
Ravi merapikan jas nya lalu menarik nafasnya dalam, lalu dia pun berjalan masuk ke dalam kantor itu, setelah melapor kepada resepsionisnya Ravi pun di antar kan ke ruang rapat di mana ibu Direktur mereka sudah menunggu Ravi.
“Tok..tok..” salah satu karyawan kantor yang mengantarkan Ravi ke ruang meeting itu pun mengetuk pintu dari luar, dan setelah menjelaskan maksud kedatangan nya akhirnya sang karyawan kembali keluar dan mempersilahkan Ravi masuk ke dalam ruangan itu.
“Maaf bu, telah membuat anda menunggu.”Ujar Ravi kepada perempuan yang sedang duduk membelakangi nya.
“Silahkan duduk pak Ravi wijaya.” Sang direktur mempersilahkan Ravi intuk duduk.
Dia pun menurut dan duduk di salah satu kursi yang ada di ruang rapat itu.
“Kenapa anda duduk menjauh apa anda tidak ingin duduk dekat saya?” lanjut sang direktur yang sepertinya masih enggan menunjukkan wajahnya itu.
Karena takut sang direktur tidak nyaman dengan nya akhirnya Ravi langsung bergeser duduk di sebelah ibu direktur itu.
“Hmmm apa perjalanan ke sini macet pak Ravi Wijaya?” lanjut sang direktur yang sedang mempermainkan bolpoin di tangan nya.
“Tidak bu, lancar kok.” Jawab Ravi yang mencoba mengatur nafasnya karena hanya ada dia dan ibu direktur itu di dalam ruangan itu. Entah kenapa dia merasa gugup saat ini.
“Baiklah kalau begitu, apa presentasinya bisa kita mulai?” tanya sang direktur yang kini memutar kursinya dan memperlihatkan wajah cantik nya.
Untuk sesaat Ravi sebagai pria normal terpesona melihat kecantikan perempuan yang ada di hadapan nya itu. Wajah yang nyaris sempurna namun dia ingat lagi bahwa dia sekarang sudah memiliki istri dan dia juga harus menjaga mata dan hatinya untuk istrinya di rumah.
“Ada apa pak Ravi? Apa ada yang salah di saya?” Tanya sang direktur saat melihat Ravi membuang pandangan nya ke arah jendela.
“Ohh tidak kok bu.” Jawab Ravi yang sepertinya salah tingkah.
“Yasudah kalau begitu silahkan mulai presentasinya, anda hanya punya waktu 40 menit dari sekarang.” Lanjut sang direktur tersebut.
“Baik-baik bu.” Ravi langsung menyiapkan semuanya, dia juga sedikit Thermo namun dia mencoba menenangkan dirinya mengingat kata-kata Miko tadi pagi bahwa perusahaan berharap banyak kepada dirinya.
Walaupun awalnya Ravi gugup pas presentasi namun lambat laun dia mulai bisa mengendalikan dirinya dan menguasai keadaan. Dia pun menyelesaikan presentasinya dengan baik dan menjawab semua pertanyaan ibu direktur tersebut dengan baik.
Sudah hampir dua jam mereka berdiskusi tentang proyek itu, Ravi juga sedikit bingung kenapa rapat proyek besar begini hanya ibu Direktur nya yang ikut serta. Namun dia sebisa mungkin menjawab semua nya dengan baik.
“Okay baiklah berdasarkan pemaparan anda tadi, selamat perusahaan kami setuju melakukan kerja sama untuk proyek ini bersama perusahaan anda.” Ujar sang direktur sembari memberikan selamat kepada Ravi dan mengulurkan tangan nya.
“Wahh benarkah ibu direktur, terimakasih banyak bu.” Ravi langsung tersenyum sumringah dan membalas uluran tangan sang direktur.
“Sama-sama pak, untuk kontrak dan lain nya akan segera di selesaikan oleh sekretaris saya ya.” Lanjut sang Direktur.
“Baik bu, senang bekerja sama dengan perusahaan ibu. Semoga kita bisa menjadi partner kerja yang baik ya.”Lanjut Ravi lagi.
“Amin-amin.” Sang direktur hanya tersenyum.
Ravi pun mulai menyusun semua barang-barang nya, dan sang direktur masih duduk manis di kursinya.
“Ravi sudah sekian lama kita tidak bertemu ya.” Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut sang direktur.
