
"Ahh ternyata sudah pagi." Batin Amora sambil menggeliat kan tubuhnya.
Amora pun mengumpulkan kesadaran nya dan menatap lekat wajah tenang suaminya itu.
"Hmm terkadang rasanya semuanya seperti mimpi mas, kalau kamu dan aku kini sudah sah menjadi sepasang suami-istri." Batin Amora sambil mengelus lembut wajah suaminya itu.
"Selamat Pagi sayang ku." Ucap Miko dengan suara khas serak bangun tidur nya.
"Aduhh kaget aku mas." Jawab Amora yang sedikit tersentak.
"Aku milik mu sayang seutuhnya milik mu, jadi tak perlu kagum begitu menatap wajahku apalagi sampai tidak berkedip." Ledek Miko.
"Idih PD nya suami ku ini."
"Apa Kau bahagia sayang menjadi istri Miko Wijaya?" Tanya Miko sambil mengeratkan pelukannya di perut Amora yang polos.
"Hmm bahagia ga ya."
"Sudah bisa mas jamin sih seratus persen kalau istri mas ini pasti sangat bahagia menyandang gelar nyonya Miko Wijaya." Ucap Miko dengan bangga.
"Idih, sok tau kamu mas."
"Ohh jadi kamu tidak bahagia?" Tanya Miko lagi.
"Bahagia kok mas, bahagia banget malahan."
"Nah gitu dong jujur sayang,."
"Ohh iya yuk bangun mas, kamu harus segera berangkat ke kantor dan aku harus bantu mama membuatkan sarapan pagi untuk kita." Ajak Amora yang baru saja menyadari bahwa sekarang mereka sedang berada di rumah mertuanya.
"Ahh sebentar lagi sayang, mas masih kepingin berlama-lama dengan mu dengan posisi ini."
"Mas ini sudah pagi lho, aku juga tidak mau nanti nya jadi bulan-bulanan nya mama karena bangun kesiangan. Kan kamu sendiri yang bilang kamu akan bantu aku meluluhkan hati mama agar bisa menerima ku menjadi menantu nya."
"Hmm yasudah iya sayang demi kamu nih." Jawab Miko mengalah.
Akhirnya mereka berdua pun turun dari ranjang dan Amora segera mengambil handuk mereka untuk mandi pagi.
Beberapa menit berlalu mereka berdua pun telah selesai mandi.
"Mas aku ke bawah dulu ya, sekalian mau menyiapkan sarapan untuk kita."
"Iya sayang, mas juga mau nge cek kondisi perusahaan dulu sudah beberapa hari ini mas tidak ke kantor jadi mas tidak tau bagaimana kerjaan ravi." Ucap Miko yang langsung duduk di sofa dan membuka laptop nya.
"Semangat Amora, tunjukkan siapa kau sebenarnya dan taklukkan mertua mu itu." Batin Amora yang semangat membara sambio menuruni anak tangga.
"Pagi ma.." sapa Amora saat dia melihat sovi sedang menyiapkan sarapan di atas meja makan.
Amora selalu berusaha untuk bersikap baik-baik saja kepada ibu mertuanya itu, walaupun dia sebenarnya merasa sangat tertekan.
Sovi yang mendapat sapaan selamat pagi dari menantu nya itu, berlagak seakan tidak mendengarkan apapun dan tetap fokus ke aktivitas nya. Namun bukan Amora namanya kalau tidak bisa mencari kesempatan dan bersikap semuanya seakan baik-baik saja.
Amora langsung ke dapur dan menyiapkan pirng dan sendok di meja makan,lalu menata meja makan.
"Hmmm aroma masakan mama begitu menggoda, aku jadi merasa lapar mencium aromanya." Ucap Amora saat dia dan sovi berhadapan berhalangan meja makan.
Sovi yang masih kekeh dengan diam nya tetap tidak menggubris kata-kata Amora. Dia masih merasa kesal kepada Amora karena masalah obat pencuci perut tadi malam.
__ADS_1
"Wahh pagi-pagi lihat pemandangan begini bikin mata sejuk ya, mertua dan menantu bekerja sama menyiapkan sarapan untuk keluarga besar kita." Ucap Sean yang baru saja keluar dari kamar dan memecahkan keheningan di ruangan makan itu.
"Ehh iya pa, selamat pagi pa. Apa tidur papa nyenyak?" Sapa Amora dengan tingkat percaya diri yang luar biasa.
"Iya Amora, tidur papa nyenyak kok, kamu sendiri bagaimana?" Balas Sean yang duduk di kursi meja makan.
"Alhamdulillah pa, tidur Amora nyenyak kok pa nyenyak banget malahan."
