
Karena merasa masih merindukan Devina Ravi pun mengirimkan pesan kepada Devina sekedar menanyakan apakan Devina sudah sampai di kantor atau belum, dan hanya beberapa detik saja pesan dari Ravi itu sudah berbalas. Keduanya pun berbalas pesan sampai tak terasa sore hari pun tiba seperti dua orang yang baru saja kasmaran itu lah yang sedang terjadi di antara kedua insan manusia itu.
Miko pun datang ke ruangan Ravi untuk sekedar berpamitan pulang lebih dulu, dan Ravi pun menjawab pernyataan kakak nya itu dengan senyum manis di wajah nya.
“Kamu kenapa baru dapat lotre senyum-senyum begitu?” Tanya Miko yang merasa adiknya itu sedikit aneh.
“Hehehe tidak kok pak.”Ravi salah tingkah sembari cengengesan.
“Yasudah kakak bali duluan, kamu jangan balik terlalu lama kasihan Ayu gak ada teman nya di rumah.”Titah Miko.
“Baik pak Miko wijaya.”Jawab Ravi.
Akhirnya miko pergi dan meninggalkan ruangan Ravi, karena dia sudah merindukan putra dan istrinya. Sementara Ravi langsung menyelesaikan pekerjaan nya yang tanggung. Kini hari sudah mulai gelap dan Ravi baru saja menyelesaikan pekerjaan nya.
Dia pun mengirimkan pesan kepada Ayu bahwa hari ini dia akan lembur, jadi Ayu tidak perlu menyiapkan makan malam dan silahkan makan malam lebih dulu. Setelah pesan nya di balas kan oleh istrinya Ravi bersiap keluar dari ruangan nya dan segera menuju ke parkiran karena dia sudah ada janji makan malam bersama Devina.
Sesampainya di parkiran Ravi segera menuju mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya, mobil pun melaju meninggalkan kantor itu memecah kemacetan ibu kota. Seperti biasa tempat makan selalu di tentukan oleh Devina dan Ravi tidak masalah untuk itu semua.
Namun kali ini tempat makan nya masih sekitaran ibu kota. Sehingga hanya di perlukan beberapa detik saja sampai ke tempat itu. Salah satu tempat makan kaki lima yang menyajikan berbagai macam menu seafood. Sesampainya di sana Ravi pun segera memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil. Ravi pun segera menghampiri Devina yang sudah lebih dulu duduk di sana.
“Maafkan aku cantik,.selalu membuatmu menunggu.”Ujar Ravi yang duduk di hadapan Devina.
“Hmm tidak apa-apa pak Ravi wijaya sudah biasa.”Jawab Devina sambil tersenyum.
“Sudah pesan?” Tanya Ravi yang melihat buku menu di atas meja.
“Belum, kan nungguin kamu.”Jawab Devina.
“Yasudah pesan yuk, sudah lapar nih.”Ajak Ravi.
Devina pun meraih buku menu yang ada di atas meja dan mulai memilih menu makanan yang sesuai dengan selera nya. Setelah menentukan selera masing-masing mereka pun memesan makanan untuk mereka. Sembari menunggu makanan mereka siap mereka pun kembali mengobrol ringan.
“Ehh ribet gak sih Vin kalau kita bawa mobil masing-masing begini?”Tanya Ravi mencoba membuka kembali topik obrolan di anatar keduanya.
“Hmmm iya sih, terus mau bagaimana?” Devina balik bertanya.
“Bagaimana kalau dua minggu ini aku antar jemput kamu saja, yahh biar lebih enak aja lagian rumah kamu kan tidak terlalu jauh dari rumah aku.”Ravi menawarkan diri.
“Memang nya tidak merepotkan kamu vi?” Tanya Devina.
“Tentu tidak dong Vin, malahan aku senang kalau kamu bersedia ku antar jemput.”Jawab Ravi lagi.
“Yakin nih? Aku sih mau-mau aja mama juga tadi pagi berangkat ke luar negeri jadi dia gak akan nanya-nanya soal kamu.”Lanjut Devina.
“Wah benarkah, yasudah mulai besok aku antar jemput kamu ya vin.”Lanjut Ravi lagi.
“Okay sayang.”Jawab Devina tersenyum.
Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Devina kembali membuat ravi salah tingkah. Akhirnya makanan mereka pun datang keduanya pun makan malam bersama menikmati setiap momen yang tercipta.
Beberapa menit berlalu mereka pun sudah selesai makan malam, dan merasa sudah kenyang.
“Vi kamu buru-buru mau balik ya?” Tanya Devina.
“Enggak Vin, kenapa?” Ravi balik bertanya.
