
Begitu lah waktu terus bergulir, tanpa terasa kini kandungan Amora sudah memasuki usia ke 9 bulan, persiapan demi persiapan sudah di lakukan. Para kakek dan nenek sudah mempersiapkan semua nya sebaik mungkin.
Hubungan Ayu dan Ravi sudah berjarak sejak saat malam itu. memang ayu lah yang membuat jarak dan akhirnya Ravi yang selalu di jauhi oleh Ayu akhirnya lambat Laun mundur juga. Walaupun tidak bisa di pungkiri perasaan cinta di hati keduanya masih ada untuk satu Sama lain, bahkan semakin hari semakin kuat.
Hubungan Ravi dan Kanaya juga masih baik-baik saja, walaupun cinta dan kasih sayang Ravi berangsur berkurang untuk Kanaya.
"Ravi sini dulu." Ucap Sean saat mereka sudah selesai makan malan dan duduk di sofa ruang tamu.
"Ada apa pa?" Tanya Ravi yang menghampiri kedua orang tua nya dan duduk di hadapan mereka.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Kanya?" Tanya Sean memulai obrolan di antara mereka.
"Hah, hubungan maksud nya pa?" Tanya Ravi yang belum ngeh.
"Iya apa hubungab kalian ini serius atau bagaimana?" Tanya sovi memperjelas pertanyaan suaminya itu.
"Serius lah ma, jadi maksud mama Ravi sama Kanaya sedang bermain-main begitu?" Kini Ravi balik bertanya.
"Syukurlah kalau serius Ravi, mama dan papa tadi ketemu orang tua nya Kanaya sewaktu acara nikahan nya anak om Burhan." Sambung Sean.
"Hah terus?" Tanya Ravi lagi.
"Kami mengobrol banyak, dan kami memutuskan ingin menikahkan kalian secepatnya." Ujar Sean.
"Hah menikah? Mama dan papa lagi bercanda ya." Kini ekspresi wajah Ravi tiba-tiba berubah.
"Lho kok bercanda sih Ravi? Ini lagis serius memang nya kamu tidak mau menikah dengan kanaya?" Tanya sovi.
"Iya mau ma, tapi bukan sekarang kalau untuk sekarang Ravi belum ada niatan mau menikah ma. Ravi mau memperbesar perusahaan Wijaya grup dulu." Jawab Ravi mengelak.
__ADS_1
"Mau kapan lagi Ravi? Nunggu papa dan mama mati dulu? Ingat umur kamu, lagian perusahaan Wijaya grup udah cukup besar kok. Kamu tidak perlu cari-cari alasan." Ucap Sovi.
"Nanti deh ma, pokoknya untuk sekarang Ravi belum siap untuk menikah." Tolak Ravi.
"Ravi, kamu beneran serius tidak sih? Perempuan itu butuh kepastian. Kamu dan Kanaya sudah cukup dewasa untuk menikah, dan keluarga kita dan keluarga Kanaya juga sudah cukup dekat dan cocok. Kamu tidak ingin apa seperti kakak mu punya istri ada yang ngurusin. Dan sebentar lagi mereka akan punya anak." Sambung sovi.
"Ravi ingin ma, tapi mau bagaimana Ravi belum siap menikah di waktu dekat ini. Tunggu Ravi siap ya ma. Lagian kan Ravi belum ngobrolin ini sama Kanaya. Lalu kenapa sih mama dan papa ngebet banget kepingin Ravi menikah cepat-cepat?" Tanya Ravi.
"Kami ingin melihat anak-anak kami menikah dan bahagia bersama pasangan nya mumpung kami masih sehat Ravi. Ya kalau di kasih bonus sama sang pencipta kami juga ingin menggendong cucu dari kamu dan kakak mu." Timpal sean.
"Hufhhhh..." Ravi menarik nafas nya dalam.
"Pa, ma, nikah bukan ajang pertandingan, biar Ravi pikirkan dulu ya. Jika Ravi memang sudah siap pasti Ravi akan melamar Kanaya kok." Jawab Ravi.
"Nunggu kamu siap sampai kapan Ravi? Sampai Kanaya di rebut orang begitu?" Tanya sovi lagi.
