
Setelah selesai minum vitamin Amora pun membersihkan diri lalu ikut merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya yang sudah lebih dulu rebahan di ranjang.
"Mas kamu ga mau bantuin Ravi, dia lagi cek dokumen kantor lho?" Tanya Amora saat melihat suaminya itu rebahan sambil bermain ponsel.
"Biar kan saja sayang, itu kerjaan dia." Jawab Miko yang masih fokus dengan ponsel di genggaman nya.
"Kenapa kamu jadi malas-malasan begini mas, padahal dulu seingat aku kamu paling bucin deh sama kerjaan."
"Hmmm sayang, dulu kan cinta nya mas hanya untuk kerjaan dan kerjaan, tapi semenjak kamu hadir cinta mas hanya untuk kamu dan sekarang untuk kalian berdua kamu dan calon anak kita. Jadi kalian berdua adalah prioritas nya mas sekarang." Jawab Miko sambil mengelus perut Amora yang masih rata.
"Heleh gombalan mu mas mas." Jawab Amora sambil memutar bola matanya malas.
"Lah bukan gombalan atau bulshit sayang, memang itu faktanya. Jadi kamu sudah makan vitamin dari dokter sayang?" Tanya Miko lagi.
"Sudah mas."
"Yasudah sekarang kamu istirahat ya, kata dokter kan harus banyak istirahat."
"Iya mas." Amora pun membenarkan posisi tidurnya dan Miko menyelimuti tubuh mungil istrinya itu, lalu mendekapnya ke pelukan nya dengan kepala Amora bertumpu pada lengan Miko.
"Kamu lagi lihat apaan sih mas? Tumben-tumbenan betah banget main ponsel?" Tanya Amora yang penasaran dengan kegiatan suaminya itu.
"Ohh ini sayang, mas lagi baca-baca artikel seputar ibu hamil. Mas mau jadi suami dan calon ayah yang siaga sayang, jadi perlu tau dulu dasar-dasar tentang ibu hamil." Jelas Miko.
"Ya ampun mas, aku ga nyangka lho kamu se excited ini."
"Kamu tidak tau saja sayang betapa bahagianya mas saat tau kalau kamu hamil anak mas. Aduh pokoknya ga bisa di jelaskan pake kata-kata rasa bahagia mas. Rasanya semuanya ini seperti mimpi bisa menikah dengan kamu dan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak kita."
"Iya mas, sama aku juga kadang merasa semuanya masih seperti mimpi, intinya aku bersyukur banget untuk semua yang bisa aku dapatkan dan rasakan sampai sekarang."
"Udah wajahnya biasa aja dong sayang, ga usah mau nangis begitu ah. Mas tau kok kamu pasti bahagia banget bisa punya suami se sempurna mas kan?" Ledek Miko sambil mencubit hidung istrinya itu.
"Ihh apaan sih mas, mau dramatis kamu malah bikin semua nya jadi gagal ah." Jawab Amora kesal sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Ohh istri mas ini mau drama toh, berarti butuh kamera dong."
"Bodo."
"Yaudah, yaudah mas minta maaf. Tapi sayang kalau dekat begini mas jadi kepingin deh."
"Mas, kan belom boleh. Kamu ya dasar mesum."
"Mesum sama istri sendiri kan ga apa-apa Wee." Ledek Miko lagi.
"Aku mau tidur aja deh ngantuk." Jawab Amora karena malas berdebat dengan suaminya.
"Yasudah tidur yuk sayang, kata dokter kan kamu harus banyak istirahat." Ajak Miko lagi.
Akhirnya Miko pun meletakkan ponselnya di nakas dan memeluk istrinya itu sambil sesekali mencium kening Amora.
Beberapa menit pun berlalu kini pasangan suami istri itu pun terlelap dalam tidurnya. Namun selang dua jam Amora terbangun dari tidurnya karena merasa kehausan.
