
Karena Camilan kemaren bikin nagih sore ini sovi pun menyuruh Ayu untuk membuat camilan seperti kemaren sembari menunggu para pria-pria tampan di rumah itu pulang dari kantor.
Beberapa menit kemudian mereka pun pulang ke rumah, dan seperti biasa Ravi akan Langsung ke kamar nya, sedangkan Sean dan Miko menemui istri mereka untuk sekedar berpelukan melepas rindu.
Ayu juga pamit ke kamar nya untuk mandi dan sholat.
"Hmm mama jadi punya ide deh." Ucap Sovi saat mereka sedang duduk sambil menikmati sore hari yang ditemani teh dan camilan buatan Ayu.
"Ide apa ma?" Tanya Sean.
"Besok kan hari Sabtu, bagaimana kalau kita liburan ke puncak, ya hitung-hitung untuk mengurangi stress lah. Apalagi Amora dia kan lagi hamil jadi butuh banyak hiburan." Ucap Sovi.
"Tumben mama kepingin liburan." Sean menatap istrinya itu, takut-takut ada yang salah pada istrinya itu.
"Memang nya tidak boleh ya pa, mama merasa menikmati sore hari begini bersama keluarga ternyata menyenangkan. Lagian papa dan yang lain ga bosan apa kalau setiap hari hanya rumah dan kantor?" Kini sovi balik bertanya.
"Iya bosan sih ma." Jawab Sean dengan polosnya.
"Nahh bagaimana menurut kalian Miko dan Amora? Minggu sore kita balik deh." Kini sovi menatap Amora dan Miko untuk meminta pendapat mereka.
"Kalau Miko mah setuju-setuju saja ma, kalau kamu bagaimana sayang?" Tanya Miko kepada istrinya itu.
"Amora juga setuju ma, malahan Amora setuju sekali ma bisa jalan-jalan ke puncak jadi tidak jenuh kalau di rumah saja." Jawab Amora langsung excited.
"Nahh lihat tuh pa, anak dan menantu mu saja setuju dan langsung excited." Kata sovi kepada Sean.
"Lalu kamu bagaimana Ravi, mau ikut tidak?" Sean yang melihat Ravi mendekat langsung menanyainya.
"Mau ikut kemana pa?" Tanya Ravi yang berjalan menghampiri keluarga nya itu.
"Liburan ke puncak besok." Ujar Sovi.
"Ga ah, Ravi mau di rumah saja." Tolak Ravi.
"Memang nya mama mengizinkan, semua nya harus ikut tanpa terkecuali." Ucap Sovi lagi.
"Lah kok?"
"Tidak boleh membatah orang tua Ravi, sekalian bawa tuh pacar kamu." Perintah sovi.
__ADS_1
"Mau ngapain sih ma ke sana, mending di rumah istirahat kerjaan juga banyak." Jawab Ravi sambio menyomot gorengan yang ada di dalam piring.
"Ya mau liburan lah sayang, lihat tuh wajah kamu keriput sekali terlalu banyak beban hidup, sesekali refreshing dulu tuh otak." Tambah sovi.
"Yaudah serah mama saja deh, tapi kalau soal Kanaya Ravi ga bisa janji ya, soalnya Kanaya bisa aja banyak kegiatan." Akhirnya Ravi mengalah.
"Ummm gorengan ini di beli di mana? Kok rasanya enak." Tanya Ravi yang mengambil satu lagi gorengan dari piring itu.
"Itu di masak sama ayu dan kakak ipar mu Ravi." Jelas Miko.
"Wahh tidak ku sangka ternyata kak Amora bisa masak juga ya, rasanya khas begini."puji Ravi kepada Amora.
"Bukan aku yang masak Ravi, aku hanya bantu-bantu saja, itu yang masak ayu." Jelas Amora.
"Ohh bisa masak juga toh perempuan menyebalkan itu." Batin Ravi yang langsung terdiam.
"Yasudah ma, pa, Miko dan Amora ke kamar dulu ya sudah sore mau mandi dulu." Pamit Miko.
"Iya nak, mama dan papa juga mau ke kamar juga, papa mu juga udah bau asem nih." Jawab sovi.
