
Saat obat penenang itu sudah mulai habis fungsi nya perlahan Ravi kembali sadar. Saat sang dokter memeriksa kondisi Ravi dan akhirnya memberikan keterangan tentang kondisi Ravi dan setelah Ravi tenang dan mencoba menerima semua nya akhirnya dokter pun pamit keluar.
"Ma kak Miko di mana?" Tanya Ravi saat melihat sekeliling ternyata tidak ada Miko.
"Ohh kakak mu sedang perjalanan menuju ke sini nak." Jawab sovi.
"Lalu kak Amora?" Tambah nya lagi.
"Ohh ternyata kamu ingat Amora ya nak, Alhamdulillah." Batin sovi.
"Sama mereka juga akan segera ke sini nak." Jawab sovi.
"Kalau sama ini kamu ingat nak?" Tanya Sean.
"Umm dia Ayu kan ma, kalau ga salah yang bantuin kak Amora bukan?" Tanya Ravi.
"Alhamdulillah, ternyata ingatan Ravi tidak terlalu parah pa." Sovi tersenyum bahagia.
"Iya ma Alhamdulillah." Jawab Sean yang turut senang.
Tak kalah bahagia dari sovi dan Sean Ayu juga ikut senang, dia bahagia setidaknya Ravi bisa mengingat dirinya.
"Pacar Ravi mana ma? Belum di kabarin ya soal kondisi Ravi?" Tanya Ravi tiba-tiba.
"Pa... Pacar nak?" Tanya Sovi mengulangi pertanyaannya Ravi.
"Iya ma pacar Ravi, Kanaya mana?" Tanya Ravi lagi.
Ayu hanya diam saja, dia memang sudah tau kalau Ravi hilang ingatan, apa itu artinya Ravi juga melupakan semua kenangan mereka. Harusnya Ayu bahagia tapi kenapa dia sedih ya.
"Ohh iya iya sayang, segera mama hubungi Kanaya ya." Jawab sovi yang langsung mengambil ponsel nya.
"Lho memang dari tadi tidak di kabarin ya ma sama Kanaya?" Tanya Ravi lagi.
"Tadi mama dan papa begitu panik sayang, sehingga lupa mengabari pacar kamu maaf ya nak." Ucap Sovi.
Sovi pun keluar sebentar dari ruangan itu, lalu segera menelepon Kanaya dan menjelaskan kondisi Ravi serta meminta Kanaya datang ke rumah sakit. Tentu saja si Kanaya yang tidak tahu malu dan merasa punya kesempatan semangat empat lima langsung ke rumah sakit.
Dia pun mengiyakan permintaan sovi dan setelah panggilan berakhir dia langsung mandi dan berangkat ke rumah sakit tempat Ravi di rawat.
Sementara Sovi kembali ke ruangan Ravi.
"Ponsel Ravi mana ma?" Tanya Ravi yang akhirnya mencari ponsel nya.
"Ponsel kamu hilang sayang, saat kecelakaan itu terjadi." Jelas Sovi.
"Bisa tidak mama jelaskan kok bisa Ravi mengalami kecelakaan kemaren ma? Apa Ravi ngebut atau ada masalah ma, soalnya Ravi ga bisa mengingat nya." Tanya Ravi lagi.
"Sudah lah sayang, kamu ga usah ingat kejadian itu ya, yang penting sekarang kita fokus saja sama kesembuhan kamu ya. Dsn selama proses penyembuhan kamu akan di rawat sama Ayu ya." Jelas Sovi.
Seingat Ravi dulu dia tidak terlalu suka kepada ayu, tapi entah kenapa kini melihat wajah Ayu saja terasa damai di hati Ravi. Bahkan dia merasa tenang ada Ayu di sana.
"Ayu yang akan merawat Ravi ma?" Ulang Ravi.
"Iya nak, iya kan nak Ayu?" Tanya sovi sambil menatap Ayu.
