Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Tinggal Bersama


__ADS_3

"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya sovi saat dokter manda sudah selesai memeriksa keadaan Sean.


"Oh kondisi pak Sean baik-baik saja kok Bu sovi, pak Sean hanya syok saja tadi karena mendapatkan kabar yang membuat dia kaget. Sebentar Lagi juga pak Sean akan sadar, Nanti pak Sean istirahat saja dan akan saya resep kan obat." Jawab dokter manda sopan.


"Baik lah dok, terimakasih banyak ya dok."


"Iya Bu, sama-sama. Kalau begitu saya pamit dulu ya." Pamit dokter manda.


"Iya dok."


Dokter manda pun keluar dari kamar itu, dan di antar kan pulang oleh Rudi. Sementara Miko dan Amora hanya diam saja berdiri di sebelah sovi.


"Puas kamu hah?" Tiba-tiba sovi menatap tajam Amora.


"Ma, mama ini kenapa sih? Kenapa selalu marah-marah ke Amora?" Tanya Miko yang sudah muak dengan sikap mama nya itu.


"Miko, buka mata kamu wanita ini hanya pembuat sial saja. Kamu di kasih makan apa sih sama dia sampai-sampai kamu jadi berubah begini hah?"


"Ma, Amora memberi Miko makan cinta dan sayang yang sebelumnya belum pernah miko dapat kan dari siapapun."


"Omong kosong apa ini Miko?"


"Ma, Miko tidak tau apa yang ada di pikiran mama, tapi Miko mohon ma tolong hargai Miko. Hargai pilihan dan keputusan Miko."


"Hah, mimpi kamu Miko. Jangan pernah kamu harapkan mama akan Menerima wanita ini sebagai menantu mama."


"Ohh kalau mama memang tidak bisa menerima Amora sebagai istri Miko, Miko juga minta maaf ma kalau mulai hari ini Miko juga akan jaga jarak dari mama dan papa.


"Miko akan lebih memilih hidup sederhana bersama istri nya Miko dan melepaskan bayang-bayang Wijaya grup dari hidup Miko. Tenang saja ma Miko janji Miko tidak akan meminta warisan dan sebagainya." Sambung Miko.


"Miko kamu benar-benar ya, bisa gila mama lama-lama menghadapi perubahan kamu. Baiklah Miko jika itu yang kamu inginkan maka mama juga ingin tau sejauh mana kau bertahan tanpa mama dan papa." Jawab sovi yang merasa kesal.


"Uhuk...uhukkk.." tiba-tiba Sean terbatuk dan tersadar dari pingsan nya.

__ADS_1


"Pa, papa sudah sadar?" Fokus sovi langsung teralih ke suaminya.


Sementara Miko hanya bisa merangkul bahu Amora, dia tau benar pasti hati istrinya itu sakit dan ter iris-iris mendengar kan hinaan mama nya itu. Sementara Amora hanya menatap Miko dan mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Walaupun sebenarnya Amora berbohong, dia sakit sakit sekali. Hanya saja dia lebih memilih menahan diri untuk tidak melawan sovi dan memilih mendengar kan semua kekesalan mertua nya itu.


"Ma, kenapa ma?" Hanya itu yang Sean tanyakan kepada istri nya.


"Kenapa Miko, kenapa kamu tega melakukan ini semua kepada kami? Kok tega-teganya kamu berbohong untuk hal-hal penting seperti ini dari kami? Se engga penting itu ya kami untuk kamu?" Sambung sean.


"Pa maafin Miko, Miko tau Miko salah. Tapi Miko tidak punya pilihan lain lagi." Kini wajah Miko penuh dengan penyesalan.


"Miko papa benar-benar kecewa sama kamu, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi dan semua nya tidak bisa di ulang lagi. Papa mau mulai sekarang mari kamu dan Amora perbaiki masa depan kalian." Jelas Sean.


"Pa maksud papa apa?" Timpal sovi yang masih merasa bingung dengan ucapan suaminya itu.


"Papa mau Miko dan Amora pulang lagi ke rumah kita ma. Mama tau kan kalau Miko tidak ada bagaimana mungkin Wijaya grup bisa bertahan di era persaingan yang begitu ketat ini." Ucap Sean.