“Katanya di dekat sini ada taman yang lumayan bagus, mau duduk-duduk di taman itu gak sebentar?”Tawar Devina.
__ADS_1
Bukan Ravi namanya kalau menolak permintaan Devina, apapun yang di inginkan Devina pasti sebisa mungkin di turuti oleh Ravi.
“Boleh Vin.”Jawab Ravi.
“Yasudah yuk.”Ajak Devina.
Keduanya pun bangkit dari duduk mereka dan Ravi membayar makanan mereka setelahnya keduanya kembali ke mobil masing-masing melajukan mobil itu menuju taman yang di maksud oleh Devina. Karena taman nya tidak terlalu jauh dari tempat makan itu jadi hanya di perlukan beberapa detik waktu tempuh.
Sesampainya di taman keduanya keluar dari mobil, taman itu terlihat sepi dengan lampu taman sedikit redup, keduanya pun berjalan menuju kursi taman dan duduk di sana.
“Huh,,, udaranya memang yang terbaik.”Ujar Devina menarik nafas nya dalam mencoba menikmati udara taman itu.
“Hehehe kamu masih sama seperti dulu ya Vin, tidak ada perubahan selalu lebih suaka tempat yang sepi dan sederhana seperti ini.”Ucap Ravi.
“Memang nya kamu vi banyak perubahan.”Jawab Devina yang kini menyenderkan kepalanya ke bahu Ravi.
“Tapi perasaan ku kepadamu tidak pernah berubah Vin.”Jawab Ravi.
“halah bohong, kalau hal itu beneran kamu tidak akan menikah. Tapi aku sedang tidak ingin membahas itu karena aku ingin di cerita ini hanya ada aku dan kamu.” Ujar Devina yang menatap ke langit di mana ada bulan dan bintang di sana.
“Maafin aku vin.”Jawab Ravi.
“Maaf mulu,lebaran masih lama sayang.”Kata Devina.
“Aku pikir ini semua hanya mimpi, aku tidak menyangka bisa jadi kenyataan. aku sebenarnya punya banyak list impian yang ingin di lalui bersama mu, walaupun tidak semua nya terwujud namun aku berharap sebagian dari list itu bisa terwujud selama dua minggu kedepan.”Lanjut Devina.
“Aku akan membantumu mewujudkan semua list impian kamu itu cantik.”Jawab Ravi penuh tekad.
“Aku berharap di kehidupan selanjutnya kita bisa berjodoh ya, dan bisa mewujudkan semua harapan aku yang tertunda di kehidupan sekarang.”Sambung Devina yang kini memeluk lengan Ravi.
“Amin semoga saja.”Ravi pun sudah mulai berani menggenggam tangan Devina.
Ravi pun menarik tangan nya dai pelukan Devina lalu menarik tubuh Devina ke dalam pelukan nya. Devina merasakan kehangatan yang selama ini dia dambakan dan karena terlalu nyaman Akhirnya Devina merasa mengantuk dan beberapa kali dia menguap.
Menyadari Devina sudah mulai mengantuk Ravi pun mengajak Devina untuk balik. Devina pun setuju.Keduanya bangkit dari tempat duduk mereka dan segera berjalan menuju parkiran mobil mereka.
“Ravi aku masih boleh minta satu permintaan lagi tidak?” Tanya Devina lagi.
“Jangan satu Vin, sepulu pun boleh.”Jawab Ravi.
“Tidak perlu sepuluh, kebanyakan nanti kamu tidak sanggup mengabulkan nya. Hanya satu saja.”Lanju Devina.
“Apa itu Vin?”Tanya Ravi yang terus mengimbangi langkah Devina.
“Aku boleh panggil kamu dengan panggilan sayang gak? Tenang saja hanya saat kita sedang berdua begini kok.”Ujar Devina.
“Hmm boleh gak ya.”Jawab Ravi.
“Yahh gak boleh ya?”Devina memanyunkan bibir mungilnya.
“Iya boleh dong sayang, apa sih yang enggak buat kamu. aku malah senang kalau di panggil saya sama kamu.”Jawab ravi.
“Ahh benarkah terimakasih sayang ku.”Jawab Devina tersenyum kegirangan.
“Sama-sama cantik.”Jawab Ravi.
Keduanya pun sudah sampai di parkiran dan mereka pun terpaksa berpisah di sana.
__ADS_1
“Terimakasih untuk hari ini sayang, kamu hati-hati nyetirnya.aku tunggu di jemput besok pagi ya.”Ujar Devina saat mereka akan masuk ke mobil masing-masing.
“Aku yang terimakasih sayang, kamu juga hati-hati menyetirnya ya.”Jawab Ravi.
“Cup.” Satu kecupan mendarat di pipi ravi.
