Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Menjemput Kanaya


__ADS_3

Ayu yang merasa kedinginan terbangun dari tidur nya. Dia menatap wajah Ravi yang masih tertidur pulas di sebelah nya. Kini tubuh ayu di apit oleh senderan sofa dan tubuh Ravi.


Ayu tau ini sudah subuh, dia menatap wajah tenang Ravi, yang masih terlihat tampan walaupun saat tidur.


Ayu mengelus pelan wajah Ravi, lalu mengecup pipi nya. Lalu Ayu mencoba turun dari sofa dengan pelan karena dia takut kalau sampai orang rumah tau kalau mereka tidur di ruang kerja ini bersama mereka bisa salah paham kepada mereka berdua.


Setelah berhasil turun dari sofa dan merapikan diri ayu pun keluar dari ruang kerja itu. Dia pun membuka pintu dengan pelan, saat mengintip dari daun pintu dan merasa aman ayu mengendap-endap masuk ke kamar nya.


"Huh... akhirnya." Batin Ayu saat dia sudah masuk ke dalam kamar nya.


Ayu langsung mandi dan membersihkan diri, lalu setelah nya dia sholat subuh. Dia merasa bersalah karena hampir saja membuat dosa dengan Ravi.


Setelah selesai sholat, ayu pun merapikan sajadah dan mukena nya. Lalu segera bersiap-siap ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Seakan tidak terjadi apa-apa antara dia dan Ravi tadi malam.


"Hmmmmm, pagi-pagi sudah wangi saja." Sapa sovi yang keluar dari kamar nya.


"Ehh ibu, iya Bu." Jawab ayu yang merasa canggung sambil cengengesan.


"Bagaimana tidur mu yu, nyenyak?" Sambung sovi.


"Ummm, Alhamdulillah nyenyak Bu." Jawab ayu sedikit terbata-bata.


"Syukurlah, apa yang bisa ibu bantu?" Tawar sovi.


"Ohh tidak ada Bu, ini udah mau kelar kok." Jawab ayu lagi.


"Ayu memang perempuan luar biasa, siapapun nanti yang jadi suami dan mertua mu pasti beruntung sekali ya, punya menantu pandai memasak, pintar beberes rumah dan baik dan santun seperti kamu. Uhh paket lengkap deh." Ucap Sovi secara tiba-tiba.


"Hehehe ibu bisa saja, lagian Ayu masih mau fokus kuliah Bu belum kepikiran mau menikah." Jawab ayu mencoba menetralkan suasana.


"Iya yu, perempuan memang harus mandiri dan serba bisa, kamu kejar dulu cita-cita kamu lalu pikir kan jodoh ya." Saran sovi.


"Baik bu." Jawab ayu.


Mereka pun mulai menata meja makan dengan berbagai masakan Ayu.


"Pagi ma, yu." Sapa Ravi yang baru bangun dan keluar dari ruang kerja nya.


"Pagi sayang, kamu tidur di ruang kerja kamu ya?" Tanya sovi saat melihat putra bungsu nya itu keluar dari ruang kerja nya.


"Iya ma, Ravi ketiduran." Bohong Ravi.


"Yasudah kamu mandi gih, siap-siap kan mau ke kantor setelah itu kita sarapan bersama." Titah sovi.


"Baik ma." Jawab Ravi.


Ravi pun masuk ke kamar nya mandi dan segera bersiap-siap berangkat ke kantor. Setelah semua nya selesai Ravi keluar dari kamar nya, dan segera bergabung dengan keluarga nya di meja makan dan sarapan bersama.


"Oh iya Ravi tadi Tante Mesya nelpon katanya sore ini Kanaya sudah boleh keluar dari rumah sakit tolong kamu jemput dia sepulang kerja ya." Titah sovi.


"Baik ma," jawab Ravi.


Setelah selesai sarapan Ravi pun berangkat ke kantor. Sementara Miko memang mengambil cuti karena dalam waktu dekat ini istrinya akan segera melahirkan dan sebagai suami siaga dia harus tetap berada di sebelah Amora.


Sesampainya di kantor Ravi masuk ke ruangan nya, dan sedari tadi pikiran nya lebih fokus ke masalah tadi malam. Dia tau kalau ayu pasti marah dan merasa canggung kepadanya sekarang.