“Hah, maaf gimana bu?” Ravi menoleh ke arah direktur mencoba memperjelas pendengaran nya.
Sang direktur bangkit dari duduk nya dan segera menghampiri Ravi yang masih memegang beberapa dokumen di tangan nya.
“Apa kamu tidak mengingat dan mengenali ku lagi?” tanya perempuan cantik itu sembari berdiri di hadapan Ravi.
“Maaf bu, apa kita pernah bertemu sebelum nya?” tanya Ravi yang memang se ingat nya dia tidak punya kenalan yang se cantik direktur ini.
“Pernah, bahkan dulu kita sangat dekat.” Jawab sang direktur.
“Ahh tidak mungkin, ibu pasti salah orang.” Jawab Ravi yang mencoba mengingat dan dia memang tidak punya kenalan seperti wanita yang sedang berdiri di hadapan nya itu.
“Aku tidak menyangka se cepat itu kamu ngelupain aku, padahal aku masih ingat semua tentang kamu, makanan kesukaan kamu semua nya.” Lanjut nya menatap Ravi.
Ravi hanya terdiam, dia benar-benar bingung karena seingatnya memang dia tidak kenal dengan perempuan itu.
“Apa ini karena pengaruh kecelakaan kemaren ya jadi aku lupa beberapa orang.” Batin Ravi yang mengingat kejadian kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu.
“Hmm kalau perempuan yang kamu berikan surat saat dia akan pindah ke luar negeri, dan kamu mengungkapkan perasaan kamu di surat itu bahkan berjanji akan menunggu nya pulang apa kamu masih ingat?” tanya Devina menatap Ravi dalam.
“Devina...” nama itu langsung keluar dari mulut Ravi.
“Hmmm..” jawab sang wanita.
“Kamu Devina, Devina maira tetangga ku dulu. Ehh maksudnya ibu.” Tanya Ravi gugup.
“Apa se cepat itu kamu lupain aku Ravi?” Tanya Devina lagi.
“Vin sumpah ini kamu? Benar-benar berubah Vin.” Ravi memandangi Devina dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Iya ini aku Devina Maira, tetangga kamu dulu yang kamu bilang cinta pertama kamu.” Jawab Devina lagi.
Tanpa berkata-kata Ravi langsung memeluk Devina, kerinduan di hatinya langsung terobati. Benar kata Devina dia adalah cinta pertama Ravi, dan Devina punya ruang tersendiri di hati Ravi. Tanpa sadar Ravi meneteskan air matanya karena tidak menyangka bahwa dia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Devina setelah puluhan tahun terpisah tanpa kabar.
“Heh ini di kantor ngapainpeluk-peluk.”Ujar Devina yang sebenarnya juga sangat merindukan Ravi yang ternyata cinta pertama juga bagi Devina namun Devina dari dulu lebih memilih untuk memendam perasaan nya untuk Ravi.
“Vin dari mana aja selama ini, kenapa tidak ada kabar?” Tanya Ravi saat pelukan mereka terlepas.
“Ihh kamu nangis ya? Lagian ngapain harus ada kabar si kan kabar aku sudah gak penting lagi untuk kamu.” Jawab Devina cuek.
“Astaga vin, kamu tidak tau saja aku menunggu mu dan menunggu kabar mu sekian tahun lamanya.” Jelas Ravi.
“Iya tapi karna tidak sanggup menunggu kahirnya kamu menikah kan. Berarti isi surat kamu beberapa tahun yang lalu bohong dong.” Sambung Devina.
__ADS_1
“Kamu tau dari mana aku sudah menikah Vin?” tanya Ravi lagi.
“Dari tante Sovi, kemaren aku bertemu dengan tante Sovi dan istri kamu di mall.” Jelas Devina dengan tatapan mata yang tidak bisa bohong kalau sebenarnya dia cemburu.
“Vin maafin aku, tapi walaupun aku sudah menikah percaya lah kamu selalu punya tempat tersendiri di hatiku dan itu akan abadi selamanya.” Ujar Ravi.
“Halah dasar laki-laki bulshit.” Jawab Devina.
“Lalu kamu Vin, bagaimana apa sudah menikah? Sudah berapa lama di Indonesia dan kenapa dulu lost kontak? Ravi mencerca beberapa pertanyaan kepada Devina.
