Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Mengobrol dengan Bapak


__ADS_3

"Waalaikumsalam, bapak sudah pulang." Tiba-tiba ibu nya Ayu keluar dari dapur.


"Sudah buk," ujar sang bapak sambil menyerahkan bekal makan kepada istrinya itu.


"Selamat sore pak." Ucap Ravi yang canggung dan berdiri dari duduk nya.


"Bapak..." Ayu langsung berhambur ke pelukan bapak nya.


"Lho Putri bapak sudah pulang toh." Bapak Ayu langsung tersenyum dan memeluk Ayu.


"Bapak pasti capek kan, baru pulang dari ladang. Ohh Iya pak kenalin ini kak Ravi, yang kemaren Ayu ceritain." Ayu memperkenalkan Ravi saat pelukan mereka terlepas.


"Pak.." Ravi mendekati bapak Nya Ayu sembari menyalim nya.


"Senyum dikit kek pak, itu wajah sangar amat." Goda ibu nya Ayu.


"Ibu...." Ayu menyenggol ibunya.


"Lah emang setelan pabrik nya begini buk, bagaimana toh memang susah senyum." Jawab bapak Ayu.


"Yaudah bapak mandi gih ini sudah sore." Titah ibu nya Ayu lagi.


"Nak Ravi di nyamanin saja ya, maaf ya begini lah keadaan rumah kami hehehe." Ujar ibu nya ayu sambil cengengesan kepada Ravi.


"Iya iya Bu, tidak apa-apa kok Ravi nyaman." Jawab Ravi sambil tersenyum.


"Yasudah yu, kamu temenin nak Ravi ya, ibu mau lanjut masak dulu." Lanjut ibu nya Ayu.


"Iya Bu." Jawab Ayu.


Ibu Ayu pun ke dapur lalu melanjutkan masakan nya sementara Ayu dan Ravi duduk di sofa ruang tengah sambil mengobrol santai. Beberapa saat kemudian bapak pun selesai mandi dan setelah selesai sholat mereka pun bersiap untuk makan malam.


"Kak sebentar ya, Ayu bantu ibu siapkan makan malam untuk kita." Ujar Ayu.


"Ohh iya iya yu." Jawab Ravi.


Ayu pun segera ke dapur untuk membantu ibu dan adik perempuan nya. Sementara bapak yang baru keluar dari kamar menghampiri Ravi.


"Ehh pak." Sapa Ravi sambil tersenyum kecil.


"Bagaimana perjalanan ke sini tadi?" Tanya bapak nya Ayu sambil duduk di hadapan Ravi.


"Lumayan melelahkan pak, tapi Alhamdulillah lancar lah di jalan." Jawab Ravi sambil meletakkan ponsel nya di meja.


"Hmmm, Ayu banyak cerita tentang nak Ravi dan keluarga." Lanjut sang bapak.


"Ohh iya ya pak," jawab Ravi yang memang tidak bisa dan tidak biasa berbasa basi.

__ADS_1


"Memang nya nak Ravi tidak bekerja? Sehingga bisa ikut ayu pulang kampung?" Sambung di bapak.


"Ohh kebetulan saya baru sembuh karena beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan pak, jadi sepertinya memang butuh refreshing, kebetulan Ayu pulang kampung jadi sekalian menemani ayu pulang kampung dan berkenalan dengan bapak dan ibu serta adik-adik." Jelas Ravi yang bingung mau jawab Apa.


"Ohh begitu, lalu apa hubungan nak Ravi dengan Ayu? Kalau paka pribadi sebenarnya belum mengizinkan ayu untuk pacaran soalnya kan dia masih cukup muda dan masih banyak mimpi yang harus dia gapai." Ujar si bapak.


"Waduh, belum ngutarin niat udah di tolak mentah-mentah nih sama si bapak, pacaran saja tidak boleh apalagi melamar." Batin Ravi yang agak kaget mendengar penjelasan bapak nya Ayu.


"Umm Anu pak saya dan Ayu." Belum sempat Ravi melanjutkan kata-katanya untuk menjelaskan hubungan nya dengan Ayu suara ibu sudah mengagetkan kedua nya.


"Bapak, nak Ravi nanti saja di lanjut ngobrol nya kita makan malam dulu yuk." Ajak sang ibu.


"Ohh iya iya Bu." Jawab Ravi yang menoleh ke arah ibu nya Ayu.


"Ayo nak Ravi." Ajak si bapak.


Ravi dan si bapak pun bangkit dari duduk nya mereka lalu segera bergabung dengan yang lain yang sudah menunggu mereka.


"Nak Ravi, kamu tidak punya meja makan, jadi biasanya juga makan di tikar begini. Kalau nak Ravi tidak bisa makan lesehan biar ibu ambilkan kursi ya." Ujar si ibu karena memang mereka makan duduk di tikar.


"Ehh tidak apa-apa kok buk, Ravi biasa kok makan duduk lesehan begini." Jawab Ravi yang duduk di dekat Jonatan.


Ayu menatap Ravi, dia takut Ravi tidak nyama dengan kondisi rumah nya. Namun sepertinya Ravi nyaman-nyaman saja.


"Ini lah nak Ravi lauk nya juga alakadarnya, maklum lah orang kampung." Sambung si ibu.


