
"Aku harus senang apa sedih ya? Satu sisi aku sedih karena tidak bisa melihat wajah Miko lagi setiap pagi nya, tapi di sisi lain aku juga bahagia karena aku dan Miko jaga jarak dan peluang untuk melakukan dosa pun jadi lebih keci." Batin Amora saat dirinya sudah ada di dalam mobil menuju apartemen nya.
"Nona Amora, apa nona merasa bersedih berpisah dengan tuan Miko?" Tanya Lela yang merasa ada aura kesedihan di wajah Amora.
"Hehehe enggak kok mbak," Amora menutupi kesedihannya dengan cengengesan.
"Oh iya pak kita singgah ke supermarket sebentar ya, ada beberapa barang yang saya butuh kan." Titah Amora pada sang supir.
"Baik nona."
Mobil pun berhenti di depan salah satu supermarket yang tidak jauh dari apartemen Amora, Amora dan Lela pun keluar dari mobil dan segera berbelanja kebutuhan mereka nanti nya di apartemen.
Setelah semuanya selesai, para bodyguard nya Miko pun membawakan semua Belanja an Amora dan Lela ke dalam mobil dan mobil pun melaju kembali.
Beberapa menit berlalu, dan kini mobil sudah sampai di depan apartemen. Semua nya keluar dari mobil dan segera membantu Amora dan Lela untuk berkemas.
"Ahhh kembali lagi ke tempat ini, tempat dengan sejuta kenangan." Batin Amora saat pintu apartemen terbuka.
"Sudah lah Amora, hanya untuk sementara kok. Bukan kah lebih tenang jika tinggal di apartemen sendiri?" Kini dia menguatkan dirinya sendiri.
"Oh iya mbak Lela, kamar nya mbak di sini ya." Ucap Amora menunjuk kamar di lantai bawah. Dan Amora pun mulai menjelaskan semuanya kepada Lela. Setelah nya dia naik ke lantai dua dan membuka kamar nya. Kamar yang masih sama, sprei, bantal, dan semuanya masih sama. Ranjang dan kamar itu masih berantakan seperti saat terakhir kali Arya memaksa nya melakukan hubungan suami istri terakhir kali nya.
"Dulu semuanya terasa biasa saja, tapi kenapa sekarang sakit sekali ya. Saat mengingat bagaimana murahan nya aku dulu bahkan sekarang juga masih sama. Tapi kenapa aku tidak bisa keluar dari belenggu dosa ini, mau sampai kapan aku akan terus jalan di tempat." Batin nya sambil menangis.
"Amora,sejak kapan kamu jadi wanita lemah hah? Kamu wanita kuat dan semua nya akan dapat kamu laluin. Jangan cengeng ah hapus air mata kamu." Kini dia tersenyum dan menguatkan dirinya sendiri.
Amora pun memanggil bodyguard nya Miko dan menyuruh mereka membawa serta membakar sprei serta bantal dan selimut milik Amora itu. Setelah nya dia mengganti semuanya menjadi yang baru.
Beberapa jam berlalu, proses beres-beres apartemen pun selesai dan sekarang sudah siang. Lela bahkan sudah memasakkan makan siang untuk mereka.
Amora pun mengajak para bodyguard nya Miko untuk makan siang bersama mereka, bahkan mereka semua makan di meja yang sama. Awalnya mereka menolak karena merasa tidak pantas makan satu meja dengan calon istri bos nya. Namun Amora tetap memaksa dan akhirnya mereka juga ikut makan.
Setelah selesai makan para bodyguard pun pamit kepada Amora dan Lela, sedang kan Amora naik ke kamar nya karena dia mengantuk dan ingin tidur siang. Dan Lela membersihkan meja makan dan apartemen itu.
.
.
.
Sementara di kantor Miko baru saja mendapatkan informasi dari para bodyguard nya tentang semua yang terjadi di apartemen Amora. Miko merasa bangga dengan pacar nya itu karena Amora begitu baik bahkan mau makan satu meja dengan semua bodyguard nya Miko.
Tidak hanya itu Miko juga merasa senang, karena Amora ingin menghapus semua kenangan masa lalu nya dengan menyuruh bodyguard nya membakar semua barang-barang lama nya.
"Maafkan aku sayang, untuk sementara waktu kita berjauhan dulu ya. Tapi mas janji secepatnya kita akan tinggal di atap yang sama dan sudah dalam satu ikatan pernikahan." Batin Miko yang duduk di kursi kebesaran nya.
"Kak..." Tiba-tiba Ravi menyelonong masuk ke ruangan Miko.
"Hmmmm."
"Kata orang suruhan ku mama sudah sampai di bandara lho."
__ADS_1
"Biarkan saja, suruh mereka tetap mengawasi mama ya, tanpa membuat mama curiga. Dan ingat kita harus berlagak biasa seakan tidak tau kalau mama pulang ke sini. Dan sesampainya di rumah mari kita ikut kaget dengan kejutan kecil mama." Titah Miko.
"Iya kak."
"Yasudah lanjut kan kerjaan kamu sana."
"Iya kak." Ravi pun pamit keluar dan segera menuju ruangan nya kembali.
Mereka berdua pun kembali bergelut dengan pekerjaan mereka dan setelah beberapa jam berlalu dan kini sudah sore Miko dan Ravi pun kembali ke rumah mereka.
Sesampainya di depan rumah mereka keluar dari dalam mobil dan berlagak seakan semuanya biasa saja.
"Ravi, Miko mama merindukan kalian sayang." Teriak Sovi di depan pintu saat kedua putranya sudah turun dari mobil.
