
"Amora besok pagi suruh Ayu Pindah ke sini ya." Titah sovi saat dirinya sudah sampai di rumah.
"Maksud nya ma?" Tanya Amora keheranan.
"Mama sudah menguji Ayu dan dia lulus tes." Jelas Sovi.
"Hah, iya ma." Jawab Amora menurut.
"Yasudah mama mandi dulu ya, ini sudah sore." Pamit sovi yang merasa sudah kegerahan.
"Iya ma." Jawab Amora yang tadinya duduk di sofa ruang tamu sekalian membaca majalah seputar ibu hamil.
Sovi pun masuk ke kamar nya.
.
.
.
Sementara di kantor Miko sedang bersiap untuk pulang, sedangkan Ravi masih harus menyelesaikan semua pekerjaan nya yang sudah menumpuk karena sedari pagi dia dia tidak bisa fokus karena berantam sama Kanaya. Di tambah lagi Kanaya tidak masuk jadi kerjaan nya tidak ada yang bisa membantu.
"Arghhhh... Kenapa malah jadi begini sih." Kini Ravi mengacak rambut nya frustasi.
"Tok...tok..tok..." Tiba pintu ruangan nya di ketuk dari luar.
"Masuk." Jawab Ravi.
"Kenapa wajah kamu kek kain kusut begitu?" Ledek Miko yang masuk ke dalam ruangan Ravi.
"Bukan urusan kakak." Jawab Ravi yang memang sedang malas berdebat.
"Terus mana tuh sekretaris pribadi kamu, maksud kakak pacar kamu?" Tanya Miko lagi saat dia duduk di sofa ruangan Ravi dan tidak melihat keberadaan Kanaya di sana.
"Dia tidak masuk." Jawab Ravi singkat sambil tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Dia sakit?" Tambah Miko.
"Dia ngambek." Jujur Ravi.
"Lah kenapa? Baru juga pacaran sudah main marahan aja." Jika kepo Miko langsung meronta-ronta.
"Karena tadi pagi lupa di jemput." Jawab Ravi jujur.
"Lah.."
"Kak, kenapa ya perempuan itu ribet bangat? di ajak pacaran banyak mau nya ga di pacarin takut hilang di tikung orang." Tanya Ravi yang menghentikan aktivitas nya dan menatap Miko dalam.
"Sebenarnya perempuan itu ga ribet Ravi, asal kamu tau aja apa hal yang dia mau dan tidak. Bahkan kadang kemauan dia hanya hal-hal sederhana kok tapi kita kaum Adam kadang tidak bisa menyadari dan mewujudkan nya." Jelas Miko.
"Terus sekarang aku harus bagaimana kak?"
__ADS_1
"Sudah lah Ravi, walaupun kamu tidak salah coba lah untuk meminta maaf kepada Kanaya. Setelah pulang kantor datang lah ke rumah nya bawa makanan kesukaan nya dan ajak dia ngobrol baik-baik. Dan mulai besok coba mulai mencari tau hal-hal yang dia suka dan tidak suka. Berdiskusi dengan nya dan ingat jangan bawa emosi kamu saat kalian sedang bertengkar. Kamu memang harus banyak-banyak belajar tentang sikap perempuan." Jelas Miko panjang lebar.
"Tapi kak,"
"Tidak ada tapi-tapian, ingat kamu harus mengalah jika memang tidak ingin kehilangan Kanaya." Potong Miko.
"Hmm iya iya kak." Jawab Ravi mengalah, dan setelah memilah kata-kata miko.
"Yasudah kalau begitu kakak suruh pak Paijo antar mobil ya buat kamu pulang, nanti kakak sama papa pulang bareng an." Jelas Miko.
"Iya kak." Jawab Ravi.
"Hmm lanjutin kerjaan kamu, ingat jangan pulang sebelum semua nya selesai. Kakak dan papa pulang duluan." Pamit Miko sambil menepuk pundak Ravi.
"Iya kak, hati-hati." Kata Ravi.
Akhirnya Miko pun keluar dari ruangan Ravi, dan turun ke lantai dasar karena papa nya sudah menunggu nya di sana untuk pulang bareng karena ini sudah sore.
Sementara Ravi jadi semangat mengerjakan semua pekerjaan nya dan ingin menemui Kanaya ke rumah nya.
.
.
.
Sedangkan Kanaya yang merasa bad mood akhirnya memilih melampiaskan kekesalannya ke bar red Apple tempat teman nya bekerja, setelah mandi dan bersiap-siap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 19:00 akhirnya kanaya pun berangkat ke bar tersebut.
Kevin adalah salah satu bartender di red Apple dan juga merupakan sahabat Amora. Pertemuan tidak sengaja antara Kanaya dan Kevin beberapa bulan lalu saat Kanaya baru pulang dari luar negeri dan tak sengaja duduk bersama Kevin di pesawat yang sama yang kebetulan waktu itu Kevin sedang liburan ke luar negeri.
Karena obrolan mereka langsung nyambung akhirnya mereka pun bertukaran nomor ponsel dan media sosial.
Dan sejak saat itu Kanaya sering datang ke red Apple untuk sekedar berbincang ringan dengan Kevin atau hanya sekedar melepas kepenatan nya.