Di sana ada sayur asem, ikan asin, sambal terasi, kerupuk, tahu dan tempe goreng serta lele goreng dan lalapan.


Benar-benar lauk pauk yang nyaris tidak pernah ada di rumah nya.


" Kak butuh sendok?" Tanya Ayu saat melihat Ravi masih diam saja padahal yang lain sudah mulai makan.


Bagaimana tidak, keluarga Ayu sudah terbiasa makan langsung pakai tangan dan tidak pernah pakai sendok.


"Ohh tidak yu, kakak pakai tangan saja." Jawab Ravi yang merasa tidak enak kalau malam pakai sendok sendiri an.


Ravi pun mulai menikmati makan malam nya. Dan ternyata rasanya di luar dugaan, begitu nikmat. Ravi pun terlihat begitu lahap makan nya. Sekeluarga itu saling melirik Ravi dan mereka bahagia karena tamu mereka bisa makan se nyaman itu di rumah mereka. Bahkan tanpa sadar Ravi nambah benar-benar rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Di kenyangin nak Ravi." Ucap si bapak yang sudah selesai makan karena memang bapak Ayu makan nya super cepat.


"Iya pak." Jawab Ravi.


Setelah beberapa menit kemudian mereka pun selesai makan, dan Ayu dan Mikayla membereskan piring-piring kotor. Sedangkan bapak duduk di teras sembari merokok. Sementara si ibu mengajari Jonatan mengerjakan tugas sekolah nya.


Ravi yang memang belum mengantuk menghampiri bapak di teras rumah.


"Ehh nak Ravi, duduk sini." Ujar si bapak saat melihat Ravi menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Iya pak." Jawab Ravi.


"Nak Ravi merokok?" Tanya si bapak yang mematikan rokoknya.


"Tidak pak." Jawab Ravi sambil tersenyum.


"Bagus itu, tapi kadang rokok juga bisa menjadi alat kita untuk menghilangkan stress sih." Jelas si bapak.


Dia pun duduk di sebelah bapak, lalu mulai mengobrol santai. Udara nya yang masih segar karena rumah mereka memang tepat di lereng gunung membuat Ravi merasakan kesegaran di paru-paru nya. Suasana desa yang tenang dan hanya ada suara jangkrik dan hewan lain nya sebagai alunan alam yang indah.


Benar-benar menambah ketenangan hati, Ravi pun sesekali bertanya basa basi kepada bapak nya Ayu dan si bapak menjawab dan menjelaskan setiap pertanyaan Ravi.


"Pak mau ngopi?" Tanya ayu yang memang sebenarnya tau kebiasaan bapak nya kalau malam hari.


"Boleh ndok." Jawab si bapak.


"Kak Ravi juga mau ngopi?" Tanya Ayu lagi.


"Boleh deh yu." Jawab Ravi.


Beberapa menit kemudian dua gelas kopi pun di suguhkan oleh Ayu.


Setelah selesai menyajikan kopi nya Ayu pun pamit masuk ke dalam. Mereka pun lanjut mengobrol.


"Ayok nak Ravi, di minum kopi nya entar keburu dingin." Ujar si bapak yang sudah meneguk habis kopi nya padahal baru beberapa menit yang lalu di suguhkan oleh Ayu.


"Ohh iya iya pak." Jawab Ravi yang menyeruput kopinya. Dan betapa kaget nya Ravi saat menyeru kopi nya karena kopi itu sudah sangat dingin.


Mereka pun lanjut mengobrol, obrolan semakin panjang dan nyambung walaupun Ravi lebih banyak jadi pendengar. Ravi mulai merasa kan kedinginan, dia merasa angin malam sudah mulai menusuk ke tulang-tulang nya. Rasanya benar-benar berada di freezer. Namun Ravi tidak enak memotong pembicaraan untuk pamit masuk ke dalam rumah.


Dia sudah tidak fokus lagi mendengar cerita si bapak, dia sudah mulai menggerak-gerakkan kaki nya karena dia merasa jari kaki nya kini sudah beku.


"Pak, sudah lah ngobrol nya, nak Ravi capek seharian nyetir biar dia istirahat dulu. Besok kan bisa di lanjut lagi." Ujar si ibu yang berdiri di depan pintu.


"Alhamdulillah, terimakasih ibu, ibu adalah Dewi penyelamat ku." Batin Ravi yang akhirnya merasa lega.


"Ohh iya nak Ravi, maaf ya bapak keasikan bercerita, yasudah Monggo istirahat nak Ravi bapak sebentar lagi istirahat nya." Ucap si bapak.


"Iya pak, Ravi masuk ke dalam dulu ya " pamit Ravi.


"Iya iya nak." Jawab bapak nya Ayu.


Ravi pun segera masuk ke kamar nya ayu, untung Ayu mengingat kan dirinya agar membawa kaos kaki. Jadi Ravi langsung memalingkan kaos kaki nya dan saat melihat ada selimut tebal di atas ranjang dia langsung naik ke ranjang dan memakai selimut itu.


"Benar-benar uji nyali ini namanya." Batin Ravi yang sudah menggigil.


Akhirnya beberapa menit kemudian Ravi pun tertidur karena mungkin kelelahan juga.

__ADS_1


__ADS_2