
Pagi ini mereka semua pun bangun pagi dan sarapan bersama karena sebentar lagi Sean dan sovi akan segera berangkat ke Amerika menyelesaikan urusan mereka di sana.
"Ma berapa lama mama dan papa di Amerika?" Tanya Ravi memulai obrolan di meja makan itu.
"Paling seminggu an lah." Jawab Sean.
"Hmmm yasudah mama sama papa hati-hati ya, yakin nih ga mau di antar sama kita?" Tanya Ravi lagi.
"Tidak perlu Ravi, kamu dan kakak mu ke kantor saja. Biar mama dan papa si antar sama Paijo saja." Jawab sovi.
"Yasudah kabarin kita terus ya ma." Ucap Miko.
"Iya nak." Jawab sovi.
"Ehh Amora kenapa kamu terlihat lesu begitu? Dan dari kemaren kamu keramas terus apa Miko menghajar mu semalaman?" Tanya sovi yang melihat ekspresi Amora terlihat lesu.
"Ma,..." Ucap Sean.
"Kenapa sih pa? Kita kan sudah pernah mengalami nya jadi manatau Amora butuh bimbingan atau apa manatau mama bisa bantu. Lagi pula salah ya kalau mama mau tau?" Protes sovi.
"Bukan begitu ma, lihat lah wajah menantu mu itu sudah merah menahan malu. Dan kamu kan tau ada Ravi yang masih polos di sini nanti dia ternodai lho." Tambah Sean.
"Lho kok jadi bawa-bawa Ravi sih pa? Dan satu lagi dari kemaren apa sih yang kalian bahas?" Tanya Ravi yang penasaran.
"Hmmm memang polos benar dah ini anak, zaman sudah canggih ponsel sudah canggih tapi dia tidak tau hal seperti ini. Makanya cepat lah mencari pacar dan menikah Miko agar kamu juga bisa merasakan surga dunia." Ucap sovi tanpa malu.
"Ma jadi dari kemaren itu yang kalian bahas? Pantas saja Kanaya senyum-senyum sendiri. Kenapa hanya aku yang ga konek ya tadi malam." Tanya Ravi yang baru meyadari topik pembahasan.
"Makanya jadi pria harus laki jangan menendang perasaan terus biar segera memiliki pacar dan menikah. Uhh andai kau tau Ravi kalau udah punya istri rasanya ahh mantap. Kapan pun kamu menginginkan surga dunia kamu bisa meminta nya tanpa dosa. Iya kan sayang ku." Timpal Miko yang tersenyum kepada Amora.
"Ihh kamu apaan sih mas."jawab Amora malu-malu.
"Tunggu-tunggu, mama belum interogasi kamu Ravi, kamu bentar lagi ya Miko satu-satu." Ucap sovi yang langsung menatap Ravi dengan tatapan tajam nya.
"Apaan sih ma, interogasi segala, memang nya Ravi salah apa dan apaan tatapan mama membuat Ravi takut saja lihat nih sampai merinding." Protes Ravi yang menunjukkan tangan nya.
"Kamu kira mama kamu ini hantu sampai bikin kamu merinding hah?"
"Lebih-lebih dari hantu ma." Timpal Miko.
"Dasar anak durhaka, lihat saja ya Miko entar mama kutuk kamu jadi kodok." Jawab sovi dengan tatapan tajam.
"Biarin, nanti Miko jadi pangeran kodok."
"Ahh kamu skip dulu Miko, kamu jangan membuyarkan fokus mama. Ravi Kemaren waktu kamu ngantar Kanaya balik kalian ngobrolin apa saja?" Tanya sovi yang penasan.
"Hah ga ngobrol apa-apa ma."
"Bohong yakali sepanjang perjalanan kalian berdua diam Mulu pasti ada lah satu dua obrolan, lagian kata pak Rudi kamu pulang nya larut dan setau mama rumah Kanaya tidak sejauh itu dari sini." Cerca sovi yang penasaran.
"Hmmm apa ya, mama memang kalau masalah begini langsung cepat ya ma. " ucap Ravi yang menempel telunjuk nya di dagu untuk mengingat semuanya dan setelah dia mengingat semua nya dia pun mulai bercerita.
#Flash back on....
Saat Ravi dan Kanaya sudah berada di dalam mobil Kanaya terlihat sedang melamun dan banyak pikiran.
