Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Tidur dengan ku


__ADS_3

"Kanaya kenapa kamu bisa melakukan ini sih?" Tanya Ravi yang berjongkok sambil menatap Kanaya dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Apa gunanya aku hidup Ravi jika kamu sudah tidak mencintai ku dan lebih memilih wanita lain." Jawab Kanaya sambil menangis.


"Kanaya kamu jangan bicara begitu dong, aku sayang sama kamu. Dan kamu sangat berati kamu tidak memikirkan perasaan om dan tante dan semua orang di sekeliling kamu yang menyayangi kamu hah? Kamu tau betapa hancurnya kami semua jika kamu pergi meninggalkan kami?" Tanya Ravi mencoba menguatkan Kanaya.


Kanaya hanya terdiam, karena sebenernya dia juga masih takut untuk mati. Hanya saja saat itu pikiran nya benar-benar buntu jadi dia memilih jalan pintas. Namun sebenarnya sekarang dia menyesali nya.


"Maaf." Hanya itu yang terucap dari mulut mungil kanaya.


"Tidak perlu minta maaf Kanaya, yang terpenting sekarang kamu harus tau kamu itu berarti dan sangat berarti." Ucap Ravi sambil mengecup kening Kanaya.


Ayu yang juga ada di dalam ruangan itu merasa sesak melihat pertunjukan itu. Dia pun pamit keluar dan langsung ke kamar mandi.


"Heh, ngapain nangis? Apa yang kau tangisi? Itu pacar nya dan kau siapa kau ayu?" Tanya ayu kepada dirinya sendiri.


Tanpa Ayu sadari Kanaya melihat ekspresi ayu tadi saat Ravi mengecup kening nya.


"Kau tunggu saja bagian mu, karena kau aku mencoba bunuh diri. Akan ku rebut kembali karena memang dari awal Ravi adalah milik ku. Akan ku buat kau di usir dari rumah itu dan hidup menderita di jalanan." Batin Kanaya yang merubah haluan nya.


"Tunggu saja sayang ku, akan ku pastikan dalam waktu dekat ini, wanita kampung itu Akan keluar dari rumah dan hati mu. Berani sekali dia bermain-main dengan Kanaya." Batin Kanaya sambil menatap Ravi dan tersenyum tipis.


Setelah berbasa-basi akhirnya keluarga Wijaya pun pamit pulang dari rumah sakit itu. Sementara Ayu yang tadi nya sudah selesai di kamar mandi menunggu di luar.


"Ayu, sudah ayok." Ajak Sovi yang sudah keluar dari ruangan Kanaya.


"Oohh baik bu." Jawab Ayu yang tersadar dari lamunannya dan berdiri dari duduk nya lalu tersenyum kepada Sovi.


Mereka pun segera keluar dari rumah sakit dan segera menuju parkiran untuk pulang ke rumah keluarga Wijaya. Di perjalanan ayu banyak diam dia tidak tau harus berbicara apa dan memutuskan menjadi pendengar ketika sovi mengoceh soal Ravi dan berharap bahwa Ravi bisa memperbaiki hubungan nya dengan Kanaya dan menikah dengan Kanaya.


Sesampainya di rumah Ayu, sovi dan Sean masuk ke dalam rumah dan segera mandi dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. Sementara beberapa jam kemudian Ravi juga pulang ke rumah dan tanpa banyak bicara Ravi langsung masuk ke kamar nya untuk mandi dan bersih-bersih.


Mereka makan malam bersama dalam diam, namun Ravi tau kedua orang tua nya pasti sangat dongkol kepadanya dan dia sudah menyiapkan hati dan mental nya untuk ocehan papa dan mama nya.


"Ravi setelah selesai makan, kita perlu ngobrol." Ucap Sean memulai obrolan mereka.


"Baik pa." Jawab Ravi dengan lugas.


"Amora dan Miko langsung istirahat ya pa, tadi kata dokter Amora harus banyak beristirahat." Ucap Miko yang lebih memilih mementingkan kesehatan istri dan calon anak nya.


