
Sementara di lain tempat Elsa pun mulai menyusun rencana untuk menghancurkan nama Amora dengan kehadiran Ana.
"Jadi Tante adalah Tante Amora ya?" Tanya Elsa saat dia dan Ana sudah duduk di salah satu cafe yang sudah di tentukan oleh Tama.
"Iya tapi saya tidak di anggap oleh Amora apalagi semenjak dia sudah punya uang dan sekarang sudah menjadi menantu dari keluarga Wijaya. Padahal cuih saya tau latar belakang perempuan malam itu." Jelas Ana yang seakan-akan merasa paling tersakiti.
"Tante mau tidak bekerja sama dengan saya untuk menghancurkan Amora? Karena saya juga merasakan dendam kepada dia." Tanya Elsa yang melihat Ana akan berpihak kepada nya.
"Boleh boleh saja sih, tapi bagaimana ya kamu tau sendiri lah semua nya butuh uang." Ucap Ana yang memang mata duitan.
"Kalau masalah itu Tante tenang saja, bisa di atur tapi ingat Tante harus kasih bukti ke publik bahwa Amora memang wanita malam dan pernah jadi simpanan om-om." Ucap Elsa tersenyum.
"Kalau untuk Amora adalah seorang wanita malam dan pernah jadi simpanan om-om saya tidak punya bukti. Tapi saya bisa menjatuhkan nama Amora dengan perbuatannya yang lupa akan jati dirinya. Namun saya punya seseorangorang yang saya yakin bisa mengungkapkan identitas asli Amora." Jelas Ana.
"Siapa?" Tanya Elsa tidak sabar.
"Ada uang ada informasi." Jelas Ana yang tidak mau tertipu.
"Apa Tante melihat ada tampang pembohong dan penipu di wajah saya?" Tanya Elsa merasa kesal.
"Iya saya mana tau, rambut saja yang sama hitam hati siapa yang tau. Saya hanya wanti-wanti saja." Jelas Ana.
"Tante tenang saja, saya bukan orang yang miskin- miskin amat. tapi untuk sekarang kita ungkap dulu kebusukan Amora soal tidak ingat keluarga karena sudah sukses. Jika berhasil baru kita lanjut ke masa lalu Amora." Ucap Elsa yang langsung memutar otak.
"Hmm iya itu ide bagus," jawab Ana.
"Memang Tante punya bukti apa saja sih yang mungkin bisa menjatuhkan wanita sialan itu?" Tanya Elsa yang takut salah langkah.
"Saya punya bukti pembayaran pengobatan ayah kandung Amora di rumah sakit. Dan Amora tidak pernah perduli kepada ayah kandung nya. Bahkan Amora tidak mau menganggap saya Keluarga karena saya miskin. Lihat saja saat dia menikah kemaren dia bilang dia sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa. Itu artinya saya tidak di anggap. Padahal saya ini Tante kandung nya." Jelas Ana yang memang pintar memutar balikkan fakta.
"Wahh akhirnya hancur kamu Amora. Lihat saja bagaimana keluarga Wijaya akan malu kau buat." Batin Elsa tersenyum penuh kemenangan.
"Memang Amora tidak pernah memberikan uang kepada Tante atau mengunjungi Tante?" Tanya Elsa lagi mengorek informasi.
"Tidak sama sekali tidak pernah." Ucap Ana berbohong karena memang tidak ada bukti transfer dan semacam nya.
"Baiklah, dengan begini kita bisa menghancurkan wanita itu.kita tunggu teman saya datang dulu ya, baru kita mulai susun rencana." Ucap Elsa tersenyum puasa.
"Hmmm lalu bagaimana dengan pembayaran nya?" Tanya Ana yang merasa tidak sabaran.
"Tenang Tante, untuk awal saya kasih DP dulu, namun jika pengakuan Tante ini berhasil dan orang yang bisa membuka masa lalu Amora dapat membantu saya maka saya akan melunasi semua nya." Jelas Elsa.
"Baiklah itu ide bagus." Ucap Ana.
.
.
