalani nya nanti kamu. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung setiap keputusan kalian." Ucap si bapak setelah menarik nafas dalam.
"Jadi bapak tidak marah kalau Ayu menerima niat lamaran dari kak Ravi?" Tanya Ayu menatap si bapak.
"Lho ngapain bapak marah ndok? Niat baik orang tidak boleh di tolak. Bapak hanya ingin tanya satu hal sama kamu ndok." Sambung si bapak.
"Mau tanya apa pak?" Ayu balik bertanya.
"Kamu sudah yakin sama nak Ravi, sudah mantap jika di ajak menikah dengan nak Ravi? Soalnya pernikahan itu sakral dan bukan untuk main-main apalagi coba-coba." Jelas si bapak.
"Ayu yakin pak, Ayu yakin kak Ravi bisa jadi imam yang baik untuk ayu, dan membimbing Ayu ke jalan yang lebih baik lagi." Jawab Ayu dengan mantap.
"Alhamdulillah kalau begitu nak, kalau kamu sudah mantap begini bapak tidak bisa berkata apapun lagi selain mendukung semua keputusan kamu." Jawab si bapak.
"Lalu ibu, apa ibu keberatan atau bagaimana Bu? Sedari tadi diam terus." Kini si bapak menatap ibu yang memang sedari tadi diam saja di sebelah Ayu.
"Entah lah pak, ada dua rasa di hati ibu, satu rasa bahagia karena kini putri sulung kita sudah dewasa sudah ada pria yang sudah siap menjadikan dirinya sebagai pendamping hidup nya. Tapi di sisi lain ibu sedih juga karena sebentar lagi kalau Ayu menikah dengan nak Ravi maka dia akan milik suaminya." Ujar si ibu yang memang merasa sedikit kalut.
"Bu, kalau masalah itu ibu tenang saja, Ravi bisa janji dan pastikan kalau perhatian dan kasih sayang ayu ke keluarga tidak akan pernah luntur dan berubah sedikit pun walau nanti Ayu menikah dengan Ravi." Jelas Ravi.
"Dan Ravi janji kepada bapak dan ibu Ravi akan menjaga dan menyayangi ayu setulus hati Ravi, Ravi akan menjadi garda terdepan untuk Ayu di segala situasi." Sambung Ravi lagi.
"Iya nak Ravi, ibu yakin kamu akan menjadi suami terbaik untuk putri ibu." Ujar si ibu sambil mengelus rambut Ayu.
"Ibu.." ayu yang merasa sedih memeluk ibu nya.
Mereka pun merasa keharuan malam itu, namun ada perasaan lega di hati semua nya terutama Ravi dan Ayu karena kini kedua belah pihak menyetujui rencana Ravi. Dia memang tidak mau menunda lagi dia ingin segera menikahi Ayu.
Setelah berbincang banyak hal dan tanpa terasa kini sudah larut mereka pun tidur ke kamar masing-masing.
Waktu pun terus berjalan dan kini sudah pagi, mereka melakukan aktivitas seperti biasa dan tanpa terasa sudah seminggu Ravi dan Ayu tinggal di kampung halaman Ayu. Sudah ads kecocokan Ravi dan calon mertua nya.
Bahkan kemaren papa Sean dan mama sovi sudah melakukan video call dengan kedua orang tua Ayu untuk sekedar kenalan dan silaturahmi. Dan kelihatan nya kedua belah pihak nyaman dengan satu dengan lain nya.
__ADS_1
Mereka pun sempat membahas sedikit soal rencana pertunangan Ayu dan Ravi dan sepertinya mereka juga sejalan dan sepaham. Jadi sepertinya semua nya akan berjalan dengan lancar.
Dan hari ini mereka berdua harus balik ke Jakarta Karena dua hari lagi Ayu ada urusan ke kampus. Memang rencanakan setelah mereka menikah Ravi meminta Ayu ambil kelas online saja.