"Iya nak, kesehatan Amora dan calon cucu kami lebih penting dari apapun." Jawab sovi langsung tersenyum.


Setelah selesai makan malam, ayu pun membereskan meja makan, dan Sean pun memulai obrolan mereka. Karena mereka merasa ayu adalah bagian keluarga ini jadi bagi mereka tidak masalah ayu mendengar kan obrolan mereka.


"Ravi papa benar-benar kecewa sama kamu." Ucap Sean sambil menatap Ravi dalam.


"Maaf pa." Jawab Ravi sambil menunduk.


"Jangan menunduk tatap papa." Titah Sean.


"Ravi tau Ravi salah pa." Sambung Ravi.


"Kamu menyadari nya? Hampir saja karena keegoisan kamu dan karena kamu plin plan Kanaya bisa kehilangan nyawa nya." Lanjut Sean lagi.


"Tapi pa....."


"Tapi apa? Tapi kamu berubah pikiran, kamu kemarin bilang mau tunangan dengan Kanaya, dan kini kamu menolak pertunangan ini tanpa alasan yang jelas. Apa benar ada wanita lain di hati kamu?" Potong sovi.


"Ma, bukan begitu hanya saja Ravi belum siap menjalin hubungan yang serius." Elak Ravi.

__ADS_1


"Mau sampai kapan Ravi, ingat umur kamu Kanaya menurut mama menantu dan calon istri idaman. Dan sepertinya kamu tidak ada alasan untuk menolak dia. Lagian di usia sekarang mau cari yang bagaimana lagi hah?" Sambung sovi lagi.


"Dan satu lagi ya, mama tidak mau kalau hal seperti tadi sore terjadi, mama dan papa merasa kecewa dan malu dengan perbuatan kamu yang sunggu tidak gentleman." Lanjut sovi lagi.


"Iya ma pa, maaf telah membuat kalian malu." Jawab Ravi yang memang menyadari dirinya bersalah.


"Yaudah pokoknya mama dan papa tidak mau tau kamu dan Kanaya harus tetap melanjutkan pertunangan kalian, sesuai dengan tanggal yang sudah di tentukan. Tidak ada penolakan Ravi ingat tolong lakukan ini demi mama dan papa, kali ini saja mama mohon." Pinta sovi dengan wajah memohon.


Karena tidak tega menolak permintaan mama nya, apalagi wajah sovi yang begitu memelas akhirnya Ravi mengangguk pelan yang artinya dia setuju, walaupun begitu berat baginya.


"Begitu dong, ini baru anak mama." Ucap Sovi sambil melebarkan senyum manis di bibirnya.


"Yasudah kamu tenang saja ya, kamu dan Kanaya fokus saja bekerja, biar pertunangan kalian mama dan papa yang ngurus." Ucap Sovi yang langsung excited.


"Iya ma, terimakasih." Jawab Ravi pelan sambil pasrah.


"Ma, pa Ravi pamit ke ruang kerja dulu ya, ada yang harus Ravi selesai kan." Pamit Ravi yang menyadari Ayu menguping pembicaraan mereka dan sedari tadi berdiri di dapur dekat meja makan.


"Ohh iya sayang, silahkan." Jawab sovi sambil tersenyum.


Ravi pun segera beranjak dari duduk nya, lalu segera ke ruang kerja nya yang kebetulan lewat dapur bersih. Sementara di saat kedua orang tua nya sibuk berbincang Ravi langsung menarik tangan Ayu dan membawa Ayu ke ruang kerja nya.


"Kak mau ngapain?" Tanya Ayu yang kaget dengan genggaman Ravi namun tetap mengikuti langkah Ravi.


Tanpa banyak bicara Ravi terus berjalan menuju ruang kerja nya. Dan setelah masuk ke dalam ruang kerja nya Ravi mengunci ruang kerja itu dari dalam dan kini tinggal dia dan ayu yang ada di dalam.


"Kakak mau ngapain? Tanya ayu sambil mencoba melepaskan ge genggaman Ravi.


"Aku merindukan mu yu, dan aku sangat mencintai mu. Aku tidak mau kehilangan kamu." Ucap Ravi sambil memeluk ayu dengan erat.


