
Setelah Anak buah Miko mendapatkan semua bukti kejahatan dan penipuan yang di lakukan oleh Tama kepada perusahaan-perusahan partner kerja nya dia pun segera menghubungi perusahaan-perusahaan itu dan mengirimkan bukti-bukti yang ada.
"Biarkan mereka yang memenjarakan mu Tama, kau terlalu sepele dengan semua hal." Batin Miko sambil tertawa bahagia.
Dia memutar badan di kursi kebesaran nya. Karena kini semua rekan kerja Tama sudah bersiap melaporkan Tama ke polisi. Apalagi dengan iming-iming akan di ajak bekerja sama dengan perusahaan Wijaya grup pasti mereka semangat melaporkan Tama ke polisi.
"Ini akibatnya kau berani mengusik keluarga Wijaya, khususnya istriku Tama. Maka terimalah kehancuran mu." Ujar Miko tertawa lagi.
"Dan kau Elsa tunggu saja bagian mu, ku pastikan dengan segera kau juga akan hancur karena kau telah berani mengusik keluarga Wijaya." Batin Miko lagi.
.
.
.
Sementara di perusahaan nya Tama sedang mengamuk bagaimana tidak semua investor yang menanamkan modal ke perusahaan nya menarik modal mereka. Bahkan semua rekan bisnis nya menghentikan kerja sama mereka secara sepihak.
"Arghhh...ini pasti kerjaan Miko, karena hanya dia yang berani melakukan ini semua. Pasti Elsa yang mengadu ke Miko. Kau ingin bermain-main dengan ku Elsa." Tama benar-benar di penuhi rasa marah.
Karena sudah dapat di pastikan bahwa dia bangkrut. Perusahaan yang sudah susah payah di bangun oleh Arya kini hancur dalam sekejap hanya karena ke tamakan Tama.
"Ambil kan ponsel ku," titah Tama kepada sekretaris nya.
"Baik pak." Jawab sang sekretaris yang sudah ketakutan dengan kemarahan bos nya itu.
"Ini pak." Sang sekretaris menyerahkan nya dengan tangan gemetar.
"Kau ingin mati hah? Apa yang kau laporkan kepada Miko?" Tanya Tama saat panggilan nya sudah terhubung dengan Elsa.
"Apa maksud mu? Aku melapor kan apa kepada Miko?" Tanya Elsa yang kebingungan.
"Dia telah menghancurkan bisnis ku, dan aku yakin ini pasti karena kau yang memfitnah ku. Kau mau balas dendam karena aku membatalkan kontrak kerja sama kita hah?. Kau ingin bermain-main dengan ku Elsa?" Tanya Tama yang makin marah.
"Tama, santai dulu aku tidak mengatakan apapun kepada Miko. Lagian kau pikir aku bodoh? Jika aku melaporkan sesuatu kepada Miko, pasti dia akan menyelidiki nya dulu. Itu artinya aku ingin mati di tangan Miko karena aku juga terlibat dalam semua kejahatan kepada Amora." Jelas Elsa untuk menenangkan Tama.
Tama terdiam sejenak, dan berpikir benar kata-kata Elsa. Sekarang Tama juga harus baik-baik dulu ke Elsa manatau Elsa mau memberi nya modal dan menjalin kerja sama bersama nya.
"Lalu kalau bukan kau yang melaporkan soal video Amora itu kepada keluarga Wijaya siapa yang membocorkan nya bahwa kita dalang di balik semua ini hah?" Tanya Tama lagi.
"Ini pasti kerjaan Ana, Tante nya Amora itu." Jelas Elsa yang langsung mengingat Ana.
__ADS_1
"Hah dia, bukan nya kita sudah membayar nya sesuai yang dia mau. Lalu dia mengkhianati kita?" Tanya Tama lagi.
"Kau tidak tau ya, kalau wanita ular itu mata duitan dia akan melakukan apapun demi uang." Jelas Elsa, karena dia tidak mungkin bilang ke Tama bahwa dia sudah merampas uang milik Ana dan mengancam Ana. Bisa-bisa Tama membunuh nya karena dia sumber masalah.
"Sialan, apa nenek peot itu ingin mati, berani sekali dia bermain-main dengan ku." Ucap Tama.
"Apa kita musnah kan saja nenek peot itu tam? Lagian dia tidak ada gunanya juga untuk kita." Tanya Elsa yang takut jika nantinya Ana buka mulut. Karena Elsa tau kalau Tama sudah marah maka dia akan nekat melakukan apapun.
"Maksud nya?" Tanya Tama.
"Tenang saja Tam, serahkan semua nya kepada ku." Jawab Elsa yang langsung memiliki ide.
