Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Penculikan Amora


__ADS_3

"kak kakak dimana? Kok tumben tidak ada di ruangan?" Tanya Ravi saat panggilan suara nya tersambung dengan Miko.


Karena saat Ravi ingin mengajak Miko makan siang bersama Miko sudah tidak ada di ruangan nya.


"Kakak lagi di luar ada apa?"


"Hah di luar, Sama siapa? Kok kakak pergi tanpa ngajak aku sih?"


"Ada sedikit kerjaan, apa kau membutuhkan sesuatu makanya kau menelepon ku?" Tanya Miko.


"Tidak kok kak, aku hanya ingin mengajak kakak makan siang saja. Makanya tadi aku ke ruangan kakak eh taunya kakak tidak ada." Jelas Ravi.


"Oh yasudah kau makan siang saja sendiri, kakak sudah makan siang dengan klien." Jawab Miko.


"Hah sejak kapan kami jadi klien mu?" Timpal Amora.


"Yasudah kakak tutup panggilan nya ya." Ucap Miko sambil mematikan panggilan secara sepihak.


"Aku tidak salah dengar kan? Seperti nya tadi ada suara Amora si sana." Batin Ravi saat panggilan telah berakhir.


"Masa sih kak Miko menemui Amora di jam kerja seperti ini. Ada apa ya tidak biasanya." Ucap nya pada dirinya sendiri.


Namun Ravi tidak mau berpikir buruk kepada Miko dan akhirnya dia pun makan siang sendiri di kantin kantor.


.


.


.


Sementara di restoran mereka semua yang baru saja selesai makan merasa puas karena makan besar.


"Pak Miko mau langsung balik ke kantor?" Tanya Amora.


"Iya soalnya jam istirahat sudah mau habis," jawab Miko sambil berdiri dari duduknya.


"Tapi kan pak Miko bos nya, apa perlu mengikuti peraturan perusahaan juga?" Tanya Amora.


"Lah kalau saya saja tidak disiplin bagaimana karyawan saya bisa disiplin Amora. Tapi tunggu apa kamu masih ingin berlama-lama dengan saya makanya kamu menanyakan hal itu?" Tanya Miko sambil menatap Amora.


"Kalau saya bilang iya gimana?"


"Yasudah kita gas kan langsung balik yuk, kamar kita sudah menunggu saya mah tidak cuman malam, siang juga stamina nya tetap kuat." Jawab Miko.


"Dasar otak mesum, ga malu apa sama yang lain." Ucap Amora yang pipinya langsung memerah.


"Sudah lah tidak usah perdulikan mereka, jadi bagaimana Amora?" Tanya Miko lagi.


"Ihh dasar bos mesum, sana ihh balik ke kantor dan semangat kerja nya. Kan mau disipilin waktu." Tolak Amora karena merasa malu sama yang lain.


"Tapi nanti malam ada jatah kan?"


"Pak Miko...."


"Jawab iya dulu."


"Iya iya, sana ah ke kantor." Usir Amora yang merasa malu. Sedangkan yang lain seakan tidak mendengarkan apapun padahal isi hatinya hanya mereka dan Tuhan lah yang tau.


"Ingat ya cantik saat saya di rumah kamu harus sudah cantik, Jangan lupa keramas dan pakai parfum vanilla dan daster kamu yang biru laut, dan satu lagi jangan keringkan rambut kamu saya suka jika rambut kamu basah begitu." Titah Miko sambil berdiri dari duduknya.


"Iya pak miko..." Jawab Amora yang merasa panas karena rasa malu.

__ADS_1


Akhirnya Miko pun segera meninggalkan restoran itu karena memang dia sudah telat masuk ke kantor.


"Eh mbak Lela sebentar ya saya mau ke kamar mandi dulu, kebelet pipis nih." Pamit Amora.


"Apa perlu di temenin non?" Tanya Lela.


"Tidak perlu, ke toilet doang kok." Tolak Amora.


Akhirnya Amora pun berjalan menuju kamar mandi restoran itu namun belum juga sampai di pintu kamar mandi tiba-tiba sesuatu membekap mulut Amora dan lama-kelamaan semuanya gelap dan setelah nya Amora tidak tahu lagi apa yang terjadi.