"Kenapa kamu sebodoh ini sih Ravi, bisa-bisa nya kamu se gegabah itu. Sekarang pasti ayu sangat membenci mu " batin Ravi sambil merasa amat menyesal.

__ADS_1


"Tidak, tidak bisa begini aku harus minta maaf kepada Ayu, ini tidak benar." Ucap Ravi kepada dirinya sendiri yang sedari tadi tidak fokus bekerja.


Ravi pun mengeluarkan ponsel nya dan mencari nama Ayu di sana.


"Ayu maafin kakak ya, soal tadi malam. Jujur kakak tidak pernah ada maksud untuk menghancurkan masa depan kamu. Kakak hanya tidak ingin kehilangan kamu, sampai kakak hampir lepas kendali seperti tadi malam. Sekali lagi maafkan kakak ya yu." Ravi pun mengirim pesan itu kepada Ayu.


Bolak balik Ravi membuka ponsel nya, namun tak kunjung ada balasan dari Ayu, jangan kan balasan bukti di baca saja tidak ada. Ravi benar-benar Gegana sekarang bekerja pun dia tidak mood apalagi makan siang.


Dia terus meratapi kebodohan nya tadi malam.


"Tring...." Tiba-tiba ponsel Ravi berdering.


Ravi langsung secepat kilat menyambar ponsel nya yang dia letakkan di atas meja kerja nya. Dan benar saja itu pesan dari Ayu.


"Lupakan lah kak, ayu tidak marah kok sama kakak. Tapi ayu berharap itu jadi yang pertama dan terakhir. Ingat kak kakak itu calon tunangan orang lain, lupakan semua kak, lupakan ayu dan semua kenangan kita." Balasan Ayu.


"Yu tapi kakak sangat mencintai kamu, kakak tidak bisa hidup tanpa kamu. Apa kita kawin lari saja yu, kakak janji akan memenuhi kebutuhan kamu dan tidak merang kamu melanjutkan cita-cita kamu." Balas Ravi yang semakin takut kehilangan Ayu.


Namun ayu yang sibuk di kampus tidak terlalu fokus kepada Ravi, dan dia pun nge Silent ponsel nya dan menyimpan ke dalam tas nya.


Dia menarik nafas panjang dan mulai melanjutkan kuliah nya dan mencoba melupakan masalah nya dengan ravi, walaupun sebenarnya sedari tadi hal itu terus berputar-putar di otak nya.


Karena banyak kerja kelompok akhirnya Ayu main di rumah teman nya dan mengerjakan tugas di sana sampai sore.


.


.


.


Sementara Ravi entah udah berapa kali bolak balik membuka ponsel nya untuk mengecek apakah sudah ada balasan dari Ayu. Padahal jika ada balasan pasti ada notifikasi.


"Assalamualaikum ma, ada apa ma?" Jawab Ravi saat dia tau bahwa mama nya lah yang menelepon dia.


"Waalaikumsalam nak, kamu masih di kantor?" Tanya sovi di seberang sana.


"Iya ma, ada apa ma?" Tanya Ravi lagi.


"Jangan bilang kamu lupa, tadi kan mama pesan jemput Kanaya keluar dari rumah sakit, sebentar lagi mereka keluar dari rumah sakit." Ucap Sovi mengingat kan Ravi.


"Ohh iya iya ma, ini Ravi segera otw ke rumah sakit ya ma." Jawab Ravi yang memang lupa soal Kanaya.


"Hmmm hati-hati di jalan nak." Jawab sovi di seberang sana.


"Iya ma, Ravi tutup dulu telepon nya ya ma, assalamualaikum ma." Ucap Ravi.


"Waalaikumsalam nak." Jawab sovi di seberang sana.


Panggilan pun berakhir, Ravi pun langsung bersiap-siap untuk menjemput Kanaya. Bagaimana pun juga Kanaya begini karena bagian dari ulah Ravi. Belum lagi dia sudah janji ke sovi.


Ravi pun mematikan laptop nya, lalu segera memakai jas nya dan keluar dari ruangan nya. Masuk ke lift dan segera ke lantai dasar. Sesampainya di lantai dasar dia segera ke parkiran dan mengendarai mobil nya menuju rumah sakit tempat Kanaya di rawat.


