Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
jas


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Ayu membangunkan suaminya untuk sholat subuh bersama, Ravi pun menurut kepada istrinya itu dan seperti biasa setelah selesai sholat subuh Ravi akan berolahraga sebentar.


Sementara Ayu menyiapkan sarapan untuk mereka. Setelah menyiapkan sarapan dan Ravi sudah selesai berolahraga keduanya pun bekerjasama membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah lain nya. Ayu benar-benar menikmati masa pacaran halal mereka.


Setelah melakukan pekerjaan rumah keduanya mandi bersama lalu menggunakan pakaian mereka. Karena Ayu hari ini masuk siang jadi dia masih menggunakan pakaian rumahan. Sementara Ravi sudah rapi menggunakan setelan jas nya karena dia harus berangkat ke kantor.


Mereka berdua pun segera menuju meja makan untuk sarapan bersama, Ayu melayani suaminya itu. Lalu ikut sarapan bersama.


“Mas kemaren kan Sita dan Vivi ke sini.”Ujar Ayu membuka obrolan mereka.


“Lalu kenapa sayang?” Tanya Ravi.


“Mereka menyarankan bagaimana kalau kita cari asisten rumah tangga, tapi kalau boleh yang kerja part time mas biar bisa datang pagi pulang sore. Jadi tidak menggangu keromantisan rumah tangga kita. Soalnya takut saat aku lagi banyak tugas kampus nanti tidak sempat melakukan pekerjaan rumah. Kamu juga tidak mungkin setiap pagi membantuku melakukan pekerjaan rumah kan.” Ujar Ayu menjelaskan.


“Ide bagus tuh sayang, mas mah setuju-setuju aja asalkan kamu nyaman. Jangan kan satu tiga asisten rumah tangga sekaligus pun mas setuju.” Jawab Ravi.


“Iya mas, yasudah nanti di coba di cari orang nya ya.” Sambung Ayu.


“Ohh itu mas satu lagi, Sita juga nyaranin aku biar nanti dia aja yang ngajarin aku menyetir mobil aku lebih santai kalau sama orang yang aku kenal mas.”Lanjut Ayu lagi.


“Ohh iya, tapi sayang mas lebih setuju kalau kamu punya supir pribadi saja soalnya mas agak was was kalau kamu nyetir sendiri apalagi bawa motor.” Jawab Ravi.


“Mas kemaren kan kita sudah bahas ini, aku tidak suka punya supir pribadi lagian aku ini sudah jadi istri kamu sekarang tidak baik kalau berduaan dengan pria lain di mobil.” Jawab Ayu menolak nya.


“Lho supir juga ada yang perempuan sayang, nanti mas cariin yang perempuan ya.” Lanjut Ravi yang menyendokkan makanan ke mulutnya.


“Tidak usah mas, aku lebih nyaman bepergian. Kamu tenang saja semua sudah punya porsinya masing-masing. Aku janji sebisa mungkin nanti kalau sudah bisa nyetirnya bakal pelan-pelan saja.” Tolak Ayu lagi.


“Yasudah terserah kamu saja sayang, mas akan dukung apapun itu keputusan kamu.”Jawab Ravi yang sudah menyelesaikan sarapan nya.


“Terimakasih mas, kamu memang suami terbaik ku.” Ayu menyuguhkan senyum manis nya.


“Sama-sama sayang, kebahagiaan kamu adalah yang paling utama.” Jawab Ravi membalas senyuman Ayu itu.


“Yasudah yuk antarin mas ke depan, mas sudah mau berangkat.”Ajak Ravi yang bangkit dari duduk nya.


“Iya mas.”Ayu yang sudah selesai sarapan juga bangkit dari duduk nya. Keduanya pun berjalan menuju pintu rumah itu dan segera ke garasi rumah. Ayu pun menyalim Ravi dan ravi mengecup kening istrinya itu.


“Kamu hati-hati ya mas di jalan, semangat kerjanya makan siangnya jangan telat.”Ujar Ayu.


“Iya sayang, kamu juga nanti berangkat ke kampus nya hati-hati ya.” Balas Ravi yang memeluk Ayu.


Setelah menyelesaikan drama perbucinan pagi ini, ravi pun berangkat ke kantor. Saat mobil mewah Ravi sudah menjauh meninggalkan rumah Ayu pun kembali menutup gerbang rumah dan kembali masuk ke dalam rumah untuk membereskan meja makan serta mencuci piring bekas makan mereka tadi.