"Kamu lagi mikirin apa Kanaya? Kok sepertinya banyak beban pikira. Begitu?" Tanya Ravi membuyarkan lamunan Kanaya.
"Ehh ga kok kak, Kanaya cuman mikirin kak Miko dan kak Amora saja. Kok bisa mereka menikah diam-diam ya." Jawab Kanaya jujur.
"Aduh Kanaya ngapain sih kamu capek-capek mikirin hal yang ga penting begitu. Lagian kan mama tadi sudah menjelaskan semua nya kepada kamu jadi kakak rasa semua nya sudah jelas deh." Jawab Ravi yang masih fokus menyetir mobil.
__ADS_1
"Tapi kak kanaya merasa ada yang janggal dari penjelasan Tante sovi tadi."
"Sudah lah Kanaya, ga usah di pikirin itu bukan urusan kamu. Ga usah ngurusin yang bukan urusan kamu selagi kamu tidak di rugikan masa bodoh saja." Tambah Ravi.
"Hehehehe iya kak." Jawab Kanaya.
"Ohh iya Kanaya, kakak hanya penasaran saja ya ga ada niat lebih kamu benar belum memiliki pacar?" Tanya Ravi yang memang pemasaran.
"Hahahha hanya penasaran saja kak? Tidak penting?" Goda Kanaya.
"Hmmm penting sih ga terlalu hanya penasaran saja."
"Ohh kalau hanya penasaran Kanaya tidak mau jawab ah. Tapi kalau penting Kanaya akan jawab jujur." Jawab Kanaya
"Lah kok begitu? Yasudah penting deh." Jawab Ravi yang memang penasaran.
"Untuk sekarang sih lagi ga punya kak, sudah putus Minggu lalu." Jawab Kanaya dengan ekspresi wajah yang berubah tiba-tiba sendu.
"Aduh maaf Kanaya saya tidak bermaksud membuka luka lama kamu." Jawab Ravi yang langsung menyadari perubahan ekspresi wajah Kanaya.
"Hahaha tidak apa-apa kok kak, Santai saja. Lagian sudah masa lalu juga kok." Jawab Kanaya dengan tawa terpaksa.
"Apa karna orang ketiga kah?" Tambah Ravi yang masih penasaran.
"Tadi katanya maaf kalau sudah membuka luka lama tapi masih lanjut pertanyaan. Dasar kepo." Batin Kanaya.
"Hah bukan kak, karna restu orang tua sih." Jawab Kanaya lagi.
"Orang tua kamu ya?"
"Iya kak mama dan papa tidak setuju sama dia karena kata mereka keluarga kamu beda derajat. Padahal aku dan dia pacaran sejak SMA kak."
"Iya kak, sayang banget lah dan untuk sekarang sih belum niat mencari pengganti dia, karna sampai detik ini dia masih yang terbaik di antara yang baik semoga saja seiring berjalan nya waktu semua nya bisa membaik."
"Amin, sudah Kanaya kita sudah sampai." Ucap Ravi yang memang sudah menghentikan mobil karena mereka sudah sampai di depan rumah Kanaya.
"Ehh sampai tidak sadar, makasih banyak ya kak untuk malam ini." Ucap Kanaya yang keluar dari mobil.
"Sama-sama Kanaya, salam sama om dsn Tante ya."
"Iya kak, Kanaya masuk dulu ya."
"Iya Kanaya selamat malam."
Kanaya pun masuk ke dalam rumah dan Ravi pun melajukan mobil nya dengan seribu satu perasaan di hati nya.
"Kenapa semua perempuan yang dekat dengan ku sudah pada punya pawang sih? Apa memang aku terlahir jadi sad boy ya." Batin Ravi yang merasa hatinya sedikit sakit mendengar penjelasan Ravi.
Karena merasa patah hati walau belum pernah mengungkapkan perasaan nya akhirnya Ravi memutuskan mutar-mutar di jalanan menghilang gabut dan galau nya sampai akhir nya dia pulang larut malam.
#flashback off...
"Ohh begitu." Jawab sovi sambil tersenyum manis.
"Hmmm ada yang lagi kasmaran nihh." Timpal Miko.
"Heh suami mesum, kamu pikir kamu bakal lepas dari pertanyaan mama hah?" Ucap sovi yang langsung menatap Miko.
"Lho Miko salah apa lagi sih ma?"
"Salah apa lagi, salah apa lagi kamu lihat tuh istri kamu lesu begitu pasti kamu hajar habis-habisan kan tadi malam, jangan-jangan kalian sampai pagi jangan sampai cucu mama kenapa-kenapa ya."