Sesampai di rumah sakit Ravi langsung menuju ruangan Kanaya. Sesampai di ruangan Kanaya ternyata Kanaya memang sudah siap untuk pulang.


"Sayang kok kamu datang?" Tanya Kanaya yang langsung tersenyum manis. Padahal dia sudah tau dari sovi bahwa Ravi akan menjemput nya.


"Iya kan kamu pulang hari ini, dan aku harus mengantar ke rumah dong." Jawab Ravi sambil menyerahkan sebuket bunga untuk Kanaya.

__ADS_1


"Kamu manis sekali." Ucap Kanaya sambil tersenyum menerima bunga dari pujaan hati nya itu.


"Yasudah kalau begitu nak Ravi Tante titip kanaya ya, Tante dan om pulang duluan masih ada urusan yang mau di urus soal nya."pamit Mesya.


"Iya Tante, om, hati-hati di jalan ya. Tenang saja Kanaya aman bersama Ravi." Ucap Ravi sambil tersenyum.


Mesya dan suaminya pun segera keluar dari ruangan Kanaya sembari membawa barang-barang Kanaya.


"Kamu mau pakai kursi roda, atau bagaimana?" Tanya Ravi saat Kanaya sudah duduk di atas ranjang rumah sakit.


"Aku bisa jalan sendiri kok sayang." Jawab Kanaya yang mencoba turun dari ranjang nya.


"Pelan-pelan Kanaya." Tapi spontan menggenggam tangan Kanaya agar Kanaya bisa turun dari ranjang dengan bertumpu kepada nya.


"Hehehe iya kak, Kanaya baik-baik saja kok." Jawab Kanaya yang segera turun dari ranjang.


Mereka pun berjalan keluar dengan Ravi menggandeng Kanaya dan berjalan pelan.


"Kak, Kanaya sudah sembuh, tidak perlu berjalan se pelan ini." Ucap Kanaya.


"Tapi kamu belum sembuh total Kanaya." Jawab Ravi.


Mereka pun berjalan santai menuju depan rumah sakit.


"Kamu tunggu di sini ya, kakak ambil mobil dulu." Titah Ravi saat mereka berdua sudah berada di depan rumah sakit.


"Iya kak." Kanaya mengangguk.


Ravi pun berlari kecil ke parkiran lalu melajukan mobil nya menuju Kanaya. Sesampainya di depan Kanaya, Ravi langsung keluar dari mobil dan segera membuka kan pintu mobil untuk kanaya.


"Terimakasih kak." Ucap Kanaya yang masuk ke dalam mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, mobil pun mulai melaju menuju rumah Kanaya.


"Sayang,aku kepingin makan kembang gula." Ucap Kanaya saat mereka sudah berada di jalan raya.


"Nanti ya, sepertinya di sana ada yang jual kembang gula deh." Jawab Ravi sambil menunjuk ke arah depan.


"Iya kak." Jawab Kanaya.


Benar saja, beberapa meter kemudian mereka menemukan penjual kembang gula pinggir jalan.


"Kamu tunggu di mobil saja ya, biar kakak yang membelikan nya." Titah Ravi sambil turun dari mobil.


"Hooh." Angguk Kanaya.


"Maafkan aku sayang, tapi cuman dengan cara ini aku bisa mengusir ayu dari hidup kamu " batin ayu yang memang sudah merencanakan ini semua.


Saat dia melihat ponsel Ravi yang di letakkan di mobil, maka timbul lah ide jahat nya. Bahkan sebenernya dia tidak ingin kembang gula, itu hanya alibi saja.


Dan kebetulan Kanaya tau pasword ponsel Ravi maka dengan mudah dia bisa membuka ponsel Ravi, lalu mengirim semua histori chat nya nya dengan Ayu ke ponsel milik Kanaya.


"Tunggu saja ayu, aku akan membuat mu di usir dari rumah itu, kau terlalu berani bermain-main dengan Kanaya." Batin Kanaya saat semua chat itu udah masuk ke ponsel nya.


Dengan cepat Kanaya menghapus bukti kirim nya kepada dirinya dan mengembalikan ponsel Ravi ke tempat semula.


Setelah beberapa menit kemudian Ravi pun kembali ke mobil dan membawa kembang gula kepada Kanaya.

__ADS_1


Setelah menyerah kan kembang gula nya mobil pun kembali melaju.


__ADS_2