"Benar kak Ravi mulai sekarang ayu yang akan membantu ibu sovi untuk merawat kakak biar sembuh seperti sedia kala." Jawab ayu sambil tersenyum.
"Hmmm baiklah yu," jawab Ravi.
"Ma, lalu bagaimana jika Kanaya tidak bisa menerima kondisi Ravi yang begini ma? Sekarang Ravi lumpuh ma." Tiba-tiba Ravi mengingat kondisi nya.
"Tenang saja sayang, kalau sampai Kanaya tidak bisa menerima kondisi kamu yang sekarang berarti dia bukan wanita yang baik untuk kamu. Jangan di pikirkan ya." Ujar sovi menenangkan putra bungsunya itu.
"Tapi Ravi takut ma, tidak ada perempuan yang mau sama Ravi kalau sampai tau Ravi lumpuh begini." Ravi mencoba merenungi nasib nya.
"Tenang saja sayang, ini tidak permanen kok, kan tadi sudah di jelasin sama dokter kalau kaki kamu bisa sembuh..lagian menurut mama bagus begini sayang, dengan begini kamu bisa melihat ketulusan Kanaya sama kamu." Sambung sovi.
__ADS_1
Ravi pun terdiam, sebenarnya dia tidak tau apa yang sedang di rasakan oleh dirinya sekarang. seingat nya dia dan Kanaya berpacaran tapi entah kenapa dia tidak merindukan kekasih nya itu.
Yang ada malahan hatinya terasa begitu hangat saat memandang wajah teduh Ayu. Ingin rasanya Ravi mendapatkan ponsel nya kembali mungkin dengan ponsel itu ingatan nya bisa kembali lagi, namun mau bagaimana lagi kata mama nya ponsel nya sudah hilang saat kecelakaan kemaren.
Beberapa menit kemudian Miko, Amora serta baby syyaid sudah sampai di ruangan Ravi sembari membawakan sarapan pagi untuk semua nya. Serta baju ganti mereka.
"Bagaimana kondisi Ravi pa?" Tanya Miko kepada Sean.
"Yah begitu lah Miko,seperti yang papa jelaskan tadi." Jawab Sean sembari menghelai nafas berat.
"Yasudah lah pa, lagian kan ini hanya sementara pa, nanti juga Ravi bakal sembuh. Tinggal menunggu waktu saja." Ravi mencoba menguatkan semua nya.
"Iya nak, semoga secepatnya waktu itu datang ya." Jawab Sean.
"Amin amin." Jawab mereka serentak.
Ravi yang akhirnya bisa menerima kondisi nya hanya diam saja di atas ranjang rumah sakit.
"Kak itu anak siapa?" Tanya Ravi saat melihat Amora menggendong baby syyaid.
"Lho ini keponakan kamu Ravi, sekarang kamu sudah jadi paman." Jelas Miko.
"Benarkah, wahh selamat kak Miko dan kak Amora. Ravi benar-benar tidak bisa mengingat nya." Jelas Ravi sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa paman Ravi, namaku baby syyaid semoga paman lekas pulih ya biar kita bisa main bareng." Jawab Miko menirukan suara bayi.
"Pasti sayang, tunggu paman tampan mu ini bisa jalan ya, biar kita bisa main dan jalan-jalan." Ujar Ravi sambil tersenyum.
"Yaudah mama mandi dulu ya, dari tadi udah gerah belum mandi." Ujar sovi.
"Ohh iya ma, biar gantian kami yang jaga Ravi. Mama, papa dan Ayu mandi saja setelah nya sarapan. Kami sudah bawa baju ganti dan sarapan untuk semua." Jawab Amora.
Akhirnya mereka pun bergantian mandi lalu sarapan. Sementara sembari menunggu sovi selesai mandi ayu menyuapi Ravi sarapan. Karena memang ini sudah waktunya sarapan.