"Kak lepasin, bagaimana kalau ada yang melihat?" Ucap Ayu sambil mencoba melepaskan pelukan Ravi dengan nada setengah suara.


"Kak kita belum Muhrim, tidak pantas melakukan ini." Ucap Ayu menyadarkan Ravi dan tetap mencoba melepaskan pelukan Ravi yang semakin erat.


"Apa kau tidak mencintai ku yu?" Tanya Ravi sambil menatap Ayu dalam saat pelukan itu terlepas.


Ayu hanya terdiam, dan mencoba memalingkan wajah nya.


"Yu tatap aku, dan bilang kalau kau tidak mencintai ku, please yu." Pinta Ravi sambil memegangi kedua pipi ayu agar ayu menatap dirinya.


"Aku rasa kau tidak perlu mempertanyakan hal ini, karena kau sudah tau jawabannya, aku mencintaimu kak, sangat mencintai mu, tapi aku sadar aku siapa dan kau siapa. Apalagi saat kau begitu khawatir kepada kak Kanaya tadi aku semakin Sadar Kuta terlalu jauh." Jawab Ayu sambil matanya sudah mulai berkaca-kaca.


Tanpa aba-aba Ravi langsung melahap bibir mungil Ayu, walaupun awalnya ayu kaget dan berontak namun lama-kelamaan dia terlena dengan ciuman Ravi dan akhirnya mengimbangi ciuman itu.


Ravi yang sudah lepas kendali mendorong ayu ke sova ruang kerja nya.


"Kak, kakak mau ngapain? Lepaskan kak " pinta Ayu yang mulai merasa Ravi bergerak terlalu jauh.


"Yu maaf, kalau kakak tidak bisa memilikimu dengan cara baik-baik maka cara ini pun akan Kakak tempuh. Apapun caranya akan kakak m


Lakukan demi memiliki mu seutuhnya." Ucap Ravi yang memang sudah belajar tentang hal ini dari google, dan kini dia melanjutkan aktivitas nya.


"Kak tolong jangan begini, kak sadar kak." Pinta ayu yang merasa tangan Ravi sudah mulai ke bawah.


Tanpa memperdulikan kata-kata ayu Ravi terus melanjutkan aktivitas nya, entah dapat ilmu dari mana dia, namun seakan semuanya mengalir saja, hasrat pun sudah sampai ubun-ubun, yang di bawah sudah bangun dari tidur nya.


Kini kesadaran Ravi mulai menghilang, dirinya tidak terkontrol lagi. Kekuatan semakin bertambah. Semakin ayu menangis dan berontak semakin kuat juga Ravi mengunci ayu di bawah Kungkungan nya.


Entah setan dari mana yang merasuki Ravi kini pakaian atas ayu sudah mulai terbuka, ayu hanya bisa menangis dan menyadarkan Ravi.

__ADS_1


"Kak lepaskan aku, kalau Kakak melanjutkan ini lagi aku akan teriak." Pinta ayu yang semakin putus asa.


"Silahkan yu, silahkan kamu teriak sekuat tenaga.kalaupun ada yang mendengar kakak malah senang, agar secepatnya kita di nikah kan. Pokoknya malam ini kamu akan menjadi milik kakak seutuhnya, dan besok kita akan menikah sayang." Ucap Ravi sambil terus melanjutkan aktivitas nya.


"Kak sakit." Rintih ayu yang merasa kesakitan saat Ravi sudah mulai memainkan dadanya.


"Nanti juga enakan sayang, nikmati lah apa kau tidak ingin menikmati nya bersama ku hah?" Tanya Ravi semakin bersemangat.


"Kak sadar kak, ini semua salah, kalau kita jodoh maka kita akan tetap jodoh, jangan melakukan dosa hanya karena hasrat kak. Ayu mohon jangan lakukan ini. Masa depan ayu Masih panjang kak." Pinta ayu yang meras lelah dengan wajah penuh memohon.