"Lho mama?" Jawab mereka serentak seakan mereka kaget akan kehadiran Sovi.
"Kejutan."
"Ma kok bisa di sini sih? Kenapa tidak mengabari Ravi atau Miko dulu. Kan kami bisa menjemput mama ke Bandara." Ucap Miko sambil menyalim mama nya itu.
"Namanya kejutan mik." Jawab sang mama.
"Ma.." kini saliman di lanjutkan oleh Ravi.
"Ini nih anak nakal, lebih cinta sama kerjaan nya daripada sama mama dan papanya. Sampai-sampai harus orang tua nya yang menjenguk dia." Ucap Sovi yang menjewer telinga Ravi.
"Aww, ma sakit.." ringis Ravi karena merasa panas pada telinga nya.
"Maaf ma, tapi kan ini semua salah nya kak Miko." Protes Ravi saat Sovi sudah melpesakan jeweran nya dari telinga Ravi.
"Lho kok jadi salah kakak?"
"Iya iya lah, kalau kakak tidak memberikan aku pekerjaan yang banyak bahkan aku harus bekerja siang malam dan menguras jam tidur dan libur ku. Aku pasti akan sering mengunjungi mama dan papa." Adu Ravi.
"Ohh jadi ini biang kerok nya." Ucap Sovi yang sekarang menjewer telinga Miko.
"Aw..aw ma sakit, enak aja Miko tidak pernah memaksa Ravi bekerja keras dia nya saja yang memaksa kan diri ingin bekerja dan terus bekerja." Protes Miko.
"Pokoknya kalian berdua sama-sama anak nakal dan mama kesal kepada kalian." Ucap Sovi sok ngambek.
"Uluh mama sayang." Ucap mereka serentak sambil memeluk Sovi.
"Ihh sana mandi, kalian berdua bau keringat." Titah Sovi yang menutup hidung nya.
"Hehehe, siap ibu negara."
Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar masing-masing untuk mandi, karena memang sekarang sudah sore. Sementara Sovi mempersiapkan makan malam untuk nya dan kedua putra kesayangannya.
Begitu lah Sovi, tidak perduli kini kedua putra nya sudah dewasa di matanya kedua putranya masih saja tetap bayi kecil nya yang akan dia hukum jika mereka salah.
Setelah Ravi dan Miko selesai mandi mereka berdua pun turun ke bawah dan makan malam bersama Sovi. Mereka sangat bersemangat menuruni anak tangga karena sudah bisa di pastikan Sovi akan memasak makanan kesukaan mereka.
__ADS_1
"Ahh sudah lama ga makan masakan mama, memang ya masakan nya mama itu adalah masakan Ter enak di dunia dan tidak akan pernah ada duanya." Ucap Ravi saat suapan pertama masuk ke mulutnya.
"Makanya kamu sering-sering mengunjungi mama dan papa biar sering-sering makan masakan mama.hmm tapi nanti akan ada masakan yang mengalahkan masakan mama lho Ravi, Miko." Ucap Sovi sambil mengunyah makan malam nya.
"Masakan siapa ma?" Tanya mereka berdua bersamaan.
"Masakan istri kalian."
"Uhuk...uhuk...." Kedua nya langsung tersedak karena mereka benar-benar kaget mendengar kata-kata istri.
"Kenapa kalian jadi batuk? Bukan kah kata-kata mama benar? Hmm segera selesai kan makan malam nya. Ada beberapa hal yang ingin mama bicarakan dengan kalian berdua." Titah Sovi.
"Iya ma, mana kami tau kan kami belum punya istri." Jawab mereka lesu.
"tidak usah banyak protes."
dan mereka bertiga pun makan malam dengan keadaan tertekan, sungguh mereka merasa hal yang akan di bicarakan oleh mama nya adalah hal yang cukup berat.
"Mama mau ngobrolin apa sih ma?" tanya Miko saat makan malam mereka sudah selesai.
"iya nih." timpal Ravi.
"Miko jawab yang jujur, siapa wanita yang kamu bawa ke opening hotel Elsa?" tanya sovi langsung to the point.
"kan sudah Miko jelas kan kemarin ma, dia hanya wanita sewaan Miko."
"benar begitu Ravi,?"
"eh iya ma." jawab Ravi gugup.
"kenapa kamu gugup begitu Ravi? ingat ya berbohong kepada orang tua adalah dosa besar. jangan karena ancaman kakak kamu jadi berbohong kepada mama." ancam Sovi.
"Mama kenapa sih? ngapain juga Ravi dan Miko bohong sama mama, sudah lah ma untuk apa sih mempermasalahkan wanita sewaan?" potong Miko cepat karena takut si Ravi goyah.
"Yasudah besok mama ingin bertemu dengan wanita itu." ucap sovi.
"hah?"
"hah, hoh, heh, kenapa? kalian berdua kaget begitu? takut?"
"tapi ma.."
"tidak ada tapi-tapian, harusnya kalian berdua tidak perlu takut kalau dia memang hanya wanita sewaan."
"ya bukan takut sih ma,hanya saja...." Miko tidak melanjutkan kata-katanya.
"hanya saja apa? yasudah ya mama mau menelepon sayang nya mama dulu mau mengabari kalau mama sudah sampai dengan selamat di sini." ucap Sovi yang pergi meninggalkan kedua putranya.
"kak bagaimana ini?" tanya Ravi yang ketakutan.
"Sudah kamu tenang saja, biar kakak yang atur semua nya, kamu hanya perlu tutup mulut." ucap Miko menenangkan Ravi padahal sebenarnya dia juga bingung harus melakukan apa.
__ADS_1