Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Aku Mau


__ADS_3

“Apa masih ada hal yang perlu di bicarakan vin soal proyek kita?” Tanya Ravi memulai pembicaraan di antara mereka.


“Banyak.”Jawab Devina santai.


“Bukan nya tadi sudah kelar semuanya ya?” Ravi bertanya lagi, karena dia merasa saat rapat tadi semuanya sudah kelar tinggal menjalan kan proyek nya saja.


“Iya soalnya ini bukan masalah kantor tapi masalah pribadi.”Jawb Devina.


“Hah masalah pribadi yang mana Vin?” Tanya Ravi kebingungan.


“Lebih tepatnya masalah pribadi aku sih vi, aku sengaja ngajak kamu makan siang berdua begini agar kita bisa ngobrol dan aku ingin curhat.”Jelas Devina dengan raut wajah yang sedikit berubah.


“Kamu lagi ada masalah apa Vin?” Tanya Ravi yang langsung antusias ingin mendengarkan cerita Devina.


“Sebenarnya ini masalah asmara sih vi, tapi rasanya sesak saja kalau di pendam sendiri.”Lanjut Devina.


“Iya Vin makanya kamu cerita dong ke aku, manatau aku bisa kasih solusi, atau minimal jadi pendengar yang baik lah biar kamu gak mendem semuanya sendiri.”ucap Ravi.


“fiuh...”Devina membuang nafasnya kasar dan bersiap-siap ingin bercerita.


“Jadi gini vi, selama ini mama selalu meminta ku untuk segera mencarikan pacar lalu menikah karena usiaku juga sudah cukup. Karena mama ku sudah tua dan dia ingin menggendong cucu. Namun aku selalu bilang ke mama kalau aku sudah punya seseorang yang spesial dan aku berharap akan menikah dengan nya nanti. Tapi sepertinya harapan ku pupus seseorang yang spesial itu ternyata sudah menikah dengan orang lain. Dan kemaren mama ingin kenalan dengan orang itu. Jadi mau tidak mau aku harus jujur ke mama akhirnya mama memutuskan untuk menjodohkan ku dengan anak teman nya.” Jelas Devina menatap Ravi dalam.


Ravi hanya tertegun mendengar cerita Devina itu, entah kenapa kini dia merasakan hal aneh di hatinya, ada rasa sakit yang tak bisa di jelaskan saat Devina bilang dia akan segera di jodohkan.


“Aku bingung vi, satu sisi aku masih sangat mencintai cinta pertama ku yang ku dambakan jadi pendamping hidupku itu, namun di sisi lain aku juga gak boleh egois karena sekarang dia sudah memiliki istri. Dan aku juga harus perduli in mama yang ingin melihat anaknya segera menikah dan meminang cucu.” Lanjut Devina.


“Vin gimana ya di situasi begini memang bingung sih, soalnya kan ini soal perasaan kita gak boleh menentukan kepada siapa kita kana jatuh cinta. Tapi Vin tidak semua hal yang kita ingin kan harus dan akan jadi milik kita. Kalau mungkin memang bukan jodohnya seratus satu cara akan Tuhan lakukan untuk memisahkan begitu juga sebaliknya. “ Ravi mencoba memberikan penjelasan.


“Hmm iya vi, orang mah kalau ngomong gampang. Karena belum pernah berada di posisi aku.” Devina sedikit kecewa dengan penjelasan Ravi itu.


“Iya Vin, aku tau hanya saja apa kamu sudah pernah bertemu dengan pria yang ingin di jodohkan dengan kamu?” sambung Ravi.


Devina menggeleng.


“Hmm manatau dia pria yang nyaris sempurna, dan jauh lebih baik di segala hal di bandingkan pria yang kamu harapkan. Ingat Vin mama pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak nya, pasti sudah uji kelayakan dong layak gak si pria tersebut mendampingi putri sematawayang nya ini.”ujar Ravi lagi.


“Hmm entah lah vi, mungkin semua ini masih terlalu cepat sehingga aku belum bisa menerima semuanya.”Jawab Devina menarik nafas nya dalam.


