Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Suapin Ravi


__ADS_3

Karena kini kondisi ravi sudah sangat baik, sang dokter pun sudah mengizinkan Ravi pulang hari ini. Tentu ini adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk keluarga Wijaya. Setelah mengurus semua yang di perlukan di rumah sakit sore ini ravi pun di bawa pulang.


“Ma, pa makasih ya buat semuanya, dan maafin Ravi karena selalu menyusahkan mama dan papa.” Ungkap Ravi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Terimakasih untuk apa nak? Dan kamu minta maaf untuk apa juga? Memang nya kamu ada salah ke mama dan ke papa hah?” tanya Sovi.


“Terimakasih karena sudah merawat Ravi dan memberikan yang terbaik untuk Ravi sampai detik ini. Dan Ravi mau minta maaf kalau sampai detik ini Ravi masih sering merepoti mama dan papa.” Jelas Ravi.


“Tidak perlu berterimakasih sayang, itu sudah kewajiban kami sebagai orang tua. Mama rasa semua orang tua juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan nak. Dan untuk sampai detik ini kamu bilang masih menyusahkan stop sayang jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya. Kamu tidak pernah menyusahkan mama dan papa bahkan kamu adalah anugerah terindah untuk mama dan papa.” Jelas Sovi sambal menatap putra bungsu nya itu dalam.


“Benar kata mama kamu Ravi, jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya nak. Kami sangat bahagia menjadi orang tua kamu dan tidak pernah terbeban sedikit pun oleh kamu ataupun kakak mu, di situasi bagaimana pun kalian berdua tetap anugerah untuk kami. Jadi sekarang tidak usah berpikir aneh-aneh ya sayang fokus saja ke kesembuhan kamu.” Sambung Sean.


“Terimakasih ma, pa, ravi benar-benar beruntung dan bersyukur memiliki kalian di hidup Ravi.” Ungkap Ravi yang tak dapat menahan air matanya,


“heh jangan nangis begitu dong, udah besar tampan juga masa tukang nangis sih, cengeng sekali anak papa.” Ledek Sean.


“uluhh-uluhh putra kecil ku, sini sini peluk dulu.”Sovi menarik Ravi ke pelukan nya.


“Papa ga di ajak nih?” tanya sean.


“Enggak,” jawab Sovi yang mempererat pelukan nya kepada putra kecilnya.


“Yasudah papa nimbrung saja.” Sean langsung ikut memeluk istri dan putra bungsu nya itu.


Mereka bertiga pun berpelukan dengan hangat, sementara pak paijo yang menyetir mobil pura-pura tidak tau kejadian romantis yang sedang terjadi di belakang nya, tapi dia Bahagia melihat keluarga majikan nya hangat begini.


“Lalu bagaimana pa, ma, kalua ravi tidak bisa jalan lagi?” tanya ravi saat pelukan mereka sudah terlepas.


“Heh, kenapa mikir begitu, kan kata dokter Ravi pasti bisa jalan dan normal lagi seperti biasa, kita hanya perlu menunggu waktu itu tiba nak, selagi menunggu nya kita harus banyak berdoa dan di barengi dengan pengobatan dan tekad yang kuat dari kamu sayang.” Jawab Sovi.


“Iya kan Ravi hanya berandai-andai saja ma.” Sambung Ravi.


“Tidak usah berandai-andai Ravi, namun seandainya hal itupun terjadi maka mama dan papa akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menyembuhkan kamu nak, semua nya akan kami pertaruhkan demi kesembuhan kamu sayang, termasuk nyawa kami sekali pun. Udah ahh ngapain sih nanya nya begitu sayang.” Ucap Sovi.


“Benar kata mama kamu ravi, kami akan melakukan apapun untuk kesembuhan kamu nak, tapi ya kamu juga harus optimis untuk sembuh dong nak.” Papar sean.


“Iya ma, pa, maaf ya Ravi nanya nya aneh-aneh. Iya pa ma ravi akan berjuang biar segera sembuh seperti sedia kala dan bisa melanjutkan aktivitas Ravi.” Pungkas Ravi yang akhirnya mendapatkan semangat baru Kembali.


“Gitu dong, ini baru anak papa, kuat dan tidak cengeng.” Sean mengelus kepala botak Ravi yang sudah mulai di tumbuhi rambut lagi.


