
"Jadi kan hari ini kita ke puncak nya?" Tanya sovi saat mereka semua sudah sarapan pagi.
"Jadi dong ma." Jawab Miko.
"Bagus, yasudah kalian semua siap-siap ya, ga usah ke kantor nanti siang kita berangkat." Tambah Sovi lagi.
"Ohh iya ma, untuk keperluan kita selama di puncak bagaimana?" Tanya Amora.
"Oh iya nanti Ayu temenin ibu ya ke supermarket untuk membeli kebutuhan kita." Titah sovi kepada Ayu yang sedang menyiapkan susu untuk Amora.
"Baik bu." Jawab ayu sambil tersenyum manis.
"Amora ikut ya ma." Sambung Amora.
"Tidak usah Amora, nanti kamu kecapean kamu di rumah saja biar mama sama ayu saja." Tolak Sovi.
"Hmm iya deh ma." Amora hanya bisa menuruti kata-kata mertua nya itu.
"Kamu kencan kemana kemaren Ravi, tumben balik nya lama." Tanya sovi menyenggol Ravi.
"Ha?? Ga kemana-mana kok ma biasalah makan malam sama Kanaya." Jawab Ravi berbohong.
"Jadi bagaimana kira-kira bulan depan kita udah boleh bahas soal lamaran belum?" Timpal Sean.
"Uhuk-uhuk..apaan sih pa," Ravi langsung terbatuk mendapatkan serangan mendadak itu.
"Lho kok apaan sih? Pertanyaan papa kamu ada benar nya Ravi, memang nya kamu mau nanti Kanaya hilang di ambil orang. Mama sama papa sudah setuju kalau Kanaya yang jadi menantu kami. Lagian pacaran lama-lama juga tidak baik nak, iya kan pa." Ujar Sovi sambil menatap Sean.
"Hmmm." Sean mengangguk membenarkan kata-kata istrinya itu.
"Ravi belum kepikiran mau menikah sekarang ma, biarlah kalau memang Kanaya jodoh nya Ravi ga bakal hilang kok ma, begitu juga sebaliknya." Jawab Ravi yang terus mengunyah makanan nya.
"Benar kata kamu Ravi, jodoh tidak akan tertukar, ink buktinya kakak sama kakak ipar kamu dari awal dipertemukan secara tidak sengaja dan kini menjadi belahan jiwa." Dukung Miko yang setuju dengan opini Ravi.
"Iya walaupun begitu, jodoh kan harus di cari juga, dan di perjuangkan." Protes sovi.
"Sudah-sudah biarlah Ravi dan Kanaya yang menentukan semua nya, kita hanya bisa menjadi pendukung apapun keputusan mereka." Sean akhirnya mengakhiri obrolan itu.
"Nahh itu bener itu pa." Jawab Ravi yang setuju dengan kata-kata Sean.
"Ohh iya kamu tidak mengajak Kanaya ke puncak Ravi? Biar rame-rame." Tanya sovi lagi.
"Ohh besok mereka ada acara ma, Tante Mesya ulang tahun jadi Kanaya tidak bisa ikut." Jelas Ravi.
"Ohh Mesya ulang tahun yah, sayang sekali padahal mama berharap Kanaya juga ikut pasti seru kalau rame-rame." Ucap Sovi.
"Lain waktu kan masih bisa ma." Timpal Amora.
"Hmmm iya sayang." Jawab sovi.
Mereka pun melanjutkan sarapan sambil sesekali mengobrol ringan. Dan tanpa mereka sadari di rumah nya Juna sudah meng-upload video tentang Ana yang akan menjadi problem baru untuk keluarga mereka.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan sovi dan Ayu pun bersiap-siap untuk berangkat ke supermarket untuk membeli keperluan yang akan mereka gunakan selama di villa puncak nanti. Sementara Amora dan Miko hanya bersantai di halaman belakang karena memang hari ini mereka semua tidak di izinkan ke kantor oleh sovi. Sedangkan Ravi ke kamar nya untuk berbucin ria dengan Kanaya. Entah kenapa Ravi yang kini sudah tau semua masa lalu Kanaya menjadi lebih bisa menerima Kanaya dan mencintai Kanaya dengan tulus.
Kanaya memang tidak masuk kerja hari ini,Ravi sengaja menyuruh pacar nya itu untuk di rumah saja biar bisa istirahat sekaligus membantu mempersiapkan pesta ulang tahun Mesya.
"Kenapa sayang, pagi-pagi begini sudah nelpon?" Tanya Kanaya saat panggilan video mereka sudah terhubung.
"Aku kangen." Jawab Ravi polos.
"Lah perasaan baru tadi malam deh ketemu udah kangen saja." Ledek Kanaya.
"Biarin, kalau kangen sama pacar sendiri ga apa-apa dong, Pacar ku baru selesai mandi ya?" Tanya Ravi saat melihat Kanaya dengan handuk yang tergulung di rambut nya.
"Iya nih," jawab Kanaya yang mulai mengering kan rambut nya dengan hairdryer.
"Sayang, pakai dong anting yang kita beli kemaren aku penasaran pasti kalau kamu yang pakai cantik banget." Perintah Ravi.
"Ohh iya sebentar ya sayang." Jawab Kanaya yang langsung mengambil anting itu.
"Bagaimana cantik ga?" Tanya Kanaya setelah kedua anting mewah nan elegan itu menempel di daun telinga nya.
"Memang ya kalau cewek cantik pakai apapun tetap cantik.kamu cantik banget pakai itu sayang." Jawab Ravi takjub.
