
Seminggu sudah berlalu dari hari terakhir Kedatangan Ana ke rumah keluarga Wijaya. Seminggu kemarin Sovi terlalu sibuk mengurus semua persiapan resepsi pernikahan Miko dan Amora.
Namun sovi mengurus semuanya sendiri, dia melarang Amora melakukan pekerjaan apapun. Dia menyuruh Amora fokus saja pada kandungan nya.
Karena jaringan pertemanan sovi luas maka dengan ponsel dan uang nya semuanya bisa dia kendalikan. Bahkan semua persiapan resepsi pernikahan Miko dan Amora sudah nyaris rampung semuanya.
Besok adalah jadwal keberangkatan Sovi dan Sean ke Amerika.
"Ravi Bagaimana hubungan kamu dengan Kanaya?" Tanya sovi saat mereka semua sedang sarapan pagi.
"Uhukk....uhuk.." Ravi tiba-tiba terbatuk karena kaget mendengar pertanyaan mama nya.
"Pelan-pelan dong makanya." Ucap sovi.
"Hubungan apaan sih ma? Hubungan Antara atasan sama sekretaris maksud mama? Ya baik-baik saja." Jawab Ravi setelah meminum segelas air.
"Bagus Ravi semuanya berawal dari nyaman dulu, lalu apa sudah ada chemistry di antara kalian? Kanaya cantik kan, baik, pintar lagi." Sambung sovi.
"Ma apaan sih? Jangan bilang mama mau jodohin aku sama Kanaya."
"Nah itu tau." Timpal Sean.
"Hah jadi tebakan Ravi selama ini benar, kalau mama dan papa nyuruh si Kanaya kerja di perusahaan kita karena memang mau nge jodohin Kanaya sama Ravi? Wahh ini ga benar ini."
"Heh, heh kamu ga usah ke PD an dulu, bisa jadi si Kanya juga ga mau sama kamu. Ini kan hanya usaha para orang tua saja, kalau berjodoh syukur ya kalau enggak coba lah di usahakan biar jodoh." Jelas sovi.
"Ma, anak mama se tampan ini, ga mungkin si Kanaya ga mau. Jangan kan Kanaya semua perempuan pun mau sama Ravi yang tampan Paripurna ini. Dan apa mama bilang kalau jodoh syukur kalau enggak di usahakan biar jodoh ini namanya wajib berjodoh mama."
"Ehmmm, semua perempuan mau sama Ravi, hmmm Yaya." Dehem Miko sambil memutar bola matanya ke arah Amora.
"Ravi ngalah kak," ucap Ravi yang seakan mengerti maksud Miko.
"Halah bulshit." Jawab Miko.
Sementara Amora diam saja, dia tau siapa yang di maksud oleh Ravi dan Miko tapi dia lebih memilih untuk diam.
"Sudah-sudah, kalau memang Kanaya bisa tertarik sama kamu mama mau kamu ajak Kanaya dinner bersama keluarga kita nanti malam dan datang nya juga harus bersama kamu. Kalau kamu bisa melakukan itu berarti kamu pria hebat." Tantang sovi.
"Wahh tidak bisa, ini namanya mama nge jebak Ravi." Protes Ravi.
"Nah kan, memang ga punya nyali dia ma." Timpal Miko.
"Entah lah ma, perasaan papa dan Miko laki banget deh, ini kok si Ravi begini ya kagak ada nyalinya." Tambah Sean.
"Lho kok kalian pada mojokin aku sih?" Tanya Ravi yang tidak terima.
"Siapa yang mojokin kamu, emang kenyataan nya kan. Kalau kamu memang laki harusnya Tantangan kecil buat kamu. Atau jangan-jangan kamu ada rasa sama Kanaya makanya tidak berani ngajak dia dinner sama kita nanti malam?" Tanya Miko.
__ADS_1
"Benar tuh kata kakak kamu." Timpal Sovi.
"Okay aku terima tantangan mama, kalau kanaya mah masalah kecil." Jawab Ravi yang merasa tertantang.
"Gitu dong, itu baru anak papa." Ucap Sean.
"Jangan kecewakan mama Ravi, mama akan masak yang banyak untuk nanti malam
Jadi bagaimana pun caranya kamu harus membawa Kanaya ke sini ya." Ucap sovi.
"Kan beban hidup lagi, huh iya iya ma." Jawab Ravi dengan wajah lesu.
Mereka pun saling berpandangan dan tersenyum penuh arti, sedangkan Ravi merasa tertekan dengan tantangan ini.
"Yasudah ma, pa Miko sama Ravi ke kantor dulu ya, sayang mas berangkat dulu ya. Anak papa jangan nakal ya nak sama mama," Pamit Miko sambil mengelus perut istrinya itu yang masih rata.
"Iya mas." Jawab Amora tersenyum.
Miko dan Ravi pun berangkat ke kantor setelah mereka pamit.
Setelah mobil Miko dan Ravi menghilang dari pandangan mata, sovi pun masuk ke kamar nya untuk membereskan barang-barang nya karena besok dia dan Sean akan berangkat ke Amerika. Sementara Amora juga masuk ke kamar nya, mencoba merapikan pakaian-pakaian mereka yang ada di lemari.