.
Sementara orang yang sedang mereka gibahin sedang asyik berbelanja dengan Ayu di salah satu mall mewah di dekat rumah mereka.
"Ayu kamu pilih saja barang-barang yang memang kamu butuhkan." Titah Amora kepada Ayu.
Tadi pagi memang Amora sudah minta izin kepada Miko dan sovi untuk berbelanja sekalian membawa ayu membeli beberapa pakaian baru. Karena perut Amora yang sudah mulai membesar jadi dia juga butuh beberapa pakaian baru.
__ADS_1
"Tidak perlu mbak, saya pakai pakaian yang di rumah saja itu juga masih bagus kok." Tolak Ayu yang memegang beberapa paper bag berisi belanjaan Amora.
"Ayu, rejeki ga boleh di tolak lho." Ucap Amora lagi.
"Tapi barang-barang di sini mahal-mahal semua mbak sayang yang nya." Ucap ayu lagi.
"Tenang saja, untuk hari ini semua belanjaan kamu biar saya yang bayar. Kita belanja begini cuman sesekali kok Nikmatin ya." Amora menepuk pundak ayu sambil tersenyum.
"Mbak Amora kenapa baik banget sih sama saya? Perasaan kita kenal nya belum lama." Tanya Ayu yang memang penasaran kenapa Amora bisa sebaik itu kepada nya.
"Entah lah ayu, saya nyaman berbicara dengan kamu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Dan Dari dulu saya kepingin sekali punya adik perempuan, dan sejak ada kamu saya merasa saya punya adik perempuan.
Kamu mau tidak jadi adik perempuan saya?" Tanya Amora.
"Tentu saja saya mau mbak, dengan senang hati." Ayu tersenyum manis.
"Kenapa kamu manis sekali sih." Amora mencubit pipi ayu gemas.
"Jadi sekarang kita deal ya jadi adik dan kakak angkat. Ingat ga boleh segan-segan lagi ya sama mbak." Titah Amora.
"Tapi kan mbak kita beda kasta, mbak istri nya orang terpandang seperti pak Miko. Sedangkan saya hanya gadis desa yang kebetulan menjadi asisten mbak. Sangat kontras dan saya yakin banyak sih wanita di tempat lain yang lebih pantas jadi adik angkat mbak." Jawab ayu dengan wajah sendu.
"Hust... Tidak boleh bicara seperti itu, kita semua sama kalau bicara latar belakang mungkin latar belakang mbak jauh lebih buruk dari siapapun yu. Mbak nyaman sama kamu dan mbak mau kamu yang jadi adik nya mbak ya." Ucap Amora.
"Baik mbak." Ayu mengangguk.
"Yasudah yuk kita lanjut belanja, entar keburu siang." Ajak Amora.
Ayu pun hanya mengangguk dan mengikut Amora. Dan mereka pun mulai menjelajahi satu toko ke toko lain nya. Jiwa suka belanja Amora memang tidak bisa hilang. Bagaimana tidak sejak menjadi simpanan om-om dia sudah di suguhkan dengan kemewahan jadi sejak dulu dia sudah hoby belanja barang-barang yang mungkin tidak terlalu penting untuk dia pakai.
"Yu kita mau makan siang di mall ini saja atau bagaimana?" Tanya Amora saat mereka sudah selesai membayar belanjaan dan kini sudah waktunya jam makan siang.
"Terserah mbak saja, ayu ngikut saja." Jawab Ayu.
"Yaudah kita makan di sini saja ya." Ucap Amora yang memang sudah merasa kelaparan.
Ayu hanya mengangguk saja.
Mereka pun akhirnya maka siang di salah satu restoran di dalam mall itu. Namun saat memesan makanan ayu merasa bingung dengan semua nama menu di sana karena dia memang belum pernah mendengar dan melihat gambar makanan itu sebelum nya.
Karena Amora kebetulan membawa ayu ke restoran Jepang.
"Kamu pesan apa yu?" Tanya amora saat dirinya sudah selesai memesan makan siang untuk dirinya.
