Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Jalan-jalan bersama Ayu


__ADS_3

Sepulang nya Amora, Ayu dan Sovi dari pemakaman Ana Amora masih terlihat sedih. Ayu dan sovi pun mencoba menghibur Amora.


Karena sovi mengingatkan bahwa Amora tidak boleh sedih karena bisa berpengaruh kepada kandungan Amora. Akhirnya Amora pun mendengar kan saran ibu mertua nya itu.


Karena sekarang sudah sore Amora, sovi dan Ayu pun akhirnya masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan sholat.


Setelah selesai mandi Amora pun menunggu kedatangan suaminya di sofa ruang tamu. Dan setelah Miko pulang Miko langsung memeluk istrinya itu untuk menenangkan nya karena Miko sudah tau tentang kejadian Ana dan istrinya itu terlihat sedih dan lesu. Miko mengajak Amora ke kamar untuk mandi dan agar Amora beristirahat.


Sementara Ravi yang juga pulang bersama Miko juga ikut masuk ke kamar nya untuk mandi. Setelah Ravi selesai mandi dia menghampiri Sovi dan Ayu yang sedang memasak makan malam untuk keluarga di dapur.


"Masak apa ma?" Ravi menghampiri Sovi yang sepertinya sudah selesai memasak.


Sedangkan Ayu yang sedang mencuci piring-piring dan peralatan lain yang mereka gunakan untuk masak juga sedikit kaget dengan kehadiran Ravi.


"Nihh masak ayam sama ikan, tumben ke dapur." Jawab Sovi sambil memperlihatkan masakannya.


"Itu Ravi mau nanya, mama kapan belanja bulanan?" Tanya Ravi.


"Kenapa nak, jadwal nya baru lusa." Ujar Sovi lagi.


"Deodoran dan beberapa peralatan mandi Ravi habis ma." Jawab Ravi.


"Hmmm, tapi jadwal belanja mama masih lusa nak, kalau pun mama belanja sekarang udah malam." Jawab Sovi.


"Yasudah lah ma kalau begitu biar Ravi aja yang beli sendiri, lagian tidak mungkin besok Ravi ke kantor tidak pakai deodoran." Ujar Ravi.


"Serius? Memang nya kamu tau beli nya nak?" Tanya sovi yang kaget mendengar kata-kata anak nya.


"Kalau di temanin Ayu boleh tidak ma? Soalnya Ravi tidak pernah belanja sendiri." Tanya Ravi yang memang sudah merencanakan ini sewaktu mandi tadi.


"Hah.."hanya itu yang terucap dari Ayu.


"Bersama Ayu?" Sovi mengulang kata-kata Ravi.


"Iya ma, ayu kan ngerti belanjaan begituan." Jawab Ravi.


"Ayu mau menemani Ravi belanja?" Kini sovi menatap Ayu.


"Ahh anu boleh Bu." Ayu yang tidak enak menolak permintaan sovi akhirnya menyetujui nya.


"Yes..., Ternyata otak ku jenius juga." Batin Ravi merasa bahagia.


Bagaimana tidak sebenarnya peralatan mandi dan deodoran nya belom habis. Tapi demi bisa berduaan bersama ayu dia sampai membuang sampo dan sabun mandi nya ke wastafel kamar mandi nya.


"Yaudah Ayu siap-siap sebentar ya kak, Bu." Pamit Ayu.


"Ehh kalian tidak mau makan malam dulu?" Tanya sovi.

__ADS_1


"Tidak perlu ma, nanti Ravi dan Ayu makan malam di luar saja." Ravi Langsung segera menjawab nya.


"Hmm yaudah terserah kalian saja." Sovi yang tidak menaruh curiga pun akhirnya menyetujui kata-kata Ravi.


Beberapa menit kemudian Ayu pun keluar dari kamar nya. Dan lagi dan lagi Ravi terpesona melihat kecantikan Ayu. Padahal ayu hanya memoles wajah nya tipis dengan make up.


"Ayu kamu natural aja cantik banget sayang, apalagi kalau dandan begini aura kecantikan kamu terpancar." Sovi juga ikut terpesona melihat kecantikan Ayu.


"Hehehe ibu bisa saja." Ayu hanya cengengesan tak lupa pipinya bersemu merah.


"Yasudah kalian berangkat gih, nanti kemalaman." Titah sovi.


Akhirnya Mereka pun berpamitan kepada sovi lalu segera berangkat ke supermarket terdekat.


"Kak kita mau belanja kemana?" Tanya Ayu memulai obrolan di antara mereka berdua.


"Nanti saja yu, kakak mau ajak kamu keling-keliling dulu. Kamu harus mempertanggung jawabkan ciuman tadi pagi." Jawab Ravi yang masih fokus menyetir mobil.


"Lho kak, itu bukan salah ayu, bahkan menurut Ayu itu salah kakak. Ngapain tiba-tiba kakak berdiri di belakang Ayu, iya ayu kan kepingin nengok kakak, terus tiba-tiba wajah kakak ada di sebelah ayu. Ya jadi nya terjadi lah ciuman itu." Protes Ayu.


"Yang mencium siap?" Tanya Ravi lagi.