"Lho non Amora dimana ya? Sudah 20 menit tidak kembali juga." Tanya seorang bodyguard kepada yang lain nya.


"Iya bener, Lela kamu cek dulu ke kamar mandi. Takut nya terjadi sesuatu kepada non Amora." Titah yang lain nya.


"Baik pak." Jawab Lela yang juga Panik dan langsung menuju kamar mandi wanita. Namun setelah Lela mengetuk dan membuka semua pintu kamar mandi dia tidak menemukan Amora di sana.


Mereka semua pun langsung berpencar mencari Amora, bisa-bisa nya mereka lengah dan akhirnya kehilangan Amora.


"Bagaimana ini, kalau sampai pak Miko dan pak Ravi tau kalau non Amora hilang bisa di makan hidup-hidup kita." Tanya salah satu bodyguard kepada yang lain nya.


Sementara Lela hanya menangis tersedu-sedu, dia takut sampai terjadi sesuatu kepada Amora tidak hanya itu dia juga takut kalau dia yang akan menjadi sasaran kemarahan Miko karena tidak telaten menjaga Amora mengingat begitu berharga nya Amora di bagi Miko dan Ravi.


"Coba cek cctv dulu pak." Saran Lela kepada sang bodyguard.


"Oh iya cctv."


Mereka pun segera menuju kantor manager restoran itu dan menjelaskan apa yang terjadi. Dan dengan senang hati sang manager langsung membuka kan cctv, namun sayang nya cctv tidak di pasang sampai ke toilet dan pintu belakang.


Namun tiba-tiba mata Lela jeli melihat ada dua orang pria mencurigakan masuk ke dalam restoran itu dengan pakaian serba hitam dan memakai masker serta kacamata. Seperti sedang mengintai seseorang. Sedari tadi mereka duduk tidak jauh dari meja Miko dan team.


Bahkan saat Amora ke kamar mandi keduanya langsung bergerak dan menuju kamar mandi juga.


"Lalu bagaimana pak? Orang ini benar-benar tidak teridentifikasi dan kalau pun kita lapor polisi kan non Amora belum hilang 1 x 24 jam." Tanya Lela yang masih gugup.


"Kita salin saja dulu postur tubuhnya dan untuk identitas nya coba kita lacak di Internet." Ucap yang lain.


Akhirnya mereka menyalin rekaman cctv itu dan pamit pulang kepada sang manager restoran.


"Siapa ya yang menculik non Amora?"


"Entah lah, apa dia tidak tahu kalau non Amora adalah wanitanya Miko Wijaya, berani dia main-main dengan pak Miko."


"Pak apa sebaiknya kita tidak mengabarinya kepada pak Miko? Saya takut kalau kita tidak mengabarinya dan sampai terjadi sesuatu kepada non Amora maka pak Miko akan marah besar kepada kita." Tanya lela mulai khawatir.


"Benar juga kata mu Lela, mungkin lebih baik langsung mengabari pak Miko sekarang daripada nanti." Timpal yang lain.


Akhirnya setelah berdebat cukup panjang salah satu dari mereka pun mencoba memberanikan diri menelepon Miko. Namun beberapa kali panggilan tidak terjawab.


"Bagaimana ini, pak Miko tidak menjawab panggilan nya."


"Coba telepon pak Ravi, mungkin jika mengabari ke pak Ravi kondisinya agak lebih mendingan."


Dan lagi-lagi mereka menelepon nomor Ravi, dan panggilan kedua akhirnya panggilan itu pun terjawab.


"Ada apa rud kau menelepon ku jam segini?" Tanya Ravi kepada sang kepala bodyguard nya itu.


"Anu pak, kami mau laporan (Rudi sang kepala bodyguard pun menjelaskan semua kejadian di restoran soal kehilangan Amora)."


"Apa, kok bisa kalian ber 7 tidak bisa jaga Amora seorang perempuan." Bentak Ravi yang masih kaget dengan penjelasan Rudi.


"Maaf pak, semuanya terjadi begitu cepat." Ucap Rudi.