Karena keasikan mengobrol kini makanan mereka pun datang, keduanya pun memutuskan untuk makan siang lebih dulu.


“Umm memang siapa sih pria yang kamu harapkan jadi jodoh kamu Vin, se tampan apa sih dia sehingga membuat Devina yang cantik dan nyaris sempurna ini galau.”Tanya Ravi di sela-sela makan siang mereka.

__ADS_1


“Kamu.”Jawab Devina singkat.


“Uhuk-uhuk.”Ravi yang sedang makan tiba-tiba kaget sampai keselek mendengar jawaban Devina itu.


“Minum.”Lanjut Devina.


“Vin, kamu bercandaan nya gak lucu tau.” Ujar Ravi yang meneguk minuman nya.


“Aku serius.”jawab Devina yang terus mengunyah makan siang nya dan tidak menatap Ravi sama sekali.


“Vin..”Ravi meletakkan gelasnya di atas meja dan menatap Devina yang fokus menatap ke depan. Dia tau kalau Devina sedang tidak bercanda sekarang.


“Aku tidak tau harus ngomong apa Vin, jujur aku gak nyangka bahwa sebenarnya kamu juga punya perasaan kepadaku. Bahkan kamu bilang aku adalah cinta pertamamu. Maafkan Aku vin.”Lanjut Ravi yang masih belum menyangka semuanya.


“Gak apa-apa, aku tidak minta apa-apa kok aku hanya ingin kamu tau isi hatiku kepadamu. Dan aku juga sudah mencintaimu dari kita masuk SMP. Bahkan aku sangat bahagia saat mendapatkan surat darimu bahwa perasaan ku berbalas dan kamu akan menunggu ku pulang. Tapi benar kata kamu jodoh sudah di atur sama yang di atas.”Lanjut Devina yang meletakkan sumpitnya di atas piring milik nya.


Ravi terdiam sejenak, benar-benar dia merasa semua ini seperti mimpi, namun tak bisa di pungkiri setelah mendengarkan jawaban Devina tadi rasa yang sudah lama di kubur dalam-dalam oleh Ravi seakan kini bangkit lagi untuk Devina.


“Vin aku minta maaf, andai saja,,,”


“Sudah tidak perlu minta maaf, dan memang tidak ada yang salah di sini.”Potong Devina yang kini seakan enggan menatap Ravi.


“Apa kamu sudah selesai makan siang nya?, kita harus kembali ke kantor soalnya sebentar lagi jam istirahat akan habis.”Tanya Devina mengalihkan pembicaraan.


“Yasudah aku bayar dulu ya.”ucap Devina yang bangkit dari duduk nya.


“Lho kok kamu yang bayar Vin?”Tanya Ravi kebingungan.


“Kan aku yang ngajak, dan kemaren aku juga pernah janji kalau aku akan traktir kamu.”Lanjut Devina.


Devina pun beranjak dari duduk nya dan ingin segera ke kasir untuk membayar makanan mereka. Namun pergelangan tangan nya tiba-tiba di pegang oleh Ravi.


“Biar aku yang bayar Vin, kan aku laki-laki.”cegah Ravi yang langsung bangkit dari duduk nya dan lebih dulu ke kasir untuk membayar makanan mereka.


Devina hanya diam saja, dia meraih tas yang dia letakkan di atas meja dan keluar dari dalam restoran itu. Setelah selesai membayar makanan nya mereka berdua pun keluar dari mall dan segera menuju ke parkiran di mana mobil Devina terparkir.


Setelah keduanya sudah masuk ke dalam mobil mobil pun melaju meninggalkan mall itu menuju ke kantor Ravi untuk mengantarkan Ravi.


“Vin sekali lagi aku minta maaf ya, aku tidak menyangka kalau surat itu membuat kamu akhirnya begini.”Ravi memulai obrolan di antara mereka saat mobil sudah melaju.


“Iya Vi, santai saja aku hanya ingin kamu tau perasaan ku kok tidak lebih.”Jawab Devina mencoba mengontrol dirinya.