"Wah aroma masakan mama wangi banget, bikin cacing-cacing di perut ku bernyanyi ria." Kini suara Ravi yang menyapa seisi ruangan itu.
"Wahh anak mama sudah tampan saja." Kini sovi akhirnya mengeluarkan suaranya sambil tersenyum manis kepada Ravi seakan menumpahkan semua kekesalan nya.
"Kakak kamu dimana Ravi? Kenapa tidak di ajak sarapan?" Tanya Sean kepada putra bungsu nya itu.
"Aku di sini pa." Miko yang sudah tampan dengan Stell an jas nya tersenyum sumringah menuruni anak tangga.
"Suamiku kenapa kau begitu tampan sih?" Batin Amora yang masih saja kagum dengan ketampanan suami nya itu.
Dan dengan sigap Amora langsung menarik kursi meja makan untuk tempat duduk suaminya itu. Dan melayaninya dengan senyum bahagia.
Saat semuanya sedang asyik sarapan tiba-tiba langkah kaki yang beradu dengan lantai membuyarkan fokus semua orang yang ada di meja makan itu.
"Selamat pagi Tante, om Ravi dan Miko." Suara seorang perempuan yang tidak asing di telinga penghuni rumah itu.
"Wahh kamu sudah datang sayang?" Spontan sovi yang memang sudah menunggu adegan ini sedari tadi pun langsung tersenyum sumringah.
"Iya Tante maaf ya Elsa datang nya telat, soalnya biasalah Jakarta kalau pagi pasti macet." Basa basi Elsa.
"Iya sayang tidak apa-apa, kamu belum sarapan kan? Yuk ikut sarapan bareng kita." Ajak sovi lagi.
"Memang nya boleh Tan?"
Sementara Miko dan yang lain nya memilih melanjutkan sarapan nya tanpa memperdulikan Elsa. Termasuk Amora walaupun hatinya kesal melihat penampilan Elsa dan sedari tadi menatap genit suaminya namun dia mencoba bersikap setenang mungkin.
"Sialan, kenapa bisa da wanita ini sih di sini, dan apa juga maksudnya Tante sovi mengundang aku ke sini kalau ada wanita ini di sini." Batin Elsa yang sebenarnya kesal melihat keberadaan Amora namun sok santai.
Mau tidak mau Elsa pun menyantap sarapan nya itu bersama dengan keluarga Wijaya. Dan setelah keluarga mereka selesai sarapan para pria tampan itu pun berpamitan untuk berangkat ke kantor.
"Ma, kamu jangan macam-macam ya Sama menantu kita." Ingat Sean saat sovi menyalim tangan Sean, karena Sean tahu betul istrinya pasti punya niat licik makanya dia sampai mengundang Elsa sarapan pagi ke rumah mereka.
"Apaan sih pa, kamu ini suudzon terus deh ke mama."
"Papa hanya mengingat kan saja, yasudah kami berangkat dulu ya." Pamit Sean.
"Iya hati-hati ya."
"Sayang kamu yakin mau tinggal di rumah saja? Atau mau ikut mas ke kantor saja?" Kini Miko yang mengkhawatirkan istrinya itu apalagi melihat tatapan mama nya dan Elsa yang seakan ingin menerkam Amora hidup-hidup.
"Ngapain aku ikut ke kantor mas? Aku di sini saja kan ada mama juga." Jawab Amora sambil merapikan dasi suaminya itu.
"Sayang mama itu licik, di tambah lagi ada Elsa di sini maka kamu bisa-bisa di kerjain sama mereka." Bisik Miko di telinga istrinya itu.
"Tenang saja mas, kamu tau kan istrimu ini juga tidak kalah licik dari mereka. Kamu kerja yang benar saja ya kalau urusan perempuan begini bisa aku tangani kok." Jawab Amora sambil mengedipkan mata nya.
" Miko ayok, ngapain sih dari tadi bermesraan terus, dasar pengantin baru." Teriak Sean dari dalam mobil yang sudah menunggu Miko.
"What... Pengantin baru? Apa maksud ini semua? Tadi om Sean bilang jangan macam-macam ke menantu kita dan sekarang bilang pengantin baru?" Guman Elsa di batin nya yang masih kebingungan.
__ADS_1
"Heh mau kemana kamu?" Kata-kata sovi membuyarkan lamunan Elsa dan menghentikan langkah Amora yang berniat ingin kembali ke kamar nya.
"Mau ke kamar ma, kenapa?" Jawab Amora dengan nada santai dan setenang mungkin.
"Kamu kan berminat jadi menantu yang baik dan benar, jadi kamu harus melakukan apapun yang di sukai mertua mu ini."
"Jadi mama mau Amora lakuin apa?"