Karena Ayu masuk kuliahnya siang, dan ini masih pagi dan cuaca cukup cerah Ayu memutuskan untuk mencuci baju mereka. Dan kemudian Ayu pun ke kamar mengambil keranjang pakaian kotor lalu segera menuju ruang laundry. Dia mulai memasukkan satu persatu pakaian itu ke dalam mesin cuci.


“Lho jas yang di pakai mas Ravi kemaren mana ya?” batin nya yang tidak melihat adanya jas itu di keranjang pakaian kotor.


Ayu pun kembali ke kamar manatau tertinggal di kamar, dia mencoba mencari jas itu namun tak ketemu juga.


“Hmmm nanti saja deh nanya ke mas Ravi saat dia sudah balik dari kantor.”Batin Ayu yang melanjutkan pekerjaan nya.


Sementara Ravi yang baru saja sampai di kantor langsung menuju ke ruangan nya karena pasti sudah ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Beberapa saat kemudian Miko mengetuk pintu ruangan Ravi.


“Masuk.” Jawab Ravi dari dalam.


“Ehh pak Miko ada apa ya pak?” Tanya Ravi saat dia melihat Miko yang membuka pintu ruangan nya.


“Silahkan duduk pak.”Tawar Ravi mempersilahkan Miko untuk duduk.


Miko menurut dan duduk di sofa ruangan Ravi itu.


“Ada hal penting apa yang membawa bapak datang ke ruangan saya pagi-pagi begini?” Tanya Ravi yang ikut duduk di sofa itu juga.


“Tadi pagi waktu sarapan mama bilang kemaren siang kamu nelpon mama dan ngabarin ke mama kalau direktur perusahan Tanoto grup itu adalah Devina teman masa kecil kamu dulu ya?” Tanya Miko yang ingin mengkonfirmasi berita itu.


“Iya pak benar.” Jawab Ravi yang memang tidak mengabarinya kemaren kepada Miko.


“Wahh jadi karena itu makanya perusahaan mereka mau bekerja sama dengan kita?” Tanya miko yang memang tidak mau kalau ada jalinan kerjasama yang tidak profesional.


“Tidak pak, Ibu Devina memperkenalkan dirinya setelah saya sudah selesai presentasi dan kami sudah sama-sama setuju melakukan kontrak kerjasama. Dia orang nya cukup profesional kok, jadi bisa di pastikan jalinan kerjasama ini terjadi karena memang perusahaan kita layak untuk itu.”Jelas Ravi.


“Hmmm tapi kan kamu maupun Devina sudah tau satu sama lain sebelum presentasi nya?” tanya Miko lagi.


“Hanya ibu Devina pak, saya sudah tidak mengenalinya awalnya.” Jelas Ravi.


“Baiklah Ravi saya hanya ingin mengkonfirmasikan itu saja, semoga tetap terjalin kerjasama yang profesional di antara kita ya, sekali lagi selamat untuk kamu.”Kini Miko bangkit dari duduk nya dan bersiap untuk keluar dari ruangan Ravi.


“Baik pak, terimakasih banyak pak.”Ravi pun ikut bangkit dari duduk nya.


“Yasudah lanjutkan pekerjaan kamu.” Ujar Miko.


“Iya pak.”Ravi mengangguk.


Miko pun keluar dari ruangan Ravi sedangkan Ravi kembali bergelut dengan pekerjaan nya yang nyaris setiap harinya menumpuk.


Waktu pun terus berlalu dan kini sudah sore hari, Ravi meregangkan otot-ototnya karena sudah merasa kelelahan. Dia pun bersiap untuk pulang namun tiba-tiba ponselnya menerima notifikasi. Dan itu adalah pesan dari Devina.


“Devina, kirim apa dia?” batin Rabi yang melihat nama Devina di layar ponselnya. Dengan segera Ravi langsung membuka pesan dari Devina itu.

__ADS_1


“Kamu masih di kantor kan, aku sedang berada di depan kantormu. Bisa kah kamu turun ke parkiran depan sekarang?” itu lah pesan dari Devina.


“Tumben Devina datang ke sini, ada apa ya.” Batin Ravi.


“Iya ini sudah mau turun kok Vin, sebentar ya.” Ravi sesegera mungkin membalas pesan yang di kirimkan oleh Devina itu.


Dengan bersemangat dia langsung keluar dari ruangan nya, dan seger menuju lift menekan lantai dasar karena sudah tidak sabar ingin bertemu Devina. Setelah beberapa menit kemudian Ravi sudah keluar Dari kantornya dan segera menemui Devina yang sudah menunggunya.


“Ada hal penting apa Vin yang membawamu jauh-jauh datang ke sini sore-sore begini?”Tanya Ravi yang menghampiri Devina.


