
"Lho kok tumben pulang nya lama yu?" Tanya sovi saat melihat Ayu turun dari mobil bersama pak Paijo.
"Ohh iya Bu tadi ayu ada kerja kelompok." Jawab Ayu berbohong.
"Ohh begitu, yasudah sana gih mandi, malam ini biar ibu yang masak." Ucap Sovi.
"Memang nya kondisi ibu sudah mendingan?" Tanya Ayu kepada sovi.
"Sudah lumayan lah yu." Jawab sovi.
"Yasudah Bu, ayu pamit ke kamar dulu ya." Pamit Ayu yang berjalan menuju kamar nya.
"Iya yu." Jawab sovi lagi.
"Ehh pak Paijo, tadi Ravi menyuruh bapak Langsung ke kamar nya katanya Ravi butuh sesuatu dari bapak." Ucap Sovi sat mengingat pesan Ravi tadi.
"Ohh baik bu." Jawab pak Paijo yang pamit ke kamar Ravi.
"Tok....tok...tok..." Boleh saya masuk den?" Tanya pak Paijo dari balik pintu kamar Ravi.
"Masuk saja pak, tidak di kunci kok." Ucap Ravi dari dalam.
Pak Paijo pun membuka pintu kamar, dan segera menghampiri Ravi yang terlihat sedang asyik mengoperasikan ponsel baru nya. Karena ponsel lama nya sudah hilang saat kecelakaan kemaren.
"Bagaimana pak, ada foto orang nya siapa yang ingin di temui oleh Ayu?" Tanya Ravi penasaran.
"Ada den, ini orang nya."jawab pak Paijo sambil menunjukkan foto Steven yang sudah di foto secara diam-diam oleh pak Paijo tadi.
"Hah, ini kan Teman kampus nya Ayu yang kemaren pernah ketemu di restoran kalau tidak salah namanya Steven. Atau bapak salah orang soalnya tadi di telepon Ayu bilang nya pak." Ucap Ravi yang merasa aneh.
"Benar den, ini orang yang di temui oleh neng Ayu, dan dia ini adalah dosen nya neng Ayu." Jelas pak Paijo.
"Masa sih, apa ayu kemaren berbohong ya..berarti kalau dia dosen Ayu harusnya papa atau kak Miko tau dong, soal nya kan keluarga kita punya saham di universitas tempat Ayu kuliah. Terus biasanya kak Miko atau papa sering melakukan pertemuan dengan para dosen, dekan dan rektor kampus." Ucap Ravi.
"Wahh kalau masalah itu saya kurang tau den, tapi ada yang lebih penting dari itu den." Ucap pak Paijo yang tidak sabar ingin menceritakan masalah ini kepada Ravi.
Meskipun Ayu tadi minta tolong untuk jangan memberitahu kan kepada siapapun tapi menurut pak Paijo bagus dia cerita kepada Ravi untuk mencari jalan keluarnya karena dia tidak mau sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kepada Ayu.
__ADS_1
"Apa pak?" Tanya Ravi yang menatap pak Paijo serius.
"Jadi sebenarnya begini den....Pak Paijo pun mulai Menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi mulia dari kampus sampai ke cafe milik Steven, tak lupa pak Paijo juga memutar rekaman suara Steven.
"Sialan, dia pikir siapa dia, berani sekali dia melakukan ini semua kepada Ayu. Jangan harap dia bisa melihat matahari lagi besok." Ravi jadi marah besar kini jadi terpancing emosi.
"Den tenang dulu tenang dulu, jangan Langsung emosi." Pak Paijo mencoba menenangkan Ravi.
"Kalau bukan karena aku lumpuh sudah ku habisi manusia Dajjal itu. Tapi tenang saja dengan uang ku aku bisa membuat dia tau diri dengan siapa dia sekarang bermain-main." Ucap Ravi yang langsung ingin menelepon orang suruhan nya.
Untuk memberikan pelajaran kepada Steven, namun belum pun Ravi menelepon orang suruhan nya tiba-tiba Sovi membuka pintu kamar.
"Ma..." Ujar Ravi yang kaget, sama seperti Ravi Paijo pun menatap ke arah sovi yang berdiri di depan pintu dengan wajah kaget nya.
"Pak Paijo, apa yang sudah bapak lakukan?" Tanya sovi menatap pak Paijo dengan tatapan marah.
"Maksudnya non?" Tanya pak Paijo.
"Itu di depan ada polisi mau nangkap bapak, katanya ada laporan bahwa bapak memukuli seseorang tanpa motif yang tidak jelas dan sekarang orang nya sedang di rawat di rumah sakit. Namun orang Yang bapak pukuli adalah salah satu dosen di univ kita." Ujar sovi dengan tatapan tidak percaya kepada pak paijo.