"Halah gombal." Kanaya tersipu malu dengan pujian Ravi.
"Serius sayang, kamu itu cantik cantik banget." Puji Ravi lagi.
"Iya lah, aku kan perempuan wajar cantik, lagian kalau bukan pacar ku yang puji aku cantik siapa lagi hayo." Ujar Kanaya yang mulai mengoles vitamin rambut ke rambut nya.
"Iya iya, sayang nya aku sudah mandi?" Tanya Kanaya lagi.
"Sudah dong, jadi kamu yakin nih ga mau ikut kami ke puncak sayang? Padahal mama tadi nanyain lho." Ulang Ravi lagi.
"Pengen sih sayang, tapi mau bagaimana lagi besok mama ulang tahun. Bilang ke Tante mungkin lain kali ya." Jawab Kanaya.
"Iya sayang ku." Jawab Ravi.
"Yasudah aku sarapan dulu ya sayang," pamit Kanaya yang sudah selesai dengan urusan dandan mendandan nya.
"Okay sayang ku makan yang banyak ya, assalamualaikum." Jawab Ravi.
"Waalaikumsalam sayang." Panggil an pun berakhir.
"Huh ngapain ya, kalau begini pasti membosan kan." Batin Ravi yang merasa bosan rebahan di kamar nya.
"Duduk-duduk bareng kak Miko sama Amora aja kali ya." Sambung nya lagi.
Ravi pun keluar dari kamar dan menuju Miko dan Amora yang sedang duduk di taman belakang.
"Hadeh... Ngapain pula ini pasutri romantis-romantis di sini, ga malu apa di lihatin orang lain." Batin Ravi yang melihat Miko sedang bermanja-manja kepada Amora.
"Ehemm...." Dehem Ravi mengagetkan kedua nya.
__ADS_1
"Apaan sih, ganggu aja deh ni anak." Protes Miko saat melihat Ravi yang berjalan kearah mereka.
"Bodo amat, kalian juga ngapain sih romantis-romantisan di taman, noh di kamar Sono ga malu apa di lihatin orang-orang." Ledek Ravi.
"Lah ngapain malu, kita kan udah muhrim, bilang aja kamu cemburu ga bisa kek kita kan." Ledek Miko.
"Hah cemburu, hahaha ngapain juga aku mesti cemburu kak." Jawab Ravi sambil duduk di kursi kosong di bawah pohon rindang di taman belakang rumah mereka.
"Iya cemburu lah kamu kan belum punya istri jadi ga bisa romantis-romantis kek kakak, kakak yakin sih kamu pasti belum pernah merasakan nikmatnya surga dunia kan?" Ledek Miko lagi.
"Mas kamu apaan sih?" Cubit Amora di paha Miko karena merasa malu dengan pertanyaan Miko.
"Biarin saja Sayang, dia memang perlu di kasih edukasi dulu biar nanti lancar nih otak lelet nya." Jawab Miko sambil menyentil jidat Ravi.
"Aww...sakit kak." Ravi memegangi jidat nya.
"Jawab dulu pertanyaan kakak, sudah pernah belum pasti belum kan. Makanya nikah sana biar bisa kek kakak, lihat nih ini hasil kerja keras kakak." Ucap Miko sambil mengelus perut Amora yang sudah mulai membuncit.
"Masss..." Amora semakin salah tingkah mendengar kata-kata Miko.
"Apaan sih kak," jawab Ravi yang jadi salah tingkah.
"Sayang ambilin mas jus dong di kulkas." Titah Miko kepada istrinya itu karena dia tau kalau Amora tidak nyaman dengan pembicaraan yang akan dia lanjutkan.
"Iya mas." Jawab Amora yang langsung bergegas meninggalkan Miko dan Ravi.
"Vi kakak mau tanya satu hal sama kamu." Ucap Miko dengan mode wajah serius.
"Mau tanya apa kak?" Jawab Ravi.
"Kamu serius sama Kanaya?" Tanya Miko.
"Iya serius lah kak, masa main-main." Jawab Ravi penuh dengan percaya diri.
"Bagus lah Ravi, kakak juga percaya sih kalau Kanaya itu wanita baik-baik." Ucap Miko.
"Tapi kakak punya pesan sama kamu Ravi." Sambung Miko.
"Pesan apa kak?"
"Tolong kamu jaga Kanaya ya, jangan sampai kamu unboxing sebelum kalian sah menikah. Cukup kakak dan Amora lah yang berdosa sebelum menikah kamu jangan sampai jatuh ke dosa itu ya Ravi. Biarkan Kanaya suci Sampai dia menjadi istri kamu." Sambung Miko.
"Jleb....Ravi terdiam mendengar kata-kata Miko. Dia tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi."
"Heh, dengar kan kata kakak, kok kamu diam saja, atau jangan-jangan kamu dan Kanaya sudah..."
"Tidak kok kak, Ravi dan Kanaya belum pernah melakukan nya. Dan insyaallah Ravi bisa menjaga hasrat Ravi kepada Kanaya sampai kami sah menjadi pasangan suami istri." Potong Ravi.
"Bagus Ravi, kakak percaya kamu, Yasudah kakak masuk dulu ya. Seperti nya kakak ipar kamu segan ke sini lagi karena obrolan tadi." Pamit Miko.
"Ohh iya iya kak." Jawab Ravi.
__ADS_1
Miko pun segera masuk ke dalam rumah, sementara Ravi menjadi terdiam merenungi kata-kata Miko tadi.