Setelah selesai merapikan pakaian mereka Amora pun masuk ke kamar mandi dan mandi kembali karena dia merasa kegerahan, setelah selesai mandi Amora rebahan di ranjang sambil membaca buku ibu hamil, namun lama kelamaan Amora merasa mengantuk dan tertidur.
Sementara sovi yang baru saja selesai merapikan pakaian nya dan Sean segera ke dapur untuk memeriksa kulkas dan bahan makanan. Karena beberapa bahan makanan mereka sudah habis akhirnya sovi pun memutuskan untuk berbelanja di pasar tradisional dekat rumah mereka.
"Ma dari mana tadi?" Tanya Amora yang baru saja selesai meminum segelas air di kursi meja makan.
"Belanja kebutuhan dapur." Jawab sovi.
"Ohh begitu."
"Iya ehh Amora, bantuin mama masak yuk sekalian kamu juga belajar masak untuk suami dan anak mu kelak." Ajak sovi ke Amora. Sedangkan Sean lebih memilih bersantai di pinggir kolam berenang sambil menikmati secangkir kopi dan membaca koran.
"Iy ma boleh." Jawab Amora tersenyum sumringah.
Amora dan sovi pun segera ke dapur, memakai celemek dan bersiap bertarung dengan semua yang ada di dapur itu. Amora merasa bahagia karena kian hari dia kian dekat dengan sovi sang mertua. Tidak hanya itu sovi pun mengajari Amora beberapa tip dan resep masakan memasak.
.
.
.
Sementara di kantor Ravi benar-benar tidak fokus bekerja karena ancaman dan tawaran mama nya tadi. Dia benar-benar bingung merangkai kata agar Kanaya mau di ajak dinner ke rumah nya tanpa harus Ravi terlihat memohon.
"Ahh bodo amat lah, ini sudah sore dan sebentar lagi mau pulang kerja." Batin ravi yang akhirnya memutuskan untuk menanyakan Kanaya.
__ADS_1
"Kanaya nanti malam kamu ada acara tidak?" Tanya Ravi langsung to the point setelah mengumpulkan kesadaran dan keberanian nya.
"Hah kenapa pak?" Tanya Kanaya utuk Memastikan pendengaran nya karena tadi dia fokus ke dokumen yang ada di tangan nya.
"Itu,,, anu Kanaya nanti malam kamu ada acara tidak?" Ulang Ravi Yang gugup dan jantung Sera mau copot.
"Sejauh ini sih tidak ada pak, memang nya kenapa ya pak?" Tanya Kanaya.
"Itu mama ngajak ini kamu dinner bareng keluarga kamu nanti malam. Kamu punya waktu tidak?"
"Boleh pak , jam berapa?"
"Nanti saja sekitaran jam 7, jadi setelah selesai jam kerja kamu pulang saja untuk Siap-siap nanti sepulang dari kantor saya jemput kamu." Jelas Ravi.
"Baik pak."
"Hmmm bagus deh." Ravi pun mengakhiri pembicaraan mereka dan memegangi jantung nya yang berdegup sangat kencang. Sementara Kanaya terlihat biasa-biasa saja.
"Lah ini siapa yang baper sih, kok biasa-biasa nya aku gugup di depan Kanaya." Batin Ravi.
Ravi pun menyibukkan diri dengan pekerjaan nya.
.
.
.
Dua jam sudah berlalu, dan kini semua jenis masakan mereka pun sudah selesai di masak. Amora dan sovi pun ke kamar masing-masing untuk mandi karena sudah kegerahan dan ini juga sudah sore.
Amora dan sovi kembali ke kamar mereka untuk mandi karena mereka sudah bau keringat dan bau asap.
Sementara jam terus berjalan kini Miko, dan Ravi pun pulang ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 18:30.
Tak lupa sebelum pulang tadi Ravi sudah meminta Kanaya untuk share lokasi rumah nya. Jadi Miko dan Ravi bisa langsung menjemput Kanaya. Dan betapa terkejutnya Ravi saat melihat Kanaya dandan natural tapi anggun, Ravi benar-benar terpesona melihat kecantikan Kanaya.
Setelah Miko dan Ravi pamit kepada orang tua Kanaya mereka pun masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju menuju rumah keluarga Wijaya.
Setelah sampai di rumah keluarga Wijaya Miko langsung di sambut oleh Amora di depan pintu. Tentu saja Kanaya heran melihat wajah Amora. Bahkan wajah Miko yang langsung tersenyum bahagia saat melihat Amora.
"Kamu cape ya sayang?" Tanya Amora sambil memeluk suaminya itu.
"Kalau sudah melihat wajah dan senyum mu semua rasa lelah mas hilang sayang. Apalagi kalau ingat sekarang ada jagoan papa di perut kamu ini jadi semangat kerja nya." Jawab Miko.
Sementara Kanaya dan Ravi yang masih berdiri di depan pintu benar-benar syok mendengar kata-kata Miko.
"Shut... Itu Amora kakak ipar aku, istri kak Miko." Jelas Ravi setengah berbisik setelah Melihat ekspresi kaget Kanaya.
__ADS_1
"Apa istri kak Miko? Ini bukan bercanda kan?" Batin Kanaya sambil membulat kan bola matanya nyaris tidak percaya.