"Iya kalau Kanaya di rebut orang berarti bukan jodoh Ravi kan ma." Jawab Ravi enteng.
"Ma..."
"Pokoknya mama tidak mau tau, kalau kamu memang belum siap menikah di waktu dekat ini kamu dan Kanaya boleh tunangan dulu sekedar membuat ikatan di antara kalian dan membuktikan bahwa kamu serius dengan Kanaya. Kasihan Kanaya menghabiskan waktu nya sia-sia dengan orang yang salah kalau kamu hanya mau main-main sama dia." Sovi memotong kata-kata Ravi.
"Tapi ma..."
"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya Minggu depan kamu dan Kanaya harus tunangan, mama dan papa akan mempersiapkan semua lamaran kamu dan yang berhubungan dengan itu." Sovi memotong kata-kata Ravi lagi.
"Ingat ya Ravi, ini bukan permintaan ini perintah yang harus kamu laksana kan. Kalau kamu menolak itu artinya kamu tidak sayang lagi sama mama dan papa dan ingin mempermalukan kami." Ancam sovi.
"Huhhh..terserah mama dan papa saja, atur saja bagaimana baik nya." Kini Ravi pasrah karena dia tau berdebat dengan kedua orang tua nya terkhusus mama nya hanya akan membuang-buang waktu dan sudah bisa di pastikan dia akan kalah.
__ADS_1
"Berarti kamu setuju ya Ravi." Kata sovi Langsung tersenyum manis.
"Yasudah ma, pa Ravi ke ruang kerja dulu ya ada pekerjaan yang harus Ravi selesai kan." Pamit Ravi yang memang sudah tidak nyaman lagi duduk di sana.
"Okay sayang ku," jawab sovi.
Ravi pun bangkit dari duduk nya dan segera ke ruang kerja nya untuk sekedar menenangkan pikirannya. Sementara tanpa mereka sadari sedari tadi Ayu menguping semua pembicaraan keluar itu.
Hatinya terasa sakit teriris iris saat tau bahwa Minggu depan Ravi akan tunangan dengan Kanaya. Walaupun dia dan Ravi tidak punya hubungan apa-apa namun tidak bisa di pungkiri rasa di hati Ayu untuk Ravi begitu besar.
Tanpa Ayu sadari air matanya menetes membasahi kedua pipi mulus nya. Dia meras sesak di dadanya namun tidak dapat berbuat apapun. Dia hanya bisa berjalan masuk ke kamar nya dan menumpahkan semua nya dengan air mata nya.
"Kenap sih kak, kenapa harus kamu kenapa harus kamu yang di pilih oleh hati ku dari sekian banyak nya laki-laki yang ku kenal hah kenapa?" batin Ayu yang semakin menangis di kamar nya.
"Aku tau kita tidak ada hubungan apa-apa, dan aku juga sadar diri kamu siapa dan aku siapa
tapi kenapa hati ku terasa sakit setelah tau sebentar lagi jarak kita akan semakin jauh." sambung batin nya.
"Ayu, kamu tidak boleh begini ingat siapa kamu dan siapa kak Ravi, hilang kan perasaan konyol itu dan fokus lah kuliah agar kamu bisa merubah nasib mu." kini Ayu menguatkan dirinya sendiri.
.
.
.
Sementara di ruang kerja nya Ravi hanya bisa tersenyum sakit, entah apa yang harus di lakukan nya. satu sisi dia masih sangat mencintai Ayu namun di sisi lain dia tidak mungkin menolak permintaan mama dan papa nya.
Ravi benar-benar bingung, dan sejujurnya dia tidak ingin menikah dengan Kanaya. dia mau berpacaran dengan Kanaya sampai detik ini sebagian besar hanya karena tidak ingin menyakiti perasaan Kanaya. namun untuk cinta hampir seluruh nya cinta dan hati nya sudah di rebut oleh Ayu.
__ADS_1
Ravi akhirnya pasrah dan dia ikhlas biar waktu yang menjawab semua nya. apapun yang terjadi nanti nya itu lah yang terbaik untuk nya dan semua nya.