"Baiklah Elsa, semuanya ku serahkan kepada mu." Ucap Tama.
"Yasudah panggilan nya ku akhiri dulu ya, aku akan menghubungi anak buah ku."ujar Elsa.
"Okay Elsa, aku menunggumu kabar baik nya." Jawab Tama.
Panggilan pun berakhir dan Elsa langsung menelepon anak buah nya untuk menyusun rencana untuk menghancurkan Ana.
Setelah semua nya selesai, Elsa menelepon nomor Ana. Namun Nomor itu tidak aktif.
"Kalian segera ke rumah Ana dan seret dia ke sini." Titah Elsa kepada para bodyguard nya.
"Baik bos." Jawab mereka dengan cepat.
Mereka pun segera beranjak ke rumah ana, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari perusahan Elsa. Dan saat di perjalanan mereka melihat Ana membawa tas dan sepertinya sedang menunggu sesuatu di simpang jalan rumah nya.
Mobil anak buah Elsa pun menepi tidak jauh dari tempat Ana berdiri. Lalu menelepon Elsa untuk mengabarkan keadaan terkini.
"Coba lihat sekeliling apa ada cctv?" Tanya Elsa yang langsung punya ide baru di otak nya.
"Tidak ada bos, jalanan ini juga sangat sepi." Jawab sang bodyguard saat sudah menatap semua sudut.
"Bagus, sekarang tancap gas dan bunuh wanita benalu itu. Ingat Segera lah melaju dengan kecepatan tinggi." Titah Elsa.
"Baik bos." Jawab mereka.
Mobil yang sedang menepi tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi dan Ana yang sedang berdiri di sisi jalan sembari menunggu seseorang sedang menghayal seperti nya.
Dan tiba-tiba bruk...Ana terpental jauh sementara mobil yang menabraknya melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggal kan nya sendiri tergeletak di jalan raya Dengan tubuh yang penuh darah dan tidak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
Orang sekitar yang mendengar kan suara tabrakan langsung berkerumun dan segera menelepon ambulans untuk memberikan pertolongan pertama kepada Ana. Namun sayang sekali Ana sudah tidak ada lagi.
Jantung nya sudah berhenti berdetak.
Sementara Elsa yang mendengar kan tabrakan itu hanya tertawa penuh kemenangan karena sedari tadi panggilan mereka tidak berakhir.
.
.
.
Di lain tempat Amora, Ayu dan sovi yang baru saja selesai melakukan pendaftaran kuliah Ayu langsung ke rumah sakit untuk konsultasi tentang kehamilan Amora. Namun di perjalanan menuju rumah sakit Amora mendapatkan beberapa kali panggilan dari nomor baru.
"Siapa yang menelepon sayang? Sedari tadi berdering terus ponselnya." Tanya Sovi kepada menantunya itu.
"Tidak tau ma," jawab Amora.
"Coba saja di angkat manatau penting."ujar Sovi.
"Baik ma." Jawab Amora.
Akhirnya Amora menerima panggilan itu ternyata panggilan nya dari sepupunya Dinda. Putri bungsu Ana.
Dinda dengan menangis tersedu-sedu menjelaskan kepada Amora bahwa Ana sudah tidak ada lagi. Ana meninggal karena menjadi korban tabrak lari. Dan akan di kebumikan hari ini juga.
Sejenak Amora terdiam, dan tanpa sadar air matanya menetes bagiamana pun kejahatan Ana selama ini kepadanya dan kepada keluarga Amora tapi Ana tetap Tante Amora.
Amora merasa bersalah karena terlepas dari kejahatan Ana kepadanya selama ini juga dia tidak pernah menghormati Ana layaknya seorang Tante.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya sovi saat melihat menantu nya itu menangis.
"Tante Ana ma, Tante ana sudah tidak ada lagi. Dia meninggal di tempat setelah menjadi korban tabrak lari." Jelas Amora sambil semakin menangis.
Sovi pun memeluk Amora dan menenangkan Amora. Sovi benar-benar salut melihat ketulusan hati Amora. Walaupun dia sudah di sakiti oleh sovi tapi dia bisa menangis dengan tulus seperti ini.
"Yasudah kita ke rumah sakit nya besok saja ya sayang, kita ke rumah dulu lalu berganti pakaian. Setelah nya kita ke rumah Tante mu." Ujar Sovi memberikan ide.
Amora hanya mengangguk pasrah.
Mereka pun putar balik menuju rumah, lalu sesampainya di rumah berganti pakaian dan segera ke rumah Ana untuk melihat Ana untuk yang terakhir kali nya dan untuk mengantarkan Ana ke pemakaman nya.
__ADS_1