Akhirnya Miko, Amora, sovi dan Sean pun ke kamar mereka masing-masing. Dan Ravi yang akhirnya di tinggal sendiri akhirnya memilih duduk taman belakang dekat kolam berenang sambil menikmati sore nya, karena dia sudah lebih dulu mandi daripada yang lain.
"Ehem.." dehem Ayu menyadarkan Ravi dan lamunannya.
"Kenapa?" Ketus Ravi saat melihat Ayu berjalan mendekati nya.
"Mau ambil piring kotor." Jawab ayu tanpa menoleh ke Ravi.
"Ohh." Jawab Ravi simpel.
"Kamu tidak mau minta maaf?" Tanya Ravi saat ayu menyatukan semua piring-piring agar lebih gampang untuk di bawa ke dapur.
Ayu menghentikan aktivitas nya lalu menatap Ravi "Minta maaf untuk apa?" Tanya nya.
"Ya untuk kesalahan kamu kemaren yang dorong saya."kata Ravi.
"Saya merasa saya tidak bersalah, jadi untuk apa saya minta maaf." Tolak ayu yang bersiap membawakan piring-piring itu ke dapur.
"Kamu orang nya suka ngeyel ya, ini rumah saya lho saya bisa minta kakak saya buat mecat kamu kapan pun saya mau. Kok tidak ada sopan-sopan nya sih." Ucap Ravi yang merasa kesal melihat sikap ayu.
__ADS_1
"Lalu saya harus ngapain pak Ravi? Harus berlutut begitu hah? Lagian saya merasa saya tidak salah dan ngapain saya minta maaf. Dan satu lagi kalau memang cuman karena masalah sepele seperti itu bapak mau pecat saya silahkan. Kek haus perminta maafan saja." Guman ayu yang akhirnya berjalan meninggalkan Ravi.
"Apaan sih kak Miko dan kak Amora, kok bisa-bisanya mempekerjakan wanita yang ga punya etika begitu. Apa lagi katanya tadi haus perminta maafan, wah sori-sori aja nih ya." Oceh Ravi yang merasa kesal melihat ayu.
"Dan dia merasa tidak salah katanya, dia sudah mendorong ku sampai jatuh ke lantai dan dia tidak merasa bersalah. Benar ya perempuan memang tidak pernah salah." Batin Ravi.
"Tring... tring..." tiba-tiba ponsel Ravi berbunyi, dia pun melihat layar ponsel yang terletak di atas meja dan di sana tertulis nama Kanaya.
"Assalamualaikum ada apa sayang?" tanya Ravi saat panggilan video mereka sudah tersambung.
"Waalaikumsalam, kamu lagi di mana? lagi santai ya?" tanya Kanaya yang juga baru saja selesai mandi.
"Iya nih, baru saja selesai mandi." jawab Ravi.
"Sayang entar malam sibuk tak?" tanya Kanaya sambil mengeringkan rambut nya.
"Engga sih, kenapa memang nya?" tanya Ravi.
"Boleh temenin aku beli kado ulang tahun untuk mama ga? Minggu mama ulang tahun." pinta Kanaya.
"Boleh sayang boleh mau beli kado kemana?" tanya Ravi lagi.
"Beli berlian saja sayang, kita ke mall AC saja, di sana ada toko langganan mama ku." ujar Kanaya.
"Okay sayang, yaudah aku ganti baju dulu ya sebentar lagi aku otw ke rumah kamu. sekalian kita makan di luar saja ya sesekali dinner bareng pacar." sambung Ravi lagi.
"Sip, ahh kalau begini makin sayang deh sama kamu." Kanaya tersenyum manis kepada Ravi.
"Yasudah kamu juga siap-siap gih." titah Ravi.
"Okay luv, aku matiin telepon nya ya, assalamualaikum." pamit Kanaya.
"Waalaikumsalam sayang", jawab Ravi yang juga mengakhiri panggilan video mereka.
"Ravi pun Langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar nya untuk bersiap-siap untuk menjemput Kanaya.
Tanpa Ravi sadari sedari tadi Ayu menguping pembicaraan nya dengan kanaya.
"Ternyata bisa lembut juga itu di pria tempramental kalau udah ngomong sama pacar nya, pantas saja ya di bilang laki-laki akan menurut kalau sudah bucin." batin Ayu sambil melanjutkan cuci piring nya.
__ADS_1