Partner Diatas Ranjang

Partner Diatas Ranjang
Hikmah


__ADS_3

Saat Devina sudah ada di dalam pesawat entah apa yang sedang di pikirkan nya. Tiba-tiba dia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Ravi.


“Aku minta maaf kalau aku sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian, aku melakukan itu karena aku memang tulus mencintaimu. Terimakasih telah memberikan bahagia kepadaku selama sebulan terakhir ini, bahagia selalu ya Sampaikan maaf ku kepada istrimu.” Itu lah pesan yang di kirimkan oleh Devina kepada Ravi.


Lalu pesawat pun terbang membawa para penumpang ke atas awan. Sementara Ravi yang merasa dirinya kacau tidak mendengarkan pesan yang di kirimkan oleh Devina.


“Yu, kenapa melamun mulu sih?” Tanya Vivi yang melihat Ayu duduk melamun.


“Gak apa-apa Vi.”Jawab Ayu memberikan senyum palsunya.


“Kamu pasti merindukan suami mu kan? Sudah lah yu mau sampai kapan lari terus dari masalah?” Tanya Vivi lagi.


“Entah lah Vi, aku terlalu takut melewati nya semua. Rasanya aku ingin tidur saja dan berharap ini semuanya hanya mimpi.”Jawab Ayu.


“Yu apapun masalah yang sedang kalian hadapi, obrolin sama suami kamu cari jalan keluar sama-sama. Jangan lari terus seperti ini.”Saran Vivi.


“Iya Vi.”Ayu mengangguk.


“Yasudah aku ke atas dulu ya mau jemur pakaian.”pamit Vivi.


“Iya Vi.”Ayu mengangguk.


Vivi pun membawa pakaian yang sudah di cuci ke atas untuk menjemur pakaian itu. Sementara Ayu kembali melamun. Mimpi yang dia alami kenapa bisa sampai begitu.


“Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu.”Batin Ayu.


Dia pun teringat mimpinya tadi malam.


“Yu, Ayu..”Suara seseorang mengalihkan pandangan ya.


Ayu pun menoleh ke sumber suara. Dan betapa kagetnya dia melihat Devina yang menggunakan pakaian serba putih. Berjalan ke arah dirinya.


“Ayu, aku minta maaf karena sudah masuk ke dalam rumah tangga kalian. Suamimu hanya mencintai mu dan hanya ada kamu yang ada di hatinya.”Tiba-tiba Devina mengucapkan kata-kata itu.


Ayu yang merasa bingung, tidak mengucapkan apapun.


“Aku tau aku banyak salah sama kamu, tapi aku akan menjauh dari kehidupan kalian untuk selama-lamanya. Mohon maafin aku yu.” Lanjut Devina.


Belum sempat Ayu menjawab kata-kata Devina itu dia terbangun karena Vivi yang tidurnya tidak bisa diam.


“Yu sarapan yuk.”Ajak Vivi yang sudah selesai menjemur pakaian nya.


“Ohh iya-iya Vi.”Ayu pun segera menghampiri Vivi.


Keduanya pun sarapan bersama, lalu setelah sarapan keduanya berdandan tipis lalu segera berangkat ke kampus. Sementara Ravi yang seharian penuh meratapi nasibnya akhirnya membuka ponselnya berniat menghubungi istrinya untuk meminta maaf dan ingin menyelesaikan ini semua.


“Kenapa Devina tumben-tumbenan mengirim pesan begini.”Batin Ravi yang sedikit heran.


Namun karena memang sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Devina Ravi pun memutuskan mengabaikan pesan itu. Untuk mengalihkan perhatian nya Ravi pun mengerjakan pekerjaan nya. Namun beberapa jam kemudian Miko membuka ruangan Ravi.


“Ada apa pak Miko?” Tanya Ravi yang sedikit gugup takut Miko belum selesai dengan emosinya.


“Ravi...”Miko seakan tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Kenapa pak?” dari tatapan Miko Ravi tau kalau sekarang Miko bukan nya marah tapi lebih khawatir.


“Barusan kakak ipar kamu telepon, mereka sedang ke bandara bersama tante Ajeng.”Jelas Miko.


Mendengar bandara dan tante Ajeng mama nya Devina pikiran Ravi langsung ke mana-mana.


“Kak...” Ravi tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Iya Ravi, pesawat yang di naikin Devina jatuh ke laut dan di pastikan semua penumpang serta kru pesawat meninggal. Dan kini tim SAR sedang mengevakuasi para korban.” Sambung Miko.


Ravi terdiam, tiba-tiba hatinya sesak. Air mata itu tanpa sadar menetes membasahi pipinya. Nyaris tidak percaya dengan semua ini.


