Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
ingkar janji


__ADS_3

“Ini Devina mau ngajak kemana sih.”Batin Ravi yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh bahwa sudah keluar dari kota.


“Tidak mungkin kan seorang Devina sedang bermain-main.” Tanya nya pada dirinya sendiri yang terus mengemudikan mobilnya.


Tak berapa lama akhirnya sampai di salah satu cafe namun dengan nuansa sekeliling nya sawah dengan lampu yang begitu indah, cafe itu tidak terlalu rame.


“Hmm Devina kamu masih sama saja seperti dulu lebih suka tempat-tempat yang sederhana dan jauh dari keramaian.” Batin nya yang akhirnya turun dari mobil.


Dia melihat di dalam cafe Devina sudah duduk menunggu nya sembari menikmati indahnya pemandangan. Ravi pun segera menghampiri Devina dengan senyum indah yang terlukis di wajah nya.


“Maaf membuatmu menunggu lama untuk kedua kali nya ibu direktur.”Ujar Ravi saat dia sudah berdiri di hadapan Devina.


“Hmmm tidak kok, silahkan duduk.” Devina mempersilahkan Ravi untuk duduk di hadapan nya.


“Baik ibu direktur.” Ravi pun menurut lalu duduk di hadapan Devina.


“Ini bukan di kantor, jadi panggil Devina saja.” Pinta Devina.


“Baik Devina cantik.” Goda Ravi.


“Devina saja, gak usah pake cantik.”Protes Devina.


“Lahh kan memang cantik.”Puji Ravi.


“Mau pesan apa?” Tanya Devina mengalihkan pembicaraan dan kini di hadapan nya sudah tersedia secangkir kopi.


“Kamu masih suka ngopi juga ya, yasudah aku juga pesan kopi deh.” Jawab Ravi yang akhirnya memesan kopi dan beberapa cemilan ringan.


“Kamu masih sama seperti dulu ya Vin, tidak banyak berubah.” Lanjut Ravi menatap Devina dalam.


“Kamu gak konsisten tau gak sih, tadi kamu saja nyaris tidak mengenalku sangkin berubahnya aku 180 derajat kamu bilang. Lah sekarang malah tidak ada yang berubah masih sama seperti dulu. Kamu mau nya apa sih Ravi?” Tanya Devina sembari menatap Rai itu.


“Hehehehe bukan begitu Vin, maksud aku iya memang fisik dan penampilan kamu drastis berubah sampai aku tidak mengenali mu. Tapi sifat dan kebiasaan mu masih sama seperti dulu. Lebih suka ke tempat yang unik dan jauh dari keramaian, suka ngopi, suka tegas dan aku yakin masih banyak lagi sifat kamu yang belum berubah.”Lanjut Ravi.


“Hmmm iya lah sifat dan kebiasaan kan susah di rubah, ada yang sudah bawaan lahir. Tapi kan sifat dan kebiasaan aku itu bukan yang jelek-jelek jadi tidak perlu di rubah dong Vi.” Lanjut Devina.


“Iya Vin siapa yang bilang semuanya jelek dan harus di rubah sih, aku cuman bilang kamu tidak banyak berubah itu saja.” Jawab Ravi memberikan penjelasan.


Akhirnya pesanan Ravi pun datang, keduanya mencoba memandang sekeliling sembari menarik nafas dalam karena udaranya begitu sejuk dan cukup dingin. Untung saja yang punya cafe buat kelambu transparan sehingga tidak ada nyamuk sama sekali di dalam cafe walaupun ini malam hari dan berada di tengah-tengah sawah sehingga membuat para pengunjung nyaman.


“Sudah berapa lama di Indonesia Vin, kok kamu tidak ada kabar sama sekali sih?” Tanya Ravi sekedar berbasa-basi.


“Hmm masih baru lah vi, paling dua bulanan.”Jawab Devina.


“Lalu kok bisa kamu jadi direktur di perusahaan besar sekelas Tanoto Vin, kasih tips nya dong.”Sambung Ravi.


“Hahaha CEO Tanoto grup teman almarhum papa ku, beberapa bulan yang lalu dia menawariku jadi direktur nya karena katanya aku cocok di posisi itu.” Jelas Devina dengan tawa kecilnya.

__ADS_1


“Wahh hebat, tapi memang iya sih Vin kamu cocok banget jadi direktur.”Puji Ravi.