Ravi sedikit kaget dengan serangan mendadak itu, bahkan kini pipinya memerah seperti kepiting rebus.
“Kabarin kalau sudah sampai yah, dah sayang.”Devina akhirnya membuka pintu mobilnya.
“Iya sayang.”Jawab Ravi salah tingkah.
“Aku duluan ya sayang, ingat jangan lupa besok pagi.”Ujar Devina saat mesin mobilnya sudah hidup.
“Iya sayang.”Ravi mengangguk.
Devina pun masuk ke mobil dan melambai ke pada Ravi, Devina membunyikan klakson mobilnya dan segera melaju meninggalkan Ravi.
Setelah mobil Devina sudah tidak terlihat lagi Ravi pun segera masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya pulang ke rumah nya. Di sepanjang jalan Ravi hanya bisa senyum-senyum dia merasa semua ini seperti mimpi. Dan tanpa terasa kini mobilnya sudah sampai di rumah dia pun membuka gerbang rumah dan segera masuk ke dalam rumah. Dan sat dia keluar dari mobil ternyata Ayu belum tidur dan membuka kan pintu untuk nya.
“Astaga sayang, kamu belum tidur?” Tanya Ravi yang kaget melihat Ayu berdiri di depan pintu rumah.
“Belum mas.”Jawab Ayu.
Ayu pun menyalim suaminya itu, kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dan segera ke kamar mereka
.
“Mau mandi sekarang mas?”Tanya Ayu.
“Iya sayang, mas merasa tubuh mas sudah lengket dan berkeringat.”Jawab Ravi yang melepaskan jas nya lalu kemejanya serta yang lain yang melekat pada tubuhnya.
Ayu pun menyerahkan handuk kepada suaminya itu, lalu Ravi pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Sementara Ayu memungut semua pakaian kotor Ravi dan ingin memasukkan nya ke keranjang pakaian kotor. Namun sepertinya hidung Ayu cukup peka juga.
Dia merasa ada aroma yang lain dari pakaian Ravi itu, dia pun mencium jas Ravi dan benar saja dia merasa di lengan nya serta kemeja Ravi ada aroma parfum perempuan.
Ayu mencoba mencium ulang jas dan kemeja itu untuk memastikan aroma parfum itu, namun benar itu aroma baru bukan punya mereka. Dan Ayu tau pasti itu punya perempuan. Namun karena tidak ingin berburuk sangka kepada suaminya Ayu pun meletakkan semua pakaian Ravi itu ke keranjang pakaian kotor. Dan mencoba berpikir positif.
Dia pun segera menyiapkan pakaian untuk Ravi, dan beberapa menit kemudian Ravi sudah selesai mandi dan dia pun menggunakan pakaian yang di siapkan oleh istrinya itu. Sementara Ayu yang sudah bersiap untuk tidur rebahan di atas ranjang.
“Apa pekerjaan di kantor lagi banyak banget ya mas?”Tanya Ayu saat suaminya itu naik ke atas ranjang.
“Iya sayang, mungkin kedepan nya juga mas akan sering lembur soalnya mas sedang menangani proyek besar.”Jawab Ravi.
“Ohh begitu, kanu jangan terlalu di porsir ya sayang kerjanya jaga kesehatan.”Lanjut Ayu.
“Iya isriku.”Jawab Ravi.
“Yasudah yuk mas tidur sudah malam, besok kamu kerja kan?” Ajak ayu.
“Iya sayang, kamu tidur saja duluan mas masih ada dokumen yang ingin di cek.”Jawab Ravi yang meraih ponselnya yang terletak di nakas kamar.
“Iya mas jangan malam banget tidurnya ya.”Ujar Ayu yang sudah mengantuk.
“Iya, selamat tidur istriku.”Ravi mengecup kening Ayu.
Ayu pun tersenyum lalu tidur lebih dulu, sedangkan Ravi masih berbalas pesan dengan Devina. Karena lampu kamar redup dan cahaya ponselnya tepat di atas wajah Ravi ayu yang belum tidur sepenuhnya melirik ke arah suaminya yang tidak menyadari bahwa istrinya itu belum tidur.
__ADS_1
Ayu merasa aneh kenapa sampai jam segini Ravi masih bermain ponsel bahkan dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya seakan sedang berbalas pesan dengan seseorang. Ayu tau benar siapa suaminya itu kalau sudah di atas ranjang begini biasanya sudah tidak memperdulikan pekerjaan lagi. Namun Ayu tidak mau berpikir buruk dia pun mencoba memejamkan matanya walaupun semuanya tiba-tiba berputar di otaknya. Dan beberapa menit kemudian Ravi meletakkan ponselnya dan memeluk Ayu serta tertidur.