“Hmmm sudah ya ini masih jam kantor bapak Ravi, dan karena presentasi kita sudah selesai saya pamit ke ruangan saya karena masi banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Staf saya akan mengantarkan anda.” Ujar Devina yang berjalan menuju pintu keluar ruang rapat itu.
“Vin tunggu.”Ravi menggenggam pergelangan tangan Devina.
.
“Pak Ravi tolong tunjukkan rasa sopan anda ini masih di kantor.” Ujar Devina sembari melirik tangannya yang di tahan oleh Ravi.
“Maaf-maaf bu Devina.” Ravi pun melepaskan genggaman nya.
“Maaf ibu Devina apa saya boleh meminta nomor pribadi ibu?” tanya Ravi lagi.
“Minta saja dari tante Sovi.”Jawab Devina yang berjalan meninggalkan Ravi.
Ravi hanya mematung melihat Devina berjalan menjauhi nya. Tidak bisa di pungkiri bahwa rasanya masih tersisa walaupun hanya sedikit untuk Devina. Kini di hatinya campur aduk namun dia juga harus menyadari bahwa kini dia sudah memiliki seorang istri
.
Setelah menyusun semua barang-barangnya seorang staf pun menghantarkan Ravi ke depan. Ravi pun pulang dengan rasa penasaran kepada Devina.
“Kenapa mama tidak cerita kalau dia bertemu Devina sih, dan bagaimana kok bisa Devina jadi direktur di perusahaan itu.” Batin Ravi yang mempunyai banyak pertanyaan di otak nya.
Ravi pun menelepon Sovi untuk meminta nomor Devina dan menjelaskan bahwasanya nya Devina adalah direktur perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka. Awalnya Sovi juga merasa kaget dan akhirnya Sovi mengirimkan nomor Devina.
Ravi pun berniat menghubungi Devina se pulang kantor nanti, yang terpenting sekarang dia membawa kabar baik untuk kantornya.
Sementara di kampus Ayu yang baru saja selesai jam kuliahnya mengajak kedua sahabatnya untuk main ke rumahnya karena rumahnya memang tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Sita meminta agar supirnya menjemputnya nanti sore saja. Sedangkan dia dan Ayu naik sepeda motor Ayu sedangkan Vivi menggunakan motornya sendiri.
Ketiganya berangkat ke rumah Ayu, dan beberapa menit kemudian ketiganya sudah sampai di rumah ayu.
“Wahh rumah lo besar banget yu.” Puji Vivi yang kagum melihat kemewahan dan kemegahan rumah ayu itu.
“Hahaha bisa aja lo Vi, masuk yu.”Ajak Ayu yang membuka pintu rumah.
“Lo yakin gak mau cari asisten rumah tangga yu, rumah sebesar ini bagaimana bisa lo bersih in sendiri.” Tanya Sita saat ketiganya sudah masuk ke dalam rumah.
“Hmmm gimana ya guys, sebenarnya pasti gak bakal sanggup sih, tapi masih pengen pacaran berdua dengan pak suami.” Jawab Ayu lagi.
“Nahh gue setuju tuh sama sita, lagian kan kalau asisten rumah tangga yang part time begitu bisa datang pagi pulang sore. Jadi tidak menggangu keromantisan lo sama suami lo. Karena sehari-hari kan lo sibuk kuliah dan suami lo sibuk kerja.”Timpal Vivi.
“Nahh bener tuh.” Lanjut Sita.
“Hmm begitu ya guys, iya sih mas Ravi tadi nyaranin buat cari asisten rumah tangga aja, cuman gue bilang nanti saja dulu.”Jawab Ayu.
“Yaelah yu, menurut gue saran Sita udah paling pas dah.”Timpal Vivi.
“Ehh kalian mau makan apa guys? Biar di pesan online biasa gue belum masak belum belanja soalnya.”Tanya Ayu yang memang sudah waktunya makan siang sekarang.
“Hmm apa ya, gue pengen makanan korean food sih.” Jawab Vivi.
“Kalau gue pengen japanese food.” Timpal Sita.
“Yaudah kalau begitu kita pesan di beda resto aja ya.” Ayu memberikan solusi.
“Bagaimana kalau kita aja ke mall nya langsung, lagian Ayu bilang belum belanja kan. Sekalian nanti nemenin Ayu belanja.” Vivi memberikan saran nya.
“Hmmm gue sih terserah Ayu saja.” Jawab Sita.