“Halah bohong kamu Vi, bilang aja biar kerjasama kita lancar kan.ingat vi kerjaan tetap kerjaan kita harus profesional.” Ujar Devina.


“Aman mah kalau itu Vin, aku juga akan menunjukkan dan memberikan yang terbaik untuk proyek ini.” Jawab Ravi.


“Aku percaya kamu Ravi.” Sambung Devina.


“Ohh iya ada hal penting apa yang membuat mu mengajak ku bertemu vi?” Tanya Devina masuk ke topik pembicaraan.


“Aku merindukan mu.” Jawab Ravi degan tegas.


“Hah gak salah?” Tanya Devina santai walau ada rasa bahagia di hatinya saat mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Ravi.


“Tidak, aku merindukan mu Devina sangat-sangat merindukan mu.”Lanjut Ravi.


“Hmmm sejak kapan kamu menjadi laki-laki buaya seperti ini Ravi, ingat lho kamu ini sekarang sudah jadi suami orang dan tidak pantas mengucapkan hal itu kepada perempuan lain.” Ingat Devina.


“Vin aku mohon saat bersama bisa tidak kamu jangan ingatkan status aku, aku benar-benar sangat merindukan mu Vin. Kamu tidak tau kan berapa lama aku menunggu kamu pulang.” Ujar Ravi.


“Heh kamu tidak boleh memungkiri status kamu Ravi, dan kamu menunggu aku berapa lama aku pulang. Jika hal itu memang beneran kamu tidak akan menikah sampai sekarang bahkan sebelum menikah kamu pernah menyukai beberapa perempuan kan.” Lanjut Devina mencoba mengingatkan Ravi.


“Vin karena memang seakan tidak ada kesempatan lagi, dan kamu tau sendiri kan mama selalu memaksa ku untuk menikah.” Ravi mencoba membela diri.


“Oh iya, tidak masalah Ravi semua orang berhak mencari bahagianya sendiri.” Jawab Devina.


“Hah hanya kecewa? Kenapa?” tanya Devina tidak mengerti.


“Jika kita bertemu hari ini, pasti kamu juga sudah menikah kan?” lanjut Ravi.


“Hahaha kamu pikir aku seperti kamu Ravi, kamu yang membuat janji tapi kamu sendiri yang mengingkarinya. Aku yang hanya kamu minta berjanji lewat surat saja bisa menepatinya sampai hari ini.” Jawab Devina dengan tawa mengejek namun tanpa di sadari oleh Ravi ada rasa sakit di tawa Devina itu.


“Ja.. jadi sampai sekarang kamu belum menikah juga Vin?” Tanya Ravi yang sedikit kaget mendengar kata-kata Devina itu.


“Menurut kamu?” Devina malah balik bertanya.


“Vin, kamu beneran tidak mau menikah karena ingin menepati permintaan aku puluhan tahun silam?” tanya Ravi yang benar-benar nyaris tidak percaya.


“Sudah tidak perlu di bahas lagi, lagian perjuanganku juga sia-sia kan. Yasudah apa masih ada hal penting yang ingin di obrolin? mama ku pasti menunggu ku pulang dan khawatir dengan keberadaan ku.” Devina yang tidak kuat melanjutkan pembicaraan ini memilih ingin langsung pulang.


“Vin maaf in aku.” Ravi benar-benar merasa bersalah.


“Untuk apa kamu minta maaf, kamu tidak salah kok.” Devina mencoba santai menyikapi Ravi.


“Yasudah Vi, aku balik duluan ya kasihan mama menungguku lagian tadi mama ada pesan beliin sesuatu.” Lanjut Devina yang bangkit dari duduk nya.


“Tapi Vin...”

__ADS_1


“Mungkin lain waktu kita masih bisa mengobrol banyak hal vi.” Potong Devina.


Devina pun meletakkan dua lembar uang pecahan seratus ribuan di atas meja.


“Lain kali aku traktir di tempat yang mahal ya, untuk merayakan kepulangan aku ke sini.” Ujar Devina lagi.


“Kamu jangan pulang larut malam kasihan istri kamu menunggu, salam sama istri kamu ya.” Sambung Devina yang berjalan meninggalkan Ravi yang masih duduk di kursinya.


“Vin tunggu.” Ravi langsung beranjak dari duduk nya dan mengejar Devina.