__ADS_1


Namun entah apa yang terjadi pada Ravi tiba-tiba dia menggenggam tangan Devina. Namun Devina tidak menepis tangan Ravi dan membiarkan Ravi menggenggam nya. Karena tidak ada penolakan dari Devina ravi pun mengecup tangan Devina lagi.


“Jujur Vin, sampai detik ini juga aku masih mencintaimu. Kalau saja waktu bisa di putar aku juga akan menunggu pulang ke sini dan melamar serta menikah mu.” Ucap Ravi.


“Sudah lah Ravi semuanya sudah berlalu juga.”Jawab Devina namun masih enggan menarik tangan nya dari genggaman Ravi.


“Tapi Vin, aku belum bisa menerima ini semua ingin rasanya aku memutar waktu ke beberapa bulan ke belakang.”Ujar Ravi lagi.


“Aku hanya minta satu permintaan Ravi itu pun kalau kamu bersedia mengabulkan nya.” Lanjut Devina.


“Apa itu Vin?” tanya Ravi sembari masih fokus menyetir.


“Tapi aku tidak yakin kalau kamu akan mengabulkan nya, soalnya ini agak berat.”Lanjut Devina lagi.


“Sebisa mungkin aku akan mengabulkan nya vin, demi kamu.”Jawab Ravi bertekad.


“Umm itu vi, acara pertunangan aku akan di lakukan dua minggu lagi, setelahnya aku sudah milik orang lain. Aku ingin sekali sebelum aku bertunangan dan menikah aku ingin menghabiskan hari-hariku bersama orang yang ku cintai. Salah satunya makan siang bersama seperti tadi.”Jelas Devina dengan nada suara sedikit ragu.


“Maksudnya bagaimana ya vin?” Tanya Ravi yang merasa penjelasan Devina itu masih sedikit abstrak.


“Aku ingin kamu jadi pacarku dua minggu kedepan Ravi, hanya pacar biasa tidak akan mengganggu aktivitas keseharian kita atau rumah tangga kamu. Hanya makan siang bersama seperti tadi, dan berkencan sebentar di sore hari sebelum pulang ke rumah masing-masing.”Jelas Devin ayang sedikit gugup.


Ravi terdiam mendengar permintaan Devina itu.


“Pasti kamu tidak mau kan, maaf ya Ravi permintaan ku rada aneh. Iya lah mana mungkin kamu mau mengkhianati istri kamu. Maaf ya Vi aku hanya ingin menghabiskan waktu yang sedikit ini bersama orang yang aku cintai tidak lebih kok.” Sambung Devina yang merasa salah tingkah karena tidak ada respon dari Ravi untuk permintaan nya.


“Aku mau.”Jawab Ravi saat Devina ingin menarik tangan nya dari genggaman Ravi namun di tahan kembali oleh Ravi.


“Hah, yang benar vi?” Tanya Devina nyaris tidak percaya.


“Iya Vin, jangan kan dua minggu dua bulan pun aku siap.”Jawab Ravi lagi.


“Ahhh terimakasih sayang.”Tanpa sadar Devina memeluk Ravi bahagia.


Jantung Ravi berdebar kencang menerima pelukan dari Devina itu, apalagi telinganya mendengar jelas tadi Devina mengucapkan kata sayang kepadanya. entah apa yang sedang terjadi di antara keduanya.


“Aduh maaf-maaf, aku kelepasan sangking bahagianya.”Ujar Devina salah tingkah.


“Tidak apa-apa vin, aku menikmatinya.”Jawab Ravi dengan santai nya.


Karena terlalu asyik mengobrol tak terasa kini mereka sudah sampai di depan kantor Ravi, setelah berpamitan dengan Devina Ravi pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam kantor. Sementara Devina kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke kantornya.

__ADS_1


Keduanya senyum-senyum sendiri masih tidak menyangka bahwa perasaan yang selama ini hampir terkubur kini mulai bersemi kembali. Ravi bahkan tidak bisa fokus bekerja karena yang ada hanya bayang-bayang Devina dan dia masih tidak menyangka akan permintaan Devina tadi.


__ADS_2