“Jadi pesan tadi adalah pesan terakhir Devina, dan permintaan di antar ke bandara tadi pagi adalah permintaan terakhirnya.”Lirih Ravi yang merasa menyesali dirinya sekarang.


“Devina mengirimkan pesan apa Ravi?” Tanya Miko penasaran.


Karena tidak sanggup lagi berbicara akhirnya Ravi pun menyerahkan ponselnya kepada Miko dan membiarkan Miko membaca pesan yang di kirimkan oleh Devina.


"Seperti nya Devina tau dia akan meninggalkan kita semua." ujar Miko yang membaca pesan itu.


“Ravi kita yang sabar ya, apapun yang terjadi semuanya sudah menjadi kehendak yang di atas.”Miko mencoba menguatkan adiknya itu. Karena dia tau bahwa Ravi sangat kehilangan Devina, di balik perselingkuhan Devina dan Ravi. Mereka dulu sudah seperti keluarga bersama Devina jadi Miko pun merasa sedih dengan berita ini.


“Yasudah yuk kita ke bandara, manatau di sana kita bisa dapat informasi soal Devina.”Ajak Miko lagi.


“Iya kak.”Ravi mengangguk.


Keduanya pun segera ke bandara untuk menemui yang lain nya. Sesampainya di bandara Ravi dan Miko mencoba menguatkan Tante Ajeng.

__ADS_1


“Ayu di mana Ravi?” Tanya Sovi.


“Masih kuliah ma.”Jawab Ravi berbohong.


“Ohh jam berapa dia kuliah? Sudah beberapa bulan kalian menikah mama tidak pernah ke rumah, nanti setelah dari bandara kita ke rumah kalian ya.”Pinta Sovi.


“A.. Iya ma.”Jawab Ravi gugup karena tidak mungkin menolak permintaan mama nya itu.


Ravi pun mengirimkan pesan kepada Ayu mengabarinya kalau mama sebentar lagi akan ke rumah mereka. Ayu yang baru saja pulang kuliah dan membaca pesan dari suaminya itu mau tidak mau harus pulang ke rumah agar ibu mertuanya itu tidak curiga.


Setelah beberapa jam di bandara dan mencoba menguatkan tante Ajeng akhirnya keluarga wijaya pun pamit. Karena belum ada informasi soal korban dan keluarga dekat nya mama ya Devina sudah pada datang untuk menemani mama Ajeng.


Ayu pun memasak beberapa menu makanan karena sekarang sudah sore manatau mama mertuanya mau makan malam di rumah mereka nanti. Walaupun mood nya kurang bagus sebisa mungkin Ayu memasak sepenuh hati. Benar saja setelah Ayu selesai mandi mama mertua, dan kakak ipar serta keponakan nya sudah sampai di rumah mereka.


“Mama”Ayu berhambur ke pelukan Sovi.


“Aduhh menantuku.”Sovi membalas pelukan Ayu.


“Mbak Amora.”kemudian Ayu memeluk Amora dan mencium baby Syaid.


Ayu pun harus bersikap baik kepada suaminya di depan semuanya seakan tidak ada masalah di rumah tangga mereka. Mereka semua pun duduk di sofa ruang tamu dan Ayu menyuguhkan teh dan beberapa roti kering.


“Ada apa ma, tumben mama sama kak Miko dan mbak Amora main ke sini?” tanya Ayu membuka pembicaraan.


“Iya sayang, tadi kami semua baru saja dari bandara.”Jawab Sovi.


“Hah bandara ma, ngapain?” Lanjut Ayu.


“Hmm kamu ingat tidak Devina yang kita temui di mall beberapa bulan yang lalu, tetangga mama yang dulu.”Sambung Sovi.


Mendengar nama Devina hati Ayu langsung sakit, namun sebisa mungkin dia harus tetap terlihat tenang.


“Iya ma, ada apa dengan nya?” tanya Ayu lagi.


“Tadi pagi dia ingin berangkat ke luar kota, ada perjalanan dinas namun sepertinya takdir berkata lain pesawat yang di naiki jatuh di laut dan sepertinya semua penumpang nya meningal dunia.”Jawab sovi.


“Inalillahi wainailaihi rojiun.” Ayu benar-benar syok mendengar kabar tentang Devina itu, apa itu juga bagian dari mimpinya tadi malam.


Ravi dan Ayu saling bertatapan, dan Miko menyadarinya. Untuk menghilangkan perasaan duka di rumah itu Miko pun mencoba mencairkan suasana. Seakan semuanya baik-baik saja mereka pun akhirnya makan malam bersama. Dan setelah makan malam mereka semua pamit pulang karena papa Sean sendirian di rumah.


Setelah semuanya pulang Ravi yang takut Ayu pulang kembali ke kos Vivi berlutut di hadapan Ayu.