“Nih aku mau balikin jas kamu yang kamu kasih pinjam kemarin.”Ujar Devina menyerahkan sebuah paper bag kepada Ravi.


“Astaga Vin, ngapain pake repot-repot segala sih kamu kan bisa menghubungiku biar aku yang jemput ke sana.”Jawab Ravi yang menerima paper bag itu.


“Gak repot kok, tadi juga sekalian lewat sini, makasih ya ohh iya itu sudah di cuci kok jadi aman ya.”Lanjut Devina.


“Makasih banyak Vin.” Ravi menyuguhkan senyum manis nya.


“Aku yang seharusnya bilang terimakasih, ohh aku langsung ya Vi.”Lanjut Devina yang ingin membuka pintu mobilnya.


“Gak mau ngopi dulu Vin?”Tawar Ravi.


“Hehehe enggak deh Vi, mama sudah menunggu di rumah mungkin lain kali ya.” Jawab Devina.


“Yasudah kamu hati-hati ya nyetirnya.” Lanjut Ravi.


“Okay.” Devina pun masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobil itu meninggalkan kantor Ravi.


“Hmm Devina Devina, kamu masih sama saja seperti dulu.”Guman Ravi sembari tersenyum simpul.


Kerena hari sudah mulai gelap Ravi pun menuju mobilnya dan ingin segera pulang menemui istri kesayangan nya. Dia pun melajukan mobilnya meninggalkan kantor itu.


Sementara Di rumah Ayu yang baru saja selesai memasak langsung menuju kamarnya untuk mandi karena sebentar lagi suaminya akan pulang dan dia harus menyambut kepulangan suami tercinta nya itu. Dan benar saja saat Ayu sudah selesai mandi dan berdandan tipis dia mendengar mobil Ravi memasuki pekarangan Rumah. Ayu langsung beranjak menuju pintu dan menyambut kepulangan suaminya itu.


Ayu menyalim Ravi dan menyuguhkan senyum indahnya.


“Cantik sekali kamu sayang, mana wangi banget lagi.”Puji Ravi yang memeluk Ayu


“Hehehe iya dong, kamu mandi gih mas biar kita makan malam.” Ujar Ayu.


“Iya sayang.”Ravi pun menurut.


Ayu menerima tas kerja serta jas Ravi,


“Ehh mas jas kamu yang di pakai kemaren mana ya? Kenapa tidak ada di keranjang pakaian kotor dan di kamar?” Tanya Ayu yang baru mengingat soal jas milik suaminya.


Dia pun mengambil jas itu dari dalam paper bag yang di berikan oleh Devina tadi dan membawakan jas nya ke rumah.


“Ini sayang.” Ravi menyerahkan jas itu kepada Ayu.


“Okay mas.”Ayu menerima jas nya.


Keduanya pun masuk ke kamar dan Ravi memutuskan ingin langsung mandi dia membuka jam tangan nya, dan membuka satu persatu pakaian nya dan dia masukkan ke kain kotor. Setelah menerima handuk dari istrinya Ravi masuk ke kamar mandi dan mandi.


“Ini penciuman aku yang salah atau bagaimana ya.”Batin Ayu yang kembali mengambil jas yang di berikan oleh Ravi tadi.


Karena dia tau betul aroma yang ada di baju itu bukan pewangi pakaian milik mereka ataupun mertuanya. Dan selama ini pakaian mereka selalu di cuci sendiri tidak pernah laundry.


Ayu pun mencium jas itu, dan benar saja pewangi pakaian itu terasa asing di hidung Ayu. Namun dia mencoba santai dan meletakkan kembali jas itu di atas ranjang.


Sembari menunggu suaminya selesai mandi Ayu menyiapkan pakaian Ravi. Dan beberapa menit kemudian Ravi sudah selesai mandi dan dia sedikit kaget melihat jas itu berada di atas ranjang. Tadi dia memang tidak berpikir ke mana-mana dan tidak berekspektasi bahwa istrinya akan curiga dengan jas itu.


“Mas kok bengong?” tanya Ayu yang melihat suaminya yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di pinggang nya.


“Tidak kok sayang.”Jawab Ravi gugup.


“Ohh iya mas, ini jas kamu habis di pake sama siapa? Setau aku tidak ada pewangi pakaian milik kita yang aromanya seperti ini?” Tanya Ayu sembari meraih jas itu dari atas ranjang.


“Ohh itu sayang, kemaren jas nya ketumpahan kuah soto, jadi mas minta asisten mas buat laundry in nya.”Bohong Ravi dengan wajah gugupnya.


“Ohh begitu.”Jawab Ayu tanpa menaruh rasa curiga.


