
"maafin Miko ma, Miko memang sangat menyayangi mama tapi Miko juga mencintai Amora. Maka kalian berdua bukan lah pilihan tapi keharusan yang harus Miko perjuangkan." Batin Miko yang masih berdiri di tempat nya.
Miko pun akhirnya berangkat ke kantor, karena semenjak kehadiran Amora di hidupnya kerjaan yang biasanya dapat dia selesai kan dalam satu atau dua Minggu malah tidak kunjung selesai sudah hampir satu bulan.
Sementara sovi yang menangis sesenggukan di kamar hanya bisa meratapi nasibnya.
"Kenapa? Apa salah ku sampai harus mendapatkan calon menantu seperti Amora?dan memiliki putra yang ternyata penjahat kelamin." Sesal sovi di sela-sela tangis nya.
"Apa aku salah, jika egois sedikit jika aku menginginkan menantu baik-baik untuk putra ku, ya walaupun dia juga tidak sebaik harapan ku. Dosa apa yang sudah di lakukan keluarga ku sampai harus mendapatkan karma seburuk ini?" Batin nya lagi.
"Tring... tring...." Tiba-tiba ponsel sovi berdering, dan dengan sigap sovi menghapus air matanya dan segera mengangkat panggilan itu. Karena dia tahu betul siapa yang menelpon.
"Lho sayang, kamu habis menangis ya? Kenapa mata kamu merah dan bengkak begitu?" Tanya Sean kepada istri tercinta nya itu.
"Eh tidak kok pa, mama hanya kelilpan saja tadi."bohong sovi.
"Aku suami mu ma, kita berumah tangga sudah hampir 30 tahun, aku tau kamu sedang berbohong. Ayo jujur siapa yang menyakiti mu kenapa kamu sampai menangis hah?"
"Pa...." Hanya itu yang bisa sovi ucapkan dia tidak dapat menahan air matanya lagi.
"Ma apa yang terjadi dimana Miko dan Ravi, kenapa mereka membiarkan mama nya menangis begini?" Tanya Sean yang mulai panik karena tangisan istrinya.
"Mereka sudah berangkat ke kantor pa."
"Apa mereka berdua melakukan kesalahan ma?" Tanya Sean yang tahu persis siapa istrinya ini. Jika seandainya Miko melakukan kesalahan kepada sovi maka sovi tidak akan mau Miko datang membujuknya apalagi sampai menjelaskan apapun jika memang sovi masih emosi.
"Iya pa, anak-anak mu tidak sebaik yang kamu pikirkan. Mereka berdua telah menyakiti dan membohongi kita." Ucap sovi sambil terus menangis.
"Apa yang mereka berdua telah lakukan ma? Papa pikir mama akan menemukan kebahagiaan di sana setelah bertemu dengan calon menantu kita, tapi nyatanya mama malah jadi sedih begini." Tanya sean yang mulai berubah ekspresi.
*Sovi pun mulai menceritakan semua yang terjadi sebenarnya. Dia mulai menceritakan siapa Amora dan bagaimana awal mula Miko bertemu Amora. Bahkan sovi menjelaskan kepada Sean bahwa Miko berani menentang nya hanya demi Amora. Tapi ada satu hal yang tidak di ceritakan oleh sovi kepada suaminya itu, yaitu soal Miko yang suka celup sana celup sini. Sovi terlalu takut kalau kabar mengejutkan ini dapat mempengaruhi kesehatan Sean.
"Berani-beraninya Miko menentang mama, hanya karena wanita murahan itu." Kini Sean juga ikut emosi setelah mendengarkan penjelasan istrinya itu.
"Pa, mama ga tau lagi harus berbuat apa. Papa tau sendiri kan Miko anak yang keras kepala hampir sama dengan papa, dia akan melakukan apapun demi mendapatkan yang dia mau. Apalagi ini menyangkut cinta nya. Sungguh mama tidak bisa menerima Amora jadi menantu di rumah kita." Ucap sovi.
"Mama tenang saja, papa akan berangkat ke sana hari ini juga, papa yang akan memberikan Miko penjelasan dan melepaskan wanita murahan itu."
__ADS_1
"Papa telepon saja Miko untuk menyelesaikan masalah ini, mama khawatir akan kesehatan papa kalau papa nekat melakukan penerbangan pagi ini." Larang sovi.
"Tidak ma, kalau hanya melalui panggilan saja papa yakin Miko tidak akan mau mendengarkan penjelasan papa. Biarlah papa pulang ke Indonesia karena papa
Juga sudah rindu Indonesia ma.
"Tapi pa...."
"Sudah mama tenang saja ya, yasudah sampai ketemu di Indonesia ma. Papa juga tidak mau kalau sampai nama Wijaya jadi buruk cuman karena kehadiran Satu wanita murahan di keluarga kita."
"Iya pa, semoga keputusan kita nanti yang terbaik buat semua nya ya.papa hati-hati penerbangan nya."
Akhirnya Sean dan sovi pun mengakhiri panggilan mereka, dan dengan segera Sean menyiapkan semua nya untuk penerbangan nya ke Indonesia.