Namun sampai saat ini Kanaya belum tau kalau kevin adalah sahabat Amora dan Amora pernah bekerja di red Apple.
"Hay nyonya cantik, tumben datang ke sini tidak ngabarin dulu." Tanya Kevin saat melihat Kanaya berjalan mendekati dirinya.
"Hahaha biar kejutan." Jawab Kanaya sambil duduk de depan bar.
"Kasihan banget sih cantik-cantik malah bad mood" goda Kevin saat melihat wajah Kanaya yang kembali Melesu.
"Biasalah Vin, masalah percintaan laki-laki emang ribet ya." Jawab Kanaya yang menatapi Kevin dengan tatapan kosong.
"Udah laki-laki mah ga usah terlalu di bawa pusing, mending Lo minum dulu Ada rasa baru nih naya, mau coba ga?" tanya Kevin yang memang sangat pandai mengkolaborasikan minuman.
"Hmm boleh deh," jawab Kanaya.
Selagi menunggu Kevin menyiapkan minuman untuk dirinya Kanya duduk sambil menatap orang-orang yang sedang ada di bar ini, ada yang sedang bercumbu, ada yang bermesraan dan ada yang sedang menari kegirangan setengah sadar.
Aku pun membuka ponsel nya berharap ada chat dari Ravi di sana, namun sepertinya khayalan Kanaya tidak akan nyata. Ravi sama sekali tidak menghubungi nya. Karena merasa kesal akhirnya Kanya menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisap nya Dia termenung dengan keadaan seperti ini. di tengah-tengah riuh nya suara musik.
__ADS_1
"special for you," ujar Kevin yang menyerahkan minum hasil mix and match an nya kepada Kanaya.
"Thank you baby," ucap kanaya langsung meneguk habis minum itu.
"wow amazing, enak banget Kevin" ucap Kanaya sambil menyesap sisa minuman yang masih tersisa di bibir nya.
"Apa kau mau lagi?" tanya Kevin yang merasa bahagia dapat pujian dari kanaya.
"Boleh deh Vin." jawab kanya yang nagih dengan racikan baru kevin itu.
"Ehh bentar-bentar kenapa kamu sangat mirip ya sama sahabat ku dan kata-kata nya pun hampir sama beberapa bulan lalu. Namun itu adalah kedatangan terkahir dia ke sini sebelum dia menemukan lelaki yang tepat untuk nya dan menuntun nya ke jalan yang lebih baik." Ucap Kevin yang langsung teringat kepada Amora.
"Hah sahabat?" Tanya kanya penasaran.
"Iya jadi dulu tuh aku punya sahabat sama persis seperti kamu kalau lagi gabut pasti main ke sini, dan entah kenapa kata-kata kau tadi persis banget sama kata-kata dia beberapa bulan lalu, namun sekarang dia sudah bahagia menjadi nyonya..."
"Bentar-bentar Vin ponselnya gue bunyi." Potong Kanaya saat ponselnya berbunyi dan terlihat di layar ada nama kesayangan nya Rai yang menelepon.
Seketika hati Kanaya langsung berbunga-bunga saat melihat nama Ravi di layar ponsel nya.
"Ehh nanti kita lanjut lagi cerita nya ya, doi gue nelpon nih." Ucap Kanaya yang langsung turun dari kursi sambil bersiap mau keluar dari bar itu. Karena dia tidak mau kalau sampai Ravi tau bahwa dia sekarang dirinya ada di bar.
"Okay." Jawab Kevin singkat.
Kanaya pun sedikit berlari ke luar bar karena takut panggilan akan segera berakhir.
"Hmm kenapa?" Tanya kanya sok cuek padahal dia senang hati banget dapat telepon dari Ravi.
"Kamu di mana? Aku di rumah kata Tante Mesya kamu tadi keluar." Tanya Ravi di seberang sana.
"Ngapain kamu ke rumah?" Tanya kanya sok cuek padahal hatinya bahagia sekali.
"Iya mau ketemu kamu lah, memang ga boleh aku ke rumah pacar aku?"
"Hmm yaudah tunggu sebentar, aku udah mau balik tadi cari angin ke luar sebentar bosan di rumah Mulu." Jawab Kanaya.
"Iya hati-hati di jalan." Ucap Ravi.
"Okay." Panggilan pun segera berakhir.
Kanaya langsung melompat kegirangan dan Langsung masuk ke dalam bar untuk mengambil tas nya.
"Vin gue balik duluan ya." Pamit Kanaya.
"Lah terus minuman lu yang ini bagai mana Maemunah?" Tanya Kevin yang memang sudah selesai membuat minuman kedua buat Kanaya.
"Udah kasih ke siapa aja, nih gue bayar kembali an nya ambil aja anggap tips buat lu." Ucap Kanaya sambil menyerahkan beberapa uang pecahan seratus ribuan di atas meja bar.
"Gue balik dulu ya." Pamit Kanaya sambil berlalu pergi.
"Hati-hati ya." Teriak Kevin.
__ADS_1
Kanya hanya membulat kan jarinya tanda okay.