
“Tring... Tring...” Alarm Ayu membangunkan sang pemilik alarm.
Ayu pun mengucek matanya lalu mematikan Alarm milik nya. Dia mencoba mengumpulkan kesadaran nya lalu berbalik menghadap suaminya yang masih tertidur lelap. Wajah tenang itu terlihat begitu tampan dengan nafas yang teratur.
“Maafin aku ya mas, aku tau ini pasti menyakitkan buat kamu.” Batin Ayu sembari menatap Ravi dalam.
Seakan mendengarkan peminta maaf an istrinya itu Ravi yang tangan nya berada di atas perut Ayu menarik tubuh Ayu sehingga kini Ayu masuk ke dalam dekapan suaminya itu.
Ayu hanya diam saja, padahal Ravi sudah sah menjadi suaminya bahkan mereka sudah melakukan hubungan suami istri namun entah kenapa Ayu merasa deg deg an saat di peluk begini oleh Ravi.
Cukup lama mereka berada di posisi itu namun karena takut telat sholat subuh akhirnya dengan lembut Ayu membangunkan suaminya itu dari tidurnya.
“Mas bangun mas sholat yuk.”Ajak Ayu mencoba membangunkan suaminya itu.
“Sebentar lagi sayang.” Jawab Ravi dengan suara khas bangun tidurnya sembari mengeratkan pelukan nya.
“Tapi ini sudah pagi mas, nanti jadi telat lho.” Jawab Ayu.
Dengan terpaksa akhirnya Ravi pun bangun dan segera mengumpulkan kesadaran nya. Lalu keduanya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera sholat bersama.
Setelah selesai solat Ravi memutuskan untuk berolahraga sedangkan Ayu menyiapkan sarapan untuk keduanya. Setelah selesai berolahraga Ravi pun membantu istrinya itu untuk membersihkan amar dan rumah mereka. Pengantin baru itu benar-benar kerja sama dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga mereka. Setelah semuanya selesai keduanya pun memutuskan untuk mandi bersama.
Setelah beberapa menit berlalu keduanya sudah selesai mandi. Setelah selesai mandi Ayu menyiapkan pakaian suaminya lalu menyiapkan pakaian nya sendiri ke kampus.
“Sayang, pasangin dasi mas dong.”pinta Ravi kepada istrinya itu.
“Iya mas sebentar ya.” Ayu pun menghampiri suaminya itu lalu memasangkan dasi Ravi.
Setelah keduanya selesai siap-siap mereka pun keluar dari kamar menuju meja makan.
“Istriku cantik sekali pagi ini.” Puji Ravi.
“Oh pagi ini saja ya mas?” Tanya Ayu yang menarik kursi meja makan.
“Tidak dong sayang, setiap hari kamu cantik, tidak-tidak setiap detik sayang ku.” Ujar Ravi lagi.
“Hmmm yang benar kamu mas?” tanya Ayu yang menyerahkan piring kepada suaminya.
“Benar dong sayang, memang kapan mas pernah bohong sama kamu. Lagian kalau kamu tidak cantik mana mungkin kamu jadi istri mas sekarang. Itu artinya kamu yang paling cantik dari semua perempuan yang pernah mas kenal sayang.” Jelas Ravi.
“Ohh jadi kamu menikahi ku hanya Karena wajah ku cantik ya mas.” Lanjut Ayu.
“Hmmm dasar perempuan tidak pernah mau kalah.” Guman Ravi.
“Tentu tidak dong sayang karena kamu cantik nya luar dalam hatimu, sifat mu wajah mu semuanya cantik dan mas menyukai semuanya.” Jawab Ravi lagi.
__ADS_1
“Ahh yang benar mas?” tanya Ayu yang merasa ragu mendengar penjelasan suaminya itu.
“Benar dong istriku sayang, sudah ah yuk sarapan nanti keburu telat lho.” Ajak Ravi lagi.
“Iya mas.” Ayu pun menurut.
Keduanya pun sarapan bersama, dan beberapa menit pun berlalu mereka sudah selesai sarapan.
Setelah mengambil tas masing-masing mereka pun bersiap berangkat ke kantor dan ke kampus.
“Hati-hati ya sayang bawa motornya, besok kamu harus les bawa mobil biar ke kampus bawa mobil saja sayang.”ujar Ravi saat keduanya sudah berada di garasi rumah mereka.
“Tidak apa-apa mas, aku lebih nyaman naik motor ke mana-mana kok.” Jawab Ayu yang mulai memanasi motor barunya itu.
“Bagaimana kalau kita cari asisten rumah tangga sayang, mas tidak mau kalau kamu sampai kecapean ngurus rumah dan kuliah.” Ravi mencoba memberikan saran karena tidak tega melihat istrinya itu nanti kecapekan.
“Hmmm untuk sekarang aku masih bisa mengerjakan semuanya sendiri mas, lagian aku ingin menikmati waktu berdua bersama mu, pacaran halal.” Jawab Ayu sembari cengengesan.
“Hmm terserah kamu saja sayang, kalau itu menurut kamu yang terbaik. Tapi kalau nanti kamu sudah merasa kewalahan bilang ke mas ya.” Pinta Ravi.
“Siap pak su.” Ayu memberikan tanda hormat kepada suaminya itu.
“Yasudah berangkat gih nanti kamu telat ke kampus. Ingat belajar yang giat dan jaga mata dan hatinya ingat kamu sudah jadi istri sekarang.” Ujar Ravi sembari mengacak lembut rambut istrinya itu.
“Iya mas, kamu juga semangat ya kerjanya, ingat banyak-banyak minum air putih ya sayang ku.” Jawab Ayu.
“Yasudah aku berangkat duluan ya mas.” Ayu pun menyalim suaminya itu, dan Ravi mengecup kening Ayu.
