Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Dendam Elsa


__ADS_3

"ini Ravi sama ayu kemana sih, mana di telepon ga di angkat-angkat lagi." Oceh Sovi karena ini sudah sore dan Ayu dan Ravi tak kunjung bisa di hubungi.


Karena Ayu meninggalkan ponselnya di dalam mobil, dan sampai sekarang dia tidak sadar karena terlalu asyik bersama Ravi.


"Kak kita balik yuk, sudah sore takut nya kita di cariin." Ajak ayu yang baru menyadari mereka sudah terlalu lama keluar rumah.


"Memang nya udah ga nyaman ya berdua dengan kakak?" Goda Ravi.


"Bukan begitu kak, Ayu tidak enak aja kalau sampai ibu sovi dan yang lain nya mencari kita." Jawab ayu yang mulai salah tingkah.


"Jawab dulu, apa tidak nyaman berduaan dengan kakak?" Ulang Ravi.


"Nyaman kok kak, nyaman banget malahan." Ayu tersipu malu pipinya memerah menjawab pertanyaan Ravi itu.


"Mau tidak kalau kapan-kapan kita jalan-jalan berdua lagi?" Tanya Ravi lagi.


"Hmm mau aja sih kak, tapi pacar kakak?" Tanya ayu yang langsung mengingat bahwa sekarang status Ravi bukan lagi singel.


"Kenapa pacar kakak? Kamu takut dia cemburu? Kita kan cuman temenan doang tidak lebih jadi tidak mungkin lah dia cemburu." Jawab Ravi.


"Hehehe iya kak." Jawab ayu sambil cengengesan.


"Iya iya lah pacar kakak ga mungkin cemburu sama ayu, apa yang mau di cemburuin ayu kalah di semua bidang dari pacar kakak. Dan tidak mungkin kan kakak suka sama Ayu yang jelas-jelas beda kasta." Batin Ayu dengan senyum di wajah mulai surut.


"Yasudah yuk kita balik kak." Ajak ayu sambil beranjak berdiri dari duduk nya.


"Yaudah iya deh."Ravi pun ikut berdiri bersama Ayu.


Mereka pun segera ke parkiran, dan masuk ke dalam mobil mereka.


"Ya ampun ternyata ponsel ayu ketinggalan di mobil.kok bisa-bisa nya ayu tidak sadar ya kak." Ucap ayu sambil mengambil ponselnya yang terletak di kursi mobil.


"Wahh kak gawat ada lima panggilan tidak terjawab dari mbak Amora., duhh bagaimana ini kak."ucap ayu dengan wajah panik nya saat dia membuka ponsel itu.


"Santai yu, tidak usah panik begitu." Ucap Ravi sambil mulai menjalan kan mobil nya.


"Bagaimana tidak panik kak, udah perginya tidak pamit mana balik nya sore lagi." Ujar Ayu lagi.


"Apa ayu telepon balik saja ya kak?" Tanya ayu lagi.


"Hmmm terserah ayu saja sih, tapi ayu tidak perlu panik begitu santai saja. Kek lagi di kejar harimau saja ah." Ujar Ravi yang dengan santai menyetir.


"Assalamualaikum bak, maaf mbak tadi ponsel ayu ke tinggalan di mobil makanya ayu tidak mengangkat panggilan nya mbak. Ada apa ya mbak?" Tanya Ayu saat panggilan mereka sudah terhubung.


"Waalaikumsalam, ayu lagi sama Ravi kan? kalian dimana yu? Kok keluar ga izin dulu?" Tanya Amora di seberang sana.

__ADS_1


"Iya mbak ayu lagi sama kak Ravi, tadi mau izin tidak enak nge ganggu mbak dan yang lain nya sedang istirahat. Ini kami sudah mau sampai kok mbak." Jawab ayu merasa canggung.


"Ohh iya sudah hati-hati ya yu," jawab Amora.


"Iya mbak, ayu tutup panggilan nya ya mbak, assalamualaikum mbak." Pamit Ayu.


"Waalaikumsalam yu." Jawab Amora di seberang sana.


Panggilan mereka pun berakhir, dan dia langsung mengelus dada nya lalu menatap tajam kepada Ravi.


" Yu, kok natap kakak gitu banget sih, Kenapa?" Tanya Ravi yang merasa ada sesuatu di tatapan Ayu.


"Kenapa kakak berbohong kepada Ayu?" Tanya Ayu.


"Bohong apa sih yu?" Tanya Ravi.


"Tadi katanya kakak pamitan di grup keluarga, tapi kok mbak Amora dan yang lain mahal nyariin kita." Sambung ayu.


"Ohh itu, maaf yu kakak kelupaan." Jawab Ravi dengan wajah tidak merasa bersalah.


"Hmmm, semua orang jadi panik nyariin kita."sambung Ayu.


"Yasudah sebentar lagi kita sudah mau sampai kok." jawab ravi lagi.


"Hmmmm" ayu hanya menghela nafas berat.


Beberapa menit kemudian mereka benar sudah sampai di villa dan Langsung di sambut oleh Omelan Sovi. Namun Ravi terlihat santai saja seakan sudah terbiasa akan hal itu. Berbeda dengan Ayu yang menunduk karena merasa bersalah walaupun bukan dia yang di salahkan oleh sovi.


