Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Putus


__ADS_3

"Ayu, kok kamu semenjak kuliah makin cantik saja sih." Batin Ravi yang melihat story what's app ayu yang nge post foto nya bersama kedua sahabat nya.


"Andai kau tau betapa aku sangat mencintai mu yu." Batin Ravi yang terus menatap foto Ayu itu.


"Sayang, ini laporan nya sudah kelar, mau maka siang di mana?" Tanya Kanaya yang berdiri dari duduk nya.


Namun Ravi yang masih fokus ke foto Ayu tidak mendengar kan pertanyaan Kanaya. Ini memang bukan pertama kali nya Kanaya di cuekin seperti ini oleh Ravi. Dan Kanaya tau persis siapa alasan Ravi begini. Tapi Kanaya memilih seakan semua baik-baik saja dan menahan diri untuk tidak ribut dengan Ravi. Apalagi sebentar lagi dia dan Ravi akan bertunangan jadi sebentar lagi Ravi akan jadi milik Kanaya dan Kanaya bisa menghapus kan nama Ayu di hati Ravi.


"Sayang..." Kanaya Langsung menghampiri Ravi yang sedang asyik dengan ponsel yang ada di tangan nya.


"Ehh iya sayang." Jawab Ravi yang Langsung mematikan layar Ponsel nya.


"Asyik amat lihat Ponsel, mau makan siang di mana nih?" Tanya Kanaya.


"Terserah kamu saja sayang." Jawab Ravi sambil merapikan dasi nya.


"Hmmm kantin kantor saja kali ya?" Tanya Kanaya.


"Boleh." Jawab Ravi yang memang tidak mau ambil pusing.


"Ohh iya sayang, Tante Sovi dan Om Sean sudah bilang ya sama kamu soal rencana Pertunangan kita?" Tanya Kanaya sambil menghampiri pacar nya itu.


"Lho kamu sudah tau ya ternyata soal niat kedua orang tua kita?" Tanya Ravi yang menghentikan aktivitas nya.


"Hehehe iya sayang, tadi malam mama dan papa cerita sama aku. Aku senang deh kalau sebentar lagi kita akan memiliki sebuah ikatan yang kuat." Ucap Kanaya yang tersenyum penuh kebahagiaan.


Tiba-tiba Ravi mengingat obrolan nya dengan kedua orang tua nya tadi malam, lalu entah kenapa tiba-tiba wajah Ayu terlintas di benak nya. Ayu perempuan yang sudah berhasil membuat dirinya jatuh cinta sebesar ini. perempuan yang sering membuat dirinya hilang konsentrasi bahkan bahagia tidak jelas hanya karena melihat senyum dan wajah Ayu. bahkan tak jarang Ravi salah sebut saat dia sedang bersama Kanaya karena memang yang ada di hati dan pikirannya hanya ada nama Ayu.

__ADS_1


"Kamu yakin?" Tanya Ravi sambil menatap Kanaya dalam.


"Maksudnya?" Tanya Kanaya kebingungan.


"Kamu yakin mau tunangan dan menikah sama aku Kanaya?" Kini Ravi memperjelas pertanyaan nya.


"Iya yakin lah, yakin banget malahan. kok kamu nanya begitu sayang? memang nya Kamu tidak yakin sama hubungan kita,?" Kini Kanaya balik bertanya.


Ravi hanya menggeleng.


"Maksud kamu, kamu tidak yakin sama hubungan kita? jadi selama ini apa gunanya hubungan ini kita jalanin kalau kamu tidak pernah serius sama aku Ravi?" Tanya Kanya yang menuntut kejelasan.


"Maafkan aku Kanaya, karena pernikahan itu sebuah hubungan yang sakral dan aku ingin sekali seumur hidup jadi aku tidak mau sampai salah langkah." Jelas Ravi.


"Maksudnya bagaimana sih Sayang? Bukan nya kata om Sean dan Tante sovi kamu setuju dengan pertunangan kita ya?" Tanya Kanaya lagi.


