
Setelah Miko sudah selesai mandi Amora langsung mengajak Miko untuk menjemput Ayu. Karena dia tidak sabar untuk mengajak ayu tinggal bersama karena dengan begitu dia akan punya teman di rumah saat seisi rumah keluar rumah dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
"Mas kita jemput ayu malam ini saja ya, mama sudah setuju lagian tadi aku sudah mengabari ayu bahwa dia bekerja di sini dan menyuruh nya mengemas barang-barang nya." Ucap Amora.
"Terserah kamu saja sayang." Jawab miko yang memang tidak bisa menolak keinginan bumil nya itu.
Setelah berpamitan kepada sovi dan Sean akhirnya Miko dan Amora pun berangkat ke apartemen milik Amora untuk menjemput Ayu. Entah kenapa Amora merasa sangat nyambung dengan ayu bahkan sejak pertama mereka bertemu.
Beberapa menit berlalu dan mereka pun sudah sampai di apartemen milik Amora. Setelah berbasa basi dengan Ayu akhirnya mereka pun pulang ke rumah keluarga Wijaya grup.
Di perjalanan ayu banyak diam, dia lebih memilih menjadi pendengar dan sesekali tersenyum.
Sesampainya di rumah keluarga Wijaya pak Paijo pun membantu membawakan barang-barang milik ayu ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucap Ayu saat ikut masuk ke dalam rumah yang menurutnya besar dan megah itu.
"Waalaikumsalam." Jawab sang penghuni rumah.
Ayu pun Langsung bersalim kepada sovi dan Sean sambil memperkenalkan nama nya. Lalu berdiri dan sedikit menunduk.
"Duduk saja di sini nak ayu." Ucap Sean sambil menunjuk sofa ruang tamu.
"Baik tuan." Jawab ayu yang merasa canggung.
"Santai saja ayu, tidak perlu sungkan begitu anggap kami ini keluarga mu mulai sekarang ya." Tambah sovi.
"Baik nyonya." Jawab Ayu.
Sovi pun mulai menanyai beberapa hal tentang latar belakang Ayu sekedar menghilangkan canggung di diri ayu. Lambat Laun ayu akhirnya bisa berbaur dengan suasana di rumah itu.
"Okay ayu, pekerjaan mu cukup mudah kamu hanya perlu menjadi asisten Amora. Membantu semua kebutuhan Amora dan menemani dia apalagi saat dia hamil begini jangan sampai kelelahan." Jelas sovi ke inti pekerjaan ayu.
"Baik nyonya." Jawab ayu mengangguk.
"Panggil ibu saja, dan suami saya panggil saja pak tidak perlu panggil tuan." Pinta sovi.
"Baik bu,"ulang Ayu.
"Kamu tidak perlu sungkan-sungkan di rumah ini ya." Tambah Sean.
"Baik pak."
"Yasudah kamar kamu ada di sana ya, sebelah kamar kamu itu kamar anak bungsu saya, namanya Ravi tapi sepertinya dia masih sibuk di kantor makanya belum pulang sampai jam segini." Jelas sovi menunjuk kamar kosong di seberang kamar milik Ravi.
"Baik bu." Jawab Ayu lagi.
"Yasudah kalau begitu kita makan malam yuk, papa sudah lapar nih." Ajak Sean kepada semuanya.
"Ayu permisi ke kamar dulu ya pak, buk kebetulan tadi ayu sudah makan malam di apartemen jadi ayu mau sholat sekaligus membereskan barang-barang ayu dulu." Pamit ayu.
"Ohh iya iya nak Ayu silahkan." Ucap Sean.
Akhirnya Ayu pun masuk ke kamar nya sementara keluarga Wijaya grup ke meja makan untuk makan malam bersama.
"Wahh benarkah ini kamar ku? Ranjang nya empuk sekali." Batin Ayu yang langsung rebahan di ranjang milik nya.
Memang sebenarnya kamar milik ayu ini adalah kamar tamu, namun karena tidak ada lagi kamar kosong di rumah ini akhirnya untuk sementara waktu ayu tidur di kamar tamu.
__ADS_1
"Wahh gila, kamar mandi nya juga di dalam kamar. Ini beneran kamar aku toh? Sudah ada lemari besar nya juga." Ayu berkeliling kamar sambil merasa takjub.
"Ada AC nya juga, ini mah aku kek orang kaya punya kamar se mewah dan sebesar Ini. Ini aku tidak sedang bermimpi kan, atau ibu sovi salah kasih kamar?" Tanya nya pada dirinya sendiri.
"Ahh bersyukur saja deh." Batin nya lagi yang akhirnya berwudhu lalu sholat.
Setelah selesai sholat Ayu pun mulai merapikan semua pakaian nya ke dalam lemari lalu bersiap-siap untuk tidur.
Beberapa jam berlalu, semua penghuni rumah sudah pada masuk ke kamar masing-masing dan bersiap untuk beristirahat.
Ayu yang sedari tadi sudah tidur tiba-tiba merasa tenggorokan nya kering. Dia pun bangun dari tidur nya dan segera menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.
"Tumben lampu kamar tamu menyala, apa rumah ini kedatangan tamu?" Batin Ravi yang baru saja pulang dan berdiri di depan pintu kamar tamu.
"Cklek.." tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka.
Memperlihatkan ayu yang tidak sadar akan kehadiran Ravi di depan pintu kamar nya.
"Huaaaa hantu." Teriak Ayu saat matanya bertemu dengan mata Ravi.
"Huaaa dimana ada hantu?" Refleks Ravi juga ikut teriak dan masuk ke dalam kamar Ayu.
"Bruk..." Ayu yang refleks mendorong Ravi yang seakan ingin mendekati nya sehingga Ravi terjatuh ke lantai kamar nya.