"Ya ayu sih, tapi kan..."


"Berarti Ayu yang mencari kesempatan dalam kesempitan." Ravi memotong kata-kata Ayu.


"Emang nya ga mau ya cium pipi kakak?" Tiba-tiba Ravi menatap Ayu dalam.


"Apaan sih kak." Ayu spontan memalingkan wajahnya karena merasa grogi.


"Ayu keberatan, soal masalah tadi pagi?" Ravi kembali bertanya.


"Bukan begitu kak, tapi kan.."


"Ohh jadi Ayu tidak keberatan sama ciuman tadi, kakak juga tidak keberatan kok malahan kakak bawa Ayu keluar rumah karena pipi kanan kakak cemburu soalnya yang dapat ciuman dari ayu cuman pipi kiri." Ujar Ravi yang entah dapat ide dari mana menggombal Ayu.


"Ihh kakak." Pipi Ayu tiba-tiba memerah.


"Ayu mau tidak kita duduk di taman dulu, atau mau langsung makan malam?" Tanya Ravi saat mereka melewati satu taman di pinggiran jalan raya.


"Singgah ke taman saja dulu kak, Ayu juga belum terlalu lapar." Jawab Ayu yang langsung bersemangat.


"Yasudah, itu juga boleh." Jawab Ravi yang segera memarkirkan mobil nya di parkiran taman.


"Yu mau ice cream tidak?"tanya Ravi saat mereka berdua sudah keluar dari mobil.


"Mau kak." Jawab ayu yang langsung tersenyum sumringah.

__ADS_1


Ravi pun membeli dua ice cream dan beberapa tusuk telur gulung di tempat jualan yang ada di sekitar taman. Karena ini hari biasa jadi taman itu terlihat lumayan sepi.


Setelah membelikan ice cream dan telur gulung mereka berdua pun duduk di kursi taman sambil menikmati angin malam.


"Yu kamu cantik banget malam ini, hati kakak jadi dag Dig dug melihat kamu." Ujar Ravi sambil menatap ayu yang sedang fokus menjilat ice cream nya.


"Apaan sih kak." Ayu lagi-lagi memalingkan waja nya sembari tersenyum malu-malu.


"Iya yu,kakak benar-benar terpesona melihat kamu yu." Jelas Ravi lagi.


"Kak, stop kak, jangan bikin Ayu baperan ah." Ayu mencoba menyadarkan Ravi.


"Siapa yang bikin baper yu? Ini kenyatan nya kok." Jawab Ravi lagi.


"Kak kalau di banding kak Kanaya ayu mah gaada apa-apa." Jelas ayu yang langsung menyadarkan Ravi tentang keberadaan Kanaya.


"Yu kalau kamu lagi sama kakak, kita bahas tentang kita saja, tidak perlu bahas orang lain." Titah Ravi.


"Tapi kan kak, kak Kanaya pacar nya kak Ravi. Bagaimana kalau dia tau pacarnya dekat sama cewek lain?" Tanya Ayu lagi.


"Yu terlepas dari semua hubungan kita. Pacaran itu proses mencari yang terbaik untuk di bawa ke masa depan. Jadi kalau seandainya kakak melihat kamu lebih baik dari Kanaya ga salah dong jika pada akhirnya kakak memilih kamu yang bakal jadi istriku dan ibu dari anak-anak ku." Jelas Ravi.


Ayu terdiam sejenak bagaimana rasanya nano-nano di hatinya mendengar kata-kata Ravi.


"Cup..." Tiba-tiba satu ciuman mendarat di pipi mulus Ayu.


"Kak." Ayi tidak melanjutkan kata-katanya, kini jantung nya benar-benar ingin copot rasanya.


"Maaf yu, kakak kelapasan,dari tadi


Kakak sudah menahan diri tetapi godaan dari pipimu terlalu besar sehingga kakak kalah." Jelas Ravi yang tiba-tiba merasa bersalah kepada Ayu.


Ayu hanya diam saja, dia juga tidak tau mau jawab apa.


"Tapi makin ke sini kakak makin nyaman sama kamu yu, bahkan sehari saja tidak melihat wajah kamu ada sesuatu perasaan aneh di hati kakak." Jelas Ravi.


"Ahh kakak bercanda saja." Jawab Ayu.


"Tidak yu, apa kakak jatuh cinta ya sama kamu yu. Tapi kakak mau memastikan perasaan dulu kali ya biar tidak ada yang tersakiti." Jawab Ravi.


"Kakak lagi bercanda ya?" Tanya ayu yang merasa terbang ke awan.


"Engga yu, kakak serius. Cuman kasih kakak waktu untuk memperjelas perasaan kakak ke ayu. Kakak tidak mau kalau sampai salah pilih." Ujar Ravi lagi.


"Iya kak." Hanya itu yang mampu di jawab oleh ayu sambil memalingkan wajah nya.


Ravi pun mulai membuka topik obrolan agar tidak canggung. Bahkan Mereka memesan makanan dari grab food dan makan malam di Taman. Setelah selesai makan malam mereka pun segera ke supermarket untuk belanja kebutuhan Ravi.

__ADS_1


__ADS_2