"Hah Steven itu laporin bapak ke polisi pak?" Tanya Ravi.
"Ohh dia mau main-main ya pak, yaudah kita ikuti permainan nya." Ujar Ravi sambil tersenyum.
"Maksud kamu apa Ravi?" Tanya sovi.
"Nanti juga mama akan tau sendiri, sudah bapak tenang saja ikuti saja dulu panggilan polisi, dengan bukti yang bapak punya kita bisa menuntut dia dengan pasal berlapis pak." Ujar Ravi tersenyum kecil.
"Jadi saya ikut ke kantor polisi dulu nih den?" Tanya Ravi.
"Iya pak, bapak ke kantor polisi saja dulu, nanti kami menyusul untuk menyelesaikan ini. Tenang saja semua nya aman, tolong kirimkan rekaman suara tadi pak manatau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan nanti di jalan buat jaga-jaga." Pinta Ravi.
"Baik den," jawab pak Paijo yang sebenarnya sedikit khawatir karena memang dia telah melukai Steven tadi.
"Ravi kalian rundingin apa sih dari tadi hah? Kamu pikir mama sedang bercanda. Ini lagi pak Paijo saya tidak habis pikir kok bisa melakukan hal seperti itu." Sovi menuntut penjelasan.
"Sudah lah ma, nanti saja pak Paijo menjelaskan semua nya, atau mungkin Ayu yang akan menjelaskan semua. Untuk sekarang biar pak Paijo di bawa dulu ke kantor polisi untuk di periksa." Jawab Ravi.
__ADS_1
"Yaudah sana pak, pak polisi nya sudah menunggu di depan." Ucap Sovi.
Pak Paijo pun akhirnya bangkit dari duduk nya dan segera menemui pak polisi itu.
"Apa-apa an kamu Paijo, kok bisa melakukan tindakan kriminal seperti ini hah?" Ujar Sean yang sedang membaca surat penangkapan Paijo sambil emosi.
"Pak Paijo maafin ayu, ini semua salah Ayu." Ucap Ayu dengan air mata sudah lolos dari kedua pelupuk matanya.
"Nanti saja si jelaskan di kantor pak sekarang Tolong ikut kami ke kantor." Ucap sang polisi yang membawa Paijo.
Pak Paijo tidak banyak bicara dia hanya menurut kepada para pak polisi. Akhirnya pak polisi pun pamit dan membawa pak Paijo ke kantor polisi.
"Kak Tolong bantu aku pindah ke kuris roda dong." Teriak Ravi dari dalam kamar nya kepada Miko.
Miko pun masuk ke kamar Ravi dan memindahkan Ravi ke kursi roda. Lalu mendorong kursi roda Ravi ke sofa ruang tamu di mana semua keluarga sudah berkumpul.
"Ayu Tolong kamu cerita kan apa sebenarnya yang telah terjadi tadi. Kami kenal pak Paijo tidak mungkin dia melakukan hal seperti ini, apalagi kepada Steven dia tidak kenal dengan Steven." Ucap Sean meminta penjelasan.
Ayu yang sudah menangis tersedu-sedu karena merasa bersalah kepada pak paijo akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi kepada dirinya dan pak Paijo di cafe milik Steven.
Tentu saja sekeluarga ini murka mendengar kan cerita Ayu, di tambah lagi Ravi memutar rekaman suara yang di kirim oleh pak Paijo kepada nya. Sehingga membuat sekeluarga menjadi geram dan tidak terima.
"Tapi kok kamu bisa punya rekaman nya Ravi?" Tanya Miko yang merasa ada yang janggal.
"Ohhh itu kak, tadi entah kenapa pak Paijo tergerak hatinya untuk cerita ke Ravi, dan saat pak Paijo si tangkap polisi Miko meminta rekaman ini tadi takut adanya penghilang bukti." Jelas Ravi yang pintar mencari alasan.
Karena mereka semua sudah terlalu geram dengan perbuatan Steven akhirnya mereka semua memilih percaya saja dengan penjelasan Ravi soal rekaman itu.
Setelah mendengar kan penjelasan ayu dan rekaman dari ponsel Ravi, akhirnya mereka sekeluarga pun memutuskan untuk menjenguk pak Paijo ke kantor polisi. Dan Sean segera menelepon pengacara nya untuk mengurus semua ini.
.
.
.
Di rumah sakit Steven tertawa kencang saat tau pak Paijo sudah di tangani pihak yang berwajib. Sebenarnya kondisi Steven tidak se parah itu, namun dia membuat semua nya begitu parah.
__ADS_1
Steven memotong video cctv kantor hanya video pemukulan yang di lakukan eh pak Paijo yang dia berikan kepada aparat kepolisian sebagai barang bukti soal kekerasan yang di lakukan oleh pak Paijo kepada Steven.