Ayu begitu tekun dan telaten menyuapi bubur tersebut kepada Ravi. Sehingga Ravi bisa merasakan ada nya kasih sayang yang besar di setiap suapan Ayu.
Sembari melihat wajah manis Ayu tanpa terasa semangkok bubur pun ludes di habiskan oleh Ravi.
"Hehehe iya ma, mungkin karna baru selesai operasi kali." Jawab Ravi.
"Yasudah yu, mandi dulu gih. Abis itu kita sarapan bersama." Titah sovi.
"Baik bu." Jawab ayu menurut.
Ayu pun mandi sementara Ravi yang baru saja di beri obat akhirnya tertidur lagi.
Setelah Ayu selesai mandi dia pun sarapan dengan sovi. Walaupun kedua nya masih sama-sama janggal namun mereka mencoba bersikap biasa saja sebagai mana biasa nya mereka. Sean pun mandi, sementara Miko tetap bekerja dari rumah sakit, Amora menyusui baby syyaid sembari duduk di sofa ruang keluarga ruangan Ravi.
.
.
.
Beberapa menit kemudian Kanaya pun sampai di parkiran rumah sakit. Hati Kanaya memang kuat banget walaupun di sudah di permalukan kemaren, harga dirinya sudah di injak-injak namun dia tetap percaya diri dan datang menjenguk Ravi.
Dia tetap konsisten dan masih berharap bisa menikah dengan Ravi. Apalagi saat dia mendengar kan dari sovi tadi kalau Ravi mengalami amnesia dan kemungkinan kehilangan sebagian ingatan nya, itu artinya Kanaya kembali mendapatkan masa depan nya. Karena kemungkinan besar Ravi tidak aka mengingat semua kejadian masa lalu mereka.
Setelah melapor ke resepsionis Kanaya pun segera naik ke lantai atas menuju ruangan Ravi.
"Assalamualaikum," ucap kanaya sembari membuka pintu ruangan Ravi.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka yang ada di ruangan itu bersamaan.
"Ini Tante, Kanaya bawakan buah." Ucap Kanaya sembari memberikan parsel buah yang dia bawakan.
Kanaya memang perempuan muka tembok, jadi walaupun dia sudah di permalukan kemaren dia bisa santai seakan tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Wahh tidak perlu repot-repot nak Kanaya." Ucap sovi yang sebenarnya masih merasa sungkan kepada Kanaya.
"Ahh ga repot kok Tan." Jawab Kanaya tersenyum.
Ayu hanya diam saja melihat Kanaya datang, Ayu masih merasa canggung kepada Kanaya. Berbalik dengan Ayu Kanaya malah memandang sinis Ayu. Seakan-akan dia ingin bilang bahwa dia lah yang akan jadi pemenang nya.
Saat Kanaya melihat Ravi yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Sepertinya kita memang jodoh Ravi sayang, tidak suatu kebetulan kamu kecelakaan dan amnesia, semoga saja kau lupa soal masa lalu ku, dan akan ku pastikan dalam waktu dekat ini kau akan menikah dengan ku sebelum ingatan mu kembali." Batin Kanaya yang langsung merencanakan rencana licik di otak nya.
"Kanaya Tante dan keluarga minta maaf ya nak soal kejadian kemaren. Kami benar-benar merasa sangat bersalah." Ucap Sovi dengan tulus kepada Kanaya.
"Ahh lupakan lah Tan, kita kan bisa memperbaiki nya kedepannya, lagian Kanaya juga tidak terlalu ambil pusing kok masalah itu." Jawab Kanaya sambil tersenyum.
"Kanaya kamu memang perempuan yang baik nak." Ucap Sovi.
"Sialan nih si Tante, udah coba di lupain masih aja di ungkit-ungkit. Dia mau mempermalukan aku ya, tunggu saja akan ku buktikan nanti semua akan berbalik Ravi yang akan memohon untuk menikah dengan ku." Batin Kanaya kesal.