Biar bisa mengurus suami dan rumah tangga mereka. Karena Ravi bercita-cita setelah menikah mereka berdua akan pisah rumah dari mama dan papa nya.
Setelah mengemasi barang-barangnya mereka, dan sarapan bersama Ayu dan Ravi pun berpamitan untuk pulang ke Jakarta. Untuk rencana pertunangan mungkin akan di lakukan secepatnya, tunggu Ayu menyelesaikan urusan nya di kampus dulu lalu Ravi akan membawa keluarga besar nya ke rumah Ayu nanti nya.
Setelah berpamitan mereka pun berangkat ke Jakarta, sementara ibu dan bapak Ayu merasa berat melepas Ayu dan Ravi pulang karena mungkin sudah seminggu ini sama-sama.
"Sudah lah bu, cepat atau lambat anak perempuan akan meninggalkan orang tua nya kan, kita doakan saja semoga mereka selamat sampai tujuan dan apapun yang jadi rencananya mereka lancar." Bapak mencoba menguatkan ibu sembari merangkul istrinya itu.
"Iya pak." Ibu menyeka air matanya.
Mereka pun hanya memandangi mobil Ravi yang semakin menjauh. Dan di dalam mobil hanya ada senyum di wajah kedua nya. Kedua nya nyaris tidak percaya bahwa sebentar lagi mereka akan tunangan bahkan mungkin akan segera menjadi pasangan suami istri.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya mereka sampai juga di rumah keluarga Wijaya. Ravi dan Ayu langsung di sambut oleh sovi dan Amora, serta baby syyaid di stroller nya.
"Ahhh mama rindu sekali sama kalian."ucap sovi yang langsung memeluk Ayu dan Ravi saat mereka keluar dari mobil.
"Ravi juga rindu banget sama mama dan semua nya ma." Jawab Ravi yang membalas memeluk mamanya dan Ayu.
"Ahh keponakan ku sayang aku sangat merindukan, pasti baby syyaid juga rindu om kan nak," Ravi yang melihat baby syyaid di stroller nya ingin langsung menggendong nya.
"Kenapa sih ma?" Protes Ravi.
"Mau ngapain kamu hah? Kamu itu banyak kuman nya, enak saja mau gendong cucu mama. Sana mandi dulu yang bersih baru bisa gendong baby syyaid." Protes sovi.
"Tapi kan rindu ma." Ujar Ravi.
"Gak ada, pokoknya mandi dulu sana, jangan sampai mama cubit kamu ya Ravi." Tegas sovi.
"Iya iya dasar mama bawel." Kata Ravi.
Amora dan Ayu hanya bisa tersenyum melihat Ravi yang begitu gagah dan tampan namun saat berhadapan dengan mama nya akan ciut dan tidak akan pernah menang.
"Hmmm Sudah lah mandi gih, pasti kalian capek kan seharian penuh perjalanan." Titah sovi lagi.
"Baik bu." Jawab Ayu.
"Ayu sebentar lagi kan kamu juga akan jadi menantu mama, kamu dan Amora tidak ads bedanya jadi jangan panggil pak dan ibu lagi ya. Panggil mama dan papa juga dong." Ucap Sovi sambil tersenyum menatap Ayu.
"Ba...baik ma." Jawab Ayu sedikit gugup.
__ADS_1
"Nahh gitu dong, yaudah mandi sana, barang-barang kalian biar di bawakan sama pak Paijo nanti." Ucap Sovi.
"Baik ma." Mereka berdua pun pamit ke kamar masing-masing untuk mandi.
Amora hanya tersenyum melihat perubahan ibu mertua nya itu.
"Kita jalan-jalan sore keliling komplek yuk Amora, biar baby syyaid tidak bosan di sini-sini saja." Ajak Sovi.
"Iya ma." Jawab Amora.
Sovi pun mendorong stroller baby syyaid dan mereka mulai jalan santai di jalan komplek perumahan.
"Ma terimakasih ya." Ujar Amora.