Sementara sovi menjadi pusing, dia takut kalau sampai akan terjadi apa-apa antara anak-anak nya dan suaminya hanya karena seorang wanita seperti Amora.
Karena sovi tau betul suami dan putra sulungnya tidak jauh beda, sama-sama keras kepala. Namun sovi hanya bisa menyerahkan semuanya kepada yang mahakuasa semoga apapaun nanti akhirnya semuanya jaid yang terbaik.
Waktu terus berjalan, Amora mulai menyibukkan diri dengan aktivitas belanja nya, sedang kan Miko dan Ravi mulai asyik bekerja di kantor. Sedangkan sovi yang merasa bosan pun akhirnya memutuskan untuk cuci mata ke salah satu mall Ter mewah dan teebesar di kota itu.
Saat sovi sedang asyik mencari-cari tas tiba-tiba sebuah suara mengagetkan nya.
"Lho Elsa." Ucap sovi setelah berbalik dan memiliki si pemilik suara ternyata Elsa mantan pacar nya Miko.
"Lho Tante di Indonesia?" Tanya Elsa yang langsung meyalim sovi dan cipika-cipiki.
"Hehehe iya sayang, biasa Tante rindu sama anak-anak." Jawab sovi cengengesan.
"Kamu sekarang makin cantik saja ya, mana bisnis kamu semakin melejit lagi." Puji sovi yang memang pangling melihat kecantikan Elsa.
"Hehehe Tante bisa saja, Tante juga terlihat awet muda lho. Selalu cantik." Puji Elsa balik.
"Kamu lagi sibuk ga sayang?" Tanya sovi kepada Elsa yang langsung memiliki ide di kepalanya.
"Engga sih tan, tadi Elsa ke sini mau nge cek pemasukan toko berlian Elsa di mall ini."
"Mau makan siang bareng Tante ga? Sekalian kita ngobrol-ngobrol gitu?"
__ADS_1
"Wah benar kah tan, tentu dengan senang hati." Jawab Elsa yang langsung menampilkan senyum terbaik nya.
Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang ada di dalam mall itu. Sebenarnya sovi sedari dulu tidak menyukai Elsa karena Elsa pernah meninggalkan Miko dan memilih menikah dengan laki-laki lain. Namun semenjak kehadiran Amora sovi jadi berubah haluan.
"Tidak apa-apa deh, menantuku si Elsa, dia kan terlahir dari keluarga terhormat, dan perempuan baik-baik. Lebih baik menantu janda daripada perempuan sampah seperti Amora." Batin sovi yang mulai menyusun sebuah rencana di otaknya.
Sementara Elsa sangat bahagia, karena ini pertama kalinya sovi bersikap ramah kepadanya, dan sampai-sampai mengajak nya makan siang bareng. Karena Elsa masih mengharapkan sovi menjadi ibu mertua nya."
Sesampainya di restoran yang di tuju, Elsa dan sovi pun memesan makan siang untuk mereka berdua.
"Jadi sudah berapa lama Tante di Indonesia?" Tanya Elsa membuka pembicaraan diantara keduanya.
"Hmmm baru beberapa hari terakhir ini Elsa, kamu tau lah kan Miko dan Ravi terlalu sibuk mengurus urusan kantor sampai-sampai mereka melupakan Tante dan om."
"Hehehhe tapi kan mereka berdua begitu ada hasilnya Tan."
"Hmm Elsa Tante mau tanya sesuatu sama kamu boleh tidak?"
"Tante mau tanya apa tan?"
"Kamu sudah punya pacar belom? Atau sudah ada niatan mau menikah dalam wakti dekat ini?" Tanya sovi langsung to the point.
"Hehehehe belum Tan, niat nikah sih ada tapi yang pas belum ketemu." Jawab Elsa cengengesan.
"Kalau anak Tante cocok ga? Kamu mau tidak sama Miko?"
"Lho Tan? Ga salah nih, bukan nya Miko sudah punya pacar dan Elsa sudah janda lho Tan." Tanya Elsa yang sedikit kaget mendengar penawaran sovi.
"Tante, tidak suka sama pacar nya Miko, menurut Tante sih bagusan kamu daripada dia. Tante lebih setuju kalau kamu yang jadi menantu Tante yang Tante sudah kenal jelas latar belakang nya."
"Tante ga salah makan obat kan? Tante yakin merestui aku sama Miko?" Ulang Elsa yang masih tidak percaya dengan kata-kata sovi.
"Ya engga lah, Tante waras nih nanya nya ke kamu.jadi bagaimana Elsa kamu mau tidak sama Miko?"
"Iya mau dong Tan, cuman Miko nya yang tidak mau sama Elsa. Pasti dia lebih memilih pacarnya ketimbang Elsa tan." Jawab Elsa dengan wajah pura-pura sedih.
"Kalau urusan itu biar Tante bantu kamu mendapatkan Miko, yang terpenting sekarang bantu Tante dulu melepaskan wanita itu dari Miko."
__ADS_1
"Seriusan Tan? Siap tan dengan senang hati." Jawab Elsa dengan kebahagiaan di hatinya.
Akhirnya pesanan mereka pun datang dan mereka berdua pun makan siang bersama dengan kebahagiaan di hati masing-masing.