Setelah berpamitan kepada suaminya Ayu pun mengendarai sepeda motor barunya menuju kampus nya. Sebenarnya kampusnya tidak terlalu jauh dari rumah mereka jadi hanya membutuhkan waktu tempuh beberapa menit saja. Ravi pun menaiki mobil mewahnya dan segera berangkat ke kantor.
Sesampainya Ayu di parkiran kampus dia pun memarkirkan motornya lalu segera menuju ruang kelasnya, ternyata kedua sahabatnya sudah lebih dulu sampai di kampus.
“Wahh pengan..”belum sempat Vivi melanjutkan kata-katanya Sita langsung membekap mulut Vivi.
“Heh, lihat tuh sudah banyak orang.” Bisik Sita ke telinga Vivi.
Seakan tau apa yang terjadi antara kedua sahabatnya Ayu langsung menghampiri mereka, dan melotot kepada Vivi.
“Hehehe maaf yu hampir keceplosan.” Jawab Vivi cengengesan.
“Hampir saja lo bunuh gue Vi.” Jawab Ayu yang menarik nafas dalam.
“Mana oleh-oleh buat kita?” lanjut Vivi.
“Gak ada, lo gak dapat oleh-oleh soalnya mulut lo gak bisa di jaga, karena lo hampir saja se kelas au gue sudah menikah.”Jawab Ayu yang sedikit jengkel kepada Vivi.
__ADS_1
“Nahh rasain lo, enak kan.”Ledek Sita.
“Wahh parah lo yu, kan gue udah minta maaf. Lagian gue gak sengaja juga itu sangking bahagia nya gue akhirnya setelah berbulan madu lo balik lagi ke kampus. Gue kira lo gak akan balik lagi ke sini karena sudah nyaman sama suami lo.” Jawab Vivi dengan sedikit berbisik.
“Udah yu, gak usah kasih oleh-oleh nya ke Vivi mending punya Vivi bagi ke gue aja.” Timpal Sita.
“Enak aja lo, punya gue tetap punya gue yu, gue udah nunggu-nunggu lo balik dari kemarin lho.” Lanjut Vivi.
“Hmm Yaya tapi awas ya sekali lagi lo keceplosan kek tadi, bisa berabe hidup gue Vi.” Lanjut Ayu.
“Iya yu aman dah pokoknya, tapi lo harus cerita ke kita ya bagaimana rasanya menikah dan berbulan madu.” Pinta Vivi yang memang penasaran.
“Ihh apaan sih lo VI.” Pipi Ayu seketika memerah malu.
“Enak gak yu?” lanjut Vivi yang penasaran.
“Banget, makanya lo berdua juga buruan gih nikah.” Jawab Ayu yang berbisik juga dengan kedua sahabatnya.
“Gue sih kalau di aja nikah sama laki-laki kayak suami lo juga bakal langsung gas juga yu, bahkan kek nya gue gak akan kuliah lagi. Di rumah doang ngurus suami dan menikmati hidup dan menghabiskan uang suami.” Jawab Vivi.
“Kalau lo mah gak heran gue Vi, makanya Tuhan gak ngirimkan calon suami seperti itu ke lo.”ujar Sita.
“Yasudah lah guys, namanya hidup semuanya sudah punya porsi ya masing-masing. Manatau nanti suami kalian berdua jauh lebih baik dari mas Ravi kan.” Lanjut Ayu lagi.
“Amin amin.” Jawab merek serentak.
“Yasudah nih oleh-oleh untuk lo pada.” Ayu menyerahkan dua paper bag kepada sahabatnya itu.
“Wahh terimakasih Ayu sayang.” Keduanya langsung tersenyum sumringah mendapatkan oleh-oleh dari Ayu itu.
Namun dosen mereka pun datang, itu artinya mata kuliah jam pertama akan segera di mulai. Mereka pun mulai mengikuti kuliah dari sang dosen dengan baik.
Sementara di kantor Ravi dan Miko baru saja mengikuti rapat, mereka akan melakukan kerja sama dengan salah satu perusahan besar juga. Dan Miko menunjuk Ravi yang menangani proyek besar ini. Miko dan perusahaan juga sangat berharap Ravi bisa menangani proyek besar ini karena keberhasilan perusahaan ada di tangan Ravi sekarang.
Karena Ravi merasa itu tantangan yang cukup menguji adrenalin tentu dia setuju untuk mengambil proyek itu.
“Ravi, siang ini kamu ke perusahaan mereka ya, direktur utama mereka meminta kita mempresentasikan proyek nya ingat kita sudah mengeluarkan banyak modal untuk proyek ini jadi jangan sampai gagal ya.”Ujar Miko kepada adiknya itu.
“Baik pak.”Ravi mengangguk.
“Ingat Ravi katanya direktur baru mereka itu perempuan, namun dia cukup teliti dan sekecil apapun kesalahan kita bisa menggagalkan semua kerja sama nya. Jadi kakak sangat berharap kamu bisa memberikan yang terbaik ya.” Sambung Miko.
“Siap pak, saya akan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini.” Jawab Ravi.
“Saya percaya kamu Ravi.”Miko menepuk pundak Ravi.
__ADS_1
Akhirnya keduanya keluar dari ruang rapat, karena ini masi pagi keduanya kembali ke ruangan mereka untuk mengerjakan beberapa pekerjaan lagi.
Setelah jam makan siang Ravi pun berangkat ke perusahaan Tanoto grup, salah satu perusahaan besar yang bersedia bekerjasama dengan perusahaan wijaya grup. Ravi di antar kan oleh supir Miko ke perusahaan itu dan setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mobil mereka sudah berada didepan gedung mewah nan megah itu.