"Ka..kamu siapa? Ngapain berdiri di depan kamar saya? Ohh kamu mau ngintip saya tidur ya? Dasar laki-laki mesum." Cerca ayu sambil menatap Ravi tajam.
"Kamu yang siapa? Enak saja bilang saya mesum Ngapain tiba-tiba ada di rumah saya? Dan ngapain kamu dorong saya hah?" Tanya Ravi yang masih terduduk di lantai.
"Rumah saya? Apa ini pak Ravi putra bungsu nya Bu sovi ya."batin Ayu.
"Saya pemilik rumah, dan ingat satu hal ya saya bukan mesum apalagi sampai ngintip kamu tidur maaf selera saya bukan kamu." Jawab Ravi yang berdiri lalu pergi meninggalkan Ayu sendiri lalu masuk ke dalam kamar nya dan membanting pintu kamar nya.
"Idih songong banget sih, beda banget sama pak Miko. Mana wajah nya ga ada mirip-mirip nya lagi sama pak Miko."Gerut ayu kesal.
Akhirnya Ayu kembali ke dapur untuk mengambil minum untuk nya.
"Kenapa sehari ini penuh dengan kesialan sih?" Batin Ravi yang benar-benar hari ini penuh dengan kesialan.
Akhirnya Ravi pun merendam dirinya di bathtub milik nya untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Lalu setelah nya dia mandi dan segera tidur.
.
.
.
Setelah beberapa jam kemudian pagi pun sudah datang menghampiri seperti biasa Amora dan Miko akan mandi bersama dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah selesai mandi dan siap-siap Miko dan Amora pun keluar dari kamar mereka menuju meja makan untuk sarapan pagi.
Terlihat di sana ayu yang sudah segar sedang membantu pelayan rumah itu untuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah.
"Pagi Ayu." Sapa Amora.
"Pagi mbak Amora." Jawab ayu sambil tersenyum.
"Apa tidur mu nyenyak?" Basa basi Amora.
"Sangat nyenyak mbak." Jawab ayu sambil cengengesan.
__ADS_1
"Pagi sayang." Sapa sovi dan Sean yang baru saja keluar dari kamar mereka.
"Pagi ma." Jawab mereka serentak.
"Mama mau kemana sudah rapi begitu?" Tanya Miko saat melihat sovi sudah sangat cantik dan rapi.
"Mama mau ketemu teman-teman mama, kamu tau sendiri lah mik, mama kamu ini kan ibu-ibu sosialita. Kamu tenang saja Amora setelah kamu melahirkan nanti mama juga akan mengenalkan kamu ke teman-teman mama. Sekarang kamu fokus ke kehamilan kamu dulu ya sayang." Ucap Sovi sambil duduk di kursi meja makan.
"Iya ma." Jawab Amora.
"Wahh putra bungsu mama sudah ganteng saja." Ucap Sovi saat melihat Ravi yang berjalan menuju meja makan dengan wajah lesu.
"Kenapa Ravi? Kamu kurang tidur, atau ada masalah wajah mu kok kusut begitu?" Tanya Sean yang melihat ekspresi datar Ravi.
"Ga apa-apa pa, Ravi hanya kurang tidur saja." Jawab Ravi yang duduk di kursi meja makan itu.
"Ini mbak susu nya." Ayu menyerahkan segelas susu ibu hamil untuk Amora.
"Terimakasih yu." Jawab Amora sambil tersenyum.
"Ohh iya Ravi, kenalin ini Ayu, yang akan bantu-bantu kakak ipar kamu dan ayu ini Ravi putra bungsu kami." Ucap Sovi memperkenalkan kedua nya.
"Iya nyonya." Jawab ayu sambil tersenyum canggung.
Sementara Ravi cuek saja, seakan tidak mendengar kata-kata mama nya itu.
Mereka semua pun sarapan bersama seperti biasanya. Setelah mereka pun berangkat ke kantor sementara sovi ke rumah sahabat nya.
.
.
.
Sementara di lain tempat Elsa kini bisa menemukan Ana Tante Amora.
"Ada kabar baik nih." Ucap Elsa saat panggilan nya sudah terhubung dengan Tama.
"Kabar apa? Penting tidak, aku lagi sibuk nih." Jawab Tama di seberang sana.
"Santai dong tam, ini soal masa lalu Amora." Jelas Elsa.
"Apa lagi yang kini kau dapat kan?" Tanya Tama lagi.
"Kini aku menemukan Tante nya Amora, dan sepertinya kita bisa memakai Tante nya ini untuk menjatuhkan nama Amora. Sepertinya Tante nya ini juga mata duitan jadi dengan uang kita bisa menggunakan nya untuk menghancurkan keluarga Miko Wijaya." Jelas Elsa.
"Kau yakin akan berhasil? Aku tidak mau buang-buang uang dan waktu jika tidak pasti." Tanya Tama yang memang tidak mau jatuh ke lobang yang sama untuk kedua kali nya.
"Santai tam, kali ini biar aku yang atur strategi nya." Ucap Elsa penuh percaya diri.
"Yasudah nanti sore tolong bawa Tante nya Amora itu ke cafe xx aku ingin bertemu langsung dulu dengan orang nya sebelum menjalankan rencana. Tapi ingat jangan sampai ada yang tau apalagi sampai kamu buka mulut ke Miko. Ingat jangan gegabah." Jelas Tama.
"Siap tam." Elsa tersenyum di seberang sana sangking tidak sabar nya.
"Yasudah aku mau lanjut kerja dulu, sampai ketemu nanti sore."
"Okay tam, see you." Jawab Elsa yang akhirnya mengakhiri panggilan mereka.
__ADS_1