Karena tidak ada air minum di kamar itu dan air di dalam kulkas terasa dingin akhirnya Amora memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari minum ke dapur. Amora turun pelan-pelan karena dia tidak tega mengganggu tidur suami nya yang terlihat begitu pulas.
Amora melirik jam di dinding ternyata sudah menunjukkan pukul 11 malam. Setelah sampai di dapur Amora mengambil gelas dan meminum segelas air.
Karena kini rasa ngantuk nya sudah hilang, saat melihat taman belakang dan kolam berenang Amora ingin menghirup udara segar di sana. Dia pun keluar dan berdiam diri di dekat kolam berenang, Niat nya hanya sebentar saja.
"Kakak ipar kenapa belum tidur?" Tiba-tiba suara Ravi mengagetkan Amora.
"Hah, Ravi.." jawab Amora yang sontak terkaget.
"Maaf membuat mu kaget."
"Umm, tidak apa-apa."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Apanya?"
"Kenapa termenung di sini, dan belum tidur sampai pukul segini?"tanya Ravi ulang.
"Ohh tadi anu, kebangun karna kehausan jadi ke dapur ambil minum. Lalu ingin menghirup udara segar sebentar." Jelas Amora.
"Ohh begitu."
"Hmmm."
"Yasudah aku masuk duluan ya." Pamit Amora sambil ingin meninggalkan Ravi dan masuk ke dalam rumah karena takut ada yang melihat dan jadi salah paham.
"Sebegitu takut nya kah kau sampai kau menghindari ku Amora? Apa karena kejujuran ku kemaren?" Tanya Ravi yang langsung menahan tangan Amora.
"Lepas Ravi, aku ini kakak ipar mu." Ucap Amora sambil menarik tangan nya dari genggaman Ravi.
"hahahha kakak ipar, tapi kau seharusnya milik ku bukan milik kakak ku. Kalau bukan karena aku yang membawa mu ke sini dan menyelamatkan dari Tama mungkin kau sekarang sudah membusuk di kuburan Amora. Lalu ini balasan dari mu untuk ku?" Tanya Ravi sambil semakin keras menggenggam tangan amora.
"Lepaskan tangan ku, sakit." Bentak Amora sambil menarik paksa tangan nya.
"Iya benar kau lah yang membawaku ke rumah ini dan menyelamatkan ku dari Tama. Tapi kau juga yang menjerumuskan aku ke kakak mu sampai akhir nya semua berakhir seperti sekarang. Aku hanya bisa Berterimakasih Ravi, berkat mu aku dapat merasakan kebahagiaan ini. Namun jika kau minta balasan aku juga tidak tau harus memberikan mu balasan apa, untuk semua kebaikan yang sudah kau lakukan untuk ku."
"Hahaha kau pasti sangat bahagia kan Amora, bisa menjadi nyonya Miko Wijaya."
"Sangat Ravi, aku sangat bahagia." Jawab Amora.
"Jika kau ingin membalas kebaikan ku, tinggalkan Kakak ku dan menikah lah dengan ku. Bisa ku pastikan kau akan jauh lebih bahagia dengan ku." pinta Ravi.
"Ravi apa kau sudah gila? Atau kau terobsesi atau mungkin kau terlalu pengecut dulunya?"
"Apa maksud mu?" Tanya Ravi.
"Dulu saat kau memiliki banyak kesempatan kau malah tidak berani mengungkapkan perasaan mu. bahkan membiarkan aku menjadi budak nafsu kakak mu sampai akhirnya aku dan kakak mu bisa saling jatuh cinta seperti sekarang. Kau terlalu pengecut Ravi. Sudah lah lupakan aku, aku yakin kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari segala hal daripada aku." Ucap Amora.
__ADS_1
"Intinya jangan jadi pengecut Ravi, jadilah pria pemberani dan ungkapan saja perasaan mu kepada wanita mu. Sudah ya aku duluan." Ucap Amora sambil berlalu meninggalkan Ravi yang masih mematung.