“Sayang mas minta maaf untuk semua kesalahan mas, mas janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Kalau sampai hal itu terjadi kamu boleh melakukan apapun sayang. Tapi mas mohon jangan tinggali mas.”Mohon Ravi.


“Mas sudah lah aku sedang tidak ingin membahas itu, jadi tolong jangan seperti ini.”Jawab Ayu yang membantu suaminya itu agar bangkit berdiri.


Ravi pun menurut,


“Yasudah kamu mandi gih, kamu pasti lelah kan .” Lanjut Ayu.


“Iya sayang mas akan mandi, tapi mas mohon jangan kembali ke kos an Vivi mas tidak bisa tanpa kamu yu.”Ravi masih memohon.


“Iya mas iya, aku akan tidur di sini malam ini.lagian mau sampai kapan aku lari dari masalah ini aku memang harus menghadapinya.”Jawab Ayu.


“Terimakasih sayang.”Ravi memeluk Ayu.


Ayu hanya diam saja tidak merespon apapun.


“Yasudah mas mandi dulu ya sayang.”Ujar Ravi sedikit tersenyum karena istrinya itu mau tinggal di rumah itu lagi.


Ayu hanya diam saja, Ravi pun segera mandi an Ayu menyiapkan pakaian Ravi setelahnya dia membawa bukunya ke kamar tamu.


karena Ayu belum bisa tidur bersama Ravi.


Ravi yang melihat Ayu sudah menyiapkan pakaian untuk nya hanya bisa tersenyum, bagaimana pun dia bahagia kalau istrinya itu kembali lagi. Namun saat ingin mencari Ayu yang tidak ada di kamar ravi terhenti langkahnya. Dia melihat lampu kamat tamu hidup itu artinya Ayu tidak ingin tidur bersamanya. Tapi untuk sementara bagi Ravi tidak masalah yang penting Ayu mau tinggal di rumah itu sudah lebih dari cukup.


Akhirnya Ravi kembali ke kamar mereka dan merebahkan tubuhnya walaupun dia tidak bisa tidur karena banyak penyesalan di hatinya.


Waktu pun terus berjalan dan kini sudah pagi. Ravi yang baru selesai berolahraga melihat sarapan sudah tersedia di meja makan. Namun sepertinya istrinya masih menutup interaksi dengan nya karena Ayu menyibukkan dirinya dengan menyiram tanaman.


“Terimakasih sayang, karena masih melakukan kewajiban kamu sebagai istri.”Batin Ravi yang sarapan sendiri dan setelah selesai sarapan dia pun kembali ke kamar nya untuk mandi.


Dan kelar dari kamar mandi pakaian nya sudah di siapkan oleh Ayu di atas ranjang.


Ravi pun menggunakan pakaian nya dan segera berangkat ke kantor, dia berpamitan kepada Ayu dan Ayu hanya mengangguk sembari menyalim suaminya itu tanpa bicara apapun.


Di kantor Ravi masih sering mencari-cari informasi tentang perkembangan berita pesawat Devina. Sebenarnya hati kecilnya menangis bahkan belum bisa terima Devina meninggalkan dirinya seperti ini.


Waktu terus berjalan sudah tiga hari semenjak pesawat yang di tumpangi Devina itu jatuh, dan pagi ini mereka semua mendapatkan kabar gembira setelah di otopsi ternya tim SAR berhasil menemukan jasad Devina.


Tangis semuanya pecah karena kini baru percaya bahwa Devina pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Tak terkecuali Ravi bagaimana pun di hatinya Devina punya ruang tersendiri jadi tetap saja merasakan sakit.

__ADS_1


“Mas aku ikut.”Ujar Ayu saat suaminya bersiap berangkat ke pemakaman Devina.


“Kamu yakin sayang?” Tanya Ravi saat mendengarkan permintaan istrinya itu.


“Iya mas.”Jawab Ayu.


“Yasudah yuk.”Ajak Ravi.


Ayu pun segera mengganti pakaian nya dan mereka pun berangkat ke TPU di mana Almarhum Devina di makan kan.


Sesampainya di sana Ayu dan Ravi mengikuti proses pemakaman Devina. Setelah semua rangkaian acara selesai dan semuanya sudah pada pilang dan bubar Ayu dan Ravi masih di sana.


“Vin maafin aku ya kalau aku banyak salah sama kamu selama ini.”Batin Ravi yang sebenarnya ingin menangis di nisan Devina namun dia tidak mau menyakiti istrinya itu lagi.


“Tidak apa-apa mas, menangis lah jika ingin menangis.”Ujar Ayu yang seakan tau apa yang di rasakan oleh suaminya itu.


“Sayang..”


“Tidak apa-apa mas, kali ini aku maklum kok.” Potong Ayu yang seakan tau perasaan suaminya itu.