"Hah, papa bercanda? Okay mama memang menginginkan Miko pulang lagi ke rumah. Tapi tinggal satu rumah dengan wanita ini maaf pa mama tidak bisa."tolak sovi.


"Miko tolong lah kamu jangan egois begitu, kamu yakin tega melihat mama dan papa kesusahan, terutama papa yang sudah tua ini bagaimana mungkin di usia segini papa harus bantu adik kamu mengurus dan menangani perusahaan."


"Kamu mau jadi anak durhaka Miko? Hanya karena seorang perempuan? Ingat Miko ada mantan suami dan istri tapi tidak ada mantan orang tua." Sambung sean.


"Pa, Miko bicara seperti itu juga karena kata-kata nya mama dan papa. Miko juga tidak ingin jadi anak durhaka pa, cuman Miko tidak bisa memilih antara papa dan Amora. Sementara Miko punya kewajiban melindungi istri Miko."


"Heh perempuan murahan, kamu bisu ya? Dari tadi diam saja. Kamu ini memang benar-benar ular, licik sekali. Pasti kamu puas kan melihat Miko menentang kami dan lebih memilih kamu." Kini sovi mulai mencerca Amora.


"Bukan begitu Tante, Amora hanya..."


"Halah sudah lah, tidak perlu kamu tunjukkan wajah-wajah sedih kamu itu. Saya tau kamu wanita seperti apa ular." Potong sovi.


"Ma sudah cukup." Kini giliran Sean yang membentak sovi.

__ADS_1


"Papa sebagai kepala rumah tangga, dan papa memutuskan agar mulai hari ini Miko dan Amora tinggal bersama kita. Dan papa juga memutuskan agar kita akan menetap di Indonesia. Papa juga ingin mama dan Amora lebih dekat lagi dan mengenal satu sama lain."


"Pa..."


"Tolong ma, jangan mempersulit hidup." Sambung sean.


"Bagaimana Miko? Apa kamu setuju tinggal bersama mama dan papa? Papa mohon Miko jangan ikuti ego kamu." Pinta Sean dengan wajah memohon.


Sejenak Miko berpikir, benar kata papa nya, dia juga tidak mungkin membiarkan Ravi mengurus perusahaan sendiri, apalagi sampai melibatkan papa nya lagi ke perusahaan di usia segini. Dia juga tidak mau egosi dengan hanya mementingkan kepentingan nya sendiri. Dan mungkin saja dengan begitu keluarganya akan menerima Amora seiring berjalannya waktu.


"Miko sebenarnya mau saja pa, asalkan Amora juga bersedia tinggal bersama mama dan papa." Jawab Miko akhirnya.


"Bagaimana Amora? Apa kamu mau tinggal bersama mama dan papa?" Tanya Sean kepada Amora.


"Zleb... Amora terkaget karena Untuk pertama kali nya Amora mendengar kan kata mama dan papa."


"Pa apaan sih?" Protes sovi.


"Ma, sudah lah."


"Iya sayang bagaimana?" Tanya Sean menyadarkan istrinya itu dari lamunannya.


"I...iya mas aku mau kok." Jawab Amora gugup.


"Yasudah sekarang siapakan semua barang-barang kamu Amora dan sore ini juga kita pindah ke rumah mama dan papa." Titah Sean.


"Ayuk sayang.." ajak Miko kepada istrinya itu.


Amora pun menurut dan akhirnya mereka keluar dari apartemen itu.


"Pa, papa ini apa-apa an sih? Kenapa mengambil keputusan sesuka hati papa?" Protes sovi yang masih belum terima dengan keputusan Sean.


"Sudah lah ma, menurut papa ini keputusan terbaik."

__ADS_1


"Hmmm baiklah, bagus juga wanita itu pindah ke rumah, dengan begitu aku akan membuat dia sengsara dan membuat Miko membenci nya. kau lihat saja wanita J***** kau aku akan menangis darah karena sudah berani mendekat dengan keluarga Wijaya." Batin sovi sambil tersenyum licik.


__ADS_2