“Gimana yu? Lo udah di kasih uang belanja kan sama laki lo?” tanya Vivi.
“Udah sih,kalau untuk uang aman tapi masa panas-panasan kita naik motor.” Jawab Ayu.
“Yaelah kan bisa pesan grab Yu astaga.” Ucap Vivi.
“Ohh iya ya.” Ayu cengengesan.
Ayu pun memesankan taksi online untuk mereka.
“Lagian lo punya suami tajir yang di minta motor, mobil kek yu yu.”Ledek Vivi.
“Sebenarnya tadi pagi mas Ravi juga ngomong begitu sih Vi, dia nyuruh aku kursus mengemudi mobil biar ke kampus bawa mobil saja. Soalnya dia rada takut kalau aku naik motor.” Jawab Ayu.
“Nahh terus masalahnya di mna? Bagus dong.” Respon Vivi.
“Masalahnya gue kurang nyaman kalau di ajarin sama orang lain, kalau nunggu mas Ravi pasti gak akan punya waktu. Lagian gue masih takut kalau bawa mobil Vi.” Jelas Ayu.
“Noh si sita ada, dia aja yang ngajarin lo dia juga udah mahir kok mengemudi mobil.” Ujar Vivi.
“Benar ta?” tanya Ayu.
“Berapa duit?” canda Sita.
__ADS_1
“Kalau masalah itu aman ta, tapi lo bisa ngajarin gue kan?” Tanya Ayu.
“Hehehe bercanda yu, santai aman mah kalau itu. Lo mau belajar kapan?” Sita balik bertanya.
“Hmm kapan lo punya waktu luang aja ta.” Jawab Ayu bersemangat.
“Okay.” Jawab sita.
“Tapi nanti dulu deh ta, gue ngobrol dulu sama suami gue ya.” Sambung Ayu yang baru mengingat dia harus tanya Ravi dulu.
“Aman.” Jawab Sita.
Setelah menunggu akhirnya taksi online yang mereka pesan sudah berada di depan rumah, mereka bertiga pun keluar rumah dan mengunci kembali pintu rumah. Setelahnya ketiganya segera masuk ke dalam mobil itu. Mobil pun melaju menuju salah satu mall yang tidak terlalu jauh juga dari rumah Ayu.
Sesampainya di mall ketiganya pun makan bersama lalu membantu Ayu membelikan bahan-bahan yang dia butuhkan untuk rumah tangga nya.
Setelah semuanya selesai ketiganya membayar belanjaan mereka. Dan Sita memutuskan untuk minta supirnya menjemputnya langsung di mall itu saja karena sekarang sudah sore. Sedangkan Ayu dan Vivi balik ke rumah Ayu menggunakan taksi online karena motor Vivi masih tinggal di rumah Ayu.
Sesampainya di rumah Ayu Vivi yang membantu Ayu membawa barang-barang belanjaan Ayu masuk ke dalam rumah akhirnya pamit juga kepada Ayu karena ini juga sudah sore dan dia sudah merasa tubuhnya gerah dan ingin langsung mandi.
“Makasih ya Vi untuk hari ini, hati-hati di jalan, kabarin entar kalau sudah nyampe kos an.” Ujar Ayu yang mengantar Vivi sampai ke depan gerbang rumah nya.
“Siap yu, gue juga makasih buat hari ini. Gue balik dulu ya.” Pamit Vivi.
“Okay vi.” Ayu mengangguk.
Motor Vivi pun melaju meninggalkan rumah Ayu dan setelah Vivi menjauh Ayu kembali menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah.
“Baiklah mari kita susun semuanya ke dalam kulkas.”Batin Ayu yang melihat beberapa kantong belanjaan yang ada di atas meja makan.
Dia pun mulai menyusun semua barang belanjaan nya itu sesuai dengan tempat nya masing-masing. Ayu memang mulai menikmati peran nya sebagai ibu rumah tangga sekarang.
Dan beberapa menit berlalu dia pun sudah selesai menyusun semuanya. Dan karena sudah mulai gelap dan merasa gerah Ayu pun memutuskan untuk mandi.
Sementara di kantor Ravi baru saja menyelesaikan semua pekerjaan nya. Dia memang belum bilang ke Miko bahwa direktur perusahaan Tanoto grup itu adalah Devina. Namun semenjak bertemu dengan Devina entah kenapa yang ada di pikiran Ravi hanya wajah Devina. Masih banyak pertanyaan yang berputar-putar di otak nya tentang Devina. Bahkan dia masih belum menyangka bahwa dia tadi bertemu Devina cinta pertamanya Ravi merasa semua ini seperti mimpi.