“Iya sayang, mana baju mas mas sudah lapar nih.”Ravi mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


“Ohh ini mas.”Ayu menyerahkan pakaian suaminya itu.


“Huh syukur-syukur Ayu tidak curiga.”Batin Ravi.


Setelah Ravi menggunakan pakaian nya mereka berdua pun makan malam bersama, setelah selesai makan malam Ravi harus mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya begitu juga Ayu dia harus mengerjakan tugas kampusnya.


Setelah selesai dengan tugas masing-masing keduanya pun tidur bersama, Ravi harus menahan diri sementara waktu sampai lima hari kedepan sampai pil Kb yang di konsumsi oleh Ayu bekerja efektif.


Begitulah hari-hari pasutri itu berjalan seperti biasa, mereka tetap romantis dan melakukan kesibukan masing-masing seperti biasanya. Hubungan Ravi dan Devina juga semakin dekat karena Ravi beberapa kali ke kantor Devina untuk urusan proyek.


Sore ini seperti biasa sembari menunggu suaminya pulang dari kantor Ayu yang baru saja selesai mandi bermain ponsel di sofa ruang tamu.


Beberapa menit kemudian suaminya pulang ke rumah, Ayu pun menyambut Ravi dan segera membawakan jas nya ke kamar.


"Mas mau langsung mandi ya?" Tanya Ayu yang membuka lemari untuk mengambil handuk baru.

__ADS_1


"Mandi bareng ya sayang." Pinta Ravi saat Ayu mengambil handuk nya dari lemari.


"Hah, aku sudah mandi sayang. Kamu saja mandi sana." Jawab Ayu yang menyerahkan handuk itu kepada Ravi.


"Tidak apa-apa sayang mandi lagi ya. mas hanya kepingin mandi bareng kamu ya." Jawab Ravi yang memeluk Ayu dari belakang.


"Yaelah mas, biasanya juga setiap pagi kita mandi bareng kok. Sudah ya sana mandi mas, aku mau nyiapin makan malam kita dan pakaian kamu." Titah Ayu.


"Yahh sayang, kalau mandi malam kan nyaris tidak pernah. Ingat lho dosa menolak permintaan suami." Lanjut Ravi yang mengeratkan pelukannya.


"Tapi kan mas aku sudah mandi, lagian sayang mas udah wangi di suruh mandi lagi. Udah deh mas mandi sana biar kita makan malam." Ujar Ayu lagi, sembari mengambil baju Ravi dari lemari.


"Mandi lagi dong sayang," Ravi langsung menggendong tubuh mungil Ayu dan langsung berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi.


"Apa-apa an sih mas, lepas Ahh aku sudah mandi lho." Tolak Ayu mencoba melepaskan dirinya.


Namun sepertinya Ravi tidak perduli dia tetap membawa Ayu ke kamar mandi. Sudah cukup lama dia menunggu hal ini


Bahkan sedari tadi di jalan dia sudah sangat menginginkan istrinya itu.


"Mas mau ngapain sih?" Tanya Ayu yang barada di pelukan suaminya itu.


"Mas mau mandi bareng istri mas lah." jawab Ravi yang menggendong Ayu dan meletakkan tubuh Ayu di atas bathtub Tak lupa dia menyalakan keran air.


"Mas lepas dong aku sudah mandi nih. Mana baju nya sudah basah tadi. Tau gini buka baju di luar saja." Protes Ayu.


"Tenang sayang, biar mas yang buka baju kamu." Ucap Ravi yang duduk di atas tubuh Ayu.


"Mas tapi..." Belum sempat Ayu protes mulut nya sudah di bekap oleh kecupan panas suaminya itu.


Ayu bahkan sampai tidak bisa bernafas karena ciuman suaminya itu. Kebetulan Ayu pakai baju putih sehingga karena guyuran shower jadi nya baju itu tembus pandang. Entah kenapa hal itu semakin menambah semangat Ravi kepada istrinya itu.


Ravi pun melepaskan satu persatu kancing baju Ayu, Sementara Ayu mencoba meronta melepaskan dirinya dari bekapan suaminya itu. Namun sepertinya semua sia-sia. Ravi pun berhasil membuka semua kancing baju Ayu namun dia susah melepas nya dari tubuh Ayu.


"Srek..." Sekali tari celana Ayu lolos sampai ke pangkal kaki nya.


"Masss, aku bisa buka semua nya sendiri lho." Protes Ayu.


"Tidak apa-apa sayang, mas ingin membuka kan nya untuk mu." Ujar Ravi yang terus melanjutkan aktivitas nya.