"Untuk?" Tanya sovi.
"Untuk semua nya, untuk kasih sayang mama, perhatian mama dan untuk besarnya hati mama menerima Amora dan kini menerima Ayu." Jelas Amora yang merasa terjadi nya hubungan Ravi dan Ayu juga dirinya ambil andil di sana.
"Hufhh..." Sovi membuang nafas berat, sembari mendorong stroller baby Syyaid dan berjalan santai beriringan dengan Amora.
"Kamu tidak perlu berterima kasih Amora, semua mertua akan melakukan hal yang sama dengan yang mama lakukan kok." Lanjut sovi lagi.
"Iya ma, tapi kan menantu mama ini dan bahkan calon menantu mama tidak sesuai dengan ekspektasi mama. Bahkan mungkin banyak perempuan yang sebenarnya jauh lebih pantas jadi menantu mama." Sambung Amora.
"Benar kata kamu Amora, memang kamu dan Ayu bukan calon menantu impian mama. Bahkan sedikit pun tidak pernah terbesit di benak mama punya menantu seperti kalian. bahkan kau tau saat mama tau kamu dan Miko punya hubungan mama merasa gagal jadi ibu, mama bahkan berpikir di mana salah nya mama kenapa harus mama yang menanggung ini semua. Namun kini semua nya terbantahkan don't judge a book by its cover. Semua orang tidak bisa di nilai dari luar nya saja dan semua orang pasti punya sisi baik dan buruk nya." Ujar sovi.
"Ma..."
"Tapi kini bahkan mama bersyukur punya menantu seperti kamu. Kamu menantu yang baik untuk kami, istri yang baik untuk Miko dan ibu yang baik untuk untuk baby syyaid. Bahkan tidak hanya itu kamu juga jadi ipar yang baik untuk Ravi dan kakak yang baik untuk Ayu. Jadi mama rasa kamu sudah cukup sempurna untuk menjadi menantu dan istri. Mama juga berharap Ayu bisa melakukan hal yang sama seperti kamu, tapi mama yakin Ayu tidak jauh beda dari kamu Amora." Potong Sovi.
"Dan satu lagi, harta, jabatan, latar belakang keluarga, kedudukan tidak bisa selama nya jadi patokan bahwa orang itu baik dan pantas memberikan kebahagiaan." Sambung sovi.
"Terimakasih ma." Hanya itu yang mampu Amora ucapkan dia benar-benar tidak menyangka ibu mertua nya akan berpikir seperti ini tentang dirinya.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, tapi Satu yang mama mau Amora, lupakan lah masa lalu kelam kamu. Dan jangan pernah merasa dirimu itu rendah dan tidak pantas. Kamu pantas sayang sangat pantas mendapatkan ini semua. Mari bangun rumah tangga kecil mu dan hiasi hari-hari mu dengan penuh kebahagiaan ya nak cukup masa lalu mu menderita sekarang jangan, Jangan sampai Miko gagal jadi suami dan mama dan papa gagal jadi mertua karena kamu tidak bahagia." Ujar sovi sambil menatap Amora.
"Ma, Amora benar-benar tidak tau harus berkata apapun lagi."Amora tidak dapat menahan air mata nya yang jatuh membasahi kedua pipinya.
"Heh jangan menangis dong sayang, nanti tetangga lihat di kira mama marahin kamu. Atau di kira kita berantam. Sudah sudah jangan nangis ah Kita tidak sedang menonton film sedih ini." Sovi mencoba menyeka air mata Amora.
"Amora hanya terharu saja ma, belum pernah Rasanya Amora di perlakukan seperti ini. Tapi semenjak masuk di keluarga Wijaya Amora merasakan kasih sayang yang tidak pernah Amora rasakan seumur hidup ma." Ujar Amora.
"Iya sayang iya, yaudah kita pulang saja yuk ini juga sudah sore." Ajak Sovi.
__ADS_1
Amora pun mengangguk, mereka pun pulang ke rumah.