
"Amora kenapa kau menangis sendiri an di sini?" Tanya Ravi yang menghampiri Amora yang menangis di pinggir kolam berenang.
"lho Ravi, kok tumben pulang cepat dari kantor?" Tanya Amora yang langsung menyeka air mata nya.
"Iya mor, tadi aku pikir terjadinya sesuatu di rumah ini, Soalnya kak Miko keluar ruangan terburu-buru dan segera pulang ke rumah. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan ku dan aku melihat aura kemarahan di wajah nya." Jelas Ravi yang duduk di sebelah Amora.
"Hmm seperti itu ternyata."jawab Amora.
"Memang nya ada apa Amora? Kenapa kau duduk sambil menangis di sini? Kak Miko di mana?" Tanya Ravi yang memang masih baru sampai di rumah.
"Huh..entah lah Ravi." Jawab Amora sambil menarik nafas nya dalam-dalam.
"Apa kau berantam dengan kak Miko? Atau kau melakukan kesalahan sehingga kak Miko semarah itu,?" Tanya Ravi kemudian mencoba menerka apa yang terjadi di antara keduanya.
"Tidak kok Ravi, aku hanya memperjelas saja kepada diriku sendiri dan kakak mu bahwa hubungan kami hanya sebatas partner diatas ranjang dan tidak akan pernah lebih dari itu." Jawab Amora yang malas menjelaskan semua masalah yang terjadi kepada Ravi.
"Lalu?"
"Hah lalu apa? ya seperti itu lah."
"Lalu setelah kontrak mu dengan kak Miko habis apa yang akan kau lakukan Amora?" Tanya Ravi.
"Ya aku akan keluar dari rumah ini, dan memulai kehidupan baru ku." Jawab Amora.
"kau yakin, Apa kau tidak memiliki sedikit pun rasa cinta atau rasa tertarik kepada kak Miko?"
tanya Ravi.
"Hahaha aku tidak pantas menyukai dan mencintai pria seperti kakak mu Ravi, dia dan aku bagai langit dan bumi." Jawab Amora sambil tertawa simpul.
"Kenapa?, Siapa yang bilang begitu Amora, aku merasa kakak memiliki rasa kepada mu." Pancing Ravi.
__ADS_1
"Mustahil, pria se kelas kakak mu tidak mungkin selera nya serendah aku Ravi."
"Amora kau salah menilai kak Miko."
"Terserah kau Ravi, tapi itu lah kenyataan nya."
"Lalu jika kakak ku menyukai mu Amora apa yang akan kau lakukan, apa kau akan menerima nya?"
"Kau bercanda Ravi? Itu hal yang mustahil."
"Anggap lah saja begitu, apa jawaban mu?"
"Entah lah Ravi, yang pasti aku merasa aku tidak pantas bersanding dengan pria se kelas kalian."
"Amora kenapa sih kau selalu merendahkan dirimu hah?"
"memang itu lah kenyataan nya Ravi, ngapain aku merendahkan diri ku karna memang harga diriku sudah rendah sedari dulu." ucap Amora.
"Lalu bagaimana jika kami yang memilih mu?"
"Kenapa kau merasa rendah diri Amora, kau berharga jika di tangan orang yang tepat." Ucap Ravi yang menatap Amora lekat.
"Hahaha itu hanya dongeng sebelum tidur Ravi, di mata orang lain aku hanya perempuan murahan dan selamanya akan seperti itu."
"Tapi di mata ku kau wanita sempurna dan berharga Amora, kau adalah berlian yang sangat langka." ucap Ravi.
"Maksud mu apa Ravi? kau sedang bercanda hah?"
"Amora aku serius, mungkin menurut mu aku pengecut. tapi jauh sebelum kak Miko mengenal mu aku sudah mencintai mu. awalnya aku ingin memendam perasaan ini sendiri, tapi semakin lama aku memendam perasaan ini maka semakin dalam dan besar juga rasa ini kepada mu. Sejak pandangan pertama bahkan saat kau masih pingsan aku sudah tertarik kepada mu bahkan mungkin sudah jatuh cinta bahkan jatuh- sejatuh-jatuhnya kepada mu." Jelas Ravi mengungkapkan perasaan nya sambil menggenggam kedua tangan Amora.