"Kau akan tetap kuliah sayang, aku hanya ingin menanam benih agar kau tidak di ambil orang, dan kau bisa menjadi milikku seutuhnya." Ucap Ravi sambil terus melanjutkan akhirnya dan semakin ke bawah.


"Tidak kak, ayu mohon jangan lakukan itu." Ayu semakin takut dengan Ravi. Namun Ravi semakin tidak terkendali.


Saat Ravi lengah ayu langsung menendang junior Ravi, dan saat Ravi kesakitan ayu mengabil kesempatan untuk kabur dari Kungkungan Ravi.


Namun tangan nya di genggam Ravi, jadi ayu tidak bisa lari, dia hanya terduduk di sofa, dengan pergelangan tangan masih di genggam Ravi. Dan pakaian serta rambut yang sudah tidak beraturan dan acak-acakan.


"Lepaskan tangan ku, aku benci sama Kakak." Ucap Ayu sambil menangis dan mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman Ravi.


Ayu pun menghentak pergelangan tangan nya sehingga lepas dari ge genggaman Ravi, lalu plak....satu tamparan mendarat di pipi Ravi.


"Kakak sama saja seperti laki-laki lain, kakak bejad ayu benci sama Kakak. Kakak ga tulus sayang sama Ayu, kakak cuman mau menghancurkan hidup ayu kan." Ungkap ayu sambil menangis.


"Yu maafin kakak, kakak memang laki-laki bejad. Kakak juga tidak tau kenapa bisa lepas kendali seperti tadi. Tapi hal itu kakak lakukan karena kakak tidak mau kehilangan ayu, dan menurut kakak ini adalah jalan satu-satunya." Ungkap Ravi dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Kakak sudah gila ya, banyak cara kak, kakak mau Kuta berdosa hanya karena keegoisan. Percaya lah kak kalau Kakak dan Ayu memang berjodoh seribu satu cara Tuhan akan menjodohkan kita, begitu juga sebaliknya." Ucap Ayu sambil menatap Ravi dalam.


"Ayu maafin kakak, Kakak tidak bermaksud melakukan itu semua, semua itu di luar nalar kakak." Ravi benar-benar menyesal dan dia berlutut di hadapannya ayu dengan penuh penyesalan.


"Kak, tidak perlu seperti itu." Ayu yang tidak tega menarik Ravi untuk duduk kembali di sebelah nya.


"Yu, boleh kakak memeluk kamu sebentar saja?" Tanya Ravi sambil memelas kepada ayu.


"Kak,"


"Hanya sebentar saja yu, sebelum kamu keluar dari ruangan ini." Potong Ravi dengan wajah memohon.


"Iya deh kak, boleh." Jawab ayu yang tidak tegaan.


Ravi pun memeluk ayu dengan hangat, lalu memejamkan matanya.


"Maaf...." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Ravi.


"Iya kak." Jawab ayu yang mudah luluh.


"Biarkan seperti ini sebentar saja." Pinta Ravi lagi.


Ayu hanya mengangguk, namun sepuluh menit berlalu Ravi masih memeluk Ayu, ayu yang menyadari Ravi tertidur di pelukan nya mencoba melepaskan pelukan itu dan sepelan mungkin membaringkan tubuh Ravi di sofa dan menjadikan bantal sofa menjadi bantalnya. Namu saat ayu ingin beranjak pergi Ravi menarik tangan ayu sehingga ayu terjatuh ke dalam pelukan Ravi.


"Kak,,," ayu mencoba melepaskan diri.


"Tidur bersama ku ya yu malam ini, aku janji ga bakal macam-macam sama kamu." Pinta Ravi sambil menggeser tubuhnya sehingga kini ayu bisa rebahan di sebelah nya.


"Kak...."


"Yu kakak mohon." Ucap Ravi sambil memeluk ayu dan memejamkan mata nya.


Seakan tidak bisa menolak permintaan Ravi, akhirnya ayu pun mengalah dan tidur bersama Ravi di sofa ruang kerja itu. Ravi pun memeluk ayu dan tidur dengan tenang. Ayu yang tidak tau sedang berbuat apa sekarang akhirnya memilih tidur bersama Ravi.

__ADS_1


__ADS_2