"Saya pesan menu yang sama saja dengan mbak." Jawab Ayu.
"Yasudah mbak kita pesan semua nya dua porsi ya." Ucap Amora kepada pelayan restoran itu.
"Baik ibu, mohon di tunggu sebentar ya." Ucap sang pelayan.
Beberapa menit kemudian makan siang mereka pun datang. Ayu sempat sedikit terkejut melihat porsi makan nya yang se upil.
"Ayo yu, makan mbak sudah kelaparan nih." Ajak Amora.
"Ohh iya iya mbak." Jawab ayu.
__ADS_1
"Apaan ini, harga nya se mahal itu tapi porsi nya sedikit mana rasa nya aneh lagi." Batin Ayu saat dia mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulut.
"Mending beli nasi Padang sudah dapat berapa bungkus ini." Tambah batin nya.
Mereka berdua pun makan siang bersama, namun ayu yang sudah menghabiskan makanan nya merasa perut nya belum kenyang namun dia malu untuk mengungkapkan hal itu kepada Amora.
Setelah selesai makan siang Amora dan ayu pun keluar dari mall itu dan berniat segera pulang.
"Ayu kamu kenapa? Kok ekspresi nya begitu?" Tanya Amora yang melihat ayu seperti tertekan.
"Ahh tidak kok mbak." Jawab ayu cengengesan.
Setelah di bantu pak Paijo memasukkan semua barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. mobil pun melaju menuju rumah mereka.
"Pak Paijo sudah makan?" Tanya Amora yang baru ingat kepada pak Paijo yang sedari tadi menunggu mereka di parkiran.
"Hehehe belum non." Jawab pak Paijo cengengesan.
"Maaf ya pak, saya kelupaan tadi." Ucap Amora merasa bersalah.
"Santai saja non, saya bisa makan di rumah kok." Jawab pak Paijo.
"Tidak pak, kita berhenti saja di restoran atau rumah makan terdekat soalnya ini sudah waktunya makan siang dan bapak belum makan." Ucap Amora.
"Baik non." Jawab pak Paijo yang sudah tau bahwa permintaan Amora tidak bisa di tolak.
Mereka pun berhenti di depan salah satu rumah makan Padang dan pak Paijo, Amora dan ayu ikut turun dari mobil.
"Pesan saja apa yang mau bapak makan, biar saya yang bayar." Ucap Amora saat mereka bertiga sudah duduk di salah satu kursi.
"Baik non." Jawab pak Paijo.
Beberapa menit kemudian pesanan pak Paijo pun datang, sedangkan Amora memesan jus mangga untuk nya dan ayu memesan perasan jeruk manis untuk dirinya.
Saat melihat semua pesanan pak Paijo datang ayu tanpa sadar menelan ludah nya karena memang dia ngiler melihat makanan milik pak Paijo.
"Kenapa yu kamu masih lapar?" Tanya Amora yang kebetulan melihat ekspresi ayu.
"Hehehe tidak kok mbak." Bohong ayu sambil cengengesan.
"Kalau memang masih lapar pesan saja lagi yu, mbak tau kok kamu pasti tidak kenyang dengan makanan tadi kan? Tenang saja yuk udah mbak bilang anggap mbak ini kakak kandung mu jadi jangan sungkan-sungkan." Titah Amora.
"Hehehe iya mbak sejujur nya ayu masih lapar, soalanya tadi porsinya sedikit sekali." Jawab ayu jujur sambil cengengesan.
"Yaudah pesan saja lagi yu, tidak usah malu-malu, non Amora mah baik, pengertian lagi." Timpal pak Paijo.
"Bapak bisa saja ah, naik nih telinga saya ini." Ucap Amora sambil cengengesan.
"Saya tidak enak mbak."
"Heh ga usah ga enakan pesan saja sana." Perintah Amora.
"Baik mbak." Akhirnya Ayu pun memesan makanan untuk dirinya.
Akhirnya Ayu makan siang kembali dan Amora hanya tersenyum melihat kepolosan ayu itu.
__ADS_1