"Hahahaha bercanda an mu tidak lucu Ravi." Tawa Amora.
__ADS_1
"Aku tida sedang bercanda Amora, sungguh aku tidak berharap kau membalas perasaan ku ini. Tapi aku hanya ingin mengungkapkan semuanya agar tidak ku pendam sendiri dan sakit sendiri." Sambung Ravi.
"Ada apa dengan hari ini, kenapa semua orang seakan hilang kesadaran." Tanya Amora sambil menarik tangan nya dari genggaman Ravi.
"Aku menunggu hari dimana kau dan kak Miko mengakhiri kontrak gila kalian itu. Dan di saat itu aku akan mengungkapkan perasaan ku kepada mu dan akan memperjuangkan mu saat kau dan kakak ku tidak memiliki hubungan apapun. Namun rasa ini terlalu besar dan sudah tidak dapat ku pendam lagi. Maka aku akan memperjuangkan mu walaupun aku harus bersaing dengan kakak ku dalam mendapatkan mu." Ucap Ravi yang memang sudah bertekad.
"Ravi apa kau sakit?" Tanya Amora yang meletakkan telapak tangan nya di kening Ravi.
"Tidak, aku sehat dan baik-baik saja." Jawab Ravi.
"Lalu kenapa kau sampai tidak menggunakan akal sehat mu? Ku rasa aku sudah menceritakan semua masa lalu ku kepada dan kau tau jelas bahwa aku ini adalah bekas kakak mu."
"Lalu?"
"Kau masih bertanya lalu? Aku ini perempuan sampah, dan cinta mu yang beharga tidak pantas ku miliki. Jadi stop Ravi jangan tambah kan beban ku lagi ya." Pinta Amora.
"Amora di mata ku kau wanita berharga, dan ku mohon stop berpikir bahwa kau wanita murahan dan lain sebagainya. Kau berharga Amora dan kau layak mendapatkan kebahagiaan setelah penderita an yang luar biasa yang kau hadapi di masa lalu."
Amora hanya diam saja mendengar kata-kata Ravi, sungguh dia bingung dengan hari ini kenapa rasanya semua nya menghancurkan hidup nya.
"Ravi sudah lah, mungkin memang takdir ku seperti ini, dan aku terlahir sebagai perempuan yang jadi sampah di dunia ini. tapi sungguh aku menerima peran ini dengan lapang dada. jadi ku mohon kau tidak perlu mengasihani aku. karena ku tidak butuh di kasihanin." ucap Amora
"Amora ku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan ketulusan ku kepada mu." Potong Ravi.
"Ravi, jangan habiskan waktu mu untuk hal sia-sia seperti ini, dan stop semua lelucon gila ini." pinta Amora.
"Amora ku mohon, bukan kah semua orang berhak untuk mencintai dan memperjuangkan perasaannya? dan aku juga bagian dari mereka." ucap Ravi.
"Terserah kau saja Ravi, aku pusing dengan semuanya. Aku ke dalam dulu ya." Pamit Amora yang langsung meninggalkan Ravi. Dia benar-benar pusing dengan semua kejadian ini.
sementara di jendela rumah ada Miko yang berdiri sambil menguping obrolan antara Amora dan Ravi. Miko merasa kesal dan marah dengan keadaan karena dia merasa Ravi mengambil kesempatan saat hubungan Miko dan Amora sedang renggang.
__ADS_1
"baiklah Ravi, kamu jual dengan senang hati kakak beli." batin Miko sambil mengepalkan tangan nya.
Miko pun segera meninggalkan jendela itu, karena dia melihat Amora menaiki anak tangga menuju kamar mereka. sementara Ravi masih duduk mematung di pinggir kolam.