"Kamu lagi bercanda kan, kamu jangan nge prank aku dong sayang, ayo bilang kamu lagi bercanda kan." Kanaya menatap Ravi dengan tatapan penuh memohon.


"Tidak Kanaya, aku serius aku akan bicarakan ini ke mama dan papa nanti malam. Tekad ku sudah bulat aku belum siap untuk hubungan ini aku harap kamu mengerti ya." Jawab Ravi.


"Terus apa gunanya hubungan kita selama beberapa bulan ini, mau kamu bawa kemana hubungan kita ini hah?" Tanya Kanaya lagi.


"Maaf Kanaya, aku juga tidak tau kemana tujuan hubungan kita selama ini." Jawab Ravi sambil menunduk.


"Sekarang kamu tatap aku, jawab aku kalau kamu masih cinta sama aku Ravi." Kanya memegangi kedua lengan Ravi dan menatap Ravi penuh harap.


Namun Ravi hanya membalas tatapan Kanaya tanpa bicara sepatah katapun.

__ADS_1


"Maaf.."hanya itu yang bisa keluar dari mulut Ravi.


"Kamu mencintai Ayu kan, jujur saja aku butuh kejujuran kamu Ravi."


Ravi hanya mengangguk.


"Arghhh, kenapa sakit sekali sih Kalau kamu tidak mencintai ku lagi ngapain kamu masih mau berpacaran sama aku sampai detik ini?" Tanya Kanaya yang mulai merasa sesak di dada nya.


"Kanaya, aku kan sudah pernah janji sama kamu tidak akan pernah ninggalin kamu." Jelas Ravi.


"Ohh jadi selama ini hanya karena terpaksa, atau hanya karena kasihan karena aku sudah tidak suci lagi begitu hah?" Tanya Kanaya yang tidak dapat menahan air matanya sehingga kini air mata itu tumpah membasahi pipi nya.


"Bukan begitu Kanaya."


"Bukan bagaimana? Sebenarnya kamu cinta nya sama Ayu kan? Kamu cuman kasihan sama aku kan sedari lama kamu dan ayu saling mencintai tapi karena janji kamu sama aku kamu tidak bisa memutuskannya hubungan kita." Potong Kanaya.


"Kanaya bukan begitu."


"Sudah lah Ravi, aku sudah tau semuanya terimakasih terimakasih karena telah menjadikan aku bagian dari cerita hidup mu. Tapi satu hal yang perlu kamu tau cinta ku tulus untuk mu bahkan kian hari kian besar. Tapi aku juga ga boleh egois memaksakan cinta ku harus berbalas." Ucap Kanaya sambil menyeka air mata nya.


"Baiklah mulai hari ini aku lepaskan kamu dari janji itu, kamu boleh bebas memilih dan mengejar wanita yang kamu cintai. Kalau kamu tidak bisa mengakhiri hubungan kita biar aku yang mengakhiri nya. Dan tenang saja aku juga akan mengajukan surat pengunduran diri dari sekretaris mu." Ujar kanaya.


"Kanaya ku mohon jangan begini, aku butuh kamu dalam pekerjaan tolong jangan libatkan hubungan kita dengan pekerjaan." Pinta Ravi.


"Maaf Ravi aku tidak bisa profesional, aku tidak bisa bekerja sama lagi dengan mantan. Hari ini aku akan memutuskan hubungan cinta kita dan hubungan kontrak kerja kita." Jawab Kanaya sambil menjauh meninggalkan Ravi dan mengambil tas nya dan keluar dari ruangan itu.


"Kanaya tunggu dulu." Ravi mengejar Kanaya namun Kanaya sudah lebih dulu Keluar dari ruangan itu dan segera ke lift menuju lantai dasar. Bahkan di sepanjang dari ruangan nya sampai ke parkiran Kanaya menangis air matanya seakan tidak dapat di ajak kompromi dan penghuni kantor memperlihatkan Kanaya dengan sejuta persepsi di otak mereka.

__ADS_1


Sementara Ravi memilih diam di ruangan nya karena menurut nya mengejar Kanaya juga percuma.


__ADS_2