"Lalu Bagaimana kondisi kak Ravi Tan?" Tanya Kanaya yang duduk di sebelah sovi.
"Yahh seperti yang Tante jelaskan di telepon tadi Kanaya, Ravi mengalami amnesia dan...." Sovi tidak melanjutkan kata-katanya lagi, karena tadi sovi hanya bilang kalau Ravi amnesia dan masih mengingat Kanaya pacar nya dan meminta Kanaya untuk segera ke rumah sakit karena Ravi mencari dirinya.
"Dan apa Tan?" Tanya Kanaya penasaran.
"Dan sekarang Ravi lumpuh Kanaya, dia tidak bisa berjalan lagi." Jelas Sovi dengan suara berat.
"What..." Kanaya hanya melotot, dan menatap sovi.
"Tante harap kamu bisa selalu mendampingi Ravi ya Kanaya, di masa-masa sulit nya seperti sekarang." Pinta sovi lagi.
"Hehehe pasti Tan, Kanaya pasti akan selalu ada di sebelah Ravi kok." Jelas kanaya tersenyum paksa.
"Apa... Ravi lumpuh, masa pacar dan calon suami ku pria lumpuh. Iya walaupun dia anak orang kaya tapi kan bakal jadi beban. Aku yakin mama dan papa ga akan setuju. Aku masih cantik dan bisa dapat pria yang lebih baik dari dia." Batin Kanaya yang ingin merubah haluan.
"Terimakasih nak Kanaya, kamu memang calon menantu idaman Tante." Sovi mengelus rambut Kanaya.
"Heheheh Tante bisa saja." Jawab Kanaya yang sudah merasa tidak nyaman.
"Aduh Tan, Kanaya baru ingat ada urusan ternyata, Kanaya permisi dulu ya, nanti kalau kak Ravi bangun Kanaya ke sini lagi. Sebentar saja." Ucap Kanaya yang Langsung berdiri dari duduk nya.
"Tapi Kanaya, Ravi mencari kamu sayang, lagian tadi bukan nya kamu bilang kalau kamu tidak ada agenda ya hari ini?" Tanya sovi kepada Kanaya.
"Ehh iya Tan, Kanaya lupa ada urusan penting, sebentar doang kok Tan nanti Kanaya ke sini lagi ya, om, kak Miko mbak Amora." Ucap Kanaya sambil mencoba pamit.
"Yasudah kamu hati-hati di jalan ya, nanti kalau urusan nya sudah kelar ke sini lagi ya nak." Pinta sovi.
"Siap Tan, Kanaya pamit dulu ya." Pamit Kanaya yang segera keluar dari ruangan Ravi.
"Idih, ogah ngurusin pria lumpuh mana dia udah tau masa lalu ku, udah mempermalukan aku kemaren bagus cari pria lain." Batin Kanaya yang langsung berjalan meninggalkan rumah sakit itu.
"Apa katanya tadi balik lagi ke sini, malas banget Daripada cari muka,bagus aku shopping." Ucap nya sambil masuk ke mobil nya dan melajukan mobil nya ke mall terdekat.
.
.
.
Sementara di ruangan Ravi Sean hanya tersenyum mengamati semua nya.
"Kenapa papa senyum-senyum begitu?" Tanya sovi yang merasa heran.
"Tidak apa-apa ma, papa hanya merasa bersyukur saja Kanaya tidak jadi menantu kita." Jelas Sean.
"Lho pa, kok bicara seperti itu sih?" Tanya sovi yang masih naif.
"Sepertinya mama orang yang paling pintar menilai orang lain deh, sepertinya mama boleh lah menilai Kanaya." Ujar Sean.
__ADS_1
"Maksud papa apa sih, mama tidak mengerti." Tanya sovi yang masih naif.
"Sudah lah nanti lambat Laun mama juga akan mengerti kok, intinya pasti selalu ada hikmah di balik musibah." Jawab Sean lagi.