Ravi pun menumpahkan air mata yang sedari tadi dia tahan, lalu Ayu memeluk nya dan menguatkan nya.


“Aku sudah memaafkan mu mbak Devina semoga yang tenang ya di alam sana.”Ujar Ayu mengelus nisan Devina.


Setelah selesai keduanya pun meninggalkan makam Devina dan segera menuju mobil mereka.


“Sayang sebelum Devina berangkat dia sempat mengirimkan mas pesan permintaan maaf an untuk mu.”Ujar Ravi saat mobil sudah melaju.


“Iya mas aku tau kok.”Jawab Ayu.


“Tau dari mana sayang?” tanya Ravi lagi.


“Di malam nya aku sudah bermimpi mbak Devina datang dan meminta maaf kepadaku seakan tau kalau dia akan pergi untuk selama-lama nya. Namun sayang nya sebelum aku menjawab nya aku sudah terbangun. Tapi hari in aku mencoba berdamai dengan keadaan mas dan mencoba memaafkan semuanya nya dan memberikan kamu kesempatan kedua.”Jawab Ayu.


“Benarkah sayang, terimakasih banyak istriku. Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang kamu berikan.”Ravi mencium tangan Ayu.


“Iya mas semoga kata-kata kamu itu benar ya.”Jawab Ayu.


“Iya sayang, mas janji tidak akan mengecewakan mu.”Jawab Ravi tersenyum bahagia.


Mereka pun pulang ke rumah, dan kehidupan rumah tangga mereka pun membaik.


Beberapa minggu kemudian Ayu selalu mual-mual setiap pagi.


“Sayang kamu kenapa?” Tanya Ravi.


“Entah lah mas, sepertinya masuk angin.”Jawab Ayu.


“Kita ke dokter saja ya sayang, mas takut kamu kenapa-kenapa. Soalnya makan saja kamu tidak selera dan selalu mual mencium semua aroma makanan.”Saran Ravi.


“Mas boleh kamu belikan aku test pack?” tanya Ayu tiba-tiba.


“Test pack, bukan nya untuk cek kehamilan sayang?” Tanya Ravi.


“Iya mas, kamu ingat saat kita melakukan nya terakhir kali beberapa minggu yang lalu. Karena sebulan sebelum nya kamu tidak meminta hak kamu jadi aku tidak mengkonsumsi pil KB dan saat itu kamu juga minta nya secara mendadak jadi aku tidak ingat soal pil Kb nya, soalnya aku juga telat datang bulan nya mas.”Jelas Ayu.


“Benarkah sayang, yasudah mas belikan test pack nya dulu ya.”senyum sumringah terpancar di wajah Ravi.


Dia pun segera melajukan motor Ayu menuju apotik terdekat dari rumah mereka, dia terus berdoa semoga Tuhan mengabulkan doa nya.


Setelah membeli test pack Ravi langsung pulang dan menyerahkan nya kepada istrinya. Ayu pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan segera mengecek nya.


Ravi menuggu nya di pintu kamar mandi dengan perasaan tidak karuan.


“Bagaimana sayang?” Tanya Ravi saat Ayu keluar dari kamar mandi.


“Sebentar lagi kamu akan jadi Ayah mas.”Jawab Ayu sambil menyerahkan test pack yang hasilnya positif itu.


“Alhamdulilah, terimakasih sayang.”Ravi memeluk Ayu.


Dia menangis haru, bahwa Tuhan memberikan berkat yang luar biasa untuk keluarga kecilnya.


“Yasudah kita cek ke dokter ya.”Ajak Ravi.


Ayu pun mengangguk, keduanya pun segera berganti pakaian dan berangkat ke rumah sakit. Karena kebetulan hari ini hari minggu jadi keduanya libur.


Sesampainya di rumah sakit dokter pun mengecek kehamilan Ayu, ternyata Ayu benar sudah hamil dan usia kandungan nya sudah 4 minggu. Karena usia kandungan di hitung sejak terakhir menstruasi.


Ravi pun dengan penuh haru mengabari kedua orang tua nya dan mertuanya. Dia sangat bahagia dan excited Sovi dan Sean pun bahagia mendengarkan kabar itu. Mereka pun ingin langsung meluncur ke rumah sakit. Ayu yang masih terbaring hanya tersenyum melihat kebahagian suaminya itu.


“Mungkin tidak semua yang kita ingin kan sesuai dengan yang akan terjadi, tapi Tuhan telah mempersiapkan yang jauh lebih baik bahkan yang tidak pernah terbayangkan oleh kita. Terimakasih ya Allah karena telah mempercayai hamba jadi calon Ibu, semoga hamba bisa mensyukuri semua Anugerah yang engkau limpahkan.”Batin Ayu yang tanpa sadar meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2