Karena sudah tidak dapat menahan diri akhirnya Ravi memutuskan untuk menghubungi Devina menggunakan nomor yang di berikan oleh Sovi tadi. Beberapa kali deringan akhirnya panggilan mereka pun terhubung.
“Halo selamat sore ada yang bisa saya bantu?” Tanya Devina di seberang sana.
Mendengar suara Devina saja sudah membuat Ravi dag dig dug.
“Umm halo ibu direktur apa kah masih di kantor?” Tanya Ravi dengan nada suara sedikit berat.
“Hmm ada apa Ravi?” Tanya Devina yang memang sudah tau kalau yang menghubunginya itu adalah Ravi, karena nomor ini adalah nomor pribadinya dan hanya orang-orang terdekat Devina yang tau nomor itu.
“Apa kau punya waktu malam ini ibu direktur? Apa kita bisa bertemu?”Tanya Ravi.
“Hmm ada sih, tapi mau ngapain bertemu malam-malam? Bukan kah urusan kerjasama sudah kelar tadi siang?” Tanya Devina yang memang sudah bersiap ingin pulang itu.
“Ini bukan urusan kantor Devina, tapi urusan pribadi.” Ujar Ravi.
“Urusan pribadi, memang nya kita punya urusan pribadi atau masalah sebelum nya ya?”Tanya Devina lagi.
“Iya Devina banyak hal yang harus kita luruskan, dan ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan.”Lanjut Ravi lagi.
“Hmm begitu ya pak Ravi, yasudah deh karena sepertinya kamu sangat ingin bertemu. Baiklah boleh.” Jawab Devina yang sebenarnya juga sangat merindukan Ravi.
“Baiklah aku jemput sekarang ya.” Ravi langsung bersemangat.
“Ehh tidak usah, aku bawa mobil sendiri kok.”Tolak Devina.
“Hmm baiklah, kamu mau ketemu di restoran mana, biar langsung di reservasi.”Lanjut Ravi.
“Hmm biar aku yang menentukan tempatnya kamu datang saja ke alamat yang aku kirimkan ya.”Jawab Devina.
“Baiklah Devina.”Ravi setuju.
“Yasudah aku tutup dulu panggilannya sampai ketemu nanti.” Ucap Devina mengakhiri panggilan mereka.
“Baik Devina sampai bertemu nanti.” Jawab Ravi.
Panggilan mereka pun berakhir, senyum indah terlukis di wajah tampan Ravi. Entah kenapa dia merasa bahagia sekarang. Dia pun langsung mematikan laptopnya dan bersiap keluar dari ruangan nya.
“Tring..”Tiba-tiba ponsel yang ada di saku jas Ravi kembali berdering, artinya ada notifikasi pesan masuk.
Ravi pun mengeluarkan ponselnya dari saku jas nya sembari turun ke basemen parkiran.
“Ini pasti alamatnya yang di kirimkan oleh Devina.” Batin nya.
Namun saat melihat layar ponselnya Ravi sedikit kecewa karena itu pesan bukan dari Devina melainkan dari Ayu istrinya.
“Mas kamu pulang jam berapa? Mau di masakin apa malam ini, kebetulan tadi siang aku belanja jadi semuanya lengkap.”Itu lah isi chat dari Ayu.
“Mas sepertinya pulangnya agak malam sayang, soalnya lembur banyak kerjaan. Dan sepertinya mas makan di kantor. Gak apa-apa kalau sayang gak usah masak malam ini beli jadi saja.” Itu lah balasan Ravi, dia terpaksa berbohong kepada istrinya demi bertemu Devina.
Ayu yang membaca balasan pesan dari suaminya itu sedikit kecewa karena dia sudah excited untuk memasak tadinya. Namun Ayu juga tidak boleh egois suaminya bekerja sampai lembur juga kan untuk dia dan masa depan rumah tangga nya.
“Yasudah kamu semangat ya mas kerjanya, jangan terlalu di porsir. Makan malam nya jangan telat.” Balas Ayu lagi.
“Siap istriku sayang.”Balas Ravi yang kini sudah berada di dalam mobil menuju lokasi yang di kirimkan oleh Devina.
__ADS_1