Akhirnya Ayu pun mengalah membiarkan suaminya itu melakukan apa saja yang ingin dia lakukan. Karena kadang melawan pun percuma. Lagian sudah lama mereka tidak melakukan nya dan kini semuanya sudah aman.


Tanpa mereka sadari saatu persatu pakaian pun lepas dari tubuh mereka. Dan kini kedua nya sudah polos tanpa sehelai benang pun.


Ravi yang langsung bersemangat melihat kedua bukit indah itu langsung menjelajahi nya. Sementara Ayu menikmati permainan suaminya itu. Entah sejak kapan Ayu juga mulai mencari junior milik suaminya untuk di mainkan oleh dirinya.


Ravi mulai menjelajahi inci demi inci tubuh istrinya itu, Memberikan tanda kepemilikan di bukit kembar milik Ayu itu.


Ravi mulai mengecup bibir Ayu, lalu ke telinga, lanjut ke leher dan terus ke bawah sampai akhir nya ke daerah sensitif Ayu. namun karena bathtub sudah berisi air jadinya Ravi memainkan nya mengunakan jari nya. Dan hal itu berhasil membuat Ayu yang belum pernah merasakan nya sebelum nya merem melek.


"Mas ahh nikmat sekali." Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut Ayu.


Mendengar kata-kata Ayu dan deru nafas Ayu membuat Ravi semakin bersemangat.


Ayu semakin tidak terkontrol dan seperti cacing kepanasan saat Ravi mempercepat permainan jari nya.


Ayu hanya bisa menjambak rambut suaminya itu sangking begitu menikmati permainan Ravi. Akhirnya tak bisa di bendung lagi Ayu pun mencapai puncak kenikmatan nya berkat permainan jari Ravi.


"Aku keluar mas." Ujar Ayu dengan nafas tidak teratur.


"Ahh terimakasih mas." Lanjut nya sambil terengah-engah.


"Sama-sama sayang." Jawab Ravi tersenyum.


Ravi memberikan sedikit waktu kepada istrinya itu untuk mengambil nafas. Lalu setelah nya dia mengangkat tubuh Ayu dari dalam bathtub.


"Mas mau ke mana?" Tanya Ayu dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Kan kamu sudah mendapatkan kenikmatan kamu sayang, sekarang gantian dong." Jawab Ravi tersenyum kecil.


Tentu saja Ayu tidak boleh jadi wanita egois dia harus memberikan kepuasan kepada suaminya itu bagaimana tadi Ravi memberikan dia kenikmatan.


Ravi pun berdiri di hadapan Ayu tentu Ayu sudah tau apa yang harus dia lakukan. Ayu pun mulai berjongkok di hadapan suaminya itu mensejajarkan dirinya dengan pinggang Ravi.


Ayu pun mulai memain junior milik suaminya menggunakan tangan dan mulut nya. Ravi hanya memegang kepala Ayu dan mendorong nya agar semua nya masuk lebih dalam lagi sampai Ayu tersedak. Ravi hanya bisa merem melek menikmati semua nya tak lupa ada suara khas yang keluar dari mulut nya. Entah sejak kapan istrinya itu pintar bermain mulut.


Karena sudah tidak tahan lagi Ravi menarik Ayu dan menempel kan tubuh Ayu ke dinding kaca kamar mandi.


Ravi pun memasukkan junior nya dari belakang dan setelah semua nya masuk ke dalam milik istrinya Ravi mulai mengeluar masukkan nya dari milik Ayu. Ayu semakin di tempel ke dinding kaca sementara Ravi semakin bersemangat. Bahkan Ravi sampai menjambak rambut Ayu dari belakang.


Suara penyatuan itu berpadu dengan suara kenikmatan yang keluar dari mulut kedua nya. Dan gerakan Ravi yang kian waktu kian cepat berhasil membuat Ayu semakin tidak terkontrol.


Sampai akhirnya beberapa menit kemudian Ayu dan Ravi sama-sama sampai ke puncak kenikmatan mereka. Ayu terkulai lemas di lantai. Sementara Ravi yang baru saja memberikan kehangatan kepada rahim Ayu masih mengatur nafas nya.


"Terimakasih banyak sayang ku." Ravi mengecup kening istrinya itu.


"Sama-sama mas, terimakasih juga." Jawab Ayu.


Setelah selesai mendapatkan kenikmatan bersama suaminya, Ayu dan Ravi pun mandi bersama. Beberapa menit kemudian mereka keluar dari kamar mandi. Setelah berpakaian Ayu dan Ravi keluar dari kamar untuk makan malam.

__ADS_1


__ADS_2