__ADS_1


"Aku tidak butuh kata maaf mu, sekarang segera kumpul di rumah Amora harus di temukan hari ini juga dan dalam keadaan baik-baik saja. Jika tidak maka kalian semua akan menerima akibatnya." Bentak Ravi.


"Ba baik pak." Jawab Rudi gugup.


Setelah panggilan berakhir Ravi yang langsung panik dengan kondisi Amora langsung berjalan keluar ruangan dengan sangat tergesa-gesa. Bahkan dia lupa mengabari Miko tentang masalah ini. Karena yang ada di otak nya sekarang hanya keselamatan Amora.


"Kamu mau kemana Ravi? Di jam kerja seperti ini?" Tanya Miko yang baru saja keluar dari lift.


"Maaf pak saya izin pulang." Jawab Ravi yang langsung masuk ke dalam lift.


"Heh enak saja kamu main izin pulang di jam kerja." Bentak Miko yang menahan lift dengan kaki nya.


"Ini urgent pak,"


"Apa yang lebih urgent dari kerjaan hah?"


"Amora." Jawab Ravi spontan.


"Hah Amora, ada apa dengan Amora?"tanya Miko yang Lang memasang wajah serius.


"Kata Rudi tadi saat si restoran Amora si culik" jelas Miko.


"Hah di culik kok bisa?"


"Aduh pak, panjang ceritanya Nanti aja kita bahas nya sekarang saya pamit pulang dulu mau cari Amora." Ucap Ravi.


"Heh kau kira hanya kau yang mengkhawatirkan Amora? Aku juga lagian ya berani sekali si Rudi tidak mengabari ku saat ada masalah serius begini." Ucap Miko yang masuk ke dalam lift dan menuju lantai dasar.


"Hah pak Miko mengkhawatirkan Amora?,bukan nya tadi pagi bapak bilang tidak perduli ya sama Amora." Tanya Ravi lagi.


"Diam kamu Ravi, tidak usah banyak tanya!"


"Siapa yang berani menculik Amora, awas saja kalau sampai wanita ku lecet sedikit saja maka tak akan ku biarkan hidup siapapun yang menculik nya." Batin Miko yang darahnya sudah mendidih.


Mereka pun keluar dari lift dan langsung menuju parkiran, dan saat di dalam mobil mereka menyuruh sang supir mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Dan sesampainya di rumah keduanya turun dari mobil dengan ekspresi wajah marah. Bahkan para bodyguard dan pelayanan rumah itu pun menunduk takut saat kedua bos mereka itu masuk ke dalam rumah dengan aura horor nya.


" Berani ya kamu Rudi tidak mengabari saya, saat ada masalah serius begini." Bentak Miko.


"Saya sudah berkali-kali menelepon pak Miko namun panggilan tidak di jawab." Jelas Rudi yang menunduk takut.


Miko pun baru ingat dia meninggal kan ponselnya di meja kerjanya sedangkan tadi dia turun ke bawah karena ada urusan.


"Ceritakan kepada ku bagaimana hal ini bisa terjadi." Bentak Miko lagi saat dia dan Ravi sudah duduk di sofa ruang tamu.


Rudi pun menceritakan semuanya kejadian itu. Bahkan Ravi sedikit kaget saat mendengar bahwa benar tadi Miko makan siang dengan Amora.


"Dasar kalian semua tidak berguna, saya gaji mahal-mahal jaga satu orang perempuan saja tidak becus." Bentak Miko dengan kemarahan.


Sementara Ravi masih diam sambil mengamati rekaman cctv yang di serahkan oleh Rudi.


"Sepertinya aku tau deh kak, siapa yang menculik amora." Ucap Ravi.


"Siapa?"


"Ini pasti kerjaan Tama atau Arya, karena menurut cerita Amora hanya mereka yang dendam kepada Amora." Jelas Ravi.


"Hmmm sekarang cari tau rumah Tama dan Arya dan sekarang juga berangkat ke sana." Titah Miko.


Dan dengan segera mereka menemukan rumah Tama dan Arya dan semua rombongan langsung menuju rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2