“Nanti kamu kedinginan.”Ravi memakai kan jas nya kepada Devina yang kebetulan memakai baju putih dengan bahan tipis.


“Ravi aku tidak apa-apa kok.” Devina mencoba menolak jas Ravi dan ingin mengembalikan nya kepada Ravi.


“Vin aku akan sakit hati kalau kamu menolak nya.” Ucap Ravi.


“Terimakasih.”Akhirnya Devina tetap memakai jas itu.


“Terimakasih untuk Waktunya yang berharga ini Vin, aku minta maaf untuk segala sesuatunya.aku berharap masih ada malam-malam seperti ini untuk selanjutnya. Kamu hati-hati ya nyetirnya” Ujar Ravi saat keduanya sudah berdiri di dekat mobil mereka.


“Sama-sama vi.” Jawab Devina yang tidak ingin memperpanjang obrolan.


“Yasudah aku balik ya kamu juga hati-hati nyetirnya.” Sambung Devina yang membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya.


“Iya Vin.”Ravi mengangguk.


Mobil Devina pun melaju meninggalkan Ravi yang masih berdiri menjauh meniggalkan nya. Sementara Ravi hanya bisa diam saja. Lalu dia pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya juga untuk pulang.


Entah kenapa setelah mendengarkan penjelasan Devina ada rasa Aneh di hati Ravi kini Ravi jadi gelisah memikirkan Devina. Namun karena perutnya keroncongan dan tidak mungkin dia makan di rumah Ravi pun singgah di salah satu warung makan di pinggir jalan untuk makan malam.


Sementara Devina yang masih menyetir mobil entah kenapa air matanya menetes membasahi pipinya. Dia tidak sanggup membendung rasa sakit hatinya saat menerima kenyataan bahwa kini Ravi sudah menikah. Devina yang sudah terbiasa mendapatkan apapun yang dia mau kini merasa sakit karena tidak bisa mendapatkan Ravi.


"Kenapa Ravi, kenapa kamu harus mengingkari janji yang kamu buat sendiri. kamu tidak tau kan aku menolak banyak pria demi kamu Dan kamu malah menikah dengan wanita lain." kini Devina berbicara kepada dirinya sendiri.


Dia pun mencium jas Ravi itu, aroma parfum dan aroma tubuh Ravi menempel di sana, dan itu membuat Devina semakin menginginkan Ravi.


"Sialan sejak kapan kamu jadi wanita lemah begini Devina, menangis hanya karena seorang pria yang sudah menjadi suami orang." dia meledek dirinya sendiri.


"Aku benci kamu Ravi Wijaya sangat benci kamu." guman nya yang kini air matanya semakin deras membasahi pipi mulus nya.


Dan beberapa menit berlalu Devina sudah sampai di rumahnya. Dia pun menghapus air matanya dan mencoba biasa saja agar mama nya tidak curiga.Dia pun masuk ke dalam rumah sembari membawa jas Ravi ke kamar untuk teman tidurnya malam ini.


Ravi yang sudah selesai makan malam pun melajukan mobilnya kembali menuju rumah mereka, karena memang sudah cukup malam, setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam akhirnya Ravi juga sudah sampai di rumah mereka.


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi dan mengunci gerbang rumah Ravi masuk ke dalam rumah. Dia tau pasti istrinya sudah tidur jam segini. Dan benar saja saat Ravi membuka pintu kamar mereka Ayu sudah terlelap.


Ravi melihat di atas meja rias Ayu sudah menyiapkan baju tidur untuk nya, walaupun tidur lebih dulu Ayu tetap melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri. Ravi pun masuk ke kamar mandi dan segera mandi dan setelah selesai mandi Ravi menggunakan pakaian nya dan dengan perlahan dia naik ke atas ranjang agar tidak membangunkan Ayu. Dia pun merebahkan tubuhnya di sebelah Ayu.

__ADS_1


Namun setiap Ravi menutup matanya yang ada hanya wajah Devina yang ada di pikiran nya. Ravi juga tidak tau apa yang sedang terjadi padanya, namun semenjak bertemu Devina tadi siang yang ada di otaknya hanya Devina.Karena terlalu memikirkan Devina Akhirnya Ravi pun tertidur dan menyusul istrinya itu ke dunia mimpi.


__ADS_2