"Hmmm Elsa sayang, sepertinya seru ya kalau kita berbelanja ke mall." Tanya sovi pada Elsa yang masih diam mematung dengan seribu pertanyaan di otak nya.
"Ehh iya Tan."
"Sana kamu siap-siap, setelah nya temani kita ke mall." Titah sovi.
"Hah...?"
"Hah, huh, heh, saya ini mertua kamu. Jadi jika kamu ingin mendapatkan kepercayaan saya ikuti perintah saya dong."
"Iya ma." Amora mengalah dan akhirnya permisi ke kamar nya untuk siap-siap.
"Tante apa maksud dari semua ini?" Kini Elsa yang menuntut kejelasan.
"Maafin Tante sayang, semuanya diluar kendali Tante. Kemaren tanpa persetujuan om dan tante Miko diam-diam menikahi si wanita miskin itu. Dan akhirnya om mu juga menyetujui pernikahan mereka bahkan mengizinkan mereka tinggal di sini. Tapi Tante yakin pernikahan mereka tidak akan bertahan lama. Justru karna itu Tante mengundang kamu ke sini karena Tante ingin menghancurkan hidup wanita itu dan membuat semua keluarga Tante membencinya khususnya Miko.
Kamu bantu Tante ya, merusak rumah tangga mereka, kamu masih mencintai Miko kan?" Jelas sovi panjang lebar.
"Tante, ini bukan bercanda an kan?" Tanya Elsa yang masih tidak percaya.
"Tante juga berharap ini semua bohong sayang, entah pelet apa yang di gunakan wanita itu sampai Miko bisa terjebak begini..bahkan sampai-sampai mau menikahi perempuan itu."
"Pokoknya sekarang Tante mau kamu bantu Tante menyingkirkan wanita itu. Kamu masih ingin jadi menantu Tante dan menjadi istri nya Miko Wijaya? Tante tau kamu licik Elsa dan Tante percaya kamu bisa bantu Tante." Sambung sovi.
"Hmmm mau sih tan, Elsa memang masih mencintai Miko dan akan Elsa perjuangkan cinta Elsa kepada Miko, tapi masalah nya wanita itu juga tidak mudah di kalahkan dan kelihatan licik juga."
"Elsa kamu tenang saja, dia hanya sendiri sedangkan kita berdua sayang, kalau kita menyatukan kekuatan kita Tante yakin kita bisa menyingkirkan wanita itu." Ucap sovi.
"Memang rencananya Tante apa? Kok menyuruh wanita itu menemani kita ke mall?"
"Hmm kamu tenang saja sayang, kamu ikut saja rencana Tante ya," ucap sovi sambil membisikkan sesuatu kepada Elsa.
"Hah Tante yakin Miko akan percaya dengan rencana kita kalau rencana nya berhasil?" Tanya Elsa setelah mendengar bisikan dari Elsa.
"Hahaha Tante yakin sih Miko percaya, ya Seandainya Miko tidak percaya pun bermain-main hanya mempermalukan perempuan itu sepertinya seru deh." Jawab sovi sambil tersenyum.
"Tante benar, Elsa juga ingin balas dendam sama dia masalah kemaren."
"Ehmmm." Aku sudah selesai ma." Dehem Amora menyadarkan kedua wanita yang sedang ngerumpi itu.
"Hmmm." Jawab sovi malas.
"Yasudah sebentar ya sayang, Tante ganti baju dulu." Pamit sovi kepada Elsa.
"Iya Tante." Balas Elsa.
"Aku harus hati-hati juga sama Elsa, aku tidak bisa sampai keceplosan ngomong soal masa lalu si Amora itu, karena bisa-bisa aib itu jadi bumerang untuk keluarga ini. Dan aku harus berpura-pura baik kepada Elsa agar bisa menyingkirkan Amora itu. Kenapa sih aku harus di kelilingi wanita-wanita seperti mereka ini." Batin sovi sambil berjalan menuju kamar nya.
Sementara Elsa menatap Amora dengan tatapan sinis nya, sedang kan Amora membalas tatapan Elsa itu tak kalah tajam.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian sovi keluar dari kamar nya dan mereka pun segera berangkat ke mall, dimana Amora duduk di sebelah supir sedangkan sovi dan Elsa duduk di kursi tengah. Sovi dan Elsa mulai bergosip agar Amora merasa panas, sedang kan Amora yang tidak mau ambil pusing lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel baru nya tanpa memperdulikan obrolan ibu mertua nya dan Elsa
Sebenarnya Amora sudah tau pasti sovi merancanakan sesuatu sehingga mengajak dia ke mall, namun Amora mencoba tetap santai dan mengikuti permainan ibu mertua nya itu.