Sementara di lain tempat Elsa yang merasa benar-benar kesal dan benci ke Amora mencari ana. Dia benar-benar ingin mengetahui siapa orang yang bisa membantu nya membongkar masa lalu Amora.


Sesampainya Elsa di rumah Ana, terlihat ana begitu santai bahkan ketika tetangga mencibir pun dia tidak ambil pusing. Karena baginya yang terpenting sekarang dia punya uang untuk melanjutkan hidup nya.


"Ehh ada neng Elsa, sini masuk apa kita mau melanjutkan rencana kita lagi? Tapi bayaran nya harus dua kali lipat dari yang kemaren ya, kalau tidak saya tidak mau." Ucap Ana yang melihat Elsa keluar dari mobil nya dan masuk ke dalam rumah Ana.


"Plak..." Satu tamparan mendarat di pipi Ana.


Elsa melampiaskan kekesalannya kepada Ana.


"Awwww..kenapa kau menamparku?" Tanya Ana yang memegangi pipinya yang terasa panas.


"Karna kau aku kehilangan semua nya nenek tua." Ujar Elsa.


"Apa katamu nenek tua, kau ini tidak tau sopan santun ya?" Emosi Ana jadi terpancing.


"Hah, ngapain sopan ke perempuan tidak punya hati dan mata duitan seperti kau." Sambung Elsa.

__ADS_1


"Kau keluar kau dari rumah ku," usir Ana.


"Kembalikan dulu semua uang ku, karena informasi dan drama mu tidak membuahkan hasil malah merugikan ku." Jawab Elsa sambil berkaca pinggang.


"Enak saja, itu kan sudah sesuai perjanjian kita, jika tidak sesuai hasilnya itu resiko mu." Jawab Ana yang tidak mau kalah.


"Kau, aku masih santai ya minta nya jangan sampai aku melakukan kekerasan kepadamu nenek peot." Sambung Elsa.


"Silahkan, aku akan teriak agar semua warga datang ke sini dan mengusir kalian." Ancam Ana.


"Wahh silahkan kau teriak, aku juga ingin lihat berapa banyak warga yang akan menolong wanita iblis seperti kau."tantang Elsa.


"Hahahaha, kau tidak sadar kau lebih iblis dari aku hah?" Tawa Ana meledek Ana.


"Kalian gledah rumah dia, dan cari dimana dia menyimpan uang itu." Titah Elsa kepada para bodyguard nya.


"Baik bos."jawab para bodyguard sambil langsung berpencar.


"Kau aku akan melaporkan mu, atas dasar pencurian Elsa." Ancam Ana lagi.


"Silahkan, tapi sebelum itu aku yang akan melaporkan mu atas dasar pencemaran nama baik Amora. Kau tau sendiri kan dengan uang ku aku bisa menjebloskan kau ke penjara di tambah lagi bukti sudah sangat kuat."Elsa mengancam balik Ana.


"Sialan, kau menjebak ku?" Tanya Ana yang baru menyadari bahwa dia tidak punya bukti apa-apa bahwa Elsa lah yang menyuruhnya melakukan ini semua.


"Sekarang kau ku berikan pilihan kau buka mulut soal siapa orang yang mengetahui masa lalu Amora, atau aku akan menjebloskan mu ke penjara sehingga kau mati membusuk di penjara?" Tanya Elsa yang merasa sekarang dia yang pegang kendali di permainan ini.


"Lalu bayaran nya?" Tanya Ana.


Kau Masih mengharapkan bayaran? Sedangkan hidup mu sekarang di ambang penjara." Tanya Elsa.


"Kau..." Ana tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? Aku bisa saja menculik mu dan menghabisi mu Ana. Menghilangkan jejak kematian mu. Atau menjebloskan mu ke penjara. Tapi karena aku berbaik hati jadi aku akan melepaskan mu dengan satu syarat katakan siapa orang nya." Jelas Elsa.


"Dia sekarang sedang berada di rumah sakit jiwa, dia adalah sahabat se profesi Amora dan sangat membenci Amora. Jika kau ingin tau tentang Amora besok kita mengunjungi nya ke rumah sakit jiwa karena aku yakin dia punya banyak bukti tentang masa lalu Amora." Jelas Ana yang memang tidak punya pilihan lain.


"Okay, sampai ketemu besok ingat jangan berani-berani kau sembunyi atau kabur karena ke lubang semut sekalipun kau akan ku cari." Ucap Elsa sambil tersenyum.


"Ini bos uang nya." Ucap seorang bodyguard yang mendapat uang pemberian Elsa di lemari pakaian Ana.


"Itu kan uang ku Elsa, kenapa kau curang." Ucap Ana sambil mencoba merampas kembali uang itu.


Namun dengan sigap sang bodyguard menghempas kan Ana ke sofa nya.


"Selamat tinggal Tante Ana, makanya jadi manusia jangan terlalu matre." Ucap Elsa sambil menepuk wajah ana dengan uang gepokan nya lalu berlalu meninggalkan Ana.

__ADS_1


"Hahaha ternyata cara kasar lebih menyenangkan ya, mana di sini ada uang Tama lagi lumayan lah." Batin Elsa sambil tersenyum dan berlalu keluar dari rumah Ana.


"Sialan, Elsa kau benar-benar curang, kau mengambil semua uang ku." Ana histeris sampai menghancurkan barang-barang yang ada di rumah nya.


__ADS_2