__ADS_1
"Apaan sih ma, orang cuman nambah satu ronde lagi kok iya kan sayang." Jawab Miko yang langsung menatap istri nya.
"Apaan sih kamu mas." Jawab Amora merasa malu.
"Benar hanya satu ronde Amora?"
"Hehehe iya ma benar."
"Ma kamu kepo banget deh ah. Sudah lah itu kan urusan rumah tangga mereka." Ucap Sean.
"Bukan masalah itu pa, mama juga sebenarnya ga mau terlalu perduli tentang masalah ini hanya saja mama khawatir sama calon cucu mama." Jawab sovi.
"Mama tenang saja Miko pasti bermain dengan lembut kok dan memilih posisi yang tidak membahayakan calon anak kami."
"Pokok nya Amora selama mama dan papa di Amerika kamu tidak udah terlalu melayani suami kamu ini." Perintah sovi.
"Hah, hahahaha bukan aku yang memaksa ma dia yang minta sendiri mama tidak tau saja kalau menantu mu ini ngidam nya aneh dan membuat aku untung banyak sih hehehe." Batin Miko.
"Iya ma." Jawab Amora.
"Aduh kenapa bahasan di meja makan ini jadi begini ya, yasudah aku berangkat ke kantor lebih dulu deh kak ya, ma,pa." Pamit Ravi yang langsung berdiri dari duduk nya karena merasa risih dengan pembahasan mereka.
"Ehh Ravi Kakak ikut juga dong." Ucap Miko yang ikut berdiri karena takut di cerca pertanyaan aneh dari mama nya.
Akhirnya mereka pun pamit ke kantor sementara Amora kembali kek kamar nya sedangkan sovi dan Sean bersiap-siap untuk keberangkatan mereka ke Amerika.
.
.
.
Sementara Kanaya yang sedang menyetir mobil di perjalanan menuju ke kantor masih kepikiran kata-kata mama nya tadi pagi sewaktu mereka sarapan.
#flashback on...
"Bagaimana dinner kamu tadi malam sayang? apa sudah ada tanda-tanda dari Miko?" tanya Mesya yang penasaran saat mereka sedang sarapan.
"Tanda-tanda apa ma? tanda-tanda kalau dia mencintai istrinya?"
"Hah istrinya maksud kamu apa Kanaya?"
"Ma mulai besok stop ya menyuruh Kanaya mendekati kak Miko kak Miko sudah menikah dan memiliki istri." jawab Kanaya sambil terus menikmati sarapan nya.
"kamu ngomong apa sih Kanaya? lagi bercanda kamu, sayang nya ga lucu sayang."
"Hahaha Kanaya juga awal nya tidak percaya tapi setelah Kanaya lihat dengan mata kepala Kanaya dan di tambah lagi cerita dari Tante sovi ( Kanaya mulai menceritakan semua cerita sovi kemaren soal pernikahan Miko dan Amora yang di lakukan diam-diam.)"
"Hahaha mama tidak percaya kanaya, ini pasti akal-akalan kamu kan biar kamu bisa balikan lagi sama si Naldo sialan itu."
"Ma cukup ga usah bawa-bawa nama Aldo. dan kalau mama tidak percaya nih lihat video ini." ucap Kanaya sambil menyerahkan ponsel nya yang memang merekam kemesraan Miko dan Amora karena dia tau pasti mama nya tidak akan percaya dengan cerita nya tanpa di sertakan bukti."
"Mama tidak perduli Kanaya, kamu hancurkan saja rumah tangga nya dan rebut Miko dari istrinya itu."
"Ma, mama sudah gila ya mama nyuruh Kanaya jadi pelakor?"
"kalau bisa kenapa tidak, mama yakin sovi pasti setuju kalau kamu yang jadi menantu nya Kanaya. pokoknya kamu harus balas Budi untuk semua pengorbanan mama dan papa sama kamu selama ini dengan mendapatkan hati, cinta Miko seutuhnya dengan cara apapun itu. ingat Kanaya kamu di hargai ketika kamu punya segalanya."
"Mama benar-benar sudah gila ya, sepertinya otak mama perlu di cuci dulu deh. jangan pernah mama harapkan hal itu terjadi ya. yasudah Kanaya berangkat ke kantor dulu." pamit Kanaya yang langsung meninggalkan mama nya.
#flashback off.....
__ADS_1