
"Kau pikir aku sebodoh itu Elsa, tidak akan ku biarkan kau mengambil uang ku dan mengancam ku. Aku akan pastikan kau hancur dengan permainan mu sendiri." Batin Ana yang merasa kesal kepada Elsa.
"Tunggu saja pembalasan ku wanita ular." Batin Ana sambil tersenyum penuh maksud.
Ana pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah keluarga Wijaya. Dia berniat memberi tahu kepada keluarga Wijaya bahwa Elsa dan Tama lah yang menyuruhnya melakukan video kebohongan itu. Dia juga sudah menyusun rencana bahwa seakan-akan dia di paksa untuk melakukan video itu dan semua itu terjadi karena ancaman.
.
.
.
Sementara di villa, keluarga Wijaya sudah bersiap-siap ingin pulang ke rumah mereka. Karena besok sudah hari Senin dan para pria sudah harus bekerja besok.
Setelah semua barang-barang masuk ke dalam mobil dan semua nya sudah siap mereka pun masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju menuju rumah mereka.
Sepanjang perjalanan Ayu hanya diam saja, karena dia satu mobil bersama Sovi dan Amora mobil di kemudikan oleh pak paijo. sedangkan Miko dan yang lain nya di mobil yang satu lagi yang di kemudikan oleh pak Rudi.
Sementara Amora dan sovi sesekali berbincang tentang banyak hal.
"Amora tolong ambilin camilan di paper bag itu dong sayang, mama ngantuk kalau perjalanan jauh begini." Ucap Sovi kepada Amora yang memang duduk di sebelah nya.
"Ohh iya ma." Jawab Amora mengambil paper bag yang ada di sebelah nya.
"Ayu kok dari tadi diam saja, kenapa?" Tanya Sovi kepada Ayu yang duduk di sebelah pak Paijo.
"Ehh tidak apa-apa kok Bu." Jawab ayu sambil tersenyum paksa.
Sebenarnya Ayu merasa canggung kepada sovi karena tadi Sovi marah-marah kepada Ravi. Walaupun sovi tidak marah kepada Ayu tapi Ayu tetap merasa bersalah karena tidak minta izin tadi saat pergi.
"Apa kamu mengantuk?" Tanya Amora agar Ayu tidak merasa canggung.
"Tidak kok mbak." Jawab Ayu lagi.
"Yasudah ini Camilan, di makan dulu. Kamu tidak perlu merasa canggung begitu ibu tidak marah kok sama kamu. Ibu hanya marah kepada Ravi." Sambung Sovi yang merasa kecanggungan Ayu.
"Hehehe iya Bu, Ayu minta maaf ya Bu soalanya tadi pergi tidak pamit ke ibu atau yang lain." Ujar Ayu dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Tenang yu, tenang tidak masalah Kok, ibu tau itu semua ulah nya si Ravi dan kamu pasti hanya ikut saja kan karena tidak enak menolak nya." Jawab Sovi lagi.
"Terimakasih ku, tapi ini sepenuhnya bukan salah kak Ravi kok." Jawab ayu yang memilik rasa bersalah di hati nya.
"Sudah lah yu, santai saja mama tidak marah kok." Amora mencoba menenangkan Ayu.
"Iya yu, apa kamu kaget ya pas ibu tadi marah-marah ke Ravi? Ravi itu memang begitu kadang di omelin juga tetap masuk telinga kanan keluar telinga kanan juga. Jadi mental, dan bodoh nya ibu udah tau dia tidak akan perduli dengar Omelan Tante tetap aja Tante rela ngeluarin tenaga buat ngomelin dia." Kini Sovi malah jadi curhat dengan bibir manyun.
Ayu dan Amora jadi merasa kasihan kepada sovi apalagi melihat ekspresi wajah sovi yang begitu.
"Sudah lah ma, tidak perlu di pikirkan percaya deh sebenarnya Ravi mendengarkan dan menyadari ocehan mama hanya saja dia malu untuk mengaku salah." Amora menenangkan mertua nya itu.
"Iya sayang, benar kata kamu, mama tidak perlu memikirkan hal tidak penting begitu." Ujar Sovi.
__ADS_1
Mereka pun mulai mengobrol santai dan tanpa terasa kini sudah sampai di rumah. Semua nya turun dari mobil dan segera membereskan barang-barang masing dan masuk ke dalam rumah Karena ini sudah sangat sore.
Ayu masuk ke kamar nya untuk melaksanakan sholat.