Karena mereka terlalu banyak mengobrol mereka sampai tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di rumah,


“Pak, buk, kita sudah sampai.” Ujar pak Paijo dengan sopan.


“Ohh sudah sampai ya pak, kok rasanya cepat banget ya sampainya.” Jawab sovi yang melihat keluar jendela mobil ternyata benar mereka sudah sampai di rumah.


“iya buk.” Jawab pak paijo yang langsung turun dari mobil dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kursi roda milik Ravi.


“Ahh ternyata sudah seminggu lebih rumah ini kita tinggal ya pa.” ujar sovi kepada suaminya itu saat mereka keluar dari mobil.


“Iya ma.” Jawab Sean.

__ADS_1


“Ma, pa” Amora dan miko langsung menyambut mereka di depan pintu rumah sembari menyalim mereka berdua.


Miko dan Amora memang tidak ikut menjemput Ravi, karena Miko ada meeting di kantor, sedangkan Amora harus menjaga baby syyaid. Sedangkan Ayu yang memang ada kuliah hari ini di suruh oleh Sean dan Sovi untuk mengikuti kuliah nya saja.


Setelah pak paijo membantu Ravi turun dari mobil dan di duduk kan di kursi roda pak paijo pun mendorong kursi roda Ravi menuju kamar Ravi, lalu memindahkan Ravi ke ranjang nya. Sebenarnya hati kecil Ravi menangis melihat kondisinya yang memprihatinkan begini. Apa-apa harus di bantu oleh orang lain, namun mau bagaimana lagi kondisinya sudah seperti ini.


“Yasudah sayang, kami istirahat ya nak. Mama dan papa ke kamar dulu kami juga mau beres-beres dulu.” Pamit Sovi yang memang merasakan badan nya yang meriang mungkin akibat sudah seminggu ini begadang menjaga Ravi di rumah sakit.


“Iya ma, pa, Terimakasih ya” ucap Ravi sambal tersenyum.


Sean dan Sovi pun pamit dari kamar Ravi dan segera menuju kamar mereka, sementara miko yang juga baru pulang kerja segera ke kamar nya dan mandi karena ini sudah hampir malam. Ayu yang baru saja balik dari kerja kelompok dengan teman-teman nya bergegas ke kamar nya untuk mandi dan sholat. Dia tau kalua Ravi sudah pulang namun dia tidak enak menggangu Ravi yang mungkin sedang beristirahat, walaupun sebenarnya ingin rasanya Ayu melihat kondisi Ravi namun semua nya dia urungkan.


Setelah selesai mandi dan sholat Ayu langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk keluarga Wijaya. Karena tadi pagi Ayu sudah mempersiapkan semua bahan masakan untuk mala mini jadi dia tinggal memasak dan tidak di butuhkan waktu yang cukup lama.


“yu..” tiba-tiba Sean datang menghampiri Ayu yang sedang asyik di dapur.


“Ehh, iya ada apay a pak?” tanya Ayu yang sedikit tersentak.


“Boleh buatkan sup Ayam?” sambung Sean.


“Ohh boleh pak, bapak lagi kepingin makan sup Ayam ya?” tanya Ayu lagi.


“Bukan say ayu, tapi Ibu sepertinya dia sedang tidak enak badan, mungkin pengaruh seminggu di rumah sakit ngurus ravi jadi kurang tidur kali ya.” Sambung sean.


“Ohhh iya pak, segera Ayu buatkan. Iya pak bapak dan Ibu memang kurang istirahat seminggu belakangan ini.” Jawab Ayu yang langsung membuatkan sup untuk Sovi.


“Ohh Iya yu, satu lagi buatkan bubur untuk Ravi juga ya, kata dokter ravi belum bisa makan yang keras-keras karena baru operasi.” Sambung Sean.


Dengan sepenuh hati Ayu pun memasak sup ayam untuk Sovi lalu membuatkan bubur untuk Ravi. Setelah beberapa menit kemudian semua masakan Ayu sudah selesai. Dia pun menata nya di meja makan. Lalu menyiapkan sup Ayam tadi dan makan malam lain nya untuk Sovi. Setelah nya Ayu pun membawakan nampan berisi makanan tersebut ke kamar Sovi.


“tok..tokkk.” Ayu pun mengetok pintu kamar itu menggunakan satu tangan nya.


“Siapa?” tanya sovi dari dalam.


“Ayu bu.” Jawab Ayu.


“Ada apa yu, masuk saja pintu nya tidak di kunci.” Sambung Sovi yang sedang berbaring di ranjang nya.


Ayu pun membuka pintu kamar Sovi, lalu segera masuk ke dalam m\nya.


“Ini bu, Ayu buatkan sup ayam sesuai perintah bapak tadi.” Jelas Ayu sembari membawakan nampan berisi makanan itu.


“Terimakasih yu, letakkan saja di atas meja sofa itu.” Titah Sovi.


‘baik bu.” Ayu pun melaksanakan perintah Sovi.


“Yasudah bu, Ayu pamit dulu ya.” Pamit Ayu setelah makanan tadi sudah di letakkan nya di atas meja.


“Ehh yu tunggu sebentar, ibu boleh minta tolong tidak?” cegah Sovi saat Ayu sudah beranjak pergi dari kamar itu.


“Ada apa bu?” tanya Ayu yang kini sudah berbalik Arah Kembali menghadap Sovi.

__ADS_1


“Boleh tolong suapin Ravi makan malam nak? Soalnya tangan nya itu masih sakit, dan ibu tidak bisa menyuapinya karena kondisi ibu." pinta Sovi.


"Ini tidak salah ibu Sovi mengizinkan aku menyuapi kak Ravi makan." batin Ayu yang tidak nyaris tidak percaya.


"Ohh boleh Bu boleh, lagian tadi Ayu juga sudah menyiapkan bubur untuk kak Ravi kok." jawab Ayu sambil tersenyum.


"Makasih ya yu." ucap Sovi.


"Sama-sama Bu, kalau butuh apa-apa panggil Ayu saja ya Bu. Ayu pamit dulu." pamit Ayu.


"iya yu." jawab sovi yang masih terbaring di ranjang nya.


Setelah keluar dari kamar Sovi, ayu pun Langsung menyiapkan bubur, air putih dan obat Ravi di atas nampan lalu membawa nampan tersebut ke kamar Ravi.


"kenapa rasanya jadi canggung begini ya, apa karena kak Ravi sudah melupakan ku dan semua kenangan kami. tapi kan seharusnya aku senang jadi bisa merawat kak Ravi sampai sembuh tanpa takut Maslah perasaan lagi." batin Ayu sambil menarik nafas berat.


Ayu pun mengetuk pintu kamar Ravi.


"Masuk saja yu, pintu nya tidak di kunci kok." Jawab Sean dari dalam.


"Ohh baik pak." jawab Ayu yang mendorong pintu kamar Ravi yang memang terbuka sedikit.


"Sup ibu sudah jadi ya? biar bapak Antar ke kamar." tanya Sean saat melihat Ayu datang membawa nampan.


"Ohh sudah Ayu Antar kan ke kamar ibu tadi pak." Jelas Ayu.


"Ohh kalau begitu tolong ya yu kamu siapin Ravi, bapak mau nge cek kondisi ibu dulu, Ravi makan yang banyak ya nak." ucap Sean yang berdiri dari duduk nya dan segera keluar dari kamar nya.


"baik pak." jawab Ayu.


"Iya pa." jawab Ravi.


setelah mereka tinggal berdua di kamar Ravi Ayu jadi merasa canggung, bahkan untuk membuka obrolan pun dia merasa Susah.


"Ayu kenapa?" tanya Ravi yang menatap Ayu.


"Ehh tidak apa-apa kok kak, apa mau makan sekarang?" tanya Ayu yang semakin salah tingkah.


"boleh yu, boleh bantu kakak duduk?" tanya Ravi yang memang masih terbaring di atas ranjang nya.


"Boleh dong kak." jawab Ayu yang akhirnya membatu Ravi untuk duduk dan bersandar di sandaran ranjang.


Ayu memperlakukan Ravi dengan sangat lembut, walaupun masih ada rasa canggung namun sekaligus dia menikmati momen ini. ya walaupun Ravi lupa semua kenangan mereka setidaknya dia masih bisa bersama Ravi sampai sekarang.


"kak buka mulut nya." pinta Ayu saat Ayu menyendokkan bubur ke pada Ravi.


Ravi pun hanya menuruti permintaan Ayu, dia melakukan apapun yang di suruh oleh Ayu.


"Ide papa ternyata tidak buruk juga." batin Ravi sambil tersenyum kecil.


sungguh Ayu memperlakukan nya sangat lembut, dan Ravi menikmati setiap momen Romantis itu.

__ADS_1


__ADS_2