Amora dan Miko juga ke kamar mereka untuk mandi lagi, begitu juga dengan yang lain.
"Tok...tok...tok..." Permisi Bu ada yang ingin bertemu dengan ibu." Seseorang mengetuk pintu kamar sovi dan Sean.
"Siapa?" Jawab Sovi dari dalam.
"Ibu-ibu yang beberapa bulan lalu pernah ke sini Bu, kalau tidak salah sih katanya Tante nya non Amora." Sambung nya lagi.
"Hah, Ana ngapain dia ke sini ya pa." Ujar Sovi yang langsung terpikir bahwa yang di maksud oleh mbak nya itu adalah Ana.
"Mungkin mau nge bahas soal video tentang Amora itu ma." Jawab Sean.
"Iya mbak, suruh saja dia menunggu dulu." Titah Sovi akhirnya.
"Baik bu." Jawab mbak-mbak pekerja di rumah itu.
"Sana gih, mama temui dulu Tante nya Amora itu. Papa jadi penasaran drama apa lagi yang dia bawa hari ini." Titah Sean yang masih asyik dengan pasar saham dan kopi nya.
"Iya pa." Jawab Sovi yang bersiap-siap keluar kamar.
Sovi pun keluar dari kamar nya dan segera menuju ruang tamu di mana Ana sedang menunggu nya.
"Mau ngapain kamu ke sini?" Tanya sovi saat dia sudah berjalan ke arah Ana.
"Tidak perlu basa-basi, mau ngapain kamu ke sini? Belum puas kamu fitnah Amora hah? Ingat ya kalau kamu masih berani senggol menantu saya, saya tidak segan-segan menghancurkan hidup kamu." Kemarahan sovi mulai keluar dan dia duduk di sofa hadapan Ana.
"Santai mbak, saya ke sini justru ingin membantu Amora dan keluarga ini dari ular licik." Jelas Ana mencoba menenangkan Sovi.
"Hah membantu dari ular licik, saya tidak salah dengar? Bukan kah kamu ya wanita ular nya?" Kini sovi balik bertanya.
"Baiklah saya minta maaf kalau dulu saya pernah keterlaluan kepada Amora. Tapi sekarang saya sudah bertobat mbak dan untuk video kemaren saya di ancam jadi saya terpaksa melakukan nya." Jawab Ana memasang wajah memelas.
"Ohh iya?, Memang siapa yang menyuruh kami melakukan fitnah menjijikkan itu?" Tanya sovi yang mulai penasaran.
"Elsa dan Tama, mereka yang sudah bersekongkol menyuruh saya melakukan itu semua nya. Dan karena di paksa terpaksa saya melakukan nya. Mereka berdua berusaha untuk menghancurkan keluarga Wijaya.karena mereka memiliki dendam yang sama untuk keluarga ini khususnya Amora." Sambung Ana dengan wajah semakin memelas untuk menyempurnakan aktingnya.
"Hahahah, sudah ku duga ada orang lain di balik fitnah menjijikkan ini." Tawa sovi jelas mengejek Ana.
"Apa mereka masih punya rencana lain?" Sovi mencoba mengorek informasi dari Ana.
"Iya Elsa masih punya rencana lain, dia ingin menggunakan Clara sahabat Amora untuk mengungkapkan semua masa lalu Amora. Dan yang tau soal Clara hanya saya makanya Elsa sekarang sedang memburu saya, tapi saya tidak mau membantu kejahatan mereka menghancurkan kehidupan Amora." Jelas Ana yang berharap mendapatkan perlindungan dari keluarga Wijaya.
"Ohh jadi video kemaren kamu di paksa dan si ancam ya? Aslinya kamu tidak mau melakukan nya?" Tanya sovi memastikan kata-kata Ana.
"Iya benarbak sovi, dan mereka berencana menggunakan saya lagi untuk kejahatan selanjutnya." Drama Ana masih berlanjut.
"Tapi di video itu saya lihat wajah kamu tidak ada keterpaksaan dan tekanan. Bahkan saya lihat kamu sangat mendalami peran kamu sebagai Tante yang begitu jahat Ana." Ujar Sovi sambil tersenyum sinis kepada Ana.
__ADS_1
Ana hanya terdiam melihat senyum sovi, dia tau dia salah datang ke sini. Dan begonya dia yang berharap mendapatkan pembelaan malahan membuka rahasia.
"Apa masih ada yang ingin kau sampai kan nyonya Ana? Kalau tidak ku rasa kau masih ingat pintu keluar ya. Ohh iya terimakasih sudah jauh-jauh datang ke sini dan sudah menceritakan semua nya dengan sepenuh hati. Senang bertemu dengan mu sore ini." Ujar Sovi yang berdiri dari duduk nya lalu berjalan meninggalkan Ana sendirian.
"Ohh iya satu lagi, jangan sampai kau usik hidup keluarga ku khususnya menantu ku. Karena jika hal itu terjadi aku tidak akan segan-segan menghabisi mu." Tiba-tiba sovi menghentikan langkahnya, lalu akhirnya berjalan lagi.
"Sialan, berharap dapat perlindungan dari keluarga ini, ehh malah kena apes. Tapi tak apa setidaknya kau juga akan hancur bersama ku Elsa." Batin Ana yang akhirnya berdiri dari duduk nya dan seget keluar dari rumah itu karena dia memang sudah di usir.
Setelah Ana pergi Sovi bisa bersikap biasa saja seakan tidak ada tamu yang datang ke rumah itu saat mereka semua makan malam bersama di meja makan. Hanya dia, Sean dan pelayanan di rumah itu lah yang tau.
"Assalamualaikum." Tiba-tiba suara seseorang menganggu fokus semua penghuni rumah yang sedang duduk di meja makan.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka sambil menoleh ke sumber suara.
"Kanaya, kok tumben datang nya malam-malam sayang." Sovi Langsung berdiri dari duduk nya dan segera menghampiri Kanaya sambil tersenyum manis.
"Hehehe kebetulan tadi Kanaya lewat sini Tante mau nganter mama ke rumah teman nya. jadi sekalian mampir deh soal nya Kanaya sudah rindu Tante." Jelas Kanaya tersenyum kepada sovi.
"Ohhh begitu, kamu sudah makan malam sayang? Yuk makan sama-sama yuk." Ajak sovi sambil menggandeng Kanaya.
Ayu yang sedang menyiapkan susu untuk Amora hanya diam saja. Dia sedikit terpana melihat kecantikan Kanaya di tambah lagi body Kanaya yang bagus, kulit yang putih mulus dan wajah yang terkategori Kan sempurna. Namun dia tidak tau siapa Kanaya itu.
Kanaya pun menyalim semua orang yang ada di rumah itu dan terlihat sudah akrab, sampai akhir nya dia duduk di sebelah Ravi.
"Ini siapa Tan?" Tanya Kanaya saat melihat Ayu yang sedang berdiri di sebelah Amora.
"Ohh ini Adik nya angkat nya Amora, dia yang bantu-bantu Amora saat Amora begini." Jelas Sovi.
"Ohh begitu, halo nama ku Kanaya." Kanaya menyodorkan tangan nya untuk bersalaman.
"Ayu mbak." Jawab ayu tersenyum sambil membalas uluran tangan Kanaya.
"Kalau lihat kalian begini, mama ingin deh kalian langsung menikah. Ravi tunggu apalagi sih nak?" Tanya Sovi kepada Ravi.
"Sabar dong ma, mama pikir menikah se gampang itu apa." Jawab Ravi.
"Iya Tan, Kanaya sama kak Ravi juga masih proses ke sana kok. Semuanya perlu di persiapkan dengan matang soalnya kan mau jadi satu-satunya seumur hidup, iya kan sayang." Jawab Kanaya.
"Nah dengar tuh calon mantu mama." Jawab Ravi.
"Apa, calon mantu mama, jadi ini pacar kak Ravi." Batin Ayu merasa sedikit kaget dan sakit.
"Uluh-uluh sossweat banget sih kalian." Ujar Sovi.
"Sudah-sudah nanti saja di lanjut ngobrol nya , kita makan dulu yuk papa sudah lapar." Ucap Sean.
Akhirnya mereka semua pun makan malam bersama. Dan tanpa mereka sadari ada hati yang sedang acak-acakan di dapur.
"Ayu sadar yu, kamu siapa dan kak Ravi siapa. Lihat tuh pacar nya kak Ravi cantik, kaya dan berpendidikan. Sementara kamu, kamu kalah di segala bidang yu. Tapi kenapa di sini sakit sekali." Batin Ayu sambil memegangi hati nya yang terasa sesak dan sakit ingin Rasanya dia menangis sekarang.
"Kau hancur oleh harapan mu sendiri yu, makanya jadi manusia harus banyak berkaca dan sadar diri